Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : Khafi si Bodyguard No 1

    Pukul tujuh pagi lewat sedikit, pengeras suara milik panitia Ambalan Pramuka sudah membahana di seantero Bumi Perkemahan. Suara musik senam Kesegaran Jasmani berirama dangdut koplo yang menghentak-hentak sukses memecahkan kabut tipis dan memaksa ratusan murid angkatan Kelas XI menyeret kaki keluar dari tenda masing-masing dengan mata sembap dan muka bantal.

​Di tengah lapangan rumput yang masih basah oleh embun, barisan kelas XI IPS 2 benar-benar mendefinisikan kekacauan senam pagi anak SMA.

​"Dua! Tiga! Empat! Tangan di atas, Fathir! Jangan disakuin terus kayak mau nagih utang!" teriak Rian dari barisan paling depan, mencoba menjadi KM yang bertanggung jawab walau kaus olahraganya sendiri terbalik.

​Fathir yang berdiri di barisan belakang cuma menggerakkan ujung jarinya malas-malesan. "Mager banget, Tam! Badan gue berasa remuk kayak abis dipukulin! Lo aja sana yang goyang!"

​"Tau nih Rian, pagi-pagi udah semangat banget kayak instruktur aerobik kompleks!" cerocos Bimo yang matanya masih merem melek, menguap lebar-lebar sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Okta.

​"Berat, anjir! Pindah!" Okta menepis kepala Bimo kasar. "Lagian lagunya melenceng banget, ini mah bukan senam, tapi dangdutan pasar malam!"

​Sementara di barisan cewek, hebohnya tidak kalah parah. Nisya dan Misya—si kembar yang tidak pernah bisa tenang—malah sibuk merekam video joget asal-asalan memakai kamera HP yang disembunyikan di balik saku celana training.

​"Mis, seriusan dikit dong goyangnya! Nanti dikira panitia kita kesurupan setan pohon pinus!" omel Febri sambil menepuk bahu Misya gemas.

​"Biarin sih, Feb! Biar hangat badannya!" sahut Misya terkekeh heboh. "Dinda! Liat deh si Okta goyangnya kaku banget kayak kanebo kering!"

​Dinda yang berdiri di sebelah Maya langsung tertawa lepas menutupi mulutnya. "Bukan kanebo kering lagi, itu mah kayak tiang bendera ditiup angin!"

​"Berisik banget lo pada jam segini," gumam Sisil yang berjuang keras mempertahankan kesadarannya, matanya merem dengan kedua tangan refleks mengikuti gerakan senam secara otomatis. "Gue butuh teh hangat, bukan disuruh loncat-loncat begini..."

​Maya menyikut lengan Sisil pelan. "Sama, Sil. Kuku gue juga masih pegel gara-gara nancepin pasak kemarin. Mana si Kia mukanya pucat banget tuh di belakang."

​Kiara yang berdiri di samping Neona memang cuma bisa mengikuti gerakan senam setengah hati. Hidungnya masih agak mampet, dan kepalanya terasa agak berat walau demamnya sudah turun berkat obat dari Khafi semalam.

​"Masih pusing?" tanya Neona khawatir, menahan gerakan tangannya.

​"Dikit, Ona... Suara speaker-nya kencang banget lagi, bikin melayang," sahut Kiara lirih, memegangi keningnya.

​Tak jauh di belakang mereka, Khafi yang sedang bersedekap dada tanpa berniat mengikuti gerakan senam sama sekali, diam-diam melirik tengkuk Kiara. Ia memperhatikan bagaimana cewek itu berkali-kali memijat lehernya sendiri.

​"Ara," panggil Khafi pelan namun cukup tegas.

​Kiara menoleh lemah, mendelik tipis. "Apaan sih, Khaf? Jangan mulai ya, gue lagi nggak ada tenaga buat melayani ledekan lo."

​"Nggak ada yang mau ngeledek," balas Khafi datar, matanya menatap tajam raut wajah Kiara yang pucat. "Kalau masih teler, mending mundur ke pinggir lapangan. Nanti kalau pingsan, numpuk-numpukin beban panitia aja."

