“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Elara menatap gelasnya sejenak, lalu menghela napas. Dia tidak bisa menghindari ini, jadi akhirnya dia mengangkat gelasnya juga.
Dreven tersenyum puas dan berbisik pelan di dekat telinganya, "Bagus. Sekarang tinggal hadiah perayaan darimu."
Elara melirik tajam. "Jangan mulai."
Dreven hanya terkekeh, menikmati bagaimana istrinya terjebak dalam permainan yang ia buat sendiri.
Musik menggelegar di seluruh ruangan, dentuman bass menyatu dengan deburan ombak yang terdengar samar dari luar. Klub yang terletak di pinggir pantai itu hanya diisi oleh mereka—Dreven dan teman-temannya telah menyewanya untuk malam ini, memastikan tak ada orang luar yang bisa masuk.
Andre dan Leandro sudah mengambil tempat di bar, tertawa sambil menyesap minuman mereka. Kiera dan Rastha menikmati suasana dengan berdansa di lantai yang diterangi lampu-lampu redup berwarna keemasan.
Di sudut ruangan, Elara duduk dengan tenang di sofa, menyesap minuman dinginnya sambil mengamati suasana. Sesekali dia melirik Dreven yang duduk di kursi rodanya, tampak asyik berbincang dengan Andre.
Dreven, yang sejak tadi memperhatikannya, akhirnya menggerakkan kursi rodanya mendekat. Tanpa aba-aba, dia meraih tangan Elara hingga wanita itu terhuyung berdiri.
"Apa yang kau lakukan?" Elara menatapnya tajam.
Dreven tersenyum miring, menariknya lebih dekat dengan kursi rodanya. "Duduk di sini," katanya sambil menepuk pangkuannya.
Elara menatapnya dengan ekspresi tak percaya. "Kau gila? Aku tidak akan duduk di pangkuanmu di depan umum."
"Kita di klub, hanya ada kita di sini. Dan kau hanya duduk diam? Itu tidak bisa diterima," balas Dreven dengan nada santai.
Elara menghela napas. "Aku tak suka menjadi pusat perhatian seperti ini."
Dreven menatapnya dalam, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit dari kursi roda. "Kalau begitu, anggap saja ini bukan klub. Anggap saja ini tempat khusus untuk kita."
Elara menggigit bibirnya, merasa tak ada gunanya berdebat. Kiera dan Rastha sudah melirik ke arah mereka dengan penuh minat, jelas menunggu bagaimana reaksinya.
"Baiklah," akhirnya Elara berkata, meski dengan enggan. "Tapi hanya sebentar."
Dreven tersenyum penuh kemenangan. Elara dengan canggung duduk di pangkuan Dreven, tubuhnya kaku dan berusaha menjaga jarak. Namun, tangan Dreven segera melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat.
"Aku tidak suka ini," gumam Elara kesal.
Dreven menatapnya dalam, sudut bibirnya melengkung. "Tapi kau tetap di sini."
Elara mendesah pelan, tahu bahwa sekali lagi dia kalah dalam permainan ini.
"Lihat, pengantin baru kita. Baru beberapa saat Dreven sudah berhasil membuat istrinya duduk di pangkuannya, haha," Leandro tertawa di sana dan diikuti oleh Andre.
"Tumben dia berani, padahal biasanya cuma main-main."
Kiera menyeringai sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Mungkin karena ini pertama kalinya dia serius dengan seorang wanita. Lihat, bahkan Dreven terlihat sekali ingin mencium Elara tapi wanita itu menolak, haha."
Rastha mengangguk setuju. "Biasanya Dreven hanya bercanda, tapi sekarang... entahlah, ekspresinya agak berbeda."
Sementara itu, Elara menggigit bibirnya, berusaha mengabaikan tatapan teman-teman Dreven yang jelas menikmati situasi ini. Tangannya mencoba menjauhkan pria itu, tapi Dreven malah semakin menariknya lebih dekat.
"Kau menikmati ini, kan?" bisik Dreven di telinganya.
