Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Di sebuah rumah yang berdiri di kawasan elit, yang berada di kota Bandung, di salah satu kamar di lantai dua, sepasang manusia berbeda jenis kelamin berdiri berhadapan.
Aslan sedang berdiri di depan cermin besar, jari-jarinya merapikan jas pengantin abu-abu tua yang baru saja ia kenakan. Dasi hitamnya sudah terpasang rapi, rambutnya disisir ke belakang, dan wajahnya tampak tenang.
Di sisi ranjang, Liza duduk dengan kebaya merah maroon yang terpasang di tubuhnya. Make-up-nya sempurna, rambutnya disanggul setengah, dan cincin di jari manisnya berkilau setiap kali terkena cahaya. Tapi matanya tidak tenang. Ia menatap punggung Aslan dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
“Kau yakin Naya tidak akan tahu dengan pernikahan kita?” tanya Liza pelan. Suaranya lembut, tapi ada ketegangan yang jelas di baliknya.
Aslan tidak langsung menjawab. Ia masih fokus merapikan kerah jasnya di depan cermin. Setelah beberapa detik, ia menoleh sedikit, tersenyum tipis. “Dia tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahunya,” ucapnya santai. “Naya di Jakarta. Sibuk mengurus rumah. Dia bahkan tidak pernah bertanya terlalu dalam.”
Liza menghela napas panjang. Ia berdiri, langkahnya pelan mendekati Aslan. “Aku tidak mungkin terus diam, Aslan.” Suaranya mulai naik. “Aku tidak mau terus-menerus menjadi simpananmu. Aku ingin kamu menceraikannya. Aku ingin status yang jelas. Aku sudah menunggu cukup lama.”
Aslan akhirnya berbalik. Tatapannya datar, hampir dingin. Ia meraih tangan Liza yang gemetar, lalu mengepalkannya pelan di dalam genggamannya. “Aku tidak akan pernah menceraikan Naya,” tegasnya. Suaranya rendah, tapi penuh keyakinan. “Dia tetap akan menjadi istriku yang sah. Di atas kertas, di mata hukum, di mata keluarga. Naya adalah istriku.”
Liza menarik tangannya kasar. Matanya memerah. “Lalu aku ini apa? Hanya wanita yang akan kau nikahi diam-diam? Yang kau sembunyikan di Bandung sambil kau pulang-pergi ke Jakarta seolah tidak terjadi apa-apa?”
Aslan menghela napas, seolah kesal harus menjelaskan hal yang sama berulang kali. Ia duduk di tepi ranjang, melepas jasnya pelan, lalu menatap Liza dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Kau tahu aku tidak bisa menceraikannya. Keluarganya… posisinya… semuanya terlalu rumit. Naya adalah istri yang sempurna di mata orang. Dia patuh, dia diam, dia tidak pernah membuat masalah. Kalau aku cerai, semuanya akan berantakan.”
Liza tertawa pahit. “Jadi aku harus puas jadi istri kedua yang tidak diakui? Aslan, aku sudah mengorbankan segalanya. Aku meninggalkan pekerjaanku, aku membohongi keluargaku, aku menunggu kau berbulan-bulan. Dan sekarang kau bilang Naya tetap jadi istri sah?”
Aslan berdiri lagi. Ia mendekati Liza, menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangan. “Aku tidak akan meninggalkanmu,” bisiknya. “Aku akan tetap di sini. Aku akan mengurusmu. Tapi Naya, tetap harus ada. Aku butuh dia di Jakarta. Aku butuh nama baiknya. Aku butuh ketenangan yang dia berikan.”
Liza menatap mata Aslan dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang selama ini ia coba abaikan, keserakahan. Bukan cinta yang tulus. Bukan pilihan yang sulit. Tapi keserakahan murni. Aslan ingin keduanya. Ia ingin istri yang patuh di rumah, dan wanita yang ia nikahi diam-diam di kota lain. Ia tidak mau kehilangan satu pun.
“Kau laki-laki serakah,” bisik Liza pelan. Suaranya hampir pecah. “Kau tidak mau melepaskan Naya, tapi kau juga tidak mau melepasku.”
Aslan tersenyum tipis, lalu mengecup kening Liza. “Aku hanya laki-laki yang tahu apa yang dia inginkan,” jawabnya tenang. “Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan.”
Liza terdiam. Di dalam kamar itu, dua orang berdiri berhadapan dengan janji yang berbeda di hati masing-masing.
Aslan merasa ia sudah mengatur segalanya dengan sempurna. Sementara Liza, mulai bertanya-tanya… berapa lama lagi ia sanggup bertahan dalam posisi yang tidak jelas ini.
