Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#6

Makan malam keluarga besar Kerajaan Blackwood untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir berlangsung hangat dan tenang. Tidak ada suara tangisan melengking bayi yang rewel, tidak ada pula bentakan kasar Savea yang biasa bergema memarahi para pelayan yang dianggap tak becus.

Ruang makan utama yang megah itu dipenuhi denting halus alat makan perak dan aroma hidangan berkelas internasional.

Di luar pintu kaca tinggi yang membatasi ruang makan dengan teras taman dalam, tampak seorang gadis muda bergaun kemeja longgar berwarna krem sedang menimang Tuan Muda Ocean. Bayi mungil itu tertidur pulas dalam dekapannya.

Yang Mulia Ratu Baxeena sesekali melirik ke arah luar jendela, mengukir senyum tipis yang amat jarang terlihat. "Luar biasa. Cucuku tenang sekali malam ini," gumam Ratu Baxeena pelan, menarik perhatian Raja Edmund Alistair Blackwood yang duduk di sampingnya.

Bahkan Raja Utama George dan Ratu Utama Lizzeebeeth—kakek dan nenek Arthur yang memasuki usia sepuh namun tetap dihormati sebagai pilar tertinggi kerajaan—tampak mengangguk puas.

"Pilihan yang tepat," ujar Ratu Utama Lizzeebeeth dengan suara serak namun berwibawa. "Seorang ibu susu yang tenang akan memberikan energi yang tenang pula pada sang bayi."

Namun, di tengah suasana hangat keluarga kerajaan, Dixie Savea Lopez justru duduk dengan gelisah. Matanya tak berhenti melirik ke arah suaminya, Arthur, yang duduk tepat di hadapannya. Savea memperhatikan setiap gerakan kecil Arthur—setiap kedipan mata, arah pandangan, hingga raut wajah suaminya—mencari sekecil apa pun tanda bahwa pria itu tertarik pada wanita.

Rencana Savea sebenarnya sangat terstruktur.

Tadi sore, ia sengaja memerintahkan pelayan untuk memberikan seragam pengasuh khusus kepada Snow—sebuah gaun berpotongan cukup pendek dan ketat di bagian dada.

Maksud Savea sangat jelas: ia ingin menguji apakah Arthur akan menunjukkan gairah atau lirikan berhasrat saat melihat lekuk tubuh Snow yang sempurna. Jika Arthur terangsang, Savea bersiap mengambil alih untuk menyelesaikan sisanya di atas ranjang mereka, demi membuktikan bahwa suaminya adalah pria normal.

Namun, alangkah murkanya Savea saat melihat Snow justru menolak gaun ketat itu dan memilih mengenakan gaun kain longgar yang menutup rapat seluruh lekukan tubuhnya hingga ke leher.

Pengasuh sialan, batin Savea bergejolak penuh dendam. Dia pikir aku membawanya ke istana ini hanya untuk menyusui Ocean? Aku membawanya kemari agar aku bisa membongkar rahasia besar milik Arthur!

Di tengah makan malam, Arthur meletakkan pisau dan garpunya dengan pelan di atas porselen. Wajahnya tetap datar, menyembunyikan badai emosi yang membakar isi dadanya sejak sore tadi.

"Ayah, Ibu, Kakek, Nenek," panggil Arthur dengan suara rendah dan berwibawa, memotong percakapan ringan di meja makan. "Saya minta izin untuk meninggalkan meja lebih awal. Malam ini saya harus segera bertolak ke markas Militer Kerajaan. Ada beberapa dokumen strategi pertahanan batas wilayah yang harus saya selesaikan sebelum fajar."

Raja George mengangguk perlahan. "Tugas negara adalah prioritas, Arthur. Pergilah."

Arthur bangkit berdiri, merapikan jas resminya, lalu memberikan penghormatan singkat pada para tetua istana. Sebelum melangkah keluar, ia sempat berpapasan di dekat pintu kaca dengan Snow yang baru saja melangkah masuk untuk menyerahkan Ocean yang tertidur kepada pengasuh senior.

Interaksi pertama mereka di hadapan keluarga kerajaan berlangsung sangat biasa, seolah mereka hanyalah dua orang asing yang tidak sengaja berada di ruangan yang sama.

"Tuan," ucap Snow sangat halus, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan seorang pelayan kepada majikannya.

Arthur menghentikan langkahnya sejenak. Sorot mata kelabunya menatap dingin ke arah puncak kepala Snow.