​"Gue nggak bakal pingsan!" dengus Kiara gengsi, walau langsung terbatuk pelan di akhir kalimatnya.

​Selesai sesi senam yang menguras sisa-sisa tenaga, agenda dilanjutkan dengan sarapan bersama. Panci berisi sup ayam buatan Tenda 4 akhirnya dibuka di atas terpal. Hasil masakan kolaborasi pertengkaran Khafi dan Kiara tadi pagi rupanya cukup layak makan—meski potongan kentangnya ada yang sebesar dadu dan ada juga yang sebesar batu jalanan.

​"Anjir, ini kentang ada yang pas sekali gigit, ada yang bikin rahang gue mau lepas!" seru Pandu saat mengunyah mangkuk pertamanya.

​"Bersyukur lo, Ndu! Ini diracik dengan penuh cinta dan emosi oleh pasangan Tom and Jerry kita!" ledek Ferdi sambil menyendok kuah sup hangatnya dengan nikmat. "Tapi beneran dah, kuahnya gurih bener. Lumayan bikin tenggorokan segar."

​"Iyalah, kuahnya kan resep murni dari insting gue," sahut Khafi santai sambil mengunyah nasinya.

​"Dih! Yang nakar bumbu sama garamnya kan gue!" potong Kiara tidak terima, memelototi Khafi dari balik mangkuk plastiknya. "Lo mah cuma bagian ngaduk sama bikin kentangnya hancur!"

​"Tapi kalau nggak gue aduk, garamnya ngendap di bawah, Kuntil. Bikin darah tinggi se-Tenda Empat," balas Khafi dingin, sudut bibirnya terangkat tipis.

​"Udah, udah! Nggak di hutan, nggak pas sarapan, berantem mulu!" potong Rian sambil menepuk jidatnya. "Habis ini langsung bagi tugas! Yang cewek beresin piring dan alat masak, yang cowok bongkar Tenda cowok sama cewek! Kita harus siap-siap checkout sebelum jam sepuluh!"

​"Siap, Pak KM!" sahut Bimo, Fathir, dan Kevin serempak sambil tertawa.

​Proses pembongkaran tenda berjalan cepat dan heboh. Anak-anak IPS 2 saling membantu mengemas sleeping bag, melipat kain terpal yang kotor, hingga mengumpulkan sampah di area tapak kemah. Semua barang dimasukkan kembali ke dalam tas carrier besar sebelum rombongan bergerak menuju deretan bus di area parkir.

​Suara riuh memenuhi dalam bus nomor tiga yang mengangkut kelas XI IPS 2. Baju yang membawa aroma alam, wangi parfum yang tercampur dan uap AC dingin menyatu di udara.

​Namun, suasana tenang di barisan belakang mendadak pecah ketika Kevin membanting tubuhnya di kursi sambil memegang HP-nya tinggi-tinggi.

​"Woy! Game mabar baru yang kemarin hype udah bisa didownload! Anjir, grafiknya mantap banget! Ayo mabar!" teriak Kevin heboh.

​"Mana? Mana? Wah, beneran udah release!" sahut Pandu dari kursi depannya. "Vin, lo duduk sama gue sini! Kita bikin tim bertiga sama Ferdi!"

​Neona yang dengar hal itu matanya langsung berbinar. "Eh, game perang yang itu kan?! Gue juga udah download semalam! Kevin, gue ikut mabar dong! Pindah dong lo ke sebelah gue, atau gue yang ke sebelah lo!"

​"Yah, Na, tapi kan si Kiara lagi lemes banget tuh," cetus Kevin menunjuk Kiara yang sudah duduk pasrah di samping jendela, menyandarkan kepalanya ke kaca dengan mata terpejam dan wajah pucat.

​Neona mendadak teringat sahabatnya. Ia menoleh ke arah Kiara yang tampak menyedihkan, lalu matanya tidak sengaja beradu dengan Khafi yang baru masuk ke bus sambil membawa ranselnya.

​Sebuah ide melintas di otak cerdik Neona. Ia langsung menghampiri Khafi dan menepuk lengan cowok itu kencang.

​"Khafi! Khaf! emergency!" bisik Neona heboh.

