Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sinar matahari pagi yang terik memaksa masuk melalui celah-celah papan kayu di dinding kamar Bayu.
Pemuda itu mengerang pelan sambil memegangi perutnya yang masih berdenyut nyeri.
"Sial, pukulan si Riko semalam benar-benar terasa sampai ke tulang," gerutu Bayu sambil merangkak bangun dari kasur tipisnya.
Kruyuuk.
Suara perutnya yang kosong ikut menambah penderitaannya pagi ini.
Bayu menatap sekeliling kamarnya yang berantakan dan penuh debu.
Ia lalu teringat kejadian gila tadi malam yang mengubah hidupnya.
"Apakah itu cuma mimpi karena aku gegar otak?" tanyanya pada ruang kosong.
Tiba-tiba, sebuah layar biru transparan muncul berkedip tepat di depan wajahnya.
[Sistem Batu Waktu aktif.]
[Energi Waktu: 10/10]
[Kondisi Fisik: Kelelahan ringan, memar di area perut.]
Bayu menghela napas panjang dan tersenyum miring melihat layar tersebut.
"Ternyata aku tidak gila, ini semua benar-benar nyata."
Ia berjalan menuju dapur kecilnya yang hanya berisi kompor berkarat dan panci penyok.
Tidak ada makanan sama sekali di sana, bahkan beras pun sudah habis sejak dua hari yang lalu.
"Aku harus bersiap-siap, lintah darat keparat itu pasti segera datang," gumam Bayu sambil mengepalkan tangannya.
Ia melihat sebatang kayu balok sisa penyangga atap yang tergeletak di sudut dapur.
Bayu mengambil kayu balok yang lumayan berat itu dan menimbangnya di tangan kanan.
"Ini cukup untuk mematahkan beberapa tulang rusuk," ucapnya dingin.
Dulu, ia pasti sudah bersembunyi di bawah tempat tidur sambil menangis ketakutan. Tapi sekarang, ia adalah Penguasa Waktu, meski gelarnya masih pemula.
Tok! Tok! Tok! Brak!
Suara gedoran kasar yang diikuti tendangan keras di pintu depan membuat debu dari atap berjatuhan.
"Woi Bayu! Keluar kamu anak sialan!" teriak suara serak yang sangat Bayu kenal.
"Jangan pura-pura tuli, kami tahu kamu ada di dalam!" Itu adalah suara Bagas, rentenir kejam yang semalam menyiksanya habis-habisan.
Bayu menyembunyikan balok kayu itu di balik pintu dan berjalan santai menuju ruang tamu.
Cklek.
Pintu terbuka dan menampilkan tiga pria berwajah garang yang berdiri di teras.
Ada Bagas yang perutnya buncit, Riko yang berbadan gempal, dan satu preman baru yang sangat jangkung.
"Akhirnya kamu berani menampakkan batang hidungmu juga," ejek Bagas sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. "Mana uang seratus juta untuk cicilan pertamanya, hah?"
Bayu bersandar di kusen pintu dan menatap ketiga preman itu dengan tatapan datar.
"Selamat pagi juga, Mas Bagas," sapa Bayu tanpa nada takut sedikit pun.
"Saya sudah bilang semalam, saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang." Mendengar jawaban santai itu, Riko langsung maju satu langkah sambil menggertakkan giginya.
"Kamu benar-benar bosan hidup ya, Bayu!" bentak Riko dengan urat leher menonjol. "Bos, biar saya hancurkan kaki anak ini biar dia tahu rasa."
Bagas membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya perlahan.
"Lakukan saja Riko, sepertinya dia memang butuh pelajaran tambahan pagi ini," perintah Bagas sambil tersenyum kejam.
Preman jangkung di belakang mereka hanya tertawa meremehkan sambil melipat tangan di dada.
"Patahkan saja dua-duanya, Bang Riko, biar dia ngesot seumur hidup," sahut preman jangkung itu.
Riko menyeringai lebar dan langsung mengayunkan tinju kanannya ke arah wajah Bayu.
Tinju itu meluncur sangat cepat, berniat menghancurkan hidung pemuda di depannya.
Bayu tidak berkedip sama sekali melihat kepalan tangan besar itu mendekat.
"Batu Waktu, hentikan waktu," batin Bayu dengan tenang.
Wusss!
Seketika itu juga, dunia di sekitar Bayu kehilangan suaranya.
[Jeda Waktu diaktifkan.]
[Energi Waktu: 9/10]
Kepalan tangan Riko membeku kaku di udara, tepat tiga sentimeter di depan ujung hidung Bayu.
Asap rokok yang tadi dihembuskan Bagas kini melayang diam tak bergerak di udara.
Bahkan seekor lalat yang sedang terbang di dekat telinga Bayu ikut terhenti seperti patung.
"Hahaha, pemandangan ini benar-benar tidak akan pernah membosankan," tawa Bayu memecah keheningan absolut itu.
Ia melangkah ke samping dengan santai, menghindari lintasan tinju Riko.
Bayu kemudian berjalan masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil balok kayu yang disembunyikannya tadi.
Tap. Tap. Tap.
Hanya suara langkah kaki Bayu yang terdengar di seluruh dunia saat ini.
Ia kembali ke teras sambil memegang balok kayu itu dengan kedua tangannya.
"Kalian sangat suka menyiksa orang yang tidak berdaya, kan?" ucap Bayu sambil menatap wajah beku Riko.
"Sekarang mari kita lihat seberapa tangguh tubuh kalian menerima pukulan."
Bayu mengangkat balok kayu itu tinggi-tinggi dan mengayunkannya sekuat tenaga ke arah perut Riko.