Di balik tatapan dingin itu, tersembunyi rasa benci dan kepahitan yang teramat sangat atas kenyataan bahwa wanita ini pernah meninggalkannya lima tahun lalu tanpa satu kata pun—dan kini bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Yang paling menyiksa dada Arthur adalah mata wanita itu. Tidak ada lagi binar cinta, gairah, atau kerinduan yang dulu selalu ia lihat di balik remang nyala lilin kamar Hampshire. Wanita di hadapannya kini memandangnya dengan tatapan yang benar-benar hampa.

Jemari Arthur mengepal erat di dalam saku celananya hingga urat-urat tangannya menegang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arthur melangkah pergi melewati Snow, meninggalkan wangi maskulin khasnya yang menyeruak tipis di udara.

Snow tetap menunduk hingga derap langkah kaki Arthur benar-benar menghilang di sepanjang lorong. Begitu bayangan tegap sang Duke muda melenyap, matanya perlahan berkaca-kaca.

Setetes air mata menumpuk di pelupuk matanya, menyimpan kerinduan dan kepedihan yang sangat dalam. Pria yang selama lima tahun ini selalu mengisi setiap helaan napas dan mimpinya kini berdiri begitu dekat, namun terasa jutaan mil jauhnya.

Namun, Snow dengan cepat mengedipkan matanya, menyapu bersih jejak kesedihan itu sebelum ada yang menyadarinya.

"Gadis muda," suara lembut Ratu Baxeena memecah keheningan, memanggil Snow untuk mendekat ke meja makan. "Siapa namamu?"

Snow melangkah mendekat dengan gestur yang sangat sopan. "Nama saya Snow, Yang Mulia Ratu."

Savea, yang tidak mau kalah dan selalu ingin terlihat menonjol dalam percakapan keluarga kerajaan, langsung memotong dengan nada sok tahu. "Ibu, dia ini sangat cerdas. Latar belakang pendidikannya cukup mengejutkan untuk ukuran rakyat biasa. Itulah kenapa aku memilihnya."

Ratu Baxeena hanya melirik Savea sekilas tanpa minat, lalu kembali menatap Snow dengan penuh selidik namun ramah. "Berapa usiamu, Snow? Dan dari mana kau berasal?"

Snow tersenyum tipis, sebuah senyuman duka yang dibungkus oleh kesederhanaan. "Saya berusia dua puluh enam tahun, Yang Mulia. Dan saya... hanyalah seorang gadis biasa yang kurang beruntung dalam hidup."

Kata-kata "gadis yang kurang beruntung" itu terucap begitu tenang dari bibir Snow, namun meninggalkan gema misterius di dalam ruang makan Istana Blackwood—sebuah rahasia terselubung yang belum satu pun dari mereka sanggup menebaknya.

...*******...

Langkah kaki Arthur menghantam lantai koridor markas besar militer dengan ritme yang cepat dan menuntut. Aura dingin yang melingkupi sosoknya membuat para prajurit dan perwira di sepanjang lorong refleks menarik diri, menegakkan badan, dan memberikan hormat tanpa berani menatap langsung matanya.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas di kompleks militer kerajaan, Arthur menghempaskan pintu kayu tebal itu hingga tertutup rapat. Dentuman keras pintu bergema di seluruh ruangan, memecah kesunyian malam.

Ia melepaskan jas resminya secara kasar, melemparkannya begitu saja ke atas sofa kulit, lalu mengacak rambutnya sendiri dengan penuh frustrasi. Napasnya memburu, dadanya naik turun mengikut rasi amarah yang kini membakar habis sisa-sisa ketenangan diri yang ia bangun susah payah di depan meja makan keluarga kerajaan tadi.

Selama lima tahun terakhir—lima tahun yang terasa bagaikan siksaan tanpa akhir—Arthur memilih untuk diam. Ia menahan dirinya untuk tidak menggerakkan seluruh intelijen istana demi melacak jejak wanita itu.

Dalam kebodohan dan romantismenya yang naif, Arthur percaya pada janji tak tertulis di antara mereka. Ia menunggu. Ia menanti hari di mana wanita itu akan melangkah kembali ke dalam hidupnya secara sukarela, membawa jawaban atas segala rahasia di antara mereka. Ia enggan mengusik privasi atau mengancam kebebasan wanita yang dicintainya dengan membawa kekuasaan istana ke dalam hubungan mereka.

Namun malam ini, tatanan itu runtuh total.

Arthur melangkah lebar menuju meja kerjanya yang luas, menekan tombol interkom dengan tekanan yang menuntut.

"Masuk ke ruanganku. Sekarang," desis Arthur dingin.

Kurang dari satu menit kemudian, pintu terdorong terbuka. Sekretaris sekaligus kepala pengawal pribadinya, seorang pria paruh baya bereputasi tinggi yang sangat setia, melangkah masuk dan membungkuk hormat.

