Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sorot lampu pencari berdaya tinggi dari lokomotif patroli Korporasi Frost-Guard menyapu permukaan salju dengan ganas, memecah kesunyian malam dan memantulkan bias cahaya menyilaukan di antara kristal-kristal es. Di balik punggungan tebing salju, Ren merasakan retinanya menangkap kilatan cahaya itu. Namun, alih-alih diliputi rasa panik atau keinginan untuk kembali melarikan diri seperti beberapa menit yang lalu, sekujur tubuhnya justru menegang dalam keheningan yang mematikan.
Di dalam dadanya, detak The Core Engine bergemuruh lambat, mengalirkan hawa panas yang berdenyut selaras dengan aliran darah di nadinya.
Sorot lampu itu mendekat. Suara derit besi rel yang bergesekan dengan roda baja dan dengus mesin diesel berkapasitas besar mulai bergemuruh, menggetarkan tanah tempat Ren berpijak. Kendaraan patroli ringan milik korporasi—sebuah mobil rel lapis baja mini dengan lambang bintang tiga terukir di lambungnya—berhenti tepat di dekat jalur tebing tempat ia bersembunyi. Pintu samping kendaraan itu terbuka, mengeluarkan kepulan uap putih tipis ke udara malam yang membeku.
Tiga orang prajurit Frost-Guard berjas pelindung putih tebal turun dari kendaraan. Langkah kaki mereka berderit berat di atas lapisan salju yang padat. Di tangan mereka, senapan plasma otomatis digenggam erat dengan laras mengarah ke bawah, waspada.
"Cari di sekitar sini. Sinyal denyut energi lemah terdeteksi di balik punggungan tebing ini sesaat sebelum sistem kita mendeteksi lonjakan anomali," perintah prajurit bertanda pangkat komandan regu dengan suara serak melalui mikrofon helmnya.
Ren berdiri tegak di balik bayangan dinding es. Matanya menatap lurus ke arah para prajurit yang mulai menyebar. Tidak ada lagi rasa gentar di dalam dadanya. Yang ada hanyalah kehampaan yang pekat, sebuah ruang hampa yang kini diisi sepenuhnya oleh bayangan wajah Lily—adiknya yang terbujur kaku dengan genangan darah membeku di lantai gerbong. Rasa sakit di rusuknya telah lenyap, digantikan oleh sensasi dingin luar biasa yang terpancar dari kulitnya, membentuk semacam kabut tipis beruap dingin di sekeliling tubuhnya. Aura itu pekat, menyesakkan, dan mematikan.
Prajurit pertama melangkah mendekati celah tebing tempat Ren berdiri. Moncong senapannya perlahan masuk ke dalam area pandang.
Sebelum prajurit itu sempat mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang bersembunyi di balik bayangan, Ren bergerak. Kecepatannya jauh melampaui kemampuan fisik manusia normal—sebuah anugerah dari Agility yang terdongkrak oleh sistem inti lokomotif.
Slat!
Dalam sepersekian detik, bayangan Ren melesat maju. Tangan kanannya mengayunkan Rust-Bite Blade dengan tebasan horizontal yang kasar namun mematikan. Bilah pedang berkarat itu menghantam leher prajurit pertama tepat di celah sambungan helm pelindungnya. Logam tua itu merobek daging dengan suara basah yang menjijikkan, menyemburkan darah segar berwarna merah pekat yang langsung membeku di udara menjadi butiran-butiran merah berkilau sebelum menyentuh salju.
Prajurit itu bahkan tidak sempat mengeluarkan teriakan tertahan. Tubuhnya ambruk seketika, tersungkur di atas tumpukan salju yang kini ternoda oleh darah hangatnya.
"Hei! Apa itu?!" teriak prajurit kedua, panik saat mendengar suara hantaman dan melihat rekannya jatuh dalam sekejap mata.
Prajurit kedua dan ketiga langsung mengangkat senjata mereka, mengarahkannya ke arah kabut tipis tempat Ren berdiri. Namun, Ren tidak memberi mereka waktu untuk menarik pelatuk. Dengan dorongan tenaga dari Strength level awalnya, ia melompat menerjang maju, menginjak permukaan salju hingga menciptakan kawah kecil akibat tekanan hentakan kakinya.
Dor! Dor!
