Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. Hujan Pertama dan Pilihan Kedua

..."Ketika hujan memaksa kita memilih antara nyawa dan makanan, maka jangan pilih salah satunya, basahi dirimu dua kali, karena seorang penjaga tidak membiarkan siapa pun tenggelam, juga tidak membiarkan siapa pun lapar."...

Hujan pertama musim baru turun di Desa Majia pada hari ke 30 tepat ketika matahari belum sempat naik tinggi, bukan hujan deras yang langsung menenggelamkan, melainkan hujan tipis yang jatuh terus-menerus seperti benang perak yang ditarik dari langit dan membuat tanah yang baru kering kembali menjadi licin, membuat bambu yang baru dipotong menjadi berat, dan membuat semua orang yang sedang membangun rumah panggung harus bekerja dengan jubah basah yang menempel di badan dan tangan yang kaku karena dingin.

Jing yue berdiri di atas fondasi rumah keempat dengan air menetes dari ujung rambutnya ke ujung hidung, memegang palu yang gagangnya sudah licin, dan berteriak agar semua orang mempercepat ikatan di bagian bawah karena menurut pengamatan Tetua Keempat kalau hujan seperti ini terus selama tiga hari maka Sungai Min akan naik setinggi lutut di dataran rendah.

Seluruh desa bergerak cepat, laki-laki mengangkat tiang, perempuan menenun dinding dari bambu, anak-anak membawa tali basah yang beratnya dua kali lipat, dan di tengah lapangan dapur umum mengepul dengan api yang susah dinyalakan karena kayu basah sehingga asapnya lebih banyak daripada apinya.

Paman Chen datang berlari dari arah sungai dengan napas terengah dan wajah yang lebih pucat dari air hujan, dan dia berkata bahwa air sudah mulai masuk ke gudang persediaan beras yang baru saja dibangun di sisi barat desa, karena tanggul darurat yang mereka buat minggu lalu belum cukup tinggi dan kalau tidak segera ditinggikan maka seratus karung beras bantuan dari istana akan basah dan tidak bisa dimakan.

Di saat yang bersamaan, dari arah ujung desa terdengar teriakan lain, yaitu teriakan Nenek Sun yang rumahnya berada paling dekat dengan bantaran sungai, dan ketika Jing yue menoleh dia melihat air sudah masuk ke dalam rumah panggung yang baru setengah jadi itu dan dua cucu Nenek Sun terjebak di atas dipan karena tangga belum selesai dipasang.

Dua kabar itu datang bersamaan, seperti dua tangan yang menarik Jing yue ke arah yang berlawanan, satu tangan menarik ke arah gudang yang isinya adalah makanan untuk tiga ratus orang selama satu bulan, dan satu tangan menarik ke arah rumah yang isinya adalah dua nyawa yang kalau terlambat sedetik saja bisa hanyut.

Tetua Kedua berteriak agar semua orang ke gudang, karena beras lebih penting, karena kalau beras hilang maka seluruh desa akan kelaparan dan mati pelan-pelan, sementara Tetua Ketiga berteriak agar ke rumah Nenek Sun, karena nyawa tidak bisa ditimbang dengan karung.

Hujan semakin deras, air di jalan sudah setinggi mata kaki dan terus naik, dan Lei Feng yang baru kembali dari mengantar kayu menatap Jing yue dan berkata bahwa dia tidak bisa memilihkan, bahwa pilihan itu harus dari Jing yue karena dia yang memegang tanggung jawab.

Jing yue tidak menjawab, dia hanya melempar palunya ke tanah, mengambil tali paling panjang dari tumpukan, mengikatnya di pinggang, lalu menoleh ke arah dua puluh murid yang basah kuyup dan berkata dengan suara yang tidak bergetar bahwa sepuluh orang ikut dia ke rumah Nenek Sun, dan sepuluh orang ikut Tetua Kedua ke gudang, dan siapa pun yang sampai lebih dulu harus bertahan sampai yang lain datang membantu.

Keputusan itu diambil dalam waktu satu tarikan napas, dan tidak ada yang bertanya lagi, karena semua orang tahu bahwa di saat seperti ini bertanya hanya membuang waktu.

Jing yue dan kelompoknya berlari menembus hujan, air memercik sampai ke lutut, dan ketika mereka sampai di rumah Nenek Sun, air sudah setinggi pinggang dan arus mulai kuat, sehingga dua anak itu menangis sambil berpegangan pada tiang dan Nenek Sun berdiri di air sambil mengangkat mereka setinggi mungkin.

Tanpa berpikir panjang, Jing yue melompat ke air, merasakan dinginnya menusuk sampai ke tulang, lalu dia mengikatkan tali ke tubuhnya dan ke tubuh anak pertama, menyuruh muridnya menarik dari atas, lalu dia kembali lagi untuk anak kedua dan untuk Nenek Sun yang kakinya sudah tidak kuat berdiri.

Butuh waktu yang terasa seperti setengah jam padahal hanya beberapa menit, dan ketika ketiganya akhirnya berhasil ditarik ke tempat yang lebih tinggi, Jing yue batuk karena menelan air, tubuhnya gemetar, tapi dia masih sempat memeriksa nadi anak-anak itu dan memastikan mereka tidak terluka.