​Khafi mengerutkan alisnya heran. "Apaan sih, Na? Datang-datang heboh banget."

​"Gue mau mabar game baru sama Kevin, sama Pandu juga di barisan depan, tapi si Kiara lagi masuk angin parah tuh. Pusing katanya," cerocos Neona memasang muka memohon. "Lo duduk di sebelah dia ya? Jagain! Cuma lo cowok yang bisa dimintain tolong tanpa bikin risih si Kia. Please ya, Khaf!"

​Khafi melirik ke arah kursi Kiara dari celah kursi di depannya. Gadis itu memang kelihatan lemas, napasnya teratur tapi dahinya sedikit berkerut menahan pusing.

​"Dih, ngerepotin amat," gumam Khafi datar. Tapi tanpa protes lebih lanjut, ia menghempaskan tas ranselnya ke bagasi atas dan langsung duduk di kursi kosong sebelah Kiara—bekas kursi Neona.

​Neona tersenyum penuh kemenangan. "Makasih, kan kalau lo kaya gini gue gampang nih kasih restunya! Kalau dia mual, kasih kantong plastik di tas gue ya!" teriaknya sebelum ngacir ke belakang bergabung dengan geng mabar.

​Bus mulai melaju perlahan, membelah jalanan berliku meninggalkan area pegunungan. Guncangan halus bus berpadu dengan dinginnya angin AC membuat rasa pusing Kiara semakin menjadi-jadi. Dalam tidurnya yang tidak tenang, kepala Kiara perlahan-lahan meluncur memiring, kehilangan keseimbangan hingga...

​Puk.

​Kepalanya mendarat pas di bahu tegap Khafi.

​Khafi yang sedang mengusap layar HP-nya seketika membeku total. Tubuhnya mendadak kaku seperti patung. Ia menoleh perlahan ke samping kiri, menatap puncak kepala Kiara yang kini bersandar nyaman di bahunya. Helaan napas halus gadis itu terasa hangat mengenai lehernya.

​Khafi mendengus pelan, berusaha memasang raut cueknya walau dadanya berdesir tak karuan. Ia tidak menggeser bahunya sama sekali. Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak membangunkan Kiara, Khafi melepaskan jaket parka khaki miliknya, lalu membentangkannya lembut menutupi tubuh Kiara dari dada hingga lutut untuk menahan dinginnya AC bus.

​"Bikin susah aja lo, Kuntil...." bisik Khafi sangat pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun di bus itu. Sepanjang perjalanan pulang yang memakan waktu dua jam, Khafi membiarkan bahunya menjadi sandaran gratis untuk Kiara tanpa bergeser beberapa senti pun.

​Sore harinya, bus rombongan akhirnya tiba dan berhenti di halaman sekolah XI IPS 2. Suasana gerbang sekolah dipenuhi oleh kendaraan orang tua yang menjemput anak-anaknya.

​Kiara yang baru terbangun saat bus berhenti, mengucek matanya pelan. Ia kaget setengah mati begitu menyadari dirinya terbangun dengan berselimutkan jaket parka milik Khafi, dan cowok itu masih duduk di sebelahnya sambil memainkan HP dengan santai.

​"Eh... kok..." Kiara menyapu pandangannya bingung, pipinya mendadak terasa panas. "Neona mana?"

​"Ngacir mabar dari dua jam yang lalu," sahut Khafi dingin tanpa menoleh. "Tidur lo pules amat. Bahu gue sampai pegal dipake sandaran."

​Kiara buru-buru menegakkan tubuhnya, melipat jaket parka Khafi dengan canggung. "Siapa... siapa juga yang nyender! Jalanan busnya yang bergelombang ya!"

​"Iya, terserah Ara aja," balas Khafi singkat lalu berdiri mengambil tasnya.

​Begitu turun dari bus, sebuah mobil hitam sudah terparkir di dekat lapangan basket. Dari kaca mobil yang terbuka, tampak sosok ibu-ibu anggun melambaikan tangan—Mama Kiara—bersama Mang Ujang, supir keluarganya yang berdiri siap di luar mobil.

​Sementara itu, di dekat gerbang, mobil Pandu sudah terparkir dengan bagasi terbuka. Pandu, Ferdi, dan Kevin sedang memasukkan tas-tas mereka.

