Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecoak dan kecupan

Satria mencengkeram gagang kopernya begitu erat. Langkahnya terasa berat, seolah ada beban berton yang membelenggu kakinya. Di dalam kepalanya, kata-kata tegas Paman Budi terus berputar tak henti, menghantam nuraninya berulang kali.

"Jadi laki-laki itu yang dipegang tanggung jawabnya, Satria... Kamu harus nikahin Renika. Besok paman naikkan jabatanmu tanpa syarat, dan paman kasih waktu beberapa hari untuk kamu pindah ke rumah baru yang sudah disiapkan."

Bukan ini yang ia inginkan. Bukan ini yang ia harapkan. Renika? Wanita itu tak pernah lebih dari sekadar rekan kerja yang ambisius, terutama soal mendekati dirinya.

Tak pernah ada cinta di sana. Hanya keterpaksaan yang kini dipaksa menjadi ikatan seumur hidup.

Hatinya menjerit perih. Yang ia cintai, yang menetap utuh di hatinya sejak dulu, hanya satu nama, Vivian seorang. Gadis kampung yang tulus, lembut, dan selalu menerima dirinya apa adanya. Gadis yang kini ia khianati berkali-kali, namun tetap tak bisa ia lupakan sedetik pun.

Satria berhenti sejenak di lorong villa yang sepi. Matanya menatap pintu kamar Vivian yang tertutup rapat di ujung sana. Ingin sekali ia berlari, mengetuk pintu itu, dan berlutut memohon maaf, membatalkan semuanya, menolak perintah Paman Budi, dan memilih Vivian apa pun risikonya.

Namun bayangan wajah ayahnya yang menua, harapan keluarga besarnya, serta ancaman kehilangan segalanya jika ia menolak... semuanya kembali menekan dadanya hingga sesak.

Satria menghela napas panjang, napas yang terasa penuh kepedihan. Ia kembali melangkah, menjauh dari pintu kamar Vivian, menjauh dari satu-satunya kebahagiaan yang pernah ia miliki. Di sudut hatinya yang paling dalam, ia berbisik lirih, hampir tak pernah terdengar.

"Maafkan aku, Vivian... Aku lemah. Aku kalah. Aku menyerah..."

...****************...

Matahari mulai meninggi, angin laut berhembus lembut membawa aroma garam yang menenangkan. Di sebuah kafe terbuka tepi pantai, landscape alam terbingkai indah.

Vivian duduk di seberang Raynor, sementara di sisinya, Stella duduk bersandar manja, sesekali mengaduk gelas minumannya dengan ujung sedotan.

Namun tatapan Raynor tak pernah benar-benar berpaling dari Vivian. Setiap gerak gadis itu seolah magnet yang menarik seluruh perhatiannya, bahkan saat Stella bercerita riang di sebelahnya, ia tak peduli.

"Sayang, dengerin aku nggak sih?" Stella menepuk pelan lengan Raynor, sedikit cemberut namun tetap berusaha tersenyum. "Aku bilang, pemotretan minggu depan di Jakarta itu bisa aku atur ulang jadwalnya kok, biar kita bisa jalan bareng lebih lama."

Raynor meliriknya dingin. "Nanti aku suruh sekretaris atur jadwalnya. Yang penting selesaikan sesuai kontrak." Lantas matanya kembali jatuh pada wajah Vivian. "Ngomong-ngomong soal kantor, ada kabar baik buat kamu, Vivian."

Vivian yang tengah menyeruput jus alpukat, mengangkat wajah dengan tatapan penasaran. "Kabar apa, Kak?"

"Besok, kamu nggak perlu kembali ke kantor cabang," ucap Raynor tenang, suaranya tegas namun lembut. "Kamu pindah ke kantor pusat. Langsung di bawah pengawasanku."

Vivian terkejut, matanya membulat. "Hah? Ke kantor pusat? Serius, Kak?"

"Iya. Semuanya sudah disiapkan. Posisi kamu di divisi pemasaran pusat," jelas Raynor santai, seolah itu hal biasa, padahal bagi Vivian ini adalah perubahan besar.

Wajah Stella seketika berubah masam. Senyumnya mengeras, tangannya meremas gelas di meja. "Wah, hebat sekali ya si Vivian. Baru magang sebentar udah langsung dipindah ke kantor pusat. Beruntung banget jadi adiknya CEO," ucapnya bernada manis namun penuh sindiran tajam.

Vivian menunduk sedikit, tak berniat membalas. Raynor justru menegakkan tubuh, menatap Stella dengan tatapan tajam yang seketika membuat gadis itu membungkam.

"Vivian punya kemampuan yang aku butuhkan di sana. Keputusan ini murni keputusan profesional," ucap Raynor tegas, tak memberi ruang untuk perdebatan. Lantas tatapannya kembali melunak saat beralih ke Vivian. "Di sana kamu akan jauh lebih aman, lebih tenang, dan bisa belajar banyak hal tanpa gangguan."

Jantung Vivian berdebar, bukan hanya karena kabar itu, tapi karena rasa aman yang selalu hadir setiap kali Raynor membelanya begitu tegas.

"Terima kasih, Kak Raynor," jawabnya pelan, mata mereka saling bertemu sejenak, menyimpan banyak makna yang tak terucap.