******
Di ruang tamu rumah yang sederhana namun mewah itu, suasana terasa tegang dan sunyi. Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada undangan ramai. Hanya beberapa orang terdekat Liza yang hadir, dan dua orang saksi laki-laki, seorang penghulu tua berpeci hitam, dan ibu Liza yang duduk diam di sudut dengan wajah campur aduk.
Aslan berdiri tegak di samping Liza. Jas abu-abu tuanya sudah kembali terpasang rapi. Liza mengenakan kebaya merah maroon yang sama, tangan kanannya sedikit gemetar saat digenggam Aslan. Di atas meja kecil di depan mereka, tergeletak sebuah buku nikah tipis dan dua cincin sederhana.
Penghulu membuka suara dengan nada tenang. “Kita mulai saja. Sesuai kesepakatan, pernikahan ini dilakukan secara siri. Tidak ada pencatatan resmi.”
Aslan mengangguk singkat. Matanya datar. Tidak ada rasa bersalah yang terlihat di wajahnya. Ia mengucapkan ijab kabul dengan suara yang jelas dan tegas, seolah sedang menandatangani kontrak bisnis biasa.
Ketika cincin dipasangkan di jari Liza, beberapa tepuk tangan kecil terdengar. Ibu Liza mengusap air mata. Salah satu saksi mengucapkan selamat dengan suara pelan.
“Selamat ya, Mas Aslan. Akhirnya pernikahan sirinya terlaksana juga,” ujar pria itu sambil menepuk bahu Aslan.
Aslan hanya tersenyum tipis. Ia meraih pinggang Liza dan menariknya sedikit lebih dekat. “Sekarang kau resmi jadi istriku,” bisiknya di telinga Liza. “Meski hanya di antara kita.”
Liza menunduk, mencoba tersenyum. Tapi di dalam dadanya, rasa tidak tenang masih menggeliat. Ia tahu statusnya masih abu-abu. Ia tahu Naya masih ada di Jakarta, masih menunggu.
Di luar rumah, sebuah taksi berhenti di depan pagar. Pintu terbuka, dan Naya turun dengan langkah pelan. Ia mengenakan blus putih dan celana hitam yang sama seperti saat ke kantor kemarin. Rambutnya tergerai, dan kaca mata hitan bertengger menutupi kedua matanya. Di tangannya, secarik kertas berisi alamat masih tergenggam erat.
Naya berdiri di luar pagar, beberapa saat memandangi rumah itu. Dari kejauhan, ia bisa melihat bayangan beberapa orang bergerak di balik kaca jendela.
Ia menarik napas dalam, lalu mendorong pagar pelan. Langkahnya stabil, tidak terburu-buru.
Begitu mendekati teras, suara-suara dari dalam mulai terdengar lebih jelas. Tawa kecil. Ucapan selamat. Dan suara Aslan yang sangat ia kenal.
Naya berhenti di depan pintu yang terbuka sebagian. Dari situ, ia melihat segalanya dengan sangat jelas. Aslan berdiri di tengah ruangan, jas rapi, senyum tipis di wajah. Di sampingnya, seorang wanita berbaju kebaya merah dengan cincin baru di jari. Orang-orang di sekitar mereka tersenyum. Seseorang menepuk bahu Aslan dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Dunia Naya seakan berhenti berputar untuk sesaat. Ia tidak masuk. Tidak mengetuk pintu. Tidak berteriak. Ia hanya berdiri di luar, memandang pemandangan itu dengan mata yang kering. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya rasa dingin yang menyebar dari dada ke seluruh tubuh.
Ibu Liza sempat menoleh ke arah pintu, tapi Naya sudah melangkah mundur pelan sebelum suaminya melihatnya.
Ia berdiri di bawah pohon kecil di halaman depan, memandangi rumah itu sekali lagi. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, hampir hanya terdengar oleh dirinya sendiri, ia berbisik,
“Kau sudah menikah lagi mas, itu artinya tugasku sebagai istri sudah selesai"
Naya membalikkan tubuhnya. Langkahnya menjauh dari rumah itu tanpa sekali pun menoleh. Tidak ada konfrontasi. Tidak ada air mata di depan Aslan. Tidak ada permintaan penjelasan. ia memilih pergi tanpa sepatah kata pun.
Dan di dalam rumah, Aslan masih tersenyum di samping Liza, sama sekali tidak tahu bahwa istrinya yang sah baru saja berdiri di luar, menyaksikan segalanya.
jadi kenapa kamu harus marah?