EQUILIBRIUM
Dunia ini sebenarnya terdiri dari tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Dahulu kala, manusia hidup dengan damai di lapisan bumi pertama. Di sinilah peradaban mereka berkembang sangat pesat.
Mereka berhasil menciptakan mesin terbang, kapal selam, komputer, hingga berbagai perangkat keras dan lunak yang membawa kemudahan dalam setiap jengkal pekerjaan.
Namun, entah apa yang sebenarnya manusia cari. Mereka tidak pernah puas. Di mana-mana, mereka terus menggali jauh ke dalam tanah, serta menembaki langit dengan senjata pemusnah massal berkekuatan dahsyat yang mereka namai nuklir.
Sampai akhirnya, sebuah kejadian mengejutkan terjadi akibat keserakahan tersebut. Galian mereka ternyata menembus terlalu dalam hingga menyeberang ke lapisan bumi kedua. Begitu pula dengan langit; uji coba senjata pemusnah massal itu berhasil melubangi pembatas dimensi atas.
Dari lubang bumi, bangsa iblis merangkak naik membawa teror. Sementara dari lubang langit, bangsa elf turun ke bumi.
Awalnya semua baik-baik saja, sampai kedua ras asing itu saling bertemu. Entah karena takdir atau memang diciptakan saling bertolak belakang, mereka pun mulai saling menyerang.
Peperangan besar itu berlangsung selama bertahun-tahun. Akibatnya, seluruh kecanggihan teknologi dan indahnya dunia lenyap tak tersisa. Dunia kini berubah menjadi tandus.
Ratusan tahun berlalu sejak langit dan bumi berlubang. Peradaban manusia yang dulu dipenuhi gedung pencakar langit dan jaringan internet telah runtuh total, terkubur di bawah tanah dan menjelma menjadi legenda yang kini disebut masyarakat sebagai "Zaman Kuno".
Manusia yang tersisa dipaksa untuk beradaptasi dengan kejam. Tanpa adanya pabrik dan aliran listrik, mereka terpaksa membangun kembali kehidupan dari nol. Mereka menggunakan kayu, batu, dan besi seadanya, membuat peradaban mundur mirip seperti kehidupan di abad pertengahan.
Bukan hanya kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang lenyap, kini dunia menjadi sangat keras. Hukum rimba berlaku: yang kuat akan memakan yang lemah. Manusia mati tergeletak di jalanan sudah menjadi pemandangan biasa.
Kota-kota modern kini telah berubah menjadi kastel batu yang dikelilingi benteng tinggi, tempat satu-satunya bagi manusia untuk berlindung dari serangan monster atau sisa-sisa pasukan iblis yang masih berkeliaran.
Di dunia yang keras ini, hiduplah Leo. Ia adalah seorang pencuri ulung sekaligus pemburu barang sisaan perang. Baginya, rasa takut tidak akan pernah bisa mengisi perutnya yang kelaparan.
Di siang hari, Leo biasa menyisir tempat seperti Lembah Karat sebuah wilayah gersang dan mati yang dipenuhi puing-puing logam raksasa serta silinder besi Zaman Kuno yang separuhnya terkubur tanah. Di sana ia mencari apa saja yang bisa ditukar dengan makanan.
"Cuma beberapa perhiasan kecil dan... apa ini? Isekai-phone? Lagi-lagi buku Narto! Sebenarnya berapa banyak sih buku ini dicetak dulu?" gusar Leo dengan dahi mengernyit, merasa kurang puas dengan hasil buruannya hari ini.
"Katanya baru saja ada pertarungan besar di sini. Kalau begini, aku hanya bisa berharap lebih beruntung malam nanti" lanjut Leo pasrah. Ia pun memutuskan untuk menyudahi pencarian siang itu dan bersiap melanjutkan aksinya saat kegelapan tiba.
Malam pun tiba, atmosfer kota terasa sunyi dan mencekam. Ketika sedang menyusuri jalanan kota yang temaram untuk mencari benda-benda sisa yang mungkin masih bisa dijual atau mengincar bangsawan kaya raya yang keluyuran lewat jam tidurnya langkah Leo mendadak terhenti.