Stella mendengus pelan, mengalihkan pandangan ke arah laut biru. Di meja itu, suasana terasa hangat namun penuh ketegangan tersembunyi, satu pria yang hatinya sepenuhnya milik gadis di seberangnya, satu wanita yang terus berusaha mempertahankan apa yang ia rasa miliknya, dan satu gadis yang perlahan mulai sadar, hidupnya kini tak lagi sama.

Matahari bergulir tenggelam. Di hari terakhir liburan, Vivian sibuk melipat pakaian dan memasukkannya rapi ke dalam koper. Pikirannya sudah melompat-lompat membayangkan kepulangan nanti sekaligus menantikan babak baru hidupnya di kantor pusat bersama Raynor.

Bayangan Satria benar-benar sudah hilang dari pikirannya. Ia bersyukur pria itu pulang lebih awal, tak perlu khawatir ada yang mengganggunya.

Ketika sedang asyik merapikan barang di tepi ranjang, pintu kamarnya diketuk pelan lalu terbuka. Raynor melangkah masuk, begitu santai. Stella sedang sibuk melakukan sesi pemotretan dadakan di luar, jadi untuk saat ini, waktu sepenuhnya milik mereka berdua.

"Sudah siap semua?" tanya Raynor lembut, langsung berjalan mendekat dan ikut membantu memasukkan beberapa barang kecil ke dalam koper.

"Sudah hampir selesai, Kak," jawab Vivian sambil tersenyum. "Tinggal sedikit lagi."

Raynor mengangguk, lalu seulas senyum nakal terukir di bibirnya. "Kalau begitu, ayo kita jalan keluar sebentar. Memangnya kamu ngga mau beli oleh-oleh?"

Mata Vivian langsung berbinar cerah. "Wah, boleh banget! Aku sempat melihat beberapa kerajinan tangan unik di pasar seni kemarin, tapi belum sempat beli." Gadis itu langsung bergerak lebih cepat, semangat sekali.

Namun di dalam hati, Raynor punya tujuan lain yang jauh lebih pribadi. Ia tersenyum miring, diam-diam, di saku celananya, ia menggenggam sebuah mainan kecoak dari karet yang ia beli di pasar kemarin. Kesempatan ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Ketika Vivian tengah menutup ritsleting kopernya, Raynor dengan gerakan cepat namun santai seolah tak sengaja melempar benda kecil itu tepat ke arah kaki Vivian.

"Ah! Kecoak!" pekik Vivian kaget seketika. Wajahnya pucat, refleks ia melompat berdiri dan langsung memeluk erat tubuh Raynor, menyembunyikan wajahnya di dada lebar pria itu.

Raynor tersenyum lebar dalam diam. Dengan senang hati ia menyambut pelukan itu, kedua tangannya langsung melingkar erat di punggung sang gadis, mengunci Vivian dalam dekapan yang hangat dan melindungi.

"Sstt... jangan takut, ada aku di sini," bisiknya lirih, suaranya terdengar begitu lembut namun bergetar menahan debaran yang mengamuk di dadanya.

Tanpa melepaskan pelukan, Raynor diam-diam menunduk, menghirup aroma wangi khas rambut Vivian yang menenangkan sekaligus memabukkan.

Perlahan, bibirnya mendaratkan kecupan kecil di puncak kepala gadis itu, merambat lembut ke sisi pelipisnya, lalu menyentuh pipinya dengan sentuhan yang begitu ringan, seolah tak sengaja karena posisi mereka yang terlalu dekat.

Vivian tersentak halus, tubuhnya sedikit menegang. Ia perlahan mengangkat wajah, menatap dalam ke manik mata hitam Raynor yang tampak begitu dalam dan penuh perasaan.

Pandangannya kemudian tak sengaja jatuh ke lantai. Benda yang tadi ia kira kecoak asli kini tergeletak diam tak bergerak. Dengan ujung kakinya, Vivian menyentuh pelan, lalu menggoyangkannya sedikit. Kaku, tak hidup. Itu hanya mainan karet.

Vivian terdiam. Pikirannya berputar cepat, menyadari semuanya. Raynor sengaja melakukan ini agar bisa memeluknya sedekat ini, menciuminya selembut itu...

Wajahnya perlahan bersemu merah, hatinya berdebar kencang tak karuan. Ia belum siap mencerna semua perasaan yang tumpah ruah di hadapannya. Lalu tiba-tiba hal mengejutkan kembali menyambutnya...

1
Jumi
Aaa ... Raynor ini tipe yg dingin2 hangat😍
arina_ar: dingin karena belum ketemu pawangnya aja, wkwkwk
total 1 replies
Jumi
Jadi orang kota ribet y🤣
❤️⃟WᵃfVebi Gusriyeni
Tapi cara kenalannya itu loh Pak🤣
M-Asanji
suka vivian manis dan baik
M-Asanji
bikin kesal 😤
Jumi
nggak apa, sesaat itu sangat berharga
❤️⃟WᵃfVebi Gusriyeni
Vivian aduuuhh🤣 harusnya tendang aja dia Viii/Facepalm/
jani's
persaingan Stella dan Vivian,tp kayaknya Stella akan bertepuk sebelah tangan kayaknya
jani's
aku suka tokoh Vivian kayaknya orangnya tulus
Jumi
Jangan menyimpan 'barang' rusak
falea sezi
😒 serakah klo mau. ma vivian ya putusin pengharum ruangan🤣
❤️⃟WᵃfVebi Gusriyeni
Biasanya yg suka begini, uangnya gak seberapa🤣 Vivian kamu best👍
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!