Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pencarian Investor Misterius

Lobi utama Pradipta Tower yang megah menjulang bagaikan istana kaca yang tak tersentuh. Marmer murni mengilap memantulkan bayangan orang-orang berjas rapi yang lalu-lalang dengan langkah tergesa. Di sudut ruang tunggu VIP, suasana sama sekali berbeda. Ibu Rosma dan Dion berdiri dengan wajah memerah, meremas-remas ujung pakaian mereka di depan meja resepsionis berlapis emas.

"Tolonglah, Mbak! Kami ini keluarga dekat dari mitra yang dijanjikan pertemuan!" ratap Rosma dengan suara menahan malu. Keangkuhan yang biasa ia pamerkan saat memaki Rendy di rumah kontrakan kini menguap tak berbekas. Wajahnya memelas, matanya sembap oleh rasa panik yang menggerogoti jiwanya sejak subuh. "Sedikit saja... kasih kami waktu lima menit untuk bertemu Direktur Utama Pradipta Group!"

Dion ikut menyela, mencoba menegakkan dadanya meski lututnya gemetaran. "Iya, Mbak! Kakak ipar saya, Hendra Wijaya, sudah bersiap di luar. Kami cuma mau memastikan dokumen penyertaan modal itu ditandatangani hari ini! Ini urusan hidup dan mati bisnis keluarga kami!"

Petugas resepsionis berseragam rapi itu hanya menatap mereka dengan senyum formal yang amat dingin—jenis senyuman yang biasa diberikan kepada orang-orang berkedudukan rendah yang mencoba menerobos batas.

"Mohon maaf, Ibu, Bapak," sahut resepsionis itu tenang namun tegas. "Jadwal Bapak Presdir Rendy Pradipta sangat padat. Tanpa surat konfirmasi resmi dari Sekretaris Utama, siapapun tidak diizinkan melangkah ke area lift khusus. Silakan Bapak dan Ibu menunggu di luar area lobi jika tidak memiliki dokumen reservasi."

"Tapi kita ini calon penerima investasi seratus miliar!" seru Dion frustrasi, menarik perhatian beberapa pengawal berbadan tegap di dekat pintu masuk. Dua pengawal berseragam hitam seketika melangkah mendekat, memberikan tatapan mengintimidasi yang membuat Dion langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Rosma meremas tas kulit imitasinya dengan jemari gemetaran, menyadari betapa kerdilnya mereka di dalam gedung raksasa ini.

Di lantai teratas Pradipta Tower, suasana amat hening. Ruang kerja Presdir yang seluas lapangan bola dinaungi dinding kaca besar yang memperlihatkan lanskap kota dari ketinggian ratusan meter.

Rendy duduk di balik meja kerja kayu jati hitam berukir eksklusif. Kemeja sutra putih yang melekat di tubuh tegapnya tampak sempurna tanpa kerutan sedikit pun. Jemari tangannya yang kokoh mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur, memantulkan pendar dingin dari lampu gantung kristal di atasnya.

Klek.

Pintu ganda berlapis kulit pintu terbuka halus. Siska melangkah masuk dengan gaun terusan hitam ketat yang mencetak siluet lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut hitamnya diurai halus, menyebarkan aroma wangi bunga melati dan vanila saat ia mendekati meja kerja sang Presdir.

"Tuan Presdir," tutur Siska dengan suara rendah yang merdu. "Laporan arus kas dan berkas pengajuan restrukturisasi utang dari perusahaan Hendra Wijaya sudah berada di meja sistem."

Rendy tidak mengalihkan pandangannya dari kaca besar. "Biarkan berkas itu di sana."

Siska melangkah pelan memutari meja kerja kayu tersebut, mengikis jarak di antara mereka hingga posisi berdiri sekretaris cantik itu berada tepat di belakang kursi kerja Rendy. Meringankan langkahnya, Siska menundukkan wajahnya sedikit. Napas hangatnya berembus halus mengusap belakang leher Rendy.

"Anda bekerja terlalu keras sejak semalam, Tuan," bisik Siska dengan nada memikat yang amat halus.

Tanpa ragu, Siska mengulurkan kedua tangannya yang terasa halus dan hangat. Jemari lentiknya mendarat di atas pangkal leher dan otot bahu Rendy yang tegap. Dengan pijatan yang teratur dan penuh kepatuhan, Siska mengelus lembut bagian belakang leher sang Presdir, menyusurkan ibu jarinya untuk mengurai ketegangan di persendian bahu Rendy.

Gerakan jemari Siska begitu lembut dan intim, sesekali sapuan telapak tangannya yang hangat bergeser mengenai kulit leher Rendy di balik kerah kemeja yang terbuka sedikit. Siska menunduk lebih rendah, membiarkan beberapa helai rambut wangi jatuh menyapu pipi tegap Rendy. Lirikan matanya yang sarat akan daya pikat terpancar jelas di pantulan kaca depan, menunjukkan kepasrahan penuh seorang wanita di hadapan pria yang memegang kekuasaan tertinggi.

"Biarkan saya meredakan sedikit beban pikiran Anda, Tuan Presdir," goda Siska lirih, jemarinya terus memijat lembut, menyebarkan sensasi hangat yang memanjakan ke seluruh leher dan dada atas Rendy.

