Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARGA YANG DITANGGUNG ORANG LAIN [POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]

Sidang Dewan Tetua diadakan sepuluh hari setelah rombongan kembali dari Qingshan.

Fang Ye tidak diundang secara resmi—murid luar tidak punya hak duduk di ruang sidang tempat delapan tetua sekte memutuskan nasib seseorang. Tapi Su Yan meminta izin khusus agar ia boleh hadir sebagai saksi, dan entah karena hutang budi atau rasa ingin tahu, Elder Wei mengabulkannya.

Ia berdiri di sudut ruangan, jauh dari meja panjang tempat para tetua duduk, menyaksikan Su Yan berdiri sendirian di tengah ruangan menghadapi delapan pasang mata yang sebagian besar sudah memutuskan pendapat mereka sebelum sidang ini bahkan dimulai.

"Kau membawa buronan yang seharusnya diserahkan pada otoritas daerah untuk diadili," Elder Chen berkata, suaranya dingin dan terukur, sama sekali tidak menunjukkan kemarahan pribadi yang Fang Ye duga akan muncul. "Alih-alih menegakkan hukum yang sudah disepakati sekte selama tiga ratus tahun, kau membawa mereka masuk wilayah lindungan kita, memberi mereka makan, tempat tinggal, dan perlindungan dari konsekuensi tindakan mereka."

"Mereka bukan buronan biasa," Su Yan menjawab, suaranya tidak bergetar meski ia berdiri sendirian. "Mereka pengungsi korban penyalahgunaan pajak oleh pejabat daerah."

"Itu klaim mereka," Elder Chen menjawab. "Bukan fakta yang sudah diverifikasi oleh siapa pun yang berwenang melakukannya."

 

Fang Ye ingin maju, ingin menjelaskan bagian yang ia lihat sendiri—anak-anak kelaparan, Han Lei yang berlutut bukan karena takut mati tapi karena takut kehilangan mereka. Tapi ia tahu, berdiri di sudut ruangan seperti ini, suaranya tidak akan dianggap sebagai apa pun selain kesaksian murid luar tanpa bobot hukum.

"Aku sudah mengirim utusan untuk memverifikasi klaim mereka," Su Yan melanjutkan. "Butuh waktu, tapi—"

"Waktu," Elder Chen memotong, "adalah kemewahan yang tidak dimiliki hukum jalur dagang. Kalau kita membiarkan setiap perampok mengklaim diri korban ketidakadilan sebelum diadili, jalur dagang benua ini akan penuh orang yang menggunakan cerita menyedihkan sebagai perisai."

Salah satu tetua lain, seorang wanita tua bernama Elder Feng, mengangkat tangan. "Elder Chen, klaimmu masuk akal secara prinsip. Tapi Su Yan adalah salah satu murid dalam terbaik kita. Keputusannya, meski melanggar protokol, lahir dari penilaian yang matang, bukan kecerobohan."

"Penilaian yang matang tidak membebaskannya dari konsekuensi melanggar protokol," Elder Chen berkata tegas. "Kalau kita mulai membuat pengecualian untuk murid berbakat, kita mengajarkan seluruh generasi muda sekte bahwa aturan bisa dilanggar selama alasannya cukup mengharukan."

 

Fang Ye menyadari, mendengarkan perdebatan itu, bahwa Elder Chen tidak sepenuhnya salah—dan itu yang membuatnya lebih sulit diterima daripada jika pria itu hanya seorang ayah pendendam yang membenci dirinya karena kekalahan anaknya.

Elder Chen sudah mengabdi pada sekte selama lebih dari lima puluh tahun. Ia sudah menyaksikan berapa banyak kekacauan terjadi ketika hukum ditegakkan secara tidak konsisten, ketika pengecualian demi pengecualian perlahan mengikis fondasi yang menjaga ribuan orang tetap aman di bawah perlindungan sekte.

Ia benar-benar percaya apa yang ia katakan.

Itu tidak membuatnya benar. Tapi itu membuatnya jauh lebih sulit untuk sekadar dibenci.

 

Perdebatan berlangsung hampir dua jam, delapan tetua saling melempar argumen yang masing-masing punya logikanya sendiri—stabilitas melawan kemanusiaan, preseden melawan keadaan khusus, kepercayaan pada penilaian individu melawan kebutuhan akan aturan yang konsisten.

Pada akhirnya, keputusan diambil dengan suara lima berbanding tiga.

Su Yan dicabut dari daftar kandidat pewaris posisi Kepala Murid Dalam untuk periode ini—posisi yang, semua orang tahu, seharusnya menjadi miliknya tanpa perlawanan berarti sebelum insiden Qingshan. Ia juga diberi masa percobaan enam bulan, dilarang memimpin misi apa pun tanpa pengawasan tetua senior.

Pengungsi di Qingshan tidak diusir—itu satu-satunya kemenangan kecil yang berhasil dipertahankan Su Yan dalam perdebatan panjang itu—tapi status mereka digantung dalam ketidakpastian, menunggu hasil verifikasi yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, selama itu mereka dilarang meninggalkan area yang ditentukan, diawasi seperti tahanan yang belum diadili.

 

Sidang bubar. Para tetua meninggalkan ruangan satu per satu, sebagian menghindari tatapan Su Yan, sebagian lain mengangguk singkat dengan simpati yang tidak cukup untuk mengubah suara mereka.

Fang Ye mendekat setelah ruangan kosong, menemukan Su Yan masih berdiri di tengah, tidak bergerak, menatap meja panjang yang baru saja dikosongkan tetua-tetua yang memutuskan nasibnya.

"Ini salahku," Fang Ye berkata, suaranya penuh sesuatu yang jarang ia tunjukkan—rasa bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku yang mengusulkan membawa mereka ke Qingshan. Kau seharusnya tidak menanggung konsekuensinya sendirian."