Tembakan plasma melesat liar memecah malam, melelehkan dinding es di samping Ren hingga mendesis mengeluarkan uap panas, tetapi tubuh Ren sudah berada tepat di hadapan prajurit kedua. Dengan gerakan refleks yang terlatih oleh insting bertahan hidup yang ekstrem, Ren menepis laras senapan musuh menggunakan tangan kirinya, lalu menghunjamkan Rust-Bite Blade tepat ke arah dada prajurit tersebut.
Bilah pedang menembus lapisan pelindung dada dengan suara logam yang berderak. Prajurit itu terpekik tertahan, matanya mendelik lebar menatap Ren di balik kaca helm yang mulai retak.
"Kau..." bisik prajurit itu terbata-bata, darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Ren tidak mengatakan sepatah kata pun. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, bagaikan patung es yang tidak memiliki hati nurani. Ia menarik kembali pedangnya dengan kasar, membiarkan tubuh prajurit kedua ambruk menimpa salju yang kini berubah menjadi lautan darah kecil.
Prajurit ketiga—sang komandan regu—mundur terhuyung-huyung dengan tangan gemetar, mencoba mengarahkan senapan plasmanya ke arah Ren. Napasnya memburu di dalam helm.
"Monster... apa kau ini?!" teriak sang komandan dengan suara bergetar ketakutan, menyadari bahwa target buronan yang mereka anggap remeh ini ternyata jauh lebih berbahaya daripada badai es itu sendiri.
Ren melangkah perlahan mendekatinya. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak kaki hitam di atas salju putih, dibarengi dengan suara derit mekanis yang sangat halus dari dalam dadanya—suara roda lokomotif yang siap menggiling apa saja yang menghalangi jalurnya. Auranya semakin pekat, memancarkan hawa dingin menusuk yang membuat napas sang komandan mendadak sesak.
Sebelum komandan itu sempat menarik pelatuk terakhirnya, Ren melesat bagaikan bayangan hitam di atas salju. Pedangnya terayun dalam satu garis lurus yang bersih, memutus perlawanan terakhir di malam yang kelam itu.
Duk.
Suara helm jatuh menggelinding di atas salju, disusul oleh ambruknya tubuh tanpa nyawa sang komandan regu.
Sunyi kembali merayap di sekitar tebing es. Aroma amis darah segar bercampur dengan bau ozon dari senapan plasma yang meleleh memenuhi udara dingin Zona Periferi. Ren berdiri tegak di tengah-tengah genangan darah para penyerangnya. Dadanya naik turun perlahan, bukan karena kelelahan, melainkan karena aliran energi panas dari The Core Engine yang kini beradaptasi penuh dengan tubuh barunya.
Tiba-tiba, di tengah keheningan pasca-pertarungan tersebut, udara di depan mata Ren bergetar hebat. Sebuah panel antarmuka sistem berukuran besar dengan warna kuning cerah yang mencolok mendadak muncul melayang secara tiba-tiba, memancarkan cahaya terang yang menerangi wajah Ren yang dipenuhi noda darah.
Ren tersentak kaget. Refleks tubuhnya membuatnya melompat mundur beberapa langkah, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara, bersiap menghadapi ancaman baru yang mungkin muncul dari antarmuka misterius itu.
[Peringatan: Deteksi Lonjakan Energi Tempur...]
[Analisis Selesai: Target Berhasil Dilumpuhkan (3/3 Prajurit Frost-Guard Tier-Low.]
[Mendapatkan EXP: +150 (Level up! Level 1 menuju Level 2 - Progress: 45%]
Di dalam kepala Ren, sebuah suara mekanis yang tenang, dingin, dan terstruktur—berbeda jauh dengan suara manusia—berdengung jelas, langsung mengisi ruang kesadarannya tanpa menggunakan telinga fisik.
“Menganalisis sistem antarmuka utama berhasil. Selamat, Kapten Ren. Anda telah berhasil mengaktifkan Protokol Perintis Kereta Purba tingkat pertama. Saya adalah Antarmuka Inti Lokomotif, sistem pendukung navigasi dan bertahan hidup yang tertanam permanen pada sirkuit biologis tubuh Anda.”
Ren mengerjap-ngerjapkan matanya pelan, menatap tulisan kuning cerah yang terus berkedip-kedip di hadapannya. Jantung mekanis di dadanya berdetak lebih lambat, menyerap informasi yang mengalir langsung ke dalam memorinya.
Sistem... ini bukan halusinasi, batin Ren bergumam dalam hati, kesadarannya perlahan merangkai kepingan-kepingan kejadian yang baru saja ia alami.
