Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Cahaya matahari pagi menyusup perlahan melalui celah tirai. Sinar keemasan jatuh di atas ranjang yang masih berantakan, menyentuh ujung selimut dan lantai kayu di samping tempat tidur.
Alina mengerjapkan mata. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa hangat, dan ada sesuatu yang terasa nyaman di lengannya.
“Hmmm, hangat dan wangi.” Alina mengerakkan kepalanya mencari posisi yang lebih nyaman lagi.
“Wangi apa ini, ya? Kayaknya aku kenal.” Alina mengendus-endus dengan hidung mancungnya.
Perlahan Alina mengusap wajah dengan malas, lalu mencoba mengingat di mana dirinya berada. Beberapa detik kemudian, matanya terbuka sedikit lebih lebar. Ada dada bidang tepat di depan wajahnya.
Alina membeku. Pandangan matanya perlahan naik. Dada bidang yang telanjang. Bahu lebar. Lalu turun sedikit. Perut yang terbentuk jelas dengan kotak-kotak yang selama ini hanya pernah ia lihat di majalah atau layar ponsel.
Alina masih belum bergerak. Otaknya seperti membutuhkan waktu untuk memproses pemandangan di depan mata.
Kemudian Alina menyadari satu hal yang jauh lebih memalukan. Lengannya melingkar erat di pinggang Lorenzo. Ia sedang memeluk suaminya yang dalam keadaan topless. Di satu ranjang.
Alina langsung tersentak.
"Astaga!"
Wanita itu buru-buru menarik kedua tangannya, seolah baru saja memegang benda panas. Tubuhnya mundur beberapa sentimeter. Wajahnya memerah sampai ke telinga.
“Apa yang aku lakukan semalaman?!”
Alina menatap Lorenzo dengan napas tertahan.
Pria itu masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengetahui bahwa istrinya baru saja mengalami krisis harga diri di sebelahnya.
Alina menelan ludah.
“Tunggu. Kenapa aku bisa sampai memeluk dia?Bukankah semalam aku tidur di ujung ranjang?”
Alina berusaha mengingat, tetapi tidak ada jawaban. Yang ia ingat hanya dirinya terlalu lelah, lalu berbaring dan menutup mata. Setelah itu, kosong.
Alina mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Jangan-jangan aku yang bergerak mendekat saat tidur?” Pikiran itu membuat wajah Alina semakin panas.
“Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin punya kebiasaan memeluk manusia saat tidur. Apalagi manusia ini.”
Alina baru saja hendak bergeser menjauh ketika Lorenzo bergerak. Tubuh pria itu bergeser sedikit di atas kasur.
"Mmm ...." Lorenzo menggumam pelan dalam tidurnya.
Alina belum sempat bereaksi ketika sebuah lengan panjang tiba-tiba bergerak dan melingkar di sekitar perutnya. Tubuh Alina kembali kaku. Mata wanita itu membulat.
Lorenzo memeluknya. Sekarang gantian.
Alina menunduk melihat tangan Lorenzo yang melingkar di pinggangnya. Pikirannya yang baru bangun seolah langsung mendapat suntikan energi.
”Lho? Kenapa dia malah memelukku?!”
Niat Alina mencoba melepaskan tangan itu perlahan. Namun, sebelum sempat berpikir jernih, tubuhnya sudah bereaksi lebih dulu. Seketika ia mengangkat kaki.
Duk!
Tendangan itu mengenai tubuh Lorenzo dengan cukup keras. Tubuh pria itu terdorong ke samping hingga hampir terlempar dari ranjang.
Brak! Punggung Lorenzo menghantam lemari pakaian.
"Aduh!" Suara Lorenzo menggema memenuhi kamar.
Alina langsung membeku. Matanya menatap Lorenzo yang kini terduduk di lantai dengan wajah meringis.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara. Alina bahkan lupa bernapas.
“Oh, tidak! Apa yang sudah aku lakukan kepadanya?!”
Jantung Alina berdegup begitu keras sampai rasanya terdengar di telinganya sendiri.
Lorenzo memegang bagian tubuhnya yang terasa sakit. Napasnya berat. Wajahnya memerah karena menahan nyeri.
"Alina ...." Suaranya terdengar berat.
Alina tersentak. "I-iya?"
Lorenzo mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju kepada Alina.
"Alina, kamu mau membunuhku!" pekiknya sambil meringis kesakitan.
Alina langsung duduk tegak. "Maaf!"
Wanita itu lalu turun dari ranjang dengan terburu-buru. "Maaf ... maaf! Aku tidak sengaja!"
Lorenzo mengusap punggungnya sambil mengernyit.
"Tidak sengaja?" ulangnya dengan suara meninggi. "Kamu menendang ku sampai tubuhku terbang dan membentur lemari!"
"Aku benar-benar tidak sengaja!"
"Kalau barusan itu tidak sengaja, aku mau tahu seperti apa kalau kamu sengaja!"
Alina membuka mulut, tetapi tidak langsung bisa menjawab. Ia melirik tubuh Lorenzo yang masih terduduk di lantai.
Pria itu memang terlihat kesakitan. Wajar saja. Baru beberapa hari lalu dia mengalami kecelakaan parah, masih dalam masa pemulihan, dan sekarang istrinya sendiri malah menendangnya sampai membentur lemari.
Alina meremas ujung bajunya.
“Maaf, tapi ini gara-gara kamu yang tiba-tiba memelukku! Itu bukan sepenuhnya salahku. Aku bahkan baru membuka mata! Kalau tadi kamu tidak memelukku, kakiku juga tidak akan bergerak sendiri!”
