"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Aroma lavender yang menenangkan berhembus pelan menyambut kedatangan Pearl Glow Hurt saat ia melangkah masuk ke dalam kamar utama mansion Hurt. Suasana kamar begitu hening, hanya dibiarkan diterangi pendar lampu tidur bertemperatur hangat.
Glow melangkah pelan dengan gaun tidur sutra berwarna merah muda lembut yang melambai ikhlas menyentuh mata kakinya.
Pakaian taktis serba hitam, senjata rahasia, serta sisa-sisa bercak darah dari perkelahiannya di penthouse Manhattan tadi sudah sepenuhnya ia hilangkan di loker khusus markas rahasia kepolisian beberapa jam yang lalu. Sudut bibirnya yang sempat terluka kini tertutup rapi oleh sedikit polesan pelembab.
Langkah kaki Glow terhenti di sudut kamar dekat meja nakas. Jemari cantiknya terulur meraih sebuah teko kaca berisi air putih. Iris mata cokelatnya menyipit menatap permukaan air jernih tersebut.
Kenapa bisa dia tidak tertidur? batin Glow dengan kerutan tebal di dahinya.
Keahlian tersembunyi keluarga Hurt secara turun-temurun—yang diturunkan langsung dari mendiang ibunya–Alena melalui buku catatan rahasia berisikan racikan senyawa kimia berbahaya—adalah kemampuan meracik obat-obatan tingkat tinggi.
Racikan obat tidur buatan Glow bukanlah obat pasaran; satu tetes saja dari ekstrak tersebut sanggup menumbangkan seorang pria dewasa bertubuh kekar dalam hitungan belasan menit tanpa meninggalkan jejak racun di dalam darah.
Sebelum pergi menyusup tadi, Glow sudah mencampurkan racikan itu ke dalam teko air putih yang biasa diminum Lean setiap malam. Maksudnya sederhana: agar sang suami tertidur lelap dan tidak memergoki nya. Namun kenyataannya, ia justru melihat pria itu berkeliaran di luar dengan mobil sport edisi terbatas.
"Apa dosis racikannya kurang kuat?" lirih Glow berbisik pada dirinya sendiri. "Atau metabolisme tubuh pria itu memang aneh bagaikan monster kanibal?"
Glow menghela napas pendek, meletakkan kembali teko kaca tersebut dengan perlahan. Rasa penasaran soal identitas suaminya makin menumpuk di benaknya, tetapi keletihan fisik dan emosional memaksanya untuk menunda pencarian jawaban tersebut.
°°°°
Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda jauh di pusat kota Manhattan, atmosfer di dalam penthouse mewah milik Rebelda Molloy terasa membeku dan mencekam.
Bau darah yang anyir merayapi udara ruangan. Di tengah karpet bermotif mahal yang kini ternoda, Rebelda terikat erat pada sebuah kursi kayu berukir. Tangan dan kakinya terkunci rapat oleh tali nilon tebal. Sudut alisnya yang robek akibat pukulan Glow masih meneteskan darah pekat, membasahi pakaian dalam hitam yang melekat di tubuhnya.
Di hadapannya, Orion Leander Ashford berdiri tegap. Pria itu menyandarkan punggungnya pada meja rias yang hancur berantakan, mengenakan jas mahal Savile Row dengan kedua tangan terselip di saku celana.
Di sisi kiri dan kanannya, Eric dan Marco—dua tangan kanan paling berdarah dingin di jajaran petinggi Ashford—berdiri siaga bagaikan malaikat pencabut nyawa.
"Seandainya saja sahabatku tidak mencintaimu, aku pasti sudah lama menembak kepalamu, Sialan," cetus Lean dengan nada suara yang begitu rendah, datar, namun sarat akan kejahatan mutlak.
Lean menatap Rebelda seolah wanita di hadapannya tak lebih dari seonggok sampah yang mengganggu pemandangannya.