Elara mendongak, menatapnya dengan tajam. "Jangan terlalu percaya diri."
Dreven hanya terkekeh, tetapi dia akhirnya melonggarkan genggamannya. Elara segera bangkit dari pangkuannya, mundur beberapa langkah sebelum benar-benar berbalik dan menuju bar.
Dia butuh minuman.
Kiera menatapnya dengan senyum penuh arti. "Kau baik-baik saja?"
Elara hanya menatapnya datar, lalu mengambil gelas dari bartender. "Sangat baik. Lebih baik dari yang kalian kira."
Dreven, yang kembali ke sofa dengan kursi rodanya, menyesap minumannya. Tatapannya masih melekat pada Elara. Tanpa tahu kejahilan temannya.
Andre tertawa kecil. "Ini baru menarik."
Leandro mengangkat gelasnya. "Kita lihat apa yang terjadi setelah ini."
Elara mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, dan kulitnya terasa panas seolah-olah dia baru saja keluar dari sauna.
Dia meletakkan gelasnya di meja dan mengusap tengkuknya, mencoba menenangkan diri. "Apa yang...?" gumamnya pelan.
Andre dan Leandro saling bertukar pandang sebelum tertawa kecil, sementara Kiera hanya tersenyum miring.
Dreven yang memperhatikan perubahan itu langsung menyipitkan mata. "Apa yang kalian lakukan?" suaranya dingin, penuh ancaman.
Kiera mengangkat bahu. "Hanya sedikit hiburan untuk malam ini."
Dreven menatap gelas kosong Elara, lalu kembali ke teman-temannya dengan tatapan tajam. "Kalian menaruh sesuatu di minumannya?"
Rastha terkekeh. "Hanya sedikit. Itu bukan obat berbahaya, hanya alkohol dengan campuran tertentu yang membuat seseorang lebih... sensitif."
Elara memegang kepalanya, perasaan panas itu semakin menjadi-jadi. Pandangannya sedikit kabur, dan dia bisa merasakan tubuhnya bereaksi secara aneh.
Dreven menggerakkan kursi rodanya mendekat, meraih dagu Elara agar menatapnya. "Elara, kau baik-baik saja?"
Elara menatapnya dengan mata berkabut, tubuhnya seolah kehilangan keseimbangan. "Aku merasa... aneh."
Tatapan Dreven menggelap. Dia berbalik ke arah teman-temannya. "Shit! Aku akan membuat perhitungan pada kalian!" Umpat Dreven kemudian memanggil bodyguardnya untuk membantu membawa Elara keluar dari klub.
Suara teman-temannya menggelegar seolah menikmati pertunjukan ini.
Elara menggeliat dalam gendongan bodyguard, tubuhnya terasa semakin panas. "Dreven... turunkan aku..." suaranya terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
Namun, Dreven mengabaikannya dan memerintahkan bodyguardnya untuk terus berjalan cepat melewati koridor klub yang sepi, langsung menuju kamar hotel mereka. Rahangnya mengeras, kemarahan jelas terpancar dari sorot matanya.
Begitu sampai di kamar, bodyguard itu meletakkan Elara di tempat tidur dengan hati-hati lalu keluar, meninggalkan Dreven dan Elara berdua.
Elara mengerang pelan, matanya setengah tertutup. "Aku... tidak suka ini..." gumamnya, tangannya mencengkeram seprai dengan erat.
Dreven menghela nafas, lalu mulai mendekat dengan kursi rodanya. Tapi siapa sangka wanita itu mendorongnya dengan keras.
"Jangan sentuh aku!" Serunya dengan keras meskipun dalam pengaruh obat.
Dreven tersentak, tidak menyangka Elara masih bisa melawan dalam kondisi seperti ini. Matanya menajam, "tak ada cara lain, kau mau tersiksa!"
Namun Elara benar-benar tak ingin disentuh pria itu, bahkan melempar bantal ke arah Dreven.
Dreven yang geram berusaha memaksa wanita itu dari kursi rodanya.