Suara robot itu kembali bergeming di dalam kepalanya, menjelaskan fungsi-fungsi dasar yang kini menjadi bagian dari hidupnya:
“Antarmuka ini terbagi menjadi empat menu utama untuk mendukung operasional Anda di dunia luar: Status Karakter, Quest Log, Inventory, dan Engine Management. Setiap tindakan destruktif, perolehan material, atau eliminasi musuh akan dikonversi menjadi poin pengalaman (EXP) untuk meningkatkan kapasitas daya tempur Anda dan gerbong masa depan.”
Sambil mendengarkan penjelasan tersebut, Ren mengulurkan tangan kirinya yang bebas, ragu-ragu menyentuh udara kosong di dekat proyeksi hologram kuning itu. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan cahaya, panel tersebut langsung berubah bentuk, membelah diri menjadi beberapa sub-menu transparan yang lebih kecil.
Sebuah daftar informasi muncul di hadapannya dengan detail yang sangat tajam:
[STATUS KARAKTER]
• Nama: Ren
• Gelar: The Orphan of the Rails (Anak Yatim Rel)
• Class: Railway Vanguard (Lv. 1)
• HP: 105 / 105 (+5 Regenerasi Pasif per Menit)
• Energy Core: 52 / 60 (Stabil)
• Atribut Fisik:
• Strength: 19
• Agility: 16
• Endurance: 21
• Intelligence: 14
• Skill Aktif: Overdrive Strike (Terkunci - Syarat: Level 5)
• Skill Pasif: Core Resonance (Aktif - Peningkatan ketahanan tubuh terhadap suhu ekstrem dan regenerasi luka ringan).
Di bawah kolom status tersebut, sebuah kotak informasi lain berkedip dengan warna oranye terang, menandakan sebuah tugas aktif yang langsung dikeluarkan oleh sistem:
[QUEST LOG: AKTIF]
• Judul Quest Utama: The First Carriage (Gerbong Pertama)
• Deskripsi: Kereta tua Anda telah rusak parah akibat serangan Korporasi Frost-Guard. Temukan dan amankan Stasiun Periferi No. 4 yang terbengkalai untuk mendapatkan Blueprint gerbong dasar dan material perbaikan pertama.
• Hadiah Quest: Blueprint: Workshop Carriage (Mk. 1), +300 EXP, dan Unlock Menu Inventory Eksternal.
• Batas Waktu: Tidak ada (Kegagalan berarti kematian total).
Ren menarik napas panjang. Udara dingin malam yang tadinya terasa menyiksa kini terasa begitu segar, disaring oleh sistem di dalam dadanya. Ia mengepalkan tangan kirinya, merasakan otot-ototnya yang kini dipenuhi kekuatan baru yang tidak masuk akal. Pandangannya beralih dari panel hologram kuning itu ke arah mayat-mayat prajurit korporasi yang tergeletak di atas salju.
Ia menyadari satu hal: dunia di sekelilingnya telah berubah selamanya. Ia bukan lagi seorang anak pemulung rel yang tak berdaya dan hanya bisa menangis melihat adiknya dibantai. Sekarang, ia adalah seorang Kapten dari sebuah sistem purba yang menuntut darah dan perjuangan.
Ren membungkuk sejenak, mengambil beberapa magasin amunisi plasma dan komponen kecil dari sabuk prajurit yang tewas, lalu memasukkannya ke dalam saku mantelnya. Ia berbalik, melangkah meninggalkan bangkai kendaraan patroli korporasi yang mulai tertimbun salju badai.
Tepat saat ia hendak melangkah maju menyusuri jalur rel tua menuju arah barat laut, suara desis angin malam tiba-tiba terhenti secara total. Suara derit mesin diesel yang jauh di balik bukit es mendadak berganti dengan suara deru roda kereta lapis baja berukuran besar yang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi, disertai sorot lampu mercusuar ganda yang membelah kegelapan malam tepat dari arah depan jalur rel yang harus ia lewati.
Sistem di dalam kepala Ren mendadak berkedip merah terang, memancarkan peringatan darurat berkecepatan tinggi:
[PERINGATAN KERAS: Mendekati Unit Kereta Tempur Korporasi Kelas Menengah (Patroli Berat)...]
[Jumlah Musuh: 1 Unit Lokomotif Bersenjata Lengkap, 12 Personel Elit...]
[Rekomendasi Sistem: Menghindar Segera atau Siapkan Pertempuran Fatal...]