Instingnya menangkap sesuatu yang tidak beres. Dari balik bayang-bayang reruntuhan kuno di ujung gang yang gelap, ia tidak sengaja melihat sebuah transaksi rahasia.
Tanpa suara, Leo merapatkan tubuhnya yang kurus ke dinding batu. Ia menahan napas, mulai mengamati gerak-gerik beberapa orang asing dari balik kegelapan. Melalui celah bebatuan, Leo samar-samar mendengar percakapan mereka.
"Jadi kamu pemilik buah magis itu? Berapa banyak yang kau punya?" tanya salah satu dari mereka. Dari intonasi suaranya, orang ini terdengar seperti pihak pembeli. Leo yang mengamati dari kejauhan tidak bisa memastikan wajah siapa yang berbicara, jadi ia hanya menebak berdasarkan perbedaan vokal mereka.
"Aku punya empat buah magis," jawab pria yang satunya lagi. Nada suaranya terdengar penuh percaya diri, jelas dia adalah pemilik barang tersebut.
"Aku keberatan jika harganya sepuluh juta koin emas. Aku akan ambil semua benda itu jika kamu bersedia menurunkan harganya jadi tujuh juta koin emas," tawar si pembeli.
"Tujuh setengah juta koin emas! Tidak kurang lagi!" tekan si pemilik barang.
Hati Leo berdetak kencang di balik dadanya mendengar angka fantasi yang disebutkan dalam percakapan itu. Sepuluh juta koin emas... ucap Leo bergejolak dalam hati seraya membulatkan tekadnya untuk mencuri benda tersebut.
Ia bergerak sangat tenang, mengatur ritme napasnya agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, dan menunggu momentum yang tepat. Transaksi di depan sana benar-benar berjalan dengan ketat dan penuh kecurigaan.
Bahkan ketika satu tas besar berisi penuh koin emas diserahkan, si pembeli belum diizinkan melihat apa yang sebenarnya dia beli. Sekilas sempat terlintas di pikiran Leo untuk menggasak tas koin emasnya saja, tetapi rasa penasarannya pada buah magis itu jauh lebih besar.
Begitu orang-orang berjubah itu menerima tas penuh koin emas, fokus mereka mendadak terpecah. Mereka menjadi lengah karena terlalu sibuk menghitung tumpukan pembayaran di dalam tas. Di saat pengawasan pada buah magis itu melemah, tangan Leo yang cekatan bergerak secepat kilat.
Dalam satu gerakan bersih yang super senyap, Leo berhasil meraih satu buah magis dari wadahnya. Ia langsung memutar tubuh, menyelinap pergi dengan langkah seringan kapas, dan menghilang ke dalam kegelapan gang tanpa memicu kecurigaan sedikit pun dari kedua belah pihak yang sedang bertransaksi.
Beberapa gang dari lokasi kejadian, Leo berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang memburu. Ia tersenyum puas di balik kain penutup wajahnya. Dadanya bergemuruh rendah, merasa aksinya malam itu berjalan dengan sangat sempurna tanpa cacat sedikit pun.
Namun, Leo sama sekali tidak menyadari satu hal. Di atas sana, dari sudut lantai atas bangunan tua di seberang gang tempat transaksi berlangsung, ada sepasang mata lain yang sejak awal mengawasi seluruh gerak-geriknya dalam diam.
Di sisi lain, tepat setelah seluruh koin emas selesai dihitung, si pemilik buah akhirnya menyerahkan wadah buah magis itu kepada pihak seberang. Namun, begitu penutupnya dibuka, raut wajah si pembeli langsung berubah drastis.
"Apa-apaan ini?! Kamu billing ada empat, hah?!" ucap si pembeli marah besar karena merasa telah ditipu mentah-mentah. Seketika itu juga, gerombolan anak buah si pembeli langsung mengacungkan tongkat sihir mereka dengan serentak kepada kelompok si pemilik.
"Apa?!" seru si pemilik buah, ikut terkejut dan mengira dirinya sedang dicurangi oleh pelanggannya.
Si pembeli melempar wadah kosong itu dengan kasar. Benda itu buru-buru ditangkap oleh si pemilik. Detik berikutnya, si pemilik terperangah hebat saat melihat buah magis di dalamnya ternyata berkurang satu.
