Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: SENJA DI UJUNG NGARAI
Angin puncak tebing berembus kencang, membawa gulungan kabut hitam yang pekat dan menusuk kulit. Di belakang mereka, raungan frustrasi Xiong Wei dan deru napas memburu Yan Ge yang sekarat di dasar ngarai perlahan lenyap, ditelan oleh jurang terjal dan jarak yang kian menjauh.
Lu Feng sesekali melirik ke bawah melalui sudut matanya. Meski dua pakar Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak itu telah terluka parah dan terhambat racun korosif, keputusasaan dari seorang praktisi yang berada di ambang batas Ranah Penempaan Tubuh bukanlah hal yang boleh diremehkan.
"Kita benar-benar membiarkan mereka membusuk di bawah sana?" bisik Lu Feng seraya menancapkan jemarinya yang mengeras lewat teknik cakar ke celah dinding batu.
"Mengejar orang yang putus asa hanya membuang tenaga secara konyol," sahut Xuan Chen pendek tanpa menghentikan gerakannya.
Xuan Chen memanjat tepat di sebelah Lu Feng dengan ritme yang sangat konstan. Gerakannya amat presisi, mengandalkan kekuatan tumpuan persendian dan kerapatan tulang Lapisan Tiga miliknya. Setiap pijakan kaki dipilih tanpa ada satu pun gerakan atau momentum yang terbuang sia-sia.
Sret!
Dalam kurun waktu singkat, pendaran bening keabu-abuan berkedip samar di balik kelopak mata kiri Xuan Chen. Penglihatan misteriusnya menyibakkan celah-celah tebing yang lapuk di balik kabut tebal, mengarahkannya pada lintasan paling aman menuju puncak tanpa perlu mengalami risiko tergelincir.
Begitu kedua kaki mereka menyentuh dataran puncak tebing yang datar, Lu Feng langsung menyandarkan punggungnya pada salah satu pilar batu runcing. Napasnya memburu keras, dadanya naik turun menahan rasa lelah yang amat sangat.
"Staminaku hampir terkuras habis," gumam Lu Feng seraya menyapu keringat dingin di dahinya. "Matahari di atas sana sudah mulai bergeser ke ufuk barat. Batas waktu ujian tinggal menyisakan beberapa hitungan dupa lagi."
Xuan Chen berdiri diam, mengatur ritme pernapasan untuk menstabilkan aliran darahnya. Matanya yang dingin menyapu sekeliling. Puncak tebing ini dikelilingi oleh barisan batu-batu runcing berukuran raksasa, dengan jarak pandang yang makin menyempit akibat kabut tebal dan perubahan warna langit yang kian menggelap.
"Sesuai rencana awal," ucap Xuan Chen datar. "Dalam kondisi stamina yang terkuras, memaksa bergerak di jalur terbuka hanya akan menjadikan kita sasaran empuk bagi kelompok lain yang sengaja bersembunyi mencegat di dekat garis luar."
"Lalu apa langkah kita sekarang?" tanya Lu Feng.
"Cari tempat tersembunyi. Kita pulihkan daya tahan fisik di puncak ini untuk beberapa tarikan napas sebelum bergerak menuju gerbang luar," balas Xuan Chen.
Tanpa membuang waktu, Xuan Chen melangkah menelusuri celah di antara pilar-pilar batu raksasa. Insting tempurnya yang tajam memandu kakinya menembus kabut hingga mata kirinya menangkap sebuah celah sempit yang terhimpit di antara dua batuan besar.
Namun, saat melangkah mendekati celah tersebut, langkah Xuan Chen mendadak terhenti. Hidungnya mengembang pelan.
Aroma amis darah yang samar bercampur dengan hawa pembusukan menguar keluar dari celah itu. Ini bukan sekadar tempat berlindung yang kosong.
Deg!
Denyut nyeri mendadak meledak di bahu kiri Xuan Chen. Luka sayatan tipis akibat kibasan belati racun milik Yan Ge di dasar ngarai tadi mulai menunjukkan reaksinya. Hawa dingin dari racun tersebut merayap perlahan, berusaha mengisolasi jalur pembuluh darah di sekitar pundaknya.
Xuan Chen menekan titik saraf di bawah tulang selangkanya menggunakan dua jari, menahan rasa lemas yang merayap tanpa memperlihatkan raut kepanikan sedikit pun.
"Senior Lu... bersiaplah," desis Xuan Chen dingin.
Sebelum Lu Feng sempat bertanya, Xuan Chen melangkah maju setengah tapak. Dengan memadatkan sisa kekuatan fisik Lapisan Tiga ke kepalan tangan kanannya, Xuan Chen menghantamkan tinjunya ke arah celah batu yang gelap!
Brak!
Hisssss!
Sebuah jeritan melengking yang memekakkan telinga meledak dari dalam. Dari balik kegelapan celah, seekor ular berukuran tebal dengan sisik yang menyerupai batu kelabu meluncur deras keluar. Binatang buas itu adalah Ular Batu Jiwa—beast fana yang memiliki daya hancur fisik setara dengan kultivator Lapisan Tiga.