Namun, Rendy tetap bergeming bak dinding batu karang. Sorot matanya yang tajam di balik pantulan kaca sama sekali tak goyah. Rasa hangat dari pijatan intim Siska tak mampu menyentuh hatinya yang telah membeku menjadi es sejak malam pengusiran itu.

"Cukup, Siska," panggil Rendy pendek. Suaranya datar, namun mengandung daya tekan yang membuat jemari Siska seketika terhenti di tempat.

Siska menarik tangannya kembali secara perlahan, membungkuk penuh hormat seraya menundukkan pandangannya. "Maafkan atas kelelapan saya, Tuan."

Pada saat yang sama, pintu ruang kerja kembali terbuka. Asisten Bagas melangkah masuk dengan raut wajah tegas, membawa sebuah dokumen berstempel merah di tangannya.

"Melaporkan, Presdir Rendy," ujar Bagas mantap sambil membungkuk sembilan puluh derajat. "Di bawah lobi, Ibu Rosma dan Dion masih mencoba menerobos masuk secara paksa. Sementara itu, Hendra Wijaya telah mengirimkan proposal permohonan investasi darurat atas nama konsorsium keluarganya."

Rendy membalikkan kursi mewahnya, menatap Bagas dengan mata dingin yang penuh keputusan mutlak. "Bagaimana isi proposal mereka?"

Bagas membuka dokumen tersebut, lalu tersenyum tipis berhias kejam. "Mereka menjaminkan seluruh sisa aset toko kelontong, rumah kontrakan, dan sisa saham perusahaan Hendra. Mereka bahkan mencantumkan nama Nyonya Clarissa sebagai penjamin utama agar Anda berkenan memberikan suntikan dana seratus miliar."

Rendy terkekeh pelan—sebuah terkekeh dingin tanpa rasa humor sedikit pun. "Mereka menjual nama Clarissa untuk menyelamatkan piring nasi mereka sendiri."

"Lalu, apa perintah Anda selanjutnya, Tuan Presdir?" tanya Bagas.

Rendy mengangkat tangan kanannya, mengibaskan jemarinya di udara sebagai tanda penolakan mutlak yang tak bisa diganggu gugat.

"Bagas," kata Rendy dengan suara berat yang menggelegar di dalam ruang kerja yang sunyi. "Sampaikan keputusan ini langsung ke muka mereka. Proposal investasi dan bantuan keuangan untuk keluarga Rosma dan Hendra Wijaya... DITOLAK MENTAH-MENTAH tanpa syarat."

Pernyataan dingin dari mulut Rendy menggantung kaku di udara. Asisten Bagas membungkuk hormat, menyanggupi perintah tersebut tanpa keraguan sedikit pun, lalu segera melangkah keluar ruangan untuk mengeksekusi instruksi sang Presdir.

Di area lobi utama Pradipta Tower, napas Ibu Rosma makin terengah-engah oleh rasa panik. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, melunturkan bedak tebal yang membungkus wajah bahagianya tadi pagi. Dion bersedekap di sampingnya sambil terus mengutuki nasib, sesekali melempar pandangan benci ke arah para pengawal yang berjaga kaku.

Ting!

Pintu lift khusus eksekutif berdenting halus, membentangkan selasar marmer tempat Asisten Bagas melangkah keluar bersama dua sekretaris senior. Langkah kaki Bagas yang tegap dan berwibawa seketika menyedot perhatian seluruh orang di lobi.

Melihat kehadiran orang kepercayaan tertinggi Pradipta Group tersebut, mata Rosma berbinar cerah bagaikan menemukan setitik cahaya di tengah kegelapan. Tanpa memedulikan rasa malu, Rosma berlari kecil mendekati Bagas, disusul Dion yang sibuk merapikan kemejanya.

"Pak Bagas! Pak Bagas!" panggil Rosma dengan suara melengking penuh harapan. "Saya Ibu Rosma! Ini proposal dari menantu saya, Hendra Wijaya! Kami sudah mencantumkan seluruh jaminan, bahkan nama putri saya Clarissa juga ada di sana! Tolong sampaikan kepada Bapak Presdir agar dana seratus miliar itu segera dicairkan hari ini!"

Bagas menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Rosma dan Dion. Raut wajah pria paruh baya itu sangat datar, memancarkan aura keangkuhan konglomerat yang tak tersentuh.

Bagas menerima map dokumen dari tangan Rosma, melihat lembar sampulnya sejenak, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita tua yang serakah itu.

"Ibu Rosma," suara Bagas menggelegar tenang namun tajam menghujam. "Bapak Presdir Rendy Pradipta telah meninjau proposal Anda secara langsung. Dan beliau menyampaikan pesan secara pribadi..."

Bagas sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan yang mencekik batin menyelimuti ruang lobi.

"Keputusan beliau bersifat mutlak," lanjut Bagas dingin. "Seluruh proposal investasi, permohonan restrukturisasi utang, serta bantuan keuangan untuk keluarga Anda dan Hendra Wijaya... DITOLAK MENTAH-MENTAH tanpa ada negosiasi ulang."

DEG!

Dunia Rosma serasa runtuh seketika. Lututnya melemah, matanya terbelalak lebar menatap dokumen yang kini dilemparkan Bagas kembali ke pangkuannya.

"Ti-tidak mungkin..." bisik Rosma dengan bibir gemetaran, suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat stempel merah bertuliskan REJECTED terpatri besar di atas nama keluarganya.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!