Indonesia
NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.

Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.

Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.

Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

"Tante Indri datang!" Laura berlari sekencang mungkin, lalu memeluk kaki Indri. "Kok Tante lama sekali?"

Indri membungkuk sambil mengusap kepala keponakannya.

"Maaf, Sayang. Tante ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Makasih ya sudah nungguin Tante."

Laura kecil mengangguk polos.

Indri tersenyum, meski senyum itu terasa pahit.

Di teras vila, Haris memperhatikan putri bungsunya.

"Sudah selesai urusannya?"

"Sudah, Pa."

"Papa hampir menyuruh Vano menjemputmu. Kamu bilang paling cuma satu jam, tapi sampai sore begini."

Indri menghela nafas. "Maaf sudah membuat Papa khawatir."

Haris menepuk pelan bahu putrinya. "Yang penting sekarang kamu sudah di sini. Akhir pekan ini tidak ada urusan kantor. Hanya liburan keluarga."

Indri mengangguk ragu. "Iya, Pa." Ia berharap benar-benar bisa menikmati liburan keluarga dengan tenang, tanpa gangguan dari Evan.

Malam itu, mereka makan malam bersama. Suasana hangat memenuhi ruang makan. Vano sibuk membantu Laura kecil memotong ayam goreng. Cinta sesekali mengingatkan Brian agar makan dengan benar dan tidak bermain dengan sendok.

Haris tertawa melihat tingkah kedua cucunya. Rumah itu dipenuhi kebahagiaan sederhana.

Indri memandang satu per satu wajah keluarganya. Di dalam hati ia berjanji... "Aku akan menjaga mereka. Apa pun yang terjadi."

Setelah makan malam, Haris mengajak semua orang duduk di halaman belakang. Api unggun kecil dinyalakan.

Laura kecil bersorak gembira. "Kita bakar jagung!"

Vano tertawa. "Tapi jangan sampai gosong seperti waktu Papa yang bakar."

Semua orang tertawa. Bahkan Indri ikut tersenyum lepas. Cinta yang duduk di sampingnya memperhatikan wajah adiknya.

"Begini lebih bagus."

Indri menoleh. "Maksud Kakak?"

"Kamu tersenyum. Sudah lama Kakak tidak melihat senyum itu."

Indri terdiam sejenak. "Mungkin aku memang terlalu memikirkan pekerjaan."

Cinta menggenggam tangan adiknya. "Kalau kamu punya masalah... jangan simpan sendiri. Kita keluarga."

Indri mengangguk pelan. "Iya, Kak."

Namun jauh di lubuk hatinya, ia masih belum memiliki keberanian untuk membuka seluruh kenyataan.

***

Di kota, Rio memasuki ruang kerja Evan. "Pak. Bu Indri sudah sampai di vila."

Evan yang sedang membaca berkas hanya mengangguk. "Bagus."

Rio tampak heran. "Bapak tidak akan menghubunginya?"

"Tidak. Biarkan dia menikmati waktunya bersama keluarga."

Rio memandang atasannya beberapa saat. "Padahal selama ini Bapak selalu mengawasi setiap langkahnya."

Evan menutup berkas perlahan.

"Aku tidak ingin anak-anak ikut merasakan ketakutan orang dewasa. Terutama Laura, aku tidak mau membuat keponakanku takut."

Rio sedikit terkejut mendengar kalimat itu. Semakin hari, ia merasa ada sesuatu dalam diri Evan yang mulai berubah. Meski begitu, Evan sendiri belum mau mengakuinya.

...

Keesokan paginya.

Kabut tipis masih menyelimuti kawasan vila. Indri bangun lebih awal. Ia berjalan sendirian menuju taman kecil di belakang vila.

Udara segar membuat pikirannya sedikit lebih tenang.

Untuk sesaat... Ia berhasil melupakan tekanan yang selama ini menghantuinya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, namun sudah tersimpan dalam ingatan Indri.

"Nikmati waktumu bersama keluarga. Senin pagi kita bertemu membahas proyek. Jangan terlambat."