​"Khaf! Sini, tas lo taro bagasi!" teriak Pandu dari kejauhan.

​"Tungguin bentar gue nyusul," sahut Khafi, sambil melepas ranselnya dan melempar ke arah Pandu yang langsung sigap di tangkap.

​Tanpa diminta, Khafi malah melangkah mengekor di belakang Kiara yang berjalan agak gontai mendekati mobil penjemputnya. Mang Ujang yang melihat Kiara langsung menyambut hangat.

​"Aduh, Neng Kiara! Gimana kempingnya? Kok mukanya pucat gitu?" tanya Mang Ujang cemas sambil membawakan tas carrier Grizelle.

​Mama Kiara juga turun dari pintu tengah mobil, menatap putrinya khawatir. "Astaga, Kia... Kamu sakit ya? Kok lemes banget?"

​Kiara baru mau menjawab, tapi suara berat dari sebelah kirinya mendahului.

​"Siang, Tante," sapa Khafi sopan, melangkah maju sedikit sambil menganggukkan kepala ramah ke Mama Kiara—sikap yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari sifat tengilnya sehari-hari.

​Mama Kiara menoleh, matanya berbinar mengenali cowok tinggi di samping anaknya. "Eh, Khafi! Iya, siang... Ini Kia kenapa ya, Khaf?"

​"Iya, Tante. Ara agak masuk angin dari semalam pas acara Jerit Malam di hutan," laporan Khafi dengan nada teratur dan tenang, mirip laporan murid teladan. "Tadi malam udah dikasih minyak kayu putih sama minum obat, tapi badannya masih agak lemas gara-gara dingin. Nanti sampai rumah mending langsung istirahat sama minum air hangat, Tante."

​Kiara yang berdiri di sebelah Khafi langsung membelalakkan mata. Pipinya memerah padam karena malu urusan sakitnya diumbar-umbar begitu detail di depan Mamanya.

​"Khaf... apaan sih lo," bisik Kiara gemas sambil menyikut pinggang Khafi pelan.

​Mama Kiara tersenyum lebar, tampak sangat lega dan berterima kasih. "Ya ampun... Makasih banyak ya, Khafi! Makasih udah merhatiin dan nemenin Kia pas kemping. Tante khawatir banget tadi dari rumah."

​"Sama-sama, Tante. Udah kewajiban anak-anak kelas juga saling jaga," sahut Khafi santai dengan senyum tipis yang kelewat sopan.

​Mama Kiara lalu menatap putrinya. "Kiara, dibilangin apa. Kamu tuh susah banget kalau disuruh jaga badan. Bilang makasih gih sama Khafi!"

​Kiara memanyunkan bibirnya, menatap Khafi yang kini sedang menatapnya balik dengan raut wajah sok jual mahal dan alis yang dinaikkan sebelah—seolah menantang Kiara untuk menguncapkan kata itu.

​Kiara menarik napas panjang, menahan rasa gengsinya yang setinggi langit.

​"Makasih ya... Khafi," gumam Kiara pelan dengan suara hampir tak terdengar, matanya membuang pandangan ke arah lain. "Bantuannya... dari semalam."

​Khafi terkekeh pelan, suara kekehannya terdengar sangat tipis tapi cukup bikin dada Kiara berdesir.

​"Sama-sama, Ara. Langsung mandi air hangat, jangan tidur mulu," balas Khafi. Ia lalu berpamitan pada Mama Kiara dan Mang Ujang. "Saya duluan ya, Tante. Udah ditungguin anak-anak di mobil Pandu."

​"Iya, Khafi, hati-hati di jalan ya! Salam buat Mama!" balas Mama Kiara ramah sambil menepuk bahu Khafi samar.

​Khafi mengangguk sopan, lalu berbalik badan melangkah santai menuju tempat mobil Pandu yang sudah menunggu sambil menyeringai ledekan. Kiara menatap punggung cowok yang mengenakan jaket parka khaki itu sampai menghilang di dalam mobil, memegangi pipinya yang masih terasa hangat di siang hari menjelang sore yang sejuk itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!