Namun, tepat saat Dreven mendekat, Elara mengumpulkan sisa tenaganya dan menendang ke arah dada pria itu.
Dreven terhuyung di kursi rodanya, tidak menyangka Elara masih bisa melakukan perlawanan dalam kondisi seperti ini. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya semakin gelap.
"Sial, kau benar-benar keras kepala."
Elara terengah-engah, matanya berkabut, tubuhnya masih terasa panas, tetapi tekadnya tetap kuat. "Aku lebih baik mati daripada membiarkanmu menyentuhku tanpa izin."
Dreven mengepalkan tangannya. Amarah berkecamuk dalam dirinya, tapi bukan karena Elara menolak, melainkan karena seseorang telah membuatnya seperti ini.
Dia menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Lalu, tanpa mengatakan apa pun, dia menarik selimut dan menutupi tubuh Elara.
"Aku tidak akan menyentuhmu," katanya dengan suara datar, meskipun rahangnya mengeras karena frustasi. Lalu menelepon seseorang, "Siapkan es batu dalam dua menit!"
Dia berencana merendam Elara dengan air es agar wanita itu tak tersiksa.
Tak butuh waktu lama, pelayan hotel mengetuk pintu dan membawa sekantong besar es batu serta ember berisi air dingin. Dreven segera menyuruh pelayan itu mengambilnya dan membawa ember itu ke kamar mandi dengan kursi rodanya, tangannya menggenggam erat ember itu meskipun pergerakannya terbatas.
Elara menggeliat di tempat tidur, wajahnya masih memerah dan tubuhnya basah oleh keringat. Dreven menghela napas panjang sebelum kembali menghampirinya.
"Ini akan terasa tidak nyaman," gumamnya sebelum mengangkat tubuh Elara dan membawanya ke kamar mandi dengan teramat mudah ,sesuatu yang tak terduga terjadi.
Dia bangkit dari kursi rodanya.
Tanpa mengatakan apapun, tanpa ekspresi apapun, Dreven berdiri di atas kedua kakinya. Untuk pertama kalinya, dia berdiri di hadapan Elara.
Elara yang setengah sadar hanya bisa menatap dengan mata berkabut, tidak yakin apakah itu nyata atau halusinasi akibat obat.
Dreven mengangkat Elara ke bak mandi, lalu menuangkan air es ke tubuhnya. Elara meronta seketika, mencoba keluar dari bak, tapi Dreven menahannya.
"Diam dan tetap di dalam," perintahnya tegas.
Elara menggertakkan giginya, tubuhnya menggigil, tetapi sensasi panas di tubuhnya mulai mereda. Matanya sedikit terbuka, menatap Dreven dengan tatapan kesal. "Kau gila..."
Dreven menyeringai, matanya menatap tajam ke arah Elara. "Kau bisa memilih, bertahan sebentar di sini atau tersiksa semalaman."
Elara ingin membalas, tapi tubuhnya terlalu lemah. Dia akhirnya menyerah, bersandar pada dinding bak, menggigil dalam dinginnya air es.
Dreven tetap di sana, mengawasi Elara dalam diam. Setelah beberapa menit, suhu tubuhnya mulai stabil, dan wajah merahnya perlahan memudar.
Melihat itu, Dreven mengangkatnya dari bak, membungkusnya dengan handuk hangat, dan membawanya kembali ke tempat tidur.
Bahkan dengan sigap dia mengganti baju Elara dengan pakaian hangat saat wanita itu sudah tak sadarkan diri. Dalam prosesnya, dia tak berhenti menelan ludahnya.
Miliknya yang berada di bawah sana juga ikut bereaksi berlebihan. "Oh shit!"
Tapi sebelum dia kembali ke kursi rodanya, dia menatap Elara yang terbaring tak sadarkan diri. Dengan lembut, dia menyentuh pipi wanita itu dan berbisik pelan,
"Cuma untuk mu, aku melakukan ini."
Entah apa artinya. Tapi untuk pertama kalinya, Dreven berdiri tanpa bantuan siapa pun—hanya untuk Elara.
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/