Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Mobil sedan hitam milik Husna membelah jalanan kota yang mulai sepi. Pendar lampu jalanan menembus kaca depan, membiaskan bayangan wajah Husna yang begitu tenang tanpa raut emosi sedikit pun. Setelah menghadiri pesta pernikahan Bian dan Salma di hotel berbintang tadi, tidak ada rasa lelah apalagi patah hati yang menyelimuti dadanya. Bagi Husna, malam ini bukanlah akhir dari kebahagiaannya, melainkan garis awal dari skenario besar yang sudah ia rancang dengan sangat presisi.
Beberapa puluh menit berlalu, mobil Husna meluncur mulus memasuki garasi kediamannya. Suasana rumah yang luas itu terasa begitu hening dan damai.
Husna mematikan mesin mobil, meraih tas tangannya, lalu melangkah keluar.
Ia berjalan memasuki rumah, disambut oleh kehangatan lampu utama yang masih menyala. Devan dan Deka rupanya belum tidur. Kedua putra kembarnya itu sedang duduk di sofa ruang tamu dengan buku pelajaran terbuka di meja, menantikan kepulangan sang Bunda dengan cemas.
"Bunda..." sapa Devan seraya berdiri pertama kali, diikuti oleh Deka.
Husna mengulas senyum paling hangat yang ia miliki. Rasa tegang yang sempat menyelimuti wajah si kembar seketika menguap melihat Bunda mereka pulang dengan raut wajah yang tetap utuh, anggun, dan segar sama sekali tidak seperti wanita yang baru saja menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain.
"Kok belum pada tidur? Sudah malam, lho," puji Husna lembut seraya mendekati kedua anak kembarnya.
Devan menyalami tangan Husna, disusul oleh Deka. "Kami nungguin Bunda. Gimana acaranya tadi, Bun?" tanya Deka pelan, mencoba menakar situasi tanpa ingin melukai perasaan ibunya.
"Lancar," jawab Husna singkat namun sarat makna. "Pestanya sangat megah, bunganya melimpah, dan calon... maksud Bunda, istri baru Ayah kalian kelihatan sangat bahagia."
Devan menyeritkan alisnya tipis, bisa membaca ironi dingin di balik kalimat ibunya. "Bunda benar-benar tidak apa-apa?"
Husna membelai lembut bahu Devan, lalu menatap Deka. "Bunda tidak pernah se-tidak-apa-apa ini, Nak. Justru setelah melihat pesta itu secara langsung, Bunda tahu... semua bidak catur sudah berdiri tepat di posisinya masing-masing."
Husna meminta kedua anaknya untuk segera beristirahat. "Kalian masuk kamar ya, lanjut istirahat. Biar besok sekolahnya tidak terlambat. Serahkan sisanya sama Bunda."
Devan dan Deka saling bertukar pandang, lalu mengangguk patuh. Kepercayaan mereka pada kehebatan ibunya sudah tidak tergoyahkan. "Baik, Bunda. Selamat malam," ucap Devan.
"Selamat malam, anak-anak Bunda," balas Husna hangat.
Setelah memastikan pintu kamar kedua putranya tertutup rapat, Husna melangkah menuju kamar utamanya. Ia melepas sepatu hak tingginya, membiarkan kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin.
Husna meletakkan tas mewahnya di atas meja kerja di sudut kamar. Ia berdiri sejenak di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang, menatap pendar rembulan malam. Bayangan wajah Salma yang tersenyum mengejek di pelaminan tadi kembali terlintas di ingatannya. Bayangan Bian yang membusungkan dada seolah telah menjadi pemenang utama pun berputar jelas.
Husna menyunggingkan sebuah senyuman tipis senyuman paling dingin yang pernah terukir di bibirnya.
"Kalian merasa sudah menang?." batin Husna.
Ia berbalik, melangkah menuju meja dan merogoh ponsel mahal dari dalam tas tangannya. Layar ponsel itu menyala, menerangi jemari lentik Husna yang bergerak dengan ketenangan mutlak tanpa ada sedikit pun keraguan.