"Aku yakin memang ada empat buah di sana sebelumnya! Apakah kamu sekarang sedang mencoba main-main dengan ku?!" gertak si pemilik buah magis, balik menuduh si pembeli mencoba memerasnya.
Tidak terima dengan tuduhan itu, si pembeli yang sudah kehilangan kesabaran langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Keributan besar pun tidak lagi tertahankan di dalam gang sempit tersebut.
Kubu si pemilik mencoba memberikan perlawanan dengan sihir mereka, namun kubu si pembeli ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih dominan. Satu per satu anak buah si pemilik tumbang berjatuhan di atas tanah, hingga akhirnya hanya menyisakan si pemilik sendiri yang berdiri gemetar.
"Aku sengaja membiarkan kalian semua tetap hidup. Ingat ini! Aku memang sangat menginginkan buah magis itu, tapi aku paling benci dipermainkan!" ucap si pembeli dengan nada dingin. Gengnya terbukti jauh lebih kuat daripada kubu si pemilik buah.
Si pemilik kini bergetar ketakutan. Anak buahnya sudah terkapar berserakan dan tidak ada lagi yang sanggup berdiri.
"Aku menuntut rasa hormat darimu. Kamu boleh simpan uangku malam ini dan segera siapkan empat buah magis yang utuh. Aku tidak keberatan untuk menunggu sampai lusa," lanjut si pembeli dengan nada mengancam yang berat. "Bawa empat buah magis itu lusa, atau kembalikan uangku dua kali lipat! Mengerti?!"
Si pemilik hanya bisa mengangguk pasrah, tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Setelah ancaman terakhir itu dilontarkan, si pembeli dan pasukannya pun berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah keadaan dirasa cukup aman, si pemilik buah dan sisa anak buahnya yang mulai kuat berdiri kembali segera membereskan sisa uang mereka serta mengamankan tiga buah magis yang tersisa. Dengan langkah buru-buru, mereka bersiap pergi dari gang terkutuk itu.
Namun, saat mereka hendak keluar dari mulut gang, langkah mereka mendadak terhenti. Di sana sudah menunggu sosok saksi mata misterius yang sejak tadi memperhatikan seluruh kejadian, termasuk aksi pencurian yang dilakukan oleh Leo.
"Aku tahu siapa orang yang sudah mencuri buah magis milikmu, Bos!" ucap saksi mata itu memecah keheningan.
Saksi mata itu ternyata adalah orang asli daerah sana. Ia mengenali si pemilik buah, yang tidak lain adalah seorang bos penjual barang ilegal, curian, dan selundupan yang lumayan kaya raya. Pria paruh baya itu sangat sering dijuluki "Bos" oleh orang-orang, sampai-sampai si bos sendiri lupa siapa nama aslinya dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan kata "Bos" sebagai nama resminya.
"Apa?! Cepat katakan padaku siapa orangnya!" bentak Bos dengan suara menggebu-gebu, amarahnya yang sempat tertahan kini kembali meledak demi meminta jawaban.
"Seratus ribu koin emas," jawab si saksi mata dengan santai, memanfaatkan situasi.
"Kamu mau main-ma—" Ucapan Bos langsung terpotong sebelum ia sempat menyelesaikan makiannya.
"Anak buahmu yang tersisa sekarang tidak akan ada yang sanggup melawanku. Jadi bagaimana, mau atau tidak?" ancam si saksi mata sambil tersenyum licik.
Bos menggertakkan giginya dengan geram. "Baiklah!" ucapnya terpaksa. Ia kemudian merogoh kantong jasnya dengan kasar dan melemparkan sekantong penuh koin emas ke arah orang itu.
Saksi mata tersebut menangkapnya dengan sigap, menimbang berat kantongnya sejenak, lalu melangkah mendekat untuk berbisik tepat di telinga Bos.
Mendengar satu nama asing dibisikkan, seketika itu juga tatapan mata sinis dari Bos langsung muncul. Bersamaan dengan suara gemuruh guntur yang mendadak membelah langit malam, sebuah teriakan penuh dendam menggema memecah kesunyian kota.
"LEEOOOO..!!!"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments