Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap Basah
Malam semakin larut.
Kediaman keluarga Bianchi yang biasanya dipenuhi aktivitas, kini terasa begitu sunyi. Satu per satu penghuni rumah sudah beristirahat di kamar masing-masing.
Elena memanfaatkan keadaan itu untuk kembali mencari informasi. Kali ini, tujuannya adalah ruang kerja Leon.
Selama ini, ruangan itu selalu terkunci. Dia sudah berkali-kali mencoba masuk, tapi selalu gagal. Kali ini, Leon sudah kembali. Dan, dia juga sudah memperhatikan Leon dalam beberapa hari terakhir. Pria itu selalu meninggalkan ruangan tanpa menguncinya.
Elena keluar dari kamarnya dengan masih menggunakan seragam pelayan. Ia pergi ke dapur, membuat secangkir kopi lalu, membawanya ke lantai atas.
Bodyguard yang berjaga tidak menaruh curiga karena mengira ia di tugaskan untuk melayani salah satu majikan mereka.
Dan, begitu ia sampai di depan pintu ruang kerja Leon, ia berhenti sejenak. Dia melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihat. Baru setelahnya, ia memutar kenop pintu dan—
Cklek!
Pintu tidak terkunci.
Elena masuk kemudian kembali menutup pintu rapat-rapat.
Di sisi lain, Leon baru saja keluar dari kamarnya.
Ia berjalan menelusuri lorong dan berhenti di balkon. Dia bersandar pada pagar, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang dengan sebatang rokok yang terselip di antara jemarinya.
Dia mengisapnya dalam-dalam. Asap putih mengepul dari bibirnya sebelum perlahan menghilang terbawa angin malam.
Pikirannya kembali pada percakapannya dengan Victor.
Leon terkekeh pelan, merasa keputusan itu tidak masuk akal.
"Benar-benar konyol," gumamnya.
Leon kembali mengisap rokoknya. Tapi, tiba-tiba suara samar terdengar.
Leon langsung terdiam. Alisnya berkerut tajam.
Suara itu begitu pelan, hampir tertutup oleh hembusan angin malam.
Dia menahan napas, memasang baik-baik pendengarannya.
Dia membuang rokok yang masih menyala ke lantai, kemudian menginjaknya hingga bara api padam. Tangannya bergerak mengambil pistol yang selalu terselip di balik pinggangnya.
Leon berjalan perlahan menyusuri lorong dengan langkah yang nyaris tanpa suara. Tatapannya tajam, mengamati setiap sudut yang ia lewati.
Suara itu kembali terdengar dari ruang kerjanya.
Dia mempercepat langkah, tetapi tetap berhati-hati. Begitu sampai di depan pintu, Leon berhenti. Tangannya menggenggam kenop pintu. Lalu, Leon langsung mendorongnya lebar sambil mengangkat pistol dan mengarahkannya ke dalam ruangan.
"Angkat tangan!"
Elena tersentak. Ia berbalik dengan napas memburu.
Leon melangkah mendekat. Tatapannya yang tajam tidak pernah lepas dari Elena. Moncong pistol di genggamannya mengarah tepat pada wanita itu.
Tapi, wanita itu sama sekali tidak takut. Bahkan, wajahnya tetap tenang meski nyawanya berada di ujung pistol.
"Apa yang kamu lakukan tengah malam begini di ruanganku?" tanya Leon dingin.
Elena mengangkat kedua tangannya sedikit. "Maaf, Tuan. Sepertinya saya salah masuk ruangan. Saya belum lama bekerja di sini, jadi saya tersesat."
Leon terkekeh pelan. "Tersesat?" Dia menurunkan pistolnya sedikit, tapi tetap waspada.
"Sejak aku kembali, aku sudah memperhatikanmu. Sikapmu berbeda dari pelayan lainnya." Leon maju satu langkah. "Jadi, jangan harap aku akan percaya dengan alasanmu itu."
Elena tersenyum tipis.
"Katakan! Apa yang sebenarnya kamu cari di rumah ini?" lanjut Leon.
Alih-alih menjawab, Elena justru melangkah mendekat.
Leon langsung mengangkat pistolnya kembali. "Berhenti! Atau, aku akan menembak mu."
Elena akhirnya terhenti. Dia menatap Leon dengan senyum miring.
"Kalau begitu, tembak saja."
Leon mengerutkan kening. "Kamu pikir, aku tidak berani?"
Jarinya mulai menyentuh pelatuk. Tapi, Elena bergerak jauh lebih cepat. Dalam sekejap, tangannya menangkap pergelangan Leon dan memutarnya, di susul pukulan tepat di lengan, yang membuat pistol itu terlepas dan jatuh ke lantai.
Leon tidak tinggal diam. Dia langsung balik menyerang.
Keduanya terlibat dalam pertarungan singkat. Gerakan Elena begitu cepat dan terlatih, membuat Leon semakin yakin bahwa dia bukan pelayan biasa.
Tapi pada akhirnya, Leon berhasil menangkap pergelangan tangannya dan mengunci gerakannya.
"Kamu tidak akan pergi sebelum menjelaskan semuanya."
Elena berusaha melepaskan diri. Tapi, tiba-tiba terdengar langkah kaki.
Mata Elena bergerak cepat menuju pintu, menyadari ada orang yang datang.
Leon tersenyum melihat perubahan ekspresinya. "Kenapa? Kamu takut ada yang melihatmu?"
Elena melirik ke arah pintu, sebelum beralih pada Leon. Sedetik kemudian, sebuah ide muncul di benaknya.
