Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Memasak Panglima Iblis
Tantangan Reno bergema di sepanjang jalanan utama Kota Batu Hitam yang mendadak senyap.
Panglima Kerakusan, raksasa buncit dengan mulut penuh taring, tertegun sejenak mendengar ucapan Reno.
Dia melepaskan tawa gelegar yang membuat kaca-kaca bangunan di sekitar retak halus.
"Hahaha! Samsak?! Nyali lu gede juga, Sampah Bumi!" seru Panglima Kerakusan dengan suara parau yang menjijikkan.
Liat hijau menetes dari sudut mulutnya, membakar aspal batu hitam tempatnya berdiri.
"Aura darah Sutra Naga Kuno lu... beneran bikin laper!" tambahnya sambil mengusap perut buncitnya yang berbunyi nyaring.
Reno bersedekap dada, menatap makhluk menjijikkan itu dengan tatapan malas.
Dia sedikit merapikan jas jas hitamnya yang sedikit kusut terkena embusan angin iblis.
"Laper? Muka lu lebih mirip tong sampah berjalan daripada petarung," cibir Reno tertawa mengejek.
'Duh, baunya naga iblis ini beneran polusi udara, bisa pingsan kalau kelamaan deket-deket,' batin Reno meringis pelan.
Di balkon Rumah Pelelangan Batu Hitam, Liu Ruyi menonton konfrontasi itu dengan napas tertahan.
"Tuan muda Reno... apakah Anda terlalu percaya diri, atau memang memiliki kekuatan untuk meratakan Ranah Kaisar Spiritual Puncak?" gumam Liu Ruyi cemas.
Jari-jemari lentiknya mencengkeram pagar pembatas, bersiap mengirim bantuan jika situasi memburuk.
Panglima Kerakusan murka luar biasa mendengar hinaan Reno.
"Sialan! Gue bakal kunyah tulang-tulang lu hidup-hidup!" teriak Panglima Kerakusan histeris.
Brakkkk!
Raksasa iblis itu menghentakkan kakinya, melesat maju bagaikan bola meriam hitam yang siap meledak.
Tubuh tambunnya ternyata memiliki kecepatan yang tidak masuk akal, menciptakan bayangan buram di udara.
Cakar-cakar tajam di tangannya memancarkan energi kegelapan yang mampu membusukkan apa pun yang disentuhnya.
"Jurus Kerakusan Tanpa Batas: Cakar Penghancur Jiwa!" seru Panglima Kerakusan penuh nafsu membunuh.
Reno berdiri diam, menunggu serangan itu dengan ketenangan seorang dewa perang.
Saat cakar beracun itu tinggal berjarak satu inci dari wajahnya...
Reno menggerakkan tangan kanannya dengan sangat santai, melakukan gerakan menampar udara.
Plak!
Suara tamparan keras beradu dengan energi kegelapan Panglima Kerakusan.
"Guaaarkkk!"
Panglima Kerakusan melolong kesakitan saat cakar-cakarnya patah berantakan dihantam telapak tangan Reno.
Tubuh raksasanya terpental ke belakang, menghantam barisan prajurit iblisnya sendiri hingga kocar-kacir.
Brakkk!
"Panglima!" teriak para prajurit iblis panik.
Suasana Kota Batu Hitam mendadak hening seketika, ribuan pasang mata melotot tak percaya.
Seorang Panglima Iblis Ranah Kaisar Spiritual Puncak... ditampar jatuh seperti lalat!
Reno mengibas-ngibaskan tangannya, seolah baru saja menyentuh kotoran yang menjijikkan.
"Lemah. Ternyata isinya cuma lemak jenuh, bukan kekuatan," pukas Reno dengan nada sangat mengejek.
Panglima Kerakusan merangkak bangkit dari puing-puing, wajahnya hancur sebelah dan matanya menyala merah pekat.
Rasa malu yang luar biasa membakar kewarasannya.
"Lu... Lu benar-benar bikin gue murka!" raung Panglima Kerakusan, auranya meledak dua kali lipat lebih dahsyat.
Awan iblis di langit berputar cepat, menyatu ke dalam tubuh buncit Panglima Kerakusan.
Tubuhnya mulai membengkak hebat, kulitnya mengeras menjadi sisik hitam pekat bagaikan baja kuno.
"Gue panggil kekuatan 'Kerakusan Abadi'! Gue bakal telan kota ini beserta isinya!" jerit Panglima Kerakusan gila.
Mulutnya terbuka sangat lebar, menjelma menjadi pusaran lubang hitam yang menyedot segala energi spiritual di sekitarnya.