"Tapi kau harus berterima kasih padanya," lanjut Lean tanpa emosi, iris mata birunya berkilat membendung niat membunuh yang teramat pekat.
"Karena malam ini, lagi-lagi aku memaafkan nyawamu. Namun jika sekali lagi kau berani mengganggu ketenanganku atau menyentuh orang-orang di sekitarku, aku tidak berjanji sesuatu yang baik seperti malam ini akan kembali terulang dalam sejarah hidupmu."
Lean memberi isyarat tipis dengan dagunya ke arah jendela balkon yang terbuka lebar—tempat dari mana pelayan penthouse itu terlempar ke dasar basement beberapa waktu lalu.
"Dan soal pelayan tadi," tambah Lean dingin pada Eric. "Pastikan surat kabar dan koran pagi besok memuat berita bahwa seorang pelayan penthouse tewas akibat murni melakukan aksi bunuh diri."
"Diterima, Tuan Leander," sahut Eric patuh tanpa ragu.
Rebelda tersengal-sengal, menahan rasa sakit pada alis dan pinggangnya. Namun, rasa takut tidak sanggup memadamkan api obsesi gila di dalam dadanya. Wanita itu mendongak, menatap Lean dengan napas memburu.
"Aku akan mengatakan hal ini pada sahabatmu!" gertak Rebelda dengan suara serak, mencoba memainkan kartu truf terakhirnya untuk menekan emosi pemuda Ashford tersebut dengan membawa-bawa nama pria yang merupakan sahabat lama Lean.
Mendengar gertakan murahan itu, Marco yang berdiri di samping Lean hanya terkekeh sinis dengan raut penuh penghinaan.
"Kau tidak melihat pelayan tadi, Nona?" ancam Marco pelan, melangkah satu tapak mendekati Rebelda dengan pandangan intimidatif. "Tuan kami bisa membuang siapa saja dari lantai ini tanpa perlu mengedipkan mata."
Lean ikut terkekeh sinis—sebuah tawa dingin tanpa kehangatan yang menggetarkan bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rebelda yang mulai gemetar di atas kursi ikatan.
"Kau tahu aku memang tidak bisa terlalu jauh memberikan hukuman padamu karena sahabatku sendiri," ujar Lean rendah, mengikis jarak hingga wajah tampannya yang dingin terpapar jelas di bawah lampu ruangan. "Tapi jika kau mulai menyentuh ranah pribadiku dengan perasaan cintamu yang gila dan berusaha menyakiti orang disekitarku... aku bersumpah akan membunuhmu di depan sahabatku sendiri."
DEG.
DEG.
Dada Rebelda berdegup kencang bagaikan dihantam palu godam. Atmosfer membunuh yang dipancarkan oleh Lean terasa begitu nyata dan absolut. Ia tahu betul bahwa keluarga Ashford tidak pernah main-main dengan ancaman mereka. Pria di hadapannya ini sanggup mengeksekusi ucapannya tanpa peduli pada hubungan persahabatan apa pun.
Namun, obsesi yang sudah meracuni pikirannya membuat Rebelda tetap menolak untuk mundur begitu saja.
"Aku akan tetap mengatakan pada sahabatmu..." desis Rebelda seraya meringis menahan sakit di wajahnya. "Bahwa kau yang melakukan hal ini padaku! Kau menyuruh bodyguard-mu untuk menghajarku sebelum kau tiba di sini, kan?!"
Mendengar tuduhan acak tersebut, Lean, Marco, dan Eric seketika saling bertukar pandangan.
Sejak awal mereka melangkah masuk ke dalam penthouse ini, Lean dan kedua anak buahnya memang menyadari kondisi ganjil pada tubuh Rebelda. Wanita itu sudah dalam keadaan kacau, berdarah, dan babak belur akibat pukulan fisik yang sangat terlatih—padahal mereka belum sempat menyentuhnya sama sekali.
Di dalam benaknya, Lean menyimpulkan secara otomatis bahwa kondisi babak belur Rebelda adalah ulah dari orang-orang suruhan ayahnya, Giovanni Ashford.