Indri memandangi pesan itu cukup lama. Tidak ada ancaman. Tidak ada kata-kata kasar. Hanya sebuah pengingat. Meski demikian, pesan itu cukup untuk mengingatkannya bahwa persoalan yang dihadapinya belum selesai.

Ia menarik napas panjang, lalu menghapus pesan tersebut.

Ketika kembali ke vila, Laura kecil berlari menghampirinya sambil membawa layang-layang.

"Tante, ayo main!"

Indri tersenyum tulus. "Ok."

Ia memutuskan menikmati hari itu bersama keluarganya. Sebab ia tahu... Begitu akhir pekan berakhir, ia harus kembali menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit daripada sekadar urusan pekerjaan.

Matahari mulai meninggi di balik perbukitan. Udara pagi yang dingin tidak menghalangi semangat Laura kecil yang sejak tadi berlari-lari di halaman vila.

Tangan mungilnya menggenggam layang-layang berwarna biru, sementara adik laki-lakinya bertepuk tangan melihat sang kakak berlarian.

"Tante, lebih tinggi lagi!" seru Laura kecil.

Indri tersenyum. Sudah lama ia tidak merasakan pagi yang begitu tenang.

"Ayo, lari terus!"

Layang-layang itu akhirnya terbang, diiringi tawa riang Laura kecil. Dari teras, Haris memandang pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau begini rasanya, Papa ingin pensiun saja."

Vano tertawa kecil. "Papa baru bilang begitu. Besok kalau sudah di kantor pasti berubah pikiran."

Haris menggeleng. "Bukan berubah pikiran. Papa hanya ingin memastikan perusahaan tetap berada di tangan yang tepat."

Indri yang sesekali melirik sang papa teeseb, justru membuat dadanya terasa sesak. Ia takut suatu hari nanti Haris mengetahui seluruh rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

Menjelang siang, keluarga itu menikmati makan bersama di gazebo belakang vila.

Cinta menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Haris. "Papa harus mengurangi kopi."

"Iya, iya." Haris tersenyum pasrah.

Laura kecil tiba-tiba memeluk lengan Indri. "Tante."

"Iya?"

"Nanti kalau Laura sudah besar, Laura mau kerja sama Tante."

Indri tertawa pelan. "Memangnya kenapa?"

"Soalnya Tante hebat."

Kalimat polos itu membuat semua orang tersenyum. Hanya Indri yang tidak sanggup menjawab.

Ia merasa dirinya jauh dari kata hebat.

Sore harinya, Haris mengajak Indri berjalan menyusuri kebun di sekitar vila. Angin pegunungan bertiup pelan.

"Papa sedang memikirkan sesuatu."

"Apa itu, Pa?" tanya Indri.

Haris menghentikan langkahnya.

"Beberapa perusahaan besar mulai mengajukan kerja sama. Kalau salah memilih, risikonya besar."

Indri mendengarkan dengan saksama. "Aku akan mempelajari semuanya sebelum mengambil keputusan."

Haris mengangguk puas. "Itu yang Papa harapkan. Jangan pernah membuat keputusan karena tekanan. Buatlah keputusan karena memang itu yang terbaik."

Ucapan itu terus terngiang di kepala Indri. Tanpa disadari, nasihat sederhana itu menjadi tamparan bagi dirinya sendiri.

...

Malam terakhir di vila diisi dengan makan malam sederhana.

"Terima kasih." Haris mengangkat gelas jusnya. "Papa bahagia kalian semua bisa meluangkan waktu. Semoga kita lebih sering seperti ini."

"Amin," jawab mereka hampir bersamaan.

Indri memandang wajah papanya yang dipenuhi kebahagiaan. Di dalam hati, ia mengambil keputusan. Apa pun yang akan terjadi setelah kembali ke Jakarta... Ia tidak akan membiarkan masalahnya menyeret keluarga. Ia akan menghadapinya sendiri.

Keesokan paginya, mereka bersiap pulang. Laura kecil memeluk Indri sebelum naik ke mobil.

"Nanti kita liburan lagi ya, Tante?"

Indri mengangguk sambil tersenyum. "Pasti."

Mobil keluarga perlahan meninggalkan kawasan vila.

Di balik kaca mobil, Indri memandang pegunungan yang semakin jauh.