Su Yan menoleh, ekspresinya lebih tenang daripada yang Fang Ye duga.

"Kau salah paham," ia berkata. "Aku yang memutuskan. Aku pemimpin misi itu. Tanggung jawab ada di tanganku, seperti yang kukatakan sejak awal."

"Tapi kalau aku tidak—"

"Fang Ye." Su Yan memotongnya, tidak kasar, tapi tegas. "Kalau kau mengambil semua kesalahan ini untuk dirimu sendiri, kau menghapus fakta bahwa aku membuat keputusan itu dengan pikiranku sendiri, bukan karena kau memaksaku. Aku tidak butuh diselamatkan dari konsekuensi keputusanku. Aku sudah tahu risikonya sejak aku mengucapkan kata setuju di Hutan Kabut Beku."

 

Ini bukan jawaban yang membuat Fang Ye merasa lebih baik.

"Kau kehilangan posisi yang sudah kau perjuangkan bertahun-tahun," ia berkata pelan. "Karena keputusan yang mungkin benar, tapi tidak berujung baik."

"Ya," Su Yan berkata sederhana, tanpa berusaha menyamarkan kepahitan yang jelas masih ada di suaranya. "Dan aku akan berbohong kalau bilang itu tidak menyakitkan. Aku sudah menghabiskan delapan tahun untuk posisi itu."

Ia menarik napas panjang, menatap ke luar jendela ruang sidang, ke arah Lapangan Sembilan Pedang yang masih ramai oleh murid-murid yang tidak tahu apa pun tentang keputusan yang baru saja mengubah jalan hidupnya.

"Tapi kalau kau bertanya apakah aku menyesali keputusanku di Hutan Kabut Beku," ia melanjutkan, "jawabannya tidak. Lima anak itu masih hidup, masih bersama ayah mereka, bukan mati kelaparan di tepi jalan atau dieksekusi karena mencuri gandum untuk bertahan hidup. Kalau harga untuk itu adalah posisiku, aku masih akan membuat pilihan yang sama."

 

"Elder Chen tidak sepenuhnya salah, kau tahu," Su Yan menambahkan, mengejutkan Fang Ye. "Hukum memang butuh konsistensi. Kalau setiap orang membuat pengecualian sesuka hati berdasarkan penilaian pribadi, sistem itu sendiri akan runtuh cepat atau lambat."

"Jadi kau setuju dengannya?"

"Aku setuju bahwa pertanyaannya rumit," Su Yan berkata. "Aku tidak setuju dengan kesimpulannya. Tapi setuju bahwa dia salah sepenuhnya akan membuatku sombong, dan kesombongan seperti itu yang membuat orang berhenti memeriksa keputusan mereka sendiri."

Ia menatap Fang Ye lama, ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih hati-hati, seperti seseorang yang memilih kata-katanya dengan sengaja.

"Aku ingin memberimu satu nasihat, dan aku ingin kau benar-benar mendengarkannya, bukan sekadar mengangguk sopan," ia berkata. "Jangan biarkan hari ini membuatmu berhenti percaya bahwa keputusan yang benar layak diambil. Tapi juga jangan biarkan hari ini membuatmu lupa bahwa keputusan yang benar bisa tetap menghasilkan kerugian nyata bagi orang-orang di sekitarmu—termasuk orang-orang yang tidak pernah kau maksudkan untuk dirugikan."

 

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Fang Ye bertanya, setelah diam sesaat.

"Menjalani masa percobaan," Su Yan berkata, mengangkat bahu, meski gerakan itu terlihat lebih berat daripada yang ia coba tunjukkan. "Membuktikan diri lagi dari awal, kalau perlu. Aku sudah melakukannya sekali delapan tahun lalu. Aku bisa melakukannya lagi."

Ia berjalan menuju pintu, berhenti sejenak di ambangnya, menoleh ke belakang.

"Satu hal lagi," ia berkata. "Jangan mencoba melindungiku dari konsekuensi lagi di masa depan, dengan cara mengambil kesalahan yang bukan milikmu. Itu bukan kebaikan. Itu hanya cara lain untuk membuat keputusanku terasa lebih kecil daripada yang sebenarnya."

Ia pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Fang Ye sendirian di ruang sidang yang sudah kosong, dengan meja panjang yang masih menyimpan jejak keputusan yang baru saja mengubah dua kehidupan sekaligus—kehidupannya dan kehidupan seseorang yang memilih menanggung akibat dari pilihan yang mereka buat bersama.

 

Chen Bo berdiri di luar ruang sidang saat Fang Ye akhirnya keluar, bersandar di dinding koridor dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya, tidak sepenuhnya menunjukkan kemenangan yang biasa Fang Ye kenal darinya.

"Aku tidak memintanya seperti ini," Chen Bo berkata, sebelum Fang Ye sempat bicara. "Aku melaporkan yang kulihat pada ayahku. Aku tidak menyangka dia akan membawanya sejauh ini terhadap Su Yan-jie."

"Kau pikir itu membuat perbedaan?" Fang Ye bertanya, tidak dengan kemarahan, hanya lelah.

Chen Bo tidak langsung menjawab. Ia menatap ke lantai koridor, rahangnya mengeras.

"Tidak," ia akhirnya mengakui. "Tapi aku ingin kau tahu itu, entah kenapa."

Ia berjalan pergi tanpa menunggu respons, meninggalkan Fang Ye dengan sesuatu yang lebih rumit daripada kemarahan sederhana—kesadaran bahwa bahkan orang yang memulai rantai kejadian ini tidak sepenuhnya menginginkan hasil akhirnya, dan bahwa dunia, sekali lagi, menolak untuk membagi dirinya rapi menjadi pihak yang benar dan pihak yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!