Sang ayah pasti telah mengirimkan tim bayangan untuk memberikan "peringatan fisik" terlebih dahulu agar wanita ini tidak bertingkah makin melampaui batas. Lean tidak sedikit pun mencurigai bahwa sang pelaku utama pertumpahan darah itu adalah istrinya sendiri yang bergaun feminin.
"Terserah apa katamu," pangkas Lean dingin, tidak berminat melayani kehalusinasi wanita di depannya lebih jauh.
"Kita pergi," perintah Lean singkat pada Marco dan Eric.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Lean memutar tubuhnya dan melangkah cepat meninggalkan penthouse tersebut. Rasa cemas mendadak merayapi benaknya—bukan cemas atas ancaman Rebelda, melainkan cemas jika istrinya, Glow, yang pamit pergi menjenguk Angelina di rumah sakit sudah kembali ke mansion lebih cepat darinya.
Jika Glow mendapati dirinya tidak berada di tempat tidur dan membongkar penyamarannya sebagai "pria bengkel biasa", seluruh rencana penyamaran dan kehidupan rumah tangga mereka akan berantakan seketika.
Beberapa puluh menit kemudian.
Keheningan malam menyelimuti area mansion keluarga Hurt. Lean melangkah masuk ke dalam kamar utama melalui pintu teras privat dengan gerakan yang sangat terampil tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Pria itu menanggalkan jas mewahnya, menyembunyikannya di balik kompartemen rahasia, lalu segera menggantinya dengan kaus polos hitam dan celana pendek kasualnya.
Dengan mengusap lehernya yang terasa agak tegang, Lean perlahan merangkak naik ke atas ranjang king-size.
Namun, begitu tubuh tegapnya merebah di atas kasur, Lean menyadari bahwa Glow ternyata belum tertidur. Gadis itu sedang berbaring menyamping, membelakanginya dengan selimut tebal bernuansa merah muda terangkat hingga ke dada.
Lean menyipitkan matanya rapat-rapat, mengikis jarak di antara mereka hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan bahu Glow. Tangannya yang besar dan hangat terulur dengan sangat alami, merengkuh pinggang ramping Glow dari belakang dan menarik tubuh mungil itu rapat-rapat ke dalam dekapan dada bidangnya.
Glow tersentak pelan di dalam kegelapan, namun ia tidak menolak atau mendorong dada suaminya seperti biasanya.
"Dari mana saja kau, Lean?" bisik Glow rendah, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan makna tersembunyi yang menggantung di udara.
Lean terkekeh tipis di balik kegelapan, menyandarkan dagu tajamnya di atas kepala Glow seraya menghirup aroma wangi sampo buah yang melekat di rambut istrinya.
"Aku hanya dari bawah... mengambil angin malam karena tidak bisa tidur, Pearl," sahut Lean dengan nada polos yang dibuat-buat, membelai pelan jemari tangan Glow. "Kenapa? Kau merindukanku saat aku tidak ada di sampingmu?"
Glow memejamkan matanya rapat-rapat di dalam dekapan hangat itu. Kehangatan dada Lean, detak jantungnya yang konstan, serta aroma maskulin yang begitu familier ini mendadak terasa begitu bertolak belakang dengan siluet aura penguasa berbaju mahal yang ia lihat di bawah gerbang penthouse tadi malam.
Pria ini benar-benar pandai bersandiwara... batin Glow dengan debaran jantung yang makin tak menentu.
"Tidurlah, Pria Bengkel," bisik Glow akhirnya dengan senyuman amat tipis yang tersembunyi di balik kegelapan, memutuskan untuk menikmati pelukan hangat suaminya malam ini sembari menunggu saat yang tepat untuk membongkar seluruh rahasia di antara mereka.
...----------------...
Author minta maaf kalo banyak Typo 🙏🏻 Happy Reading 🫶🏻
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