Ia menarik kerah baju Leon, lalu, bibirnya menyentuh bibir Leon dalam sebuah ciuman singkat.
Leon membeku. Matanya melebar karena terkejut. Pikirannya seolah berhenti bekerja. Tapi, Elena segera melepaskan diri dan memasang wajah ketakutan, tepat saat orang-orang tiba.
"LEON!"
***
Suasana terasa begitu menekan.
Leon berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
Di sampingnya, Elena berlutut dengan tubuh sedikit membungkuk. Isakan kecil terdengar dari bibirnya, seolah dia sedang menahan tangis yang begitu dalam.
Di hadapan mereka, keluarga besar Bianchi duduk berjajar di ruang keluarga. Mereka menatap Leon dan Elena bergantian.
Victor duduk di tengah, dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Bisa kamu jelaskan apa yang kalian lakukan di ruangan itu, Leon?" tanyanya dengan suara tenang, tetapi jelas mengandung intimidasi.
Leon mengangkat wajahnya. "Kami tidak melakukan apa pun. Justru dia—"
"Tidak melakukan apa pun?" Daniel memotong ucapannya dengan senyum sinis. "Jelas-jelas kami melihat kalian berciuman di dalam ruangan itu."
Leon mengepalkan tangannya semakin erat. "Itu tidak seperti yang kalian pikirkan."
"Tidak?" Daniel menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Lalu, apa?"
"Kami tidak melakukan apa pun," ulang Leon dengan tegas.
"Diam, Leon!"
Kali ini Maria angkat bicara. Ia berdiri dari tempat duduknya dengan tatapan tajam yang mengarah pada Leon dan Elena bergantian.
"Lihat dia." Maria menunjuk Elena. "Dia sampai menangis seperti itu. Kamu masih mau mengatakan kalian tidak melakukan apa pun?"
Leon menoleh.
Benar saja. Wanita itu menundukkan kepala dengan bahu yang bergetar. Air mata mengalir membasahi pipinya. Isakan nya terdengar begitu menyedihkan hingga membuat semua orang mulai memandangnya dengan tatapan mencela.
Tapi, Leon tahu semua itu hanya pura-pura. Wanita ini jelas sedang memainkan perannya dengan sempurna.
"Mom, percaya padaku. Aku tidak—"
Ucapan Leon terhenti saat Victor mengangkat tangannya.
"Cukup!" Victor bangkit dari sofa, lalu perlahan berjalan mendekati Elena.
"Siapa namamu?" tanya Victor .
Elena mengangkat wajahnya perlahan. Air mata masih menggenang di sudut matanya.
"Elena, Tuan."
"Elena."
Victor mengulang nama itu. Lalu, dalam hitungan detik, moncong pistol berada tepat ke dahi Elena.
Leon langsung menegang. Ia refleks bergerak maju. Tapi, ia segera mengurungkan niatnya.
Beberapa anggota keluarga Bianchi tidak kalah terkejut, tetapi tidak ada satu pun yang berani menghentikan Victor.
Victor menatap Elena tanpa berkedip.
"Jika orang luar sampai tahu apa yang terjadi malam ini, itu hanya akan mencoreng nama baik keluarga Bianchi," ucapnya dengan suara rendah dan tajam.
Elena tidak menjawab. Air matanya masih mengalir tapi, tidak ada ketakutan di sana.
"Salahkan dirimu sendiri karena bernasib sial."
Jari Victor mulai bergerak menekan pelatuk. Tapi, tiba-tiba Daniel menghentikannya.
"Tunggu, Dad!"
Daniel berdiri. Dia berjalan cepat menghampiri Victor, kemudian membisikkan sesuatu di telinga ayahnya.
Victor tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap dingin saat mendengarkan.
Beberapa detik kemudian, tatapan Victor perlahan berubah. Dia menatap Daniel sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Leon dan Elena.
Akhirnya, Victor menurunkan pistolnya. Dia berbalik, kembali duduk di sofa dan meletakkan pistol di meja.
Tatapannya tetap tajam mengarah pada Elena. "Kamu beruntung. Malam ini aku tidak membunuhmu." Lalu, tatapannya beralih pada Leon. "Dan kami, Leon. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."
Leon mengerutkan kening. "Apa maksud Daddy?"
Victor menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Kamu sudah membuat seorang wanita menangis di tengah malam. Entah, apa yang sudah kamu perbuat padanya."
"Dad, aku tidak—"
"Kalian harus menikah."
Tubuh Leon membeku. "Apa?"
Victor menatapnya tanpa sedikit pun keraguan. "Kamu mendengarnya dengan sangat jelas, Leon. Kalian berdua harus menikah."
"Tapi, Dad. Aku dan wanita ini tidak... "
"Sudahlah, Kak. Ikuti saja perkataan Daddy. Jangan menjadi pria bajingan," seru Daniel.
Leon mengepalkan tangannya erat. Dia tahu, Daniel hanya ingin mempermalukannya dengan menikahkannya dengan seorang pelayan.
Daniel memanfaatkan kejadian ini untuk menjauhkannya dari kursi kepemimpinan. Karena, saat semua orang tahu, ia menikahi pelayan, pandangan semua orang akan berubah.
Mereka akan menilai rendah dirinya dan menganggapnya tidak pantas menjadi pemimpin The Raven.
"Ini sudah menjadi keputusan ku," ucap Victor. "Kalian akan menikah dua hari lagi."
Leon mendengus kasar. Ia lalu menoleh, menatap Elena.
Wanita itu masih berlutut dengan kepala tertunduk. Tapi, Leon melihat sudut bibirnya bergerak membentuk sebuah senyum tipis yang samar, nyaris tidak terlihat
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