Di saat yang sama, dari arah gudang terdengar teriakan dan suara kayu yang patah, dan ketika Jing yue menoleh dia melihat setengah atap gudang sudah roboh karena tiang penyangga tidak kuat menahan air, dan sepuluh murid bersama warga sedang mati-matian mengangkat karung ke tempat yang lebih tinggi sambil air terus masuk.

Jing yue menyerahkan anak-anak itu kepada Bai Ling, lalu dia kembali berlari ke gudang dengan sisa tenaga, dan di sana dia melihat pemandangan yang membuatnya hampir putus asa, karena air sudah setinggi dada dan beberapa karung sudah mulai mengembang dan pecah.

Dia tidak sempat berpikir, dia langsung masuk ke air, mengangkat karung demi karung bersama Tetua Kedua dan Lei Feng, dan setiap kali mengangkat satu karung dia berteriak agar yang lain membuat rantai manusia agar karung bisa dilempar dari tangan ke tangan tanpa harus semua orang turun ke air.

Selama dua jam mereka bekerja tanpa henti, hujan tidak berhenti, tangan lecet, punggung sakit, dan ketika akhirnya karung terakhir berhasil dipindahkan ke balai desa yang lebih tinggi, semua orang jatuh terduduk di tanah dengan napas terengah dan tubuh menggigil.

Setelah itu barulah mereka menghitung, dan ternyata dari seratus karung, tujuh puluh delapan berhasil diselamatkan, dua puluh dua karung basah dan harus dijemur segera, dan tidak ada satu pun orang yang hilang.

Malam itu, tidak ada yang tidur, semua orang menyalakan api besar di tengah balai untuk mengeringkan beras, untuk menghangatkan badan, dan untuk merebus jahe yang dibagi ke semua orang agar tidak demam.

Jing yue duduk di sudut dengan selimut basah di pundak, tangannya gemetar bukan karena dingin tapi karena lelah, dan dia menatap dua anak dari keluarga Nenek Sun yang kini tertidur di pangkuan neneknya dengan selimut kering.

Paman Chen datang membawa semangkuk bubur dan berkata bahwa dia tidak tahu harus berterima kasih yang mana dulu, apakah karena nyawa cucunya diselamatkan atau karena beras desa tidak habis, dan Jing yue hanya menggeleng dan berkata bahwa dia tidak memilih salah satu, dia hanya memilih agar tidak ada yang kehilangan.

Tetua Kedua yang tadinya berdebat dengannya kini duduk di sampingnya dan berkata bahwa dia salah, bahwa di saat seperti itu tidak ada pilihan yang benar atau salah, yang ada hanya pilihan yang membuat orang tetap hidup.

Lei Feng duduk agak jauh, mengganti perban di tangannya yang tergores kayu, lalu dia berkata bahwa ini pertama kalinya dia melihat seseorang mau masuk ke air dua kali untuk dua hal yang berbeda, dan Jing yue menjawab bahwa seorang Penjaga Gerbang tidak memilih antara pintu dan isinya, dia menjaga keduanya.

Hujan masih turun sampai tengah malam, tapi kali ini tidak ada yang panik, karena tanggul darurat sudah ditinggikan lagi dengan karung pasir, karena semua orang sudah tahu di mana harus lari, dan karena mereka sudah belajar dari banjir pertama.

Sebelum fajar, Jing yue menulis di bukunya dengan tinta yang bercampur air, dan tulisannya berantakan tapi dia tetap menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa pilihan paling sulit bukan memilih antara A atau B, tapi menemukan cara agar A dan B tidak harus dikorbankan.

Dia juga menulis bahwa hari ini dia hampir kehilangan beras, hampir kehilangan anak, tapi pada akhirnya dia tidak kehilangan keduanya, dan itu bukan karena dia hebat, tapi karena ada dua puluh orang yang mau berlari ke dua arah tanpa bertanya.

Dia menulis bahwa musim kedua baru mulai, air masih akan naik, dan mungkin nanti akan ada pilihan yang lebih sulit lagi, tapi dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan tetap mencari jalan ketiga, jalan keempat, selama masih ada jalan.

Ketika matahari akhirnya muncul di balik awan, meskipun masih redup, seluruh desa keluar untuk menjemur beras di atas tikar dan atap, dan anak-anak berlari membawa karung kecil sambil tertawa karena mereka bangga bisa membantu.

Nenek Sun datang membawa seikat daun obat dan meletakkannya di depan Jing yue tanpa berkata apa-apa, hanya menunduk dan menggenggam tangannya, dan genggaman itu lebih hangat daripada api.

Jing yue berdiri, mengikat rambutnya yang masih basah, mengambil palu yang kemarin dia lempar, dan kembali ke fondasi rumah keempat yang pembangunannya tertunda, karena dia tahu bahwa setelah hujan pasti ada pembangunan, dan setelah pilihan pasti ada pekerjaan yang harus dilanjutkan.

Di sampingnya Lei Feng mengambil gergaji dan berkata bahwa dia akan tinggal sampai atap terakhir terpasang, dan Jing yue mengangguk, tidak banyak bicara, karena kadang persahabatan tidak perlu kata, cukup dengan bekerja berdampingan di bawah hujan.

Hari ke 30 ditutup dengan suara palu yang kembali terdengar, dengan bau beras yang dijemur, dengan bau jahe yang direbus, dan dengan janji kecil di dalam hati Jing yue bahwa selama dia masih punya dua tangan, dia akan menggunakannya untuk menarik orang keluar dari air dan untuk mengangkat karung agar orang tidak kelaparan.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!