Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Klien dari Amerika

Udara Surabaya menyambut Laras seperti handuk hangat yang ditempelkan ke wajah.

Begitu keluar dari bandara malam itu, kacamata Pak Herman langsung berembun. Ia mengeluh soal panas sepanjang perjalanan menuju hotel, sementara Laras memeriksa ulang agenda di ponsel.

Kamar mereka berada di lantai yang sama, tetapi berjauhan. Laras memastikan kunci berfungsi, memasang pengait pintu, lalu mengirim foto nomor kamar kepada Mira, Bu Ratna, dan Bram.

Ia juga menelepon resepsionis untuk memastikan tidak ada orang lain yang boleh meminta kunci cadangan kamarnya. Petugas menjelaskan bahwa kartu identitas harus cocok dengan nama pemesan. Laras mencatat nomor keamanan hotel di bagian atas daftar kontak.

Pak Herman sempat mengirim pesan agar mereka makan malam berdua untuk membahas agenda. Laras menjawab bahwa materi akan lebih efektif dipelajari sendiri dan menawarkan sarapan di restoran hotel yang ramai. Pesannya dibaca tanpa balasan.

Balasan Bram datang paling cepat.

`Kalau ada apa-apa, telepon. Jangan pikir jam.`

Laras mengetik bahwa semuanya aman, kemudian membuka laptop. Besok pagi mereka akan membahas distribusi alat pengolahan makanan. Ia menghafal istilah kapasitas mesin, garansi, suku cadang, dan jadwal pengiriman sampai lewat tengah malam.

Keesokan harinya, Mr Mason menunggu di ruang pertemuan dengan kemeja yang sudah basah di bagian punggung. Tubuhnya besar, wajahnya merah karena panas, dan napasnya terdengar berat setelah berjalan dari lobi.

“You must be Laras,” katanya. “Call me Budiman Sejahtera.”

Laras berkedip. “Is that your Indonesian name?”

“I chose it myself. It means a prosperous, virtuous man, right?”

Pak Herman tertawa terlalu keras. Laras tersenyum dan menjelaskan bahwa namanya terdengar sangat optimistis.

“Good. I sell machines. Optimism helps.”

Humor itu mencairkan pertemuan. Saat Mr Mason mengusap keringat dengan lengan, Laras menyodorkan tisu. Pendingin ruangan sudah maksimal, tetapi pria itu tetap kepanasan. Pada waktu istirahat, Laras pergi ke toko dekat hotel dan membeli kipas genggam kecil.

“For Mr Budiman,” katanya ketika kembali.

Mr Mason tertawa puas. “Best interpreter in Indonesia, and we haven’t even signed anything.”

Laras tidak hanya menerjemahkan pujian. Ia mencatat angka, menandai istilah yang perlu dikonfirmasi, dan merangkum keputusan di akhir setiap sesi. Ketika kedua pihak berbicara bersamaan, ia meminta mereka bergantian tanpa kehilangan kesopanan.

Masalah pertama muncul saat pihak Indonesia menyebut garansi dua tahun, sementara dokumen Mr Mason menulis delapan belas bulan. Laras menghentikan pembicaraan dan menunjukkan perbedaan itu sebelum menerjemahkan kesepakatan lanjutan.

Pak Herman tampak hendak menyuruhnya terus, tetapi Mr Mason mengangkat tangan. “She is right. If we miss six months here, lawyers will eat us alive.”

Setelah kedua pihak menyepakati dua puluh empat bulan dengan syarat perawatan berkala, Laras menuliskan keputusan dalam dua bahasa. Ia tidak lagi merasa seperti pegawai baru yang kebetulan mendapat kesempatan. Pengetahuannya mengubah arah rapat secara nyata.

Pak Herman beberapa kali membiarkannya memimpin. Awalnya Laras mengira itu bentuk kepercayaan. Namun setiap kali ia menoleh, laki-laki itu bukan memeriksa catatannya. Tatapannya menempel pada wajah dan tubuh Laras terlalu lama.

Pada jeda sore, ia menawarkan pijatan bahu karena Laras terlihat lelah. Laras mundur dan mengatakan peregangan cukup. Pak Herman tertawa seolah penolakan itu lelucon.

“Jangan tegang begitu. Saya cuma perhatian sama staf.”

“Terima kasih, Pak. Saya lebih nyaman tanpa disentuh.”

Laras sengaja mengucapkannya jelas. Seorang staf klien berada tidak jauh dari mereka dan menoleh mendengar kalimat tersebut. Pak Herman memasukkan kedua tangan ke saku.

Saat makan siang, Mr Mason bertanya di mana Laras belajar bahasa Inggris.

“University, movies, books, and a lot of embarrassing conversations,” jawabnya.

“Your pronunciation is clean. Easier to understand than mine.”

“That is because you swallow half your words, Mr Budiman.”

Mr Mason menepuk meja sambil tertawa. Pak Herman ikut tersenyum, tetapi di bawah meja ujung sepatunya beberapa kali menyentuh kaki kursi Laras. Laras menggeser kursinya menjauh.

Hari pertama berakhir menjelang pukul sembilan malam. Mr Mason kembali ke kamarnya, sedangkan Laras dan Pak Herman meninjau jadwal esok hari di lobi.

Sebelum berpisah, Mr Mason meminta salinan ringkasan rapat. Laras mengirim berkas yang sudah diberi kode warna dan daftar istilah terbuka.

“You did this today?” tanyanya.

“During the meeting.”

“Keep that habit. People remember interpreters who prevent tomorrow’s argument.”

Pujian itu membuat lelah Laras terasa layak. Ia langsung menyimpan versi final di folder perusahaan agar pekerjaannya tercatat, bukan hanya berada di laptop pribadi Pak Herman.

Ponsel Laras bergetar.

`Aku temani kamu.`

Pesan Bram hanya tiga kata.

`Dari Jakarta?`

`Iya. Ada penerbangan malam.`

Laras menahan senyum. `Aku kerja seminggu. Kamu nggak punya urusan?`

`Bisa dikerjakan dari hotel. Aku nggak akan ganggu rapatmu.`

Ia ingin mengatakan tidak perlu. Namun tatapan Pak Herman sepanjang hari membuat keberadaan Bram terasa seperti lampu di ujung lorong gelap.

`Kabari kalau sudah sampai.`

“Pacar?” tanya Pak Herman.

Laras meletakkan ponsel. “Seseorang yang sedang dekat dengan saya.”

“Belum pacar berarti masih bebas.”

“Bebas bukan berarti tersedia, Pak.”

Pak Herman terkekeh. “Kamu serius sekali.”

Mereka naik lift bersama. Laras berdiri dekat tombol, menjaga jarak. Ketika pintu terbuka di lantai mereka, Pak Herman berjalan sedikit sempoyongan karena minum dua gelas anggur saat makan malam.

“Saya antar sampai pintu,” kata Laras. Ia ingin memastikan bosnya masuk kamar lalu segera kembali ke kamarnya sendiri.

Pak Herman mengeluarkan kartu akses, tetapi dua kali gagal menempelkannya. Laras membantu menunjukkan sisi yang benar. Lampu kunci berubah hijau.

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Pak. Selamat malam.”

Laras baru hendak berbalik ketika tangan Pak Herman menutup pergelangan tangannya.

Cengkeramannya jauh lebih kuat daripada yang ia perkirakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!