Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Sekarang Kita Lihat Kau Bisa Lari ke Mana

Livia memilih jalan kecil yang sepi dan tersembunyi. Sambil terus berlari, ia mengeluarkan ponsel dan menelepon Anya.

"Anya, Om Nathan sudah tidur? Bisakah kau melihat apa yang sedang dia lakukan?"

"Pak Nathan pergi bersama Nona Jolene."

Dari suaranya, Anya jelas tidak menyukai Jolene. Mungkin kekesalan akibat kalah taruhan belum hilang, sehingga setiap menyebut nama itu ia terdengar mengatupkan gigi.

"Katanya beliau mengantar Nona Jolene pulang. Tapi mereka pergi sejak sore dan Pak Nathan belum kembali. Menurut saya, malam ini mungkin beliau menginap di kediaman keluarga Halim."

Bulu mata Livia turun.

Ia takut Nathan marah dan berusaha mati-matian pulang. Namun entah pria itu terlalu mempercayainya atau sama sekali lupa, satu telepon pun tidak diterimanya.

Livia tidak tahu apakah harus merasa kecewa atau lega.

Ia dan Nathan sudah membuat janji. Selama Livia sabar menunggu, akhir yang bahagia seharusnya datang.

Namun jarak di antara mereka justru terasa semakin besar.

Karena Jolene. Juga karena Keenan.

Keduanya ditarik ke arah berbeda. Nathan tidak bisa melepaskan Jolene, sementara Livia tak mampu menghindari Keenan.

Pria itu berbahaya tetapi memikat. Ia datang tanpa peringatan dan menerobos masuk ke hidup Livia berkali-kali. Sikapnya yang terus terang dan panas membawa pengalaman baru yang belum pernah dirasakan gadis tersebut.

Sedikit demi sedikit, Keenan sedang membelah pertahanan hatinya.

Retakan itu membesar setiap kali mereka bertemu. Kehadiran Keenan meredakan kegelisahan sekaligus menyerap kejernihan Livia.

Ia mulai goyah dan tidak lagi seteguh dahulu.

Kalau tidak segera melarikan diri, pria itu benar-benar akan berhasil.

Dengan pikiran kacau, Livia terus berlari. Ia keluar dari jalan kecil dan menginjak jalan beraspal.

Beberapa mobil segala medan tiba-tiba berhenti di hadapannya. Sorot lampu putih yang menyilaukan membuat kedua kaki Livia kehilangan tenaga.

Ia takut orang di dalam adalah anak buah Wendra.

Jika bertemu kelompok itu sekarang, kematiannya hampir pasti.

Lampu mobil paling depan berkedip. Pintu terbuka dan seorang pria berpakaian kasual turun, lalu berjalan mendekat melawan cahaya.

Livia tidak bisa melihat wajahnya. Ia mundur dengan hati-hati sampai menangkap kilau kalung emas besar di leher pria tersebut.

Langkahnya berhenti.

"Bang Jordan?"

"Sayang?"

Ternyata benar Jordan.

Senar tegang di hati Livia langsung mengendur. Ia menduga Jordan menerima kabar tentang tambang dan sengaja datang.

Jordan tersenyum lebar dan berjalan cepat menghampiri.

"Kenapa kau berada di sini?"

Nada bicaranya tetap genit dan menjengkelkan.

Masalah besar baru saja terjadi. Jika Keenan tidak melindungi tambang, semua pekerja mungkin sudah terbunuh. Namun Jordan masih punya waktu menggoda perempuan di jalan.

Livia mencibir dalam hati.

"Aku tersesat."

"Tersesat sampai distrik timur dan kebetulan masuk ke wilayahku? Kau datang karena merindukanku?"

Livia tidak menjawab.

Jordan terus mendekat. Pengawal di belakangnya tidak mampu menahan diri dan memperingatkan.

"Bang Jordan, waktu kita terbatas. Sebaiknya segera naik ke tambang. Perempuan ini muncul pada waktu mencurigakan. Bisa jadi dia orang Wendra. Lebih baik ditahan dulu, lalu setelah urusan selesai Anda bisa menginterogasinya sendiri."

"Ide bagus."

Jordan mengangguk.

"Kebetulan aku dan sayangku masih punya transaksi enam miliar empat ratus juta yang belum diselesaikan. Aku juga sudah tidak sabar. Masuk ke mobil."

Livia menolak.

Ia baru saja melarikan diri dari gunung. Jika naik ke mobil Jordan, sebentar lagi ia pasti kembali jatuh ke tangan Keenan.

Keenan sedang dipengaruhi parfum dan pikirannya tidak jernih. Tak ada yang tahu apa yang akan dilakukan pria itu ketika marah.

Livia berbalik dan langsung berlari.

Dor!

Sebuah peluru menghantam aspal tepat di depan kaki kanannya.

Livia buru-buru menarik kaki dan terhuyung sampai hampir jatuh.

Di kota yang dipenuhi senjata, orang biasa seperti dirinya sama sekali tidak memiliki perlindungan. Di hadapan siapa pun yang lebih kuat, ia selalu dipaksa menyerah.

Livia berbalik dengan marah.

Jordan memegang pistol dan meniup ujung laras dengan gaya menyebalkan.