Liburan singkat itu memberinya sedikit ketenangan. Namun ia tahu, ketenangan itu hanya sementara. Begitu roda mobil kembali menginjak jalanan Jakarta, ia harus kembali menghadapi kenyataan.

Di atas dashboard, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan baru masuk.

"Besok. Pukul 08.00. Ruang rapat utama Evara Capital. Datang sendiri. Kita mulai proyek yang tidak bisa lagi kau hindari."

Indri membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi. Ia mengunci layar ponsel, lalu mengembalikan ketempat semula sembari mengembuskankan napas panjang.

Ia melirik Haris yang tertidur disampingnya. Lalu beralih kedepan, menatap mobil yang dikendarai Cinta dan Vano bersama anak-anaknya.

Melihat mereka, tekad Indri semakin bulat. Jika memang harus ada seseorang yang menanggung beban masa lalu... Biarlah dirinya seorang. Ia tidak akan membiarkan keluarganya kembali terluka oleh kesalahan yang pernah ia lakukan bertahun-tahun silam.

1
ken darsihk
Belum up thorr
ken darsihk: ooh 🙏
Sehat selalu untuk author nya
total 2 replies
Eva Karmita
pengen banget pites kepala nya Rio ...tega amat ngk ngasih tau kehamilan Indri ke Evan 😏😤 ... astagaa bikin emosi aja ini anak manusia satu 😩
Eva Karmita
RioRiooooo... kenapa kamu sembunyikan kehamilan Indri 😏😤 harus nya kamu kasih tau Evan terserah kedepannya Evan mau bagaimana mau tanggung jawab atau lari dari kenyataan... jangan sampai kamu di salah kan kalau Indri mulai membuka hati untuk Riko..
Aditya hp/ bunda Lia
jangan jadi pengacau kamu Evan
ken darsihk
Akhir nya perasaan yng terpendam dari Evan menyeruak juga keluar
ken darsihk
sesungguh nya mereka saling mencintai Evan Indri , tapi mereka menyembunyikan dengan baik
Aditya hp/ bunda Lia
cepat kuatkan pilihanmu Van jangan sampe nanti pas lagi ijab kamu datang mengacau ... 🤭
ken darsihk
Evan pasti akan shick shack shock ketika dia tahu , Indri lah yng menginginkan kamu tiada
ken darsihk: iya bun 🤣🤣🤣
total 6 replies
ken darsihk
Thanks author spillan nya tentang Cinta 👍👍🩵
ken darsihk
Dan ketika Evan tau kematian nya atas ulah nya Indri juga , apa Evan bisa memaafkan Indri
Eva Karmita
kasih vote untuk emak ...siapa tau emak berbaik hati buat Evan balik kampung 😂😂

Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Aditya hp/ bunda Lia: Iya tuh Royco jamur 😂😂😂
total 4 replies
Eva Karmita
Riko sebenarnya kamu siapa ...tiba" hadir di kehidupan Indri dan mencoba masuk apa tujuan mu Riko tidak mungkin kan kamu langsung suka sama Indri dan mau bertanggungjawab 🤔🤔
ken darsihk
kupersembahkan secangkir kopi thor , untuk penjelasan nya 🤭🤭
Nurlinda: 😄😄😄😄😄🙏🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Ada sesuatu yng tersembunyi kah dibalik kebaikan nya Riko ke Indri
ken darsihk
Gagal paham sama Cinta dia begitu baik , bukan nya Cinta hanya saudara tiri yak
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
ken darsihk: Yesss tengkyuuu thor
total 4 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Riko ini beneran tulus apa ada sesuatu ada udang di balik bakwan gitu 🤭
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔
Aditya hp/ bunda Lia: 🤷🤷🤷🤷🤷
total 4 replies
Eva Karmita
semangat Indri 🔥💪🥰
ken darsihk
Poor Indri 🤗🤗
Aditya hp/ bunda Lia
akhirnya bukan cuma pak Haris yang tau cerita Indri dan Evan ... cinta dan Vano juga
Aditya hp/ bunda Lia
dan saat semua membaik Rio mendapat bukti kalo Indri yang menyuruh orang buat sabotase mobil evan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!