Lorenzo mendadak menyipitkan mata.
Alina langsung terdiam. Ia buru-buru mengalihkan pandangan.
Lorenzo masih memegang punggungnya. "Kamu benar-benar tega," gerutunya.
"Aku kaget."
"Kaget sampai kakimu ikut berpikir?"
Alina hampir menjawab, tetapi urung.
Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada jawaban yang bisa membuat dirinya terlihat masuk akal. Ia menatap Lorenzo lagi.
Pria itu masih duduk di lantai dengan rambut sedikit berantakan. Wajahnya kesal, tetapi kondisinya membuat kemarahannya justru terlihat menyedihkan.
Rasa bersalah Alina semakin besar. Namun, rasa malu juga tidak kalah besarnya.
“Bagaimana bisa pagi-pagi begini aku memeluk dia? Dan kenapa tubuhnya harus sebagus itu?”
Alina segera menggeleng kuat-kuat.
“Tidak. Bukan waktunya memikirkan itu. Aku baru saja melakukan kejahatan terhadap suamiku sendiri.”
Lorenzo mencoba berdiri. Tangannya berpegangan pada sisi meja rias yang dekat lemari.
"Hati-hati!" seru Alina refleks.
Lorenzo berhenti.
Alina mendekat satu langkah. "Kamu masih sakit. Jangan berdiri dulu."
"Aku tahu."
"Kalau begitu duduk saja."
"Aku sedang berusaha duduk dengan harga diriku yang tersisa."
Alina terdiam. Ia ingin membantu, tetapi wajah Lorenzo yang begitu kesal membuatnya ragu. Akhirnya ia memberanikan diri mendekat dan memegang lengannya. "Pelan-pelan."
Lorenzo membiarkan Alina membantunya kembali duduk di tepi ranjang. Begitu tubuhnya sudah berada di atas kasur, Lorenzo menghela napas panjang.
"Punggungku sakit."
Alina langsung merasa bersalah. "Maaf."
"Pinggangku juga."
"Maaf."
"Kepalaku ...."
"Maaf."
Lorenzo menoleh. "Apa kamu tidak punya kata lain selain maaf?"
Alina menunduk. "Tidak ada."
Jawabannya begitu jujur sampai Lorenzo tidak langsung membalas.
Alina berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam. Bahunya sedikit menegang.
Lorenzo melihat wajah istrinya yang pucat. Kemarahan yang tadi sempat membara perlahan mereda.
Namun, Alina sudah lebih dulu mundur. "Aku ambil air."
"Alina."
Langkah Alina berhenti beberapa langkah di depan pintu.
"Kamu mau ke mana?"
Alina menggigit ujung bibirnya. “Mau ambil air minum buat kamu.”
“Kalau aku tetap di sini lebih lama, aku bisa mati karena malu.”
Lorenzo masih menatapnya dengan curiga.
Lalu sebelum Lorenzo sempat mengatakan apa pun, Alina berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Begitu tangannya menyentuh gagang pintu, suara Lorenzo terdengar dari belakang.
"Alina."
Alina berhenti. "Ya?"
"Jangan kabur."
Alina menutup mata sesaat.
“Kabur? Aku tidak kabur. Aku hanya sedang menyelamatkan nyawaku dari rasa malu.”
Tanpa menjawab, Alina membuka pintu dan keluar. Pintu langsung ditutup.
Begitu pintu tertutup rapat, tubuh Alina kehilangan tenaga. Ia menyandarkan punggung ke pintu, kemudian perlahan melorot hingga jatuh terduduk di lantai.
Kedua tangannya menutup wajah. Napasnya masih tidak teratur. Kakinya terasa lemas. Tangannya bahkan sedikit gemetar.
"Ya Tuhan ...." bisiknya pelan.
Bayangan kejadian beberapa menit lalu kembali muncul di kepalanya. Dirinya memeluk Lorenzo. Lalu, Lorenzo yang balas memeluknya.
Alina menurunkan kedua tangannya. Ia menatap kosong ke lantai. "Kenapa hidupku jadi seperti ini?"
“Ya Tuhan! Bisa-bisanya aku menendang keras suamiku yang baru saja pulang dari rumah sakit.”
Pikirannya langsung melompat pada satu hal yang membuat wajahnya semakin pucat. Keluarga besar Romano. Kalau sampai mereka tahu bahwa Lorenzo baru pulang dari rumah sakit, lalu pada pagi pertama di rumah justru ditendang istrinya sampai membentur lemari.
Alina membayangkan wajah Valentina dan Isabella yang murka. Alina bergidik.
“Tidak. Aku tidak sanggup. Kalau keluarganya tahu, aku bisa-bisa mati berdiri kena amukan mereka.”
Alina merapatkan kedua lutut ke dada. "Ini semua gara-gara dia." Alina mengerucutkan bibir.
"Ya. Benar." Alina mengangguk kecil, seolah sedang membela diri di depan pengadilan. "Aku tidak salah sepenuhnya."
Dari dalam kamar terdengar suara Lorenzo. "Alina!"
Alina langsung mengangkat kepala. "Iya!"
"Kamu jadi ambil air atau tidak?"
Alina memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Ia bangkit perlahan sambil memegang gagang pintu.
"Sebentar!"
Alina berjalan menuju dapur dengan langkah masih sedikit goyah. Di sepanjang jalan, satu hal terus berputar di kepalanya.
“Semoga luka Lorenzo tidak bertambah parah. Semoga dia tidak menceritakan ini kepada siapa pun. Dan yang paling penting semoga aku tidak perlu satu kamar lagi dengannya malam ini.”
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....