"Masih mau lari?"

"Tidak."

Livia menggeleng.

"Tapi aku tidak bisa ikut. Tuan Keenan yang membawaku ke sini."

Alis Jordan mengerut.

"Keenan?"

"Ya."

"Kenapa dia datang kemari?"

Livia mengatupkan bibir.

Jordan dan Keenan adalah rekan kerja. Kedatangan Keenan jelas membantu Jordan. Kalau begitu, mengapa Jordan masih berpura-pura tidak tahu? Apakah ia sedang menguji?

"Tuan Keenan memperkirakan Bos Wendra akan menyerang tambang malam ini. Karena itu dia membawa orang—"

Sebuah tembakan berperedam terdengar dari udara dingin.

Peluru melewati telinga kanan Jordan dan menyapu rambut di atas kepala Livia. Peringatan itu begitu jelas hingga gadis tersebut langsung menutup mulut.

Dari kegelapan di belakang Jordan, dua belas sosok muncul perlahan dengan Keenan berada di depan.

Penampilan mereka berbeda dari ketika di pondok.

Sepuluh prajurit yang sebelumnya mengenakan perlengkapan tempur kini memakai pakaian sipil yang umum dipakai warga setempat. Sehelai kain merah terikat di lengan masing-masing.

Aura tentara yang sebelumnya sangat kuat telah disembunyikan. Cara memegang senjata pun dibuat santai sehingga mereka terlihat seperti anggota geng biasa.

Apa yang sedang terjadi?

Livia tidak memahami. Ia tak berani berbicara sembarangan dan perlahan bergeser ke tepi jalan untuk mengurangi keberadaan.

Keenan memandang Jordan dengan dingin.

"Siapa yang mengizinkanmu mengarahkan senjata kepada perempuanku?"

Alis Jordan terangkat marah, tetapi ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Ia menerima panggilan dan mendengarkan laporan. Suaranya turun.

"Semua mati? Bagaimana pihak satunya? Berapa orang berkain merah yang tewas?"

"Banyak. Puluhan orang."

Jordan menjilat bibir dan menutup panggilan. Tatapannya kembali kepada Keenan dengan kemarahan baru.

"Aku baru tahu Tuan Keenan menyediakan layanan purnajual setelah membantu orang mendapatkan wilayah. Perhatian sekali."

Tatapan Keenan melintas pada Livia.

Barulah gadis itu mengerti bahwa pria tersebut tidak berniat membiarkan Jordan mengetahui keterlibatannya.

Livia tidak tahu alasannya, tetapi ia memahami satu hal.

Ia kembali membuat masalah.

Keenan menarik pandangan.

"Aku membersihkan penghalang secara gratis. Bang Jordan malah tidak senang?"

"Tentu senang."

Jordan mengangguk.

"Namun biasanya kau tidak ikut campur dalam pertikaian antargeng. Tambang ini pun sebelumnya kaubantu kudapatkan melalui jalur resmi. Sekarang kau tiba-tiba bertarung langsung melawan Geng Kayu Hijau dan bahkan kehilangan begitu banyak orang demi membantuku. Apa tujuanmu?"

"Sebagai ucapan terima kasih, berikan perempuan itu kepadaku."

Keenan melewati Jordan dan berhenti di depan Livia. Ia membungkuk dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukan.

Ketika hendak pergi, Jordan masih tidak memberi jalan.

Keenan memberinya jaminan.

"Tenang. Aku sama sekali tidak tertarik menguasai Kota Kayan."

"Sebaiknya benar."

Jordan menahan rahang.

"Kita sudah saling mengenal bertahun-tahun dan memiliki rasa hormat satu sama lain. Aku tidak ingin suatu hari nanti harus menjadi musuhmu."

Keenan tersenyum.

"Hari itu tidak akan datang."

***

Setelah masuk ke mobil, Livia masih belum memahami semuanya.

"Tuan Keenan, kau membantu Bang Jordan. Kenapa dia malah marah?"

Keenan menjelaskan dengan sabar, "Aku tidak sedang membantunya. Kalau bukan karena kau, dia tidak akan tahu bahwa aku berada di balik operasi malam ini."

"Maaf..."

Livia menunduk.

"Dia mengatakan banyak orangmu tewas..."

"Kau tahu berapa banyak orang yang kubawa."

"Sepuluh."

Tatapan Livia meredup.

"Selain Tegar, kau hanya membawa sepuluh orang. Tidak satu pun tewas, tetapi mereka mengalahkan lebih dari seratus anggota Geng Kayu Hijau. Tuan Keenan, sebenarnya kau—"

Kalimatnya terhenti ketika pergelangan kakinya terasa dingin.

Livia menunduk dengan bingung.

Entah dari mana, Keenan mengeluarkan rantai dan membungkuk untuk mengunci kedua pergelangan kakinya rapat-rapat.

Darah di tubuh pria itu masih mendidih. Ia hanya ingin memberi pelajaran kepada kelinci yang tidak patuh ini.

Keenan mengangkat rantai di bagian tengah dan mengayunkannya di depan mata Livia dengan senyum jahat.

"Sekarang kita lihat kau bisa lari ke mana."

Livia membelalak tanpa mampu berkata-kata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!