"Ada perintah, Yang Mulia?"

Arthur berdiri menumpukan kedua tangannya di atas meja jati tua, menunduk dengan mata terpejam rapat. Jemarinya mencengkeram tepi kayu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kerahkan seluruh jaringan intelijen divisi satu," suara Arthur terdengar amat rendah, namun sarat akan ketegangan yang menakutkan. "Lacak seluruh jejak kehidupan wanita bernama Snow—ibu susu yang baru saja dibawa ke istana hari ini. Aku ingin tahu seluruh riwayat hidupnya selama lima tahun terakhir. Tanpa terkecuali."

Pengawal itu sempat tertegun sejenak. Sang Duke muda tidak pernah sekali pun menggunakan aset intelijen tingkat tinggi militer untuk urusan pribadi, apalagi hanya untuk melacak seorang pelayan biasa. Namun, melihat sorot mata Arthur yang menyala-nyala oleh keputusasaan dan dominasi yang pekat, pengawal itu tidak berani mempertanyakan sepatah kata pun.

"Baik, Yang Mulia. Informasi akan terkumpul sebelum fajar," jawabnya tegas sebelum membungkuk dan berbalik keluar.

Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan Arthur dalam kesendirian yang menyiksa.

Pria itu berbalik, menyandarkan pinggulnya pada tepi meja kerja seraya menatap langit-langit ruangan. Amarah yang mendidih di dadanya bukan sekadar rasa cemburu biasa, melainkan pengkhianatan atas semua kenangan manis yang selama ini ia agungkan di dalam benaknya.

Setiap kali ia memejamkan mata, memori lima tahun lalu kembali menghantamnya tanpa ampun. Ia teringat bagaimana di kamar berlantai kayu mahoni di Hampshire itu, ia pernah berlutut di antara kedua kaki wanita itu. Ia teringat bagaimana bibirnya mengusap dan menciumi perut halus Snow dengan penuh kelembutan di bawah pendar remang nyala lilin. Ia teringat bagaimana ia pernah bisikkan doa-doa penuh harapan di atas kulit hangat perut wanita itu—berharap suatu hari nanti, jika takdir mengizinkan, benih kehidupannya sendiri yang akan tumbuh di sana.

Namun kini, kenyataan pahit menghantam ilusinya bagai godam.

Perut yang pernah ia puja, perut yang selalu ia uri-uri dengan doa dan kehangatan, rupanya telah terisi oleh benih pria lain.

Pria brengsek tak dikenal yang bahkan tidak sanggup menafkahi wanita itu dan anaknya sendiri, hingga membuat Snow harus menjual air susunya dan bekerja menjadi pelayan di bawah telapak kaki keluarga kerajaan.

Pria macam apa yang membiarkan wanitanya bekerja menjadi ibu susu untuk anak orang lain?! desis Arthur dalam hati, memukul meja kerja jatinya hingga suara dentuman keras kembali memenuhi ruangan.

Rasa tidak terima itu kian menggila saat sebuah pemikiran logis yang menyakitkan tiba-tiba melintas di kepalanya.

Jika Snow berada di Istana Blackwood sepanjang hari untuk menyusui Ocean—putranya—lalu bagaimana dengan bayi kandung Snow sendiri?

Di mana anak dari wanita itu berada saat ini? Bagaimana bayi kecil yang baru lahir itu bisa bertahan tanpa kehadiran dan asupan dari ibunya sendiri?

Apakah bayi itu ditinggalkan sendirian di sebuah tempat kumuh di luar sana, menangis kelaparan sementara ibunya menyusui anak dari calon penguasa kerajaan ini?

Memikirkan hal itu membuat kepala Arthur rasanya hendak meledak. Rasa benci pada pria tak bertanggung jawab yang telah menyentuh Snow bertaut dengan rasa kasihan dan kekacauan emosi yang makin tak terkendali.

Arthur berjalan cepat menuju lemari kaca di sudut ruangan, menuangkan cairan whisky amber ke dalam gelas kristal dengan tangan gemetar. Ia meneguknya kasar dalam satu sentakan, membiarkan rasa terbakar yang pekat menguasai tenggorokannya.

"Siapa kau sebenarnya, Snow?" bisik Arthur pada bayangan dirinya di dalam kaca rampar, matanya memerah menahan badai emosi. "Dan permainan gila apa yang sedang kau bawa ke dalam istanaku?"

...----------------...

Hallo kak Readers 😍 Mohon untuk tinggalkan Komentar Agar author semakin Semangat Lanjut Bab berikutnya 🙏🏻

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!