Husna membuka aplikasi pesan singkat. Ia tidak mengetik pesan emosional, tidak membuat status melankolis, dan tidak menghubungi siapa pun untuk mencurahkan rasa sakit hati. Husna adalah seorang pengusaha berdarah dingin yang memegang kendali atas jaringan distribusi besar.
Husna memilih kontak Manajer Operasional utama di perusahaan jaringan bahan bangunan dan distribusi miliknya, serta beberapa grup koordinasi kolega supplier dan distributor ritel terbesar yang selama ini menjadi pemasok utama barang-barang untuk swalayan milik Bian.
Dengan jemari yang mantap, Husna mengetikkan sebuah instruksi singkat, jelas, dan mematikan.
"Mulai besok pagi, hentikan semua harga potongan khusus dan batalkan tenor pembayaran lunak untuk pasokan barang di Swalayan milik Bian. Kembalikan ke tarif normal dan sistem pembayaran tunai."
Pesan itu terkirim secara serentak ke belasan nama penting dalam industri pasokan ritel.
Hanya dalam hitungan detik, tanda centang biru bermunculan, disusul balasan demi balasan dari para bos distributor dan manajer senior.
"Baik, Bu Husna. Instruksi dilaksanakan mulai besok pagi jam 08.00."
"Siap, Bu. Semua fasilitas potongan harga khusus atas nama rekomendasi Bu Husna resmi kami cabut."
"Sistem kredit pembayaran 60 hari kami batalkan, Bu. Besok penagihan akan dilakukan secara tunai sebelum barang diturunkan."
Husna mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja.
Dua kalimat pesan singkat itu adalah palu vonis yang dieksekusi dengan sempurna. Selama enam bulan terakhir, bisnis toko swalayan rintisan Bian bisa mencetak margin keuntungan hingga ratusan juta rupiah bukan murni karena keahlian manajemen Bian. Bisnis itu berkembang pesat karena Husna secara diam-diam memfasilitasi toko suaminya dengan potongan harga supplier hingga 25% di bawah harga pasar, serta memberikan tenor pembayaran barang yang sangat longgar hingga dua bulan.
Tanpa campur tangan dan jaminan nama besar Husna di belakang layar, toko swalayan itu hanyalah sebuah toko ritel biasa yang rentan tergerus biaya operasional tinggi.
Kini, dengan draf perjanjian legal yang sudah ditandatangani di notaris, leher finansial Bian sudah terkunci rapat.
100% gaji resmi, tunjangan, dan bonus posisi Manajer Bian terkunci utuh masuk ke rekening Husna.
Salma dan kebutuhan hidup mewahnya murni harus dinafkahi dari hasil keuntungan bersih toko swalayan.
Dengan dicabutnya seluruh fasilitas potongan harga dan diubahnya sistem pembayaran menjadi tunai di muka (cash on delivery), arus kas (cash flow) swalayan Bian dipastikan akan langsung hancur seketika. Swalayan cabang pertama akan megap-megap menutupi modal pasokan barang, sementara cabang kedua yang baru dibangun dengan modal nekat akan menjadi beban utang yang melilit leher Bian.
Husna berjalan menuju meja riasnya, melucuti perhiasan dan membuka hijab sutranya dengan gerakan yang amat tenang. Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
"Pesta indahnya sudah selesai, Mas Bian... Salma..." bisik Husna halus pada pantulan dirinya sendiri. "Sekarang, selamat menikmati kenyataan dari permainan yang kalian ciptakan sendiri."
Husna mematikan lampu kamar utama, lalu berbaring di ranjangnya yang luas dengan napas yang teratur dan pikiran yang sangat damai. Di tempat lain malam itu, Bian dan Salma mungkin sedang tertawa merayakan malam pertama pernikahan mereka di suite hotel mewah tanpa menyadari bahwa saat matahari terbit besok pagi, istana megah yang mereka banggakan sudah kehilangan seluruh fondasinya.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?