Indonesia
NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 32, Bertemu.

Pukul sembilan pagi, Anna sudah berdiri di balik meja kasir sebuah minimarket yang letaknya hanya beberapa meter dari gedung menjulang tempat Jeevan berdiri.

Perusahaan IT terbesar di Jakarta itu bahkan bisa terlihat jelas dari balik kaca depan minimarket. Gedungnya tinggi, berlapis kaca, memantulkan cahaya matahari seperti raksasa yang berdiri angkuh di tengah hiruk pikuk ibu kota.

Ironisnya, Anna tidak pernah menyangka bahwa tempatnya mencari nafkah kini berada sedekat itu dengan kehidupan yang sedang berusaha ia tinggalkan.

Seragam minimarket yang dikenakannya masih terasa sedikit asing. Rambutnya diikat sederhana, sementara name tag bertuliskan ANNA terpasang rapi di dada. Tidak ada lagi pakaian yang biasa ia kenakan ketika berada di rumah. Tidak ada pula meja kerja, laptop, atau tumpukan naskah yang selama bertahun-tahun seolah menjadi bagian dari dirinya.

Hari ini hanyalah seorang karyawan baru. Dan anehnya, Anna tidak merasa keberatan.

"Kalau menyusun barang, jangan cuma lihat tempat kosongnya aja, Na"

Suara seorang laki-laki membuat Anna menoleh.

Andri berdiri di samping rak makanan ringan sambil menunjuk beberapa bungkus biskuit yang baru saja ia letakan.

Usianya kira-kira dua tahun lebih tua dari Anna. Sebagai kepala toko, Andri tampaknya sudah hafal hampir setiap sudut minimarket itu, bahkan mungkin bisa menyusun barang dalam keadaan mata tertutup.

"Barang yang tanggal kadaluwarsanya lebih dekat harus di letakkan di depan," lanjutnya. "Yang baru datang taruh di belakang. Biar yang lama terjual dulu."

"Oh, iya." Jawab Anna sambil mengganguk.

"Terus, harga juga harus di perhatikan. Kadang posisi barangnya benar, tapi label harganya salah."

Anna kembali mengangguk cepat.

"Kalau ada selisih harga, nanti pelanggan yang protes."

"Baik, Pak." Jawab Anna.

Andri tersenyum. "Tenang saja. Hari pertama memang begini. Nanti juga hafal."

Anna kembali menghadap rak.

Pagi itu berlalu dengan berbagai pelajaran kecil yang ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Ia belajar membedakan posisi produk, memeriksa tanggal kadaluwarsa, memastikan label harga tidak tertukar, mengisi kembali barang yang mulai berkurang, sampai menghafalkan beberapa kode produk yang sering muncul di mesin kasir.

Sesekali Anna salah.

Sesekali Andri membetulkan. Namun tak ada bentakan atau tatapan meremehkan. Justru Andri beberapa kali mengatakan bahwa Anna cepat belajar.

Menjelang pukul setengah satu siang, suasana minimarket sudah jauh lebih ramai.

Orang-orang datang silih berganti seperti arus sungai yang tak pernah benar-benar berhenti. Ibu-ibu membeli kebutuhan rumah tangga, beberapa pekerja kantor mampir membeli makan siang, sementara anak-anak SMP menyerbu rak makanan ringan dengan uang saku di tangan.

Anna yang sejak pagi tampak tegang kini sudah jauh lebih santai.

Ia bahkan sempat tersenyum ketika seorang anak kecil salah menyebut nama sebuah merek minuman.

"Ini yang rasa stroberi, kak?"

"Iya. Yang itu rasa stroberi." Jawab Anna.

"Kalau yang ini?"

"Anggur."

Anak itu mengangguk mantap, lalu memasukkan dua botol ke dalam keranjang.

Anna tersenyum kecil.

Rasanya sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itu membuat kepalanya terasa ringan.

Beberapa menit kemudian, Anna membawa beberapa botol minuman rasa menuju lemari pendingin. Ia membuka pintunya dan mulai menyusun botol-botol tersebut satu per satu.

Dingin dari lemari pendingin menyapu wajahnya.

"Permisi."

Tangan Anna berhenti.

Suara itu terdengar dari belakang.

"Maaf, saya mau ambil kopi."

Anna bergeser sedikit untuk memberikan jalan. Namun sebelum ia kembali melanjutkan pekerjaannya, telinganya menangkap sesuatu yang jauh lebih familiar daripada suara mesin pendingin di hadapannya.

