Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
*
Selama beberapa hari setelah Raka yang minta ijin untuk menikah, rumah yang biasanya begitu ramai berubah senyap. Tidak ada pertengkaran, tidak ada suara tinggi, tidak ada pertanyaan yang memaksa.
Aisyah tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa. Setidaknya dari luar terlihat tak ada yang berubah. Namun di dalam dirinya, ia sedang berperang dengan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap kali teringat ucapan Raka yang berkata, “Aku masih mencintaimu”, seharusnya itu membuatnya bahagia, tapi nyatanya kalimat itu membuat hatinya semakin sakit. Karena kenyataannya saat ini Raka juga mencintai Nabila.
Beberapa malam Aisyah tak bisa tidur. Dan Raka masih tetap tidur di kamar tamu. Aisyah menutup matanya yang kembali basah. Ia tak tahu harus membenci siapa. Nabila? Raka? Atau dirinya sendiri yang begitu mudah terluka?
Sebenarnya, bisa saja ia menolak, meminta Raka memilih dirinya atau Nabila. Tapi pertanyaan lain selalu muncul: jika Raka memilihnya, apakah kehidupan rumah tangga mereka tetap baik-baik saja?
Aisyah tidak takut kehilangan Raka, tapi badan Raka tetap di sampingnya tetapi jiwanya bersama perempuan lain. Aisyah merasa terjebak dalam dilema. Keputusan apa pun yang ia ambil akan tetap menyakitkan. Jika ia mengizinkan, hatinya yang hancur. Jika ia menolak, mungkin Raka yang akan tetap berada di sampingnya tapi… ia tak bisa memastikan apakah jiwa pria itu juga tetap bersamanya, atau malah tetap memikirkan Nabila.
Malam itu, setelah anak-anak tidur, Aisyah mengajak Raka bicara di ruang tamu. Memastikan percakapan mereka tak akan didengar oleh anak-anak mereka.
"Duduklah, Mas. Aku mau bicara."
Raka pun menurut dan segera duduk di sampingnya. "Apa kamu sudah mengambil keputusan?"
Aisyah mengangguk pelan, menatap lurus ke depan. "Sudah. Berhari-hari."
Raka menatap wajahnya, menunggu. Aisyah bisa melihat pria itu begitu berharap akan jawabannya. Selama beberapa hari ini, Raka memang selalu pulang lebih cepat dari toko. Itu artinya Raka tidak menemui Nabila seperti permintaannya. Tapi ia bisa melihat perubahan yang terjadi pada pria itu. Lebih sering diam, saat menemani si bungsu bermain pun, seakan jiwanya sedang tidak berada di rumah. Saat Rangga meminta diajari mengerjakan PR pria itu juga sama sekali tidak fokus. Dan itu membuat hati Aisyah benar-benar hancur.
“Aku janji, Syah. Aku pasti bisa berbuat adil pada kalian. Aku juga tak kan meninggalkan anak-anak. Mereka tetap prioritasku.” Raka bahkan berbicara sebelum Aisyah mengatakan keputusannya.
Aisyah menarik napas panjang, menelan ludah. "Kalau Mas memang yakin dengan perasaan Mas... Dan Mas berjanji akan tetap menjadikan anak-anak kita sebagai prioritas, baiklah… aku mengizinkan."
Raka menatap wajah Aisyah dengan mata terbelalak seolah tak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu. "Kamu... kamu serius?"
Aisyah bisa melihat wajah Raka yang tampak begitu senang. Dan itu… sekali lagi mampu mengoyak hatinya. "Iya." Aisyah memaksakan senyum tipis. Padahal dalam hatinya ia berkata, "Aku akan mencoba bertahan demi anak-anak."
“Terima kasih, Sya…” Raka secara spontan memeluknya. Begitu erat, begitu bahagia. Tanpa menyadari pelukan itu bagai rajam yang meluluh lantakkan hati istrinya.
"Kamu benar-benar istri yang baik," bisiknya di bahu Aisyah. "Aku benar-benar bahagia memilikimu. Dan aku berjanji akan tetap mengutamakan kamu.”
Aisyah mengusap punggung suaminya pelan. Janji yang diucapkan oleh suaminya, entah pria itu bisa menepatinya atau tidak. Wanita itu bahkan ragu.
Raka melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah istrinya. "Aku berjanji. Aku takkan meninggalkanmu. Aku tetap bertanggung jawab atasmu dan anak-anak."
Aisyah mengangguk pelan. "Jangan pernah membuat mereka merasa kehilangan ayahnya. Hanya itu yang aku minta."
Raka mengangguk cepat. "Aku janji."
Aisyah menatapnya, ingin mengatakan kalau dirinya tak ingin berbagi. Tapi semua kata itu tertahan di tenggorokan. Yang keluar hanya satu kalimat. "Semoga Mas Raka bahagia dengan pilihan Mas."
Raka kembali memeluknya. “Terima kasih sekali lagi,” ucapnya seraya mengusap punggung Aisyah.
Malam itu mereka duduk berdampingan begitu lama, tak banyak bicara. Hanya dua orang yang pernah berjanji berjalan bersama seumur hidup, namun kini Aisyah mengetahui segalanya akan berubah.
Beberapa saat kemudian Raka berdiri, mengambil kunci mobil. Sebelum melangkah keluar, ia berbalik dan mencium kening istrinya.
"Aku akan menemui Nabila. Aku akan katakan kamu sudah merestui pernikahan kami. Dia pasti bahagia mendengarnya,” ucapnya lalu bergegas keluar bahkan sebelum mendapat jawaban dari Aisyah.
.
Pintu tertutup, dan beberapa saat kemudian Aisyah mendengar suara mobil perlahan menjauh. Wanita itu masih duduk di tempatnya, tersenyum seraya mengusap air mata yang sudah ia tahan sejak tadi. Hingga akhirnya karena tak sanggup lagi menahannya, Ia berjalan pelan menuju kamar, menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan punggungnya yang semakin melorot hingga terduduk di lantai. Aisyah menutup mulutnya dengan telapak, tak ingin suara tangisnya didengar oleh anak-anak.
"Ya Allah..." Aisyah memeluk lututnya sendiri, bahunya perlahan bergetar. "Aku nggak mau... aku nggak mau kehilangan Mas Raka… aku nggak mau anak-anak kehilangan ayahnya.”
Tapi tak ada yang mendengarnya selain dirinya sendiri dalam gelap kamar. Ia menatap cincin di jarinya, cincin yang diberikan Raka lima belas tahun lalu. Dulu simbol persatuan mereka, kini terasa begitu berat.
"Kenapa harus begini?" bisiknya di antara tangis. Ketakutan dalam hatinya kembali muncul. Bagaimana jika setelah menikah dengan Nabila Raka berubah? Bagaimana jika anak-anak lebih sering melihat ayahnya di rumah perempuan lain?
Aisyah menutup wajah dengan kedua tangan. Padahal beberapa menit sebelumnya ia masih tersenyum di depan suaminya, tapi tak ada yang tahu bahwa semua itu hanya kekuatan yang dipaksakan.
Setelah merasa beban di dadanya sedikit berkurang, Aisyah mengusap matanya dengan punggung tangan. Wajahnya yang semula sendu kini mengeras.
“Tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Ada anak-anak yang masih harus diperjuangkan!”
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...