Namun, Xuan Chen yang sudah membaca keberadaannya dari aroma udara tidak memberi kesempatan sedikit pun pada binatang itu untuk menyemprotkan bisanya.
Brak!
Tanpa membuang tenaga berlebih, tinju Xuan Chen meluncur lurus bagaikan pilar besi, menghantam tepat di bagian rahang Ular Batu Jiwa tersebut hingga remuk dan terhempas ke dinding batu.
Lu Feng tidak tinggal diam. Dengan sisa tenaga fisiknya, ia melompat maju dan mengayunkan sepuluh jarinya yang melengkung tajam.
Srekkkkkk!
Cakar baja Lu Feng menembus bagian belakang kepala beast tersebut, memutus vitalitasnya secara instan. Tubuh ular raksasa itu kejang seketika, lalu terkulai tak bernyawa di atas tanah basah.
"Gerakan yang efisien," gumam Lu Feng seraya menyapu darah ular dari jarinya.
"Masuk," perintahkan Xuan Chen pendek.
Keduanya melangkah masuk ke dalam celah batu yang ternyata membentuk sebuah ceruk kecil yang cukup terlindung dari embusan angin tebing. Xuan Chen segera duduk bersila di atas tanah keras, menyandarkan punggungnya pada dinding batu.
Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam jaringan fisiknya. Rasa dingin akibat racun belati Yan Ge kian kuat menggerogoti ketahanan fisiknya. Xuan Chen menarik napas dengan pola teratur—tiga tarikan pendek dan satu hembusan panjang—memaksa dorongan darahnya untuk mengisolasi racun tersebut di area pundak agar tidak menjalar ke ulu hati.
Darah kental berwarna kehitaman perlahan merembes keluar dari luka sayatan di lehernya, menetes membasahi kerah jubah hitam polos yang dikenakannya. Rasa sakitnya menusuk hingga ke tulang, namun raut wajah Xuan Chen tetap sedatar telaga es di puncak gunung.
Di sisi lain ceruk, Lu Feng duduk sambil memegang dadanya yang kian tenang. Matanya sesekali melirik ke arah Xuan Chen, lalu beralih ke lipatan terdalam jubah Xuan Chen tempat Token Darah disimpan.
Keserakahan khas murid sekte demonic sempat bergejolak di dalam dada Lu Feng saat melihat Xuan Chen dalam kondisi melemah. Namun, memikirkan ketenangan berdarah dingin serta efisiensi serangan Xuan Chen yang mampu menumbangkan musuh dalam sekejap, Lu Feng menekan kembali niat buruk tersebut.
Bertaruh nyawa melawan Xuan Chen saat waktu ujian hampir habis adalah tindakan konyol yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.
"Bagaimana kondisi lukamu, Junior Xuan?" tanya Lu Feng dengan nada yang diusahakan setenang mungkin.
Xuan Chen perlahan membuka mata kirinya. Pendaran bening yang tajam menyapu wajah Lu Feng selama satu tarikan napas, memberikan tekanan psikologis yang tak kasatmata.
"Cukup untuk meremukkan leher siapa pun yang mencoba mengambil kesempatan," jawab Xuan Chen datar tanpa riak emosi.
Lu Feng tertawa kecil dengan raut cemas yang tertutup sempurna. "Haha, kau terlalu banyak curiga, Junior. Kita masih terikat aliansi sampai pintu keluar Hutan Bayangan."
"Bagus jika kau mengingatnya," balas Xuan Chen singkat.
Xuan Chen menegakkan tubuhnya kembali. Meskipun racun belati itu belum sepenuhnya musnah dari tubuhnya, setidaknya dorongan darah utamanya sudah kembali stabil dan rasa lemas di kakinya berkurang drastis.
Ia melirik ke luar ceruk batu. Sinar matahari kemerahan di ufuk barat mulai tenggelam di balik awan hitam Benua Merah, menandakan bahwa batas waktu pertandingan sudah berada di penghujung akhir.
"Waktu kita hampir habis," ucap Xuan Chen seraya berdiri dan merapikan jubah hitamnya. "Matahari akan segera terbenam sepenuhnya. Utusan Sekte berzirah hitam pasti sudah menanti di depan gerbang batu raksasa."
Lu Feng ikut berdiri dengan mata berkilat tegas. "Artinya persaingan di pintu keluar akan mencapai puncak berdarahnya sekarang. Murid-murid yang tidak mendapatkan token di dalam hutan pasti akan mencegat di garis akhir."
Xuan Chen menyunggingkan senyum tipis yang dingin, menggenggam erat Token Darah di balik jubahnya.
"Biarkan mereka menunggu," bisik Xuan Chen seraya melangkah keluar dari ceruk batu menyongsong terbenamnya matahari. "Siapa pun yang berdiri menghalangi jalan keluar kita... hanya akan menjadi mayat berikutnya di Hutan Bayangan."
tapi so cerita nya menarik.