"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya menginap
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Malam ini kamu tidur di sini.”
“What?!” Asyara membelalak. Ia menatap tak terima ke arah Aksa yang memutuskan sepihak tanpa bertanya dulu padanya. “Bapak gila?!”
“Tidak, saya hanya memastikan keselamatan anak saya dan ibunya.” balas Aksa enteng, “Kamu tidur dengan Celine, atau… kalau kamu bersedia, kamu bisa tidur dengan sa–”
“Nggak!” bantah Asyara mendelik. “Saya tidur sama Celine! Dan jangan harap saya mau–”
“Mana? Dimana calon mama kamu Celine?! Oma mau ketemu?”
Perhatian Aksa dan Asyara teralihkan dengan suara pekikan heboh dari arah tangga. Tak jauh dari mereka, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik di usianya tampak berjalan tergesa-gesa. Penampilannya tampak begitu anggun.
“Mama?” Aksa menatap Nadia yang sibuk melangkah dengan cepat.
Sementara di tempatnya, Asyara terkejut. Namun ekspresinya seketika berubah menjadi sedikit takut dan lebih cemas akan sesuatu. Di otaknya, segala macam prasangka sudah tersusun. Mungkinkah ibu Aksa akan marah besar? Mungkinkah ia akan dituduh hanya mengincar harta? Atau mungkinkah wanita ini akan mengusirnya dan memviralkannya?!
Namun yang terjadi tidaklah demikian. Asyara yang masih memasang wajah terkejut sekaligus cemas malah dibuat lebih terkejut lagi ketika wanita yang berstatus sebagai ibu dari Aksa itu malah mendekat dan memeluknya dengan raut wajah bahagia.
“Ya tuhan! Akhirnya! Akhirnya… Siapa nama kamu sayang?” tanya Nadia lembut sambil memegang kedua tangan Asyara. “Kamu cantik sekali. Katanya kamu sahabatnya Celine ya? Mahasiswa bimbingan Aksa? Benar?”
Asyara yang dicecar dengan runtutan pertanyaan seketika tersenyum kikuk dan bingung mau menjawab apa. Ia menatap Aksa dan Celine dengan tatapan meminta pertolongan. Namun Celine yang memang nakal, malah tersenyum menggoda.
Sementara Aksa? Sepertinya pria itu mengerti. AKsa langsung memegang Nadia. “Mama, jangan membuatnya bingung.”
Nadia mendengus, “Apa sih?! Mama lagi nyapa menantu mama! Kamu jangan ikut campur.”
Aksa menghela nafas. “Namanya Asyara, sahabat Celine. Mahasiswa saya, dan saat ini dia tengah mengandung anak saya karena kejadian tidak sengaja di hotel hari itu.”
Nadia menutup mulutnya terkejut mendengar berita itu. “Hamil?! Aksa?! KAMU MENGHAMILI MAHASISWAMU SENDIRI?! DIMANA OTAKMU ANAK NAKAL?!”
Suasana tegang berubah menjadi sedikit lucu. Nadia menjewer telinga Aksa dengan kuat ditambah tatapan tajam kepada putranya itu. “Kamu itu sudah dewasa! Bagaimana bisa kamu melakukan perbuatan tak bermoral itu?!”
“Akh! Mama! Hentikan, jangan begini!” ringis Aksa.
Celine sudah tertawa terbahak-bahak, sementara Asyara perlahan namun pasti tawa kecilnya pun ikut terdengar melihat Aksa diperlakukan seperti itu. Lucu rasanya, melihat dosen killer itu dimarahi bak anak kecil oleh ibunya sendiri.
“Emmm oma… eh tante…eh–”
“Panggil mama nadia sayang, Atau cukup mama saja,” balas Nadia lembut ketika menatap Asyara, namun kembali garang ketika melihat Aksa.
Asyara mengangguk, “Mama, ini… ini bukan sepenuhnya salah pak Aksa. Aku yang mabuk duluan, terus nggak sengaja narik pak Aksa. Jadi, ini salah aku juga,” cicit Asyara dengan kepala tertunduk, “Aku minta maaf.”
Ekspresi Nadia berubah seratus delapan puluh derajat. Ia langsung merangkul Asyara dengan sayang, “Oh sayang, ini bukan salah kamu. Ini memang salah pria duda itu!” sinis Nadia melihat Aksa, “Jangan bela dia, kamu ikut mama ke kamar Celine aja ya? Istirahat di sana.”
“Wah, pengaruh lo kuat juga Sya. Oma langsung mendadak lembut lho,” celetuk Celine sambil tertawa, sekaligus melirik Aksa kasihan yang masih memegang telinganya.
“Celine, jangan panggil nama. Tidak sopan. Sebentar lagi Asya akan jadi mama kamu, panggil yang benar,” tegur Nadia tegas.
Asyara membelalak. “Eh..nggak perlu ma. Biarin aja Celine tetap panggil aku kaya gitu.” Ia menatap Celine melotot. mengisyaratkan agar jangan mau menuruti Nadia.
Namun yang namanya Celine? Ya mana peduli, ia malah tersenyum puas. “Siap oma, aku bakal panggil Asya ‘mama’ mulai sekarang.”
“Nah begitu baru benar, ayo sayang,” ajak Nadia pada Asyara, “Kita istirahat, biarkan saja pria duda itu mengurus dirinya sendiri.”
Asyara hanya menurut. Mau tidak mau, ia akan menginap malam ini di kediaman Erlangga. Nasi sudah jadi bubur. Ia benar-benar hamil, anak dosen pembimbingnya sendiri–Aksa, si dosen killer tapi tampan.
Aksa yang ditinggal di ruang tamu sendirian, menghela nafas kasar. Bagaimana bisa mereka meninggalkan dirinya bahkan tidak mengajaknya?
“Stok kesabaran saya semakin menipis setiap harinya,” gumam Aksa bergeleng pelan, kemudian melangkah mengikuti tiga wanita itu.