Rumah-rumah batu di dekatnya mulai runtuh, tersedot masuk ke dalam mulut raksasa itu.
Para praktisi di Kota Batu Hitam berteriak ketakutan, berusaha melarikan diri dari daya hisap yang mematikan.
'Waduh... kalau dibiarin, kota ini bisa rata sama tanah,' batin Reno sedikit mengernyitkan dahi.
"Bermain sama makanan itu nggak baik, Naga Gendut," pukas Reno dingin.
Reno mengepalkan tangan kanannya, memicu bangkitnya energi emas murni Sutra Naga Kuno tingkat puncak.
Aura naga emas raksasa kembali muncul di belakang Reno, mengaum keras membelah langit hitam.
*Roarrrr!*
Cahaya emas murni memancar terang, menetralkan energi kegelapan dari pusaran lubang hitam Panglima Kerakusan.
"Teknik Naga Kuno: Pukulan Pemecah Bintang!" seru Reno melayangkan pukulan lurus ke udara.
Brakkkk!
Prospek kepalan tangan naga emas melesat cepat, menghantam tepat di tengah perut buncit Panglima Kerakusan.
*Boommm!*
Gelombang kejut raksasa tercipta, meratakan barisan prajurit iblis dan menghancurkan tebing di kejauhan.
"Arghhhhh!"
Panglima Kerakusan menjerit melengking, pusaran lubang hitam di mulutnya hancur seketika.
Tubuh raksasanya meledak dari dalam, memuntahkan tumpukan daging dan darah hitam yang menjijikkan ke segala arah.
*Croottt!*
Sisa-sisa tubuh Panglima Kerakusan berserakan di jalanan, hancur total tanpa sisa.
Ratusan prajurit iblis yang masih hidup gemetaran hebat, menjatuhkan senjata mereka dan berlutut memohon ampun.
"A-Ampun, Tuan Agung! Hamba tidak tahu diri!" jerit para prajurit iblis ketakutan.
Reno menarik kembali tangannya, memadamkan aura keemasan Sutra Naga Kuno.
Dia menatap tumpukan daging iblis yang menjijikkan dengan pandangan datar.
"Jijik banget. Habis ini gue harus mandi pakai sabun seember," pukas Reno menggerutu pelan.
Liu Ruyi dari balkon Rumah Pelelangan menatap Reno dengan tatapan yang sangat kompleks.
Rasa kagum, hormat, dan sedikit rasa takut bercampur aduk di dalam hatinya.
Dia menyadari, pemuda dari bumi ini bukan sekadar kuat, tapi dia adalah bencana berjalan bagi siapa pun yang berani mengusiknya.
"Panglima Kerakusan... tamat dalam dua serangan," gumam Liu Ruyi gemetaran.
"Wilayah Iblis... Panglima Tujuh Dosa... Aliansi Iblis Agung..." Liu Ruyi segera menyusun strategi informasi baru.
"Kabar ini bakal guncang Alam Dewa Abadi!" tambahnya penuh antusiasme bisnis.
Reno berjalan santai menghampiri prajurit iblis yang sedang berlutut.
"Kalian semua... bersihkan kekacauan ini dalam satu jam," perintah Reno tegas.
"Kalau sampai ada noda darah yang tersisa..." Reno menggantung kalimatnya dengan senyum tipis yang sangat mengintimidasi.
"Gue bakal masak kalian jadi sate iblis," ancam Reno dingin.
"I-Iya, Tuan Agung! Hamba mengerti!" sahut para prajurit iblis serentak sambil sibuk membersihkan sisa tubuh Panglima Kerakusan.
Reno membalikkan badannya, melangkah kembali menuju Rumah Pelelangan Batu Hitam.
Perjalanannya ke Istana Dewa Abadi masih sangat jauh, dan dia butuh lebih banyak informasi untuk menavigasi alam ini.
'Alya... semoga kamu nggak mimpi buruk di bumi,' batin Reno tersenyum hangat mengingat istrinya.
Tiba-tiba, dari kegelapan gang di dekatnya, muncul seorang pria tua renta dengan jubah lusuh.
Pria tua itu menatap Reno dengan mata yang memancarkan binar kebijaksanaan kuno.
"Kunci Segel... Sutra Naga Kuno... Pemuda dari Bumi..." gumam pria tua itu dengan suara gemetar.
"Tuan muda Reno... apakah Anda bersedia mendengarkan cerita tentang asal-usul Kunci Segel yang Anda bawa?" tanya pria tua itu dengan nada memohon.