Suara yang selama bertahun-tahun selalu ia dengar dari jarak sedekat rumah. Suara yang belakangan ini justru berusaha ia hindari.

Anna menoleh, dan dunia seolah kehilangan suara untuk beberapa detik.

Jeevan berdiri tepat dibelakangnya.

Pria itu mengenakan kemeja abu-abu muda dengan lengan yang di gulung sampai siku, rambutnya masih tertata seperti biasa. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tetapi tetap menyimpan ketenangan yang selama ini begitu Anna kenal.

Suaminya, atau mungkin seseorang yang sebentar lagi hanya akan menjadi bagian dari masa lalu.

Mereka masih dalam proses perceraian.

Jeevan tampaknya sama terkejutnya dengan Anna.

"Anna?" gumamnya seraya melirik name tag di bajunya.

Anna menelan ludah.

"Mas Jeevan."

Tatapan mereka bertemu. Ada begitu banyak hal yang seharusnya bisa dikatakan.

Tentang rumah, perceraian, luka, atau tentang malam-malam yang mereka lalui setelah keputusan itu di ucapkan. Namun yang keluar justru kalimat paling biasa di dunia.

"Kamu kerja di sini?"

Anna mengangguk ragu. "I-iya...baru mulai hari ini."

Jeevan kembali melirik name tag yang ada pada serang Anna. "Bagaimana kabarmu, Na?"

"Aku baik, Mas. Kamu sendiri?" tanya Anna kaku.

"Seperti yang kamu lihat."

Hening sebentar.

Salah satu karyawan yang sedang merapikan rak di ujung lorong sempat melirik mereka. Tatapannya berpindah dari Anna kepada Jeevan, seolah sedang mencoba menebak hubungan keduanya.

Jeevan kemudian mengambil kopi kemasan dari rak pendingin.

"Aku harus kembali ke kantor." Ujarnya.

Anna mengangguk. "Iya."

"Jaga dirimu." Pinta Jeevan dengan nada datar seperti biasanya.

Anna mengangguk kecil. "Ya. Mas juga,"

Lalu Jeevan pergi, sedangkan Anna tetap berdiri ditempatnya sampai sosok itu menghilang dibalik pintu kaca.

Barulah ia menarik napas panjang. Seolah sejak tadi paru-parunya lupa bagaimana caranya bekerja.

...🌴🌴🌴...

"Kak Anna!"

Anna menoleh ke arah seseorang yang memanggil namanya. Seorang perempuan muda nan cantik terlihat nyengir sembari berjalan mendekat.

"Barusan... kenalannya Kak Anna ya? Atau... pacar kak Anna?" tanya Rani.

Anna terlihat tersenyum tipis. "Kamu lihat?"

Rani mengangguk. "Iya. Pas kak Anna berdiri membelakangi cowok ganteng tadi, kalian kaya adegan romantis di drama Korea tahu."

Anna meletakan kantong plastik di bawah meja. "Bukan siapa-siapa. Cuma kenalan saja," jawab Anna tak ingin membahas siapa Jeevan sebenarnya.

"Kalau boleh tahu, namanya siapa kak? Siapa tahu...aku bisa deketin dia." Ujarnya nakal, "Sebenarnya hampir beberapa kali dia datang ke minimarket ini buat beli air mineral kalau dia keluar dari restoran di depan sama teman-teman kerjanya. Aku juga... sebenarnya lagi nyari jodoh, orang tuaku di kampung udah sering nanyain terus kapan nikah." Lanjutnya.

Anna melirik. "Kenapa harus dia?" tanya Anna penasaran.

Rani tampak memajukan bibirnya. "Karena dia ganteng, terus kaya mapan aja. Kalau boleh tahu, dia kerja apa kak?"

"Dia..."

Belum sempat Anna mengucapkan kalimat, seorang pria berpakaian rapi memanggil Anna.

"Anna?!"

Anna menoleh. "Rendra?" gumam Anna tak percaya.

"Kamu...?" katanya menggantung sambil memindai apa yang saat ini ia lihat dari Anna. "Kamu kerja di sini?" tanyanya melanjutkan.

"Umh...ya...aku kerja di sini." Jawab Anna gagu.

"Sejak kapan?" tanya Rendra spontan.

...🌴🌴🌴...

...BERSAMBUNG ...

1
Emily
wajah 4 tokoh lelaki orang yg sama
💞Putri Chania💞
lanjut Thor..sampai ada sesi penyembuhan nya ya.bagus ceritanya..
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!