"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemauan Si Kecil? Atau mamanya?
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Ah iya, setelah kejadian berita Asyara dan Aksa menyebar hari itu, Asyara resmi tinggal dengan kedua orang tuanya lagi di kediaman mereka. Abimanyu sama sekali tak mengizinkan Asyara tinggal lagi di apartemennya.
Di sinilah Asyara berada, di dalam kamar lamanya. Kamar yang sudah lama tidak ia tempati selama hampir empat tahun sejak ia masuk ke dunia kampus.
Sebenarnya malam ini Asyara tidak ada tugas apa-apa lagi. Sejak tadi ia masih saja bergerak ke kanan dan kiri–mencari posisi yang nyaman sekaligus menunggu Ayudia yang katanya akan membawakannya susu hamil.
Suara decitan pintu mengalihkan perhatiannya, Di sana Ayudia masuk sambil membawa segelas susu rasa coklat sesuai permintaan Asyara. “Ini susu kamu Sya, ayo minum dulu.”
Asyara pun merubah posisinya menjadi duduk di tepi kasur. Lalu mengambil gelas susu itu dari tangan Ayudia dan meminumnya hingga tandas tanpa sisa. Saat ia menoleh ke samping, Ayudia tengah menatapnya sambil tersenyum tulus. “Mama…kenapa?”
Ayudia menggeleng pelan. Ia mengulurkan tangannya mengusap pipi Asyara. Melihat itu, Asyara memegang tangan sang mama yang berada di pipinya, “Mama kenapa? Kok matanya berkaca-kaca gitu? Mama masih kecewa sama Aku ya?” tanya Asyara beruntun.
“Maafin aku ya ma, maaf karena ngecewain mama sama papa. Aku yang ngga bisa jaga diri aku,” lirih Asyara.
Ayudia menggeleng, ia mengusap air mata di pelupuk matanya. Menahan diri agar tidak menangis di depan Asyara. “Bukan. Bukan karena itu. Kecewa pasti ada sayang, pasti. Tapi itu juga bukan sepenuhnya salah kamu.”
Ayudia menangkup wajah Asyara, “Yang mama pikirin sekarang adalah, mama masih nggak nyangka. Putri kecil mama, yang dulu selalu mama gendong, minta pakein baju princess…sekarang udah mau jadi seorang ibu.”
“Mama…” Asyara jadi mewek. Matanya ikut berkaca-kaca, ditambah hormon kehamilannya membuat emosinya mudah berubah-ubah dalam waktu cepat. “Aku masih putri kecil mama, tau! Biarpun aku udah mau jadi seorang ibu, aku tetep butuh mama nanti. Mama harus selalu temenin aku ya.”
“Pasti, sayang. Pasti.” Ayudia memeluk Asyara dari samping. mengusap sayang surai panjang sang putri tercinta yang sekarang sedang mengandung cucunya sendiri. “Mama nggak nyangka lho, udah mau jadi nenek. Berasa tua banget ya.”
“Mama..” rengek Asyara.
Tawa kecil lolos dari bibir Ayudia. Matanya melirik ke arah pintu, dimana Abimanyu berdiri dengan tangan yang terselip di dalam saku. Suaminya itu menatap mereka berdua sambil tersenyum tipis. Ayudia mengangguk pelan.
Tidak lama setelah itu, Ayudia merasakan deru nafas teratur dari sang putri. Ia menunduk, melihat wajah Asyara. Benar saja, mata putrinya itu sudah tertutup rapat dengan nafas teratur. “Sudah tidur, cepat sekali… dasar bumil,” gumamnya tertawa kecil.
Dengan hati-hati, Ayudia membenarkan posisi Asyara. Menaikkan selimut hingga batas dada dan mengecup pipi putrinya itu, “Selamat tidur, calon ibu,” bisiknya.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Di kediaman Erlangga, suasana hening menyelimuti kediaman itu setelah semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk melaksanakan ritual tidur mereka.
Di salah satu kamar, tepat di kamar Aksa. Pria dengan usia tiga puluhan akhir itu masih memejamkan matanya sampai ponsel miliknya berbunyi beberapa kali. Karena terus berbunyi, akhirnya Aksa pun membuka matanya. Tangannya meraih nakas untuk meraih ponsel.
pukul dua pagi.
Nama Abimanyu tertera di layar. Aksa segera mengangkatnya. Kantuk di matanya seketika hilang berganti dengan kesadaran penuh. “Halo?”
“Maaf mengganggu waktunya Aksa.”
“Sama sekali tidak , Ada yang bisa saya bantu? Atau terjadi sesuatu dengan Asyara?” tanya Aksa beruntun terselip nada khawatir di sana.
Kekehan kecil terdengar, “Bukan Aksa, sepertinya si kecil memang mau mengganggu ayahnya, atau mungkin rindu.”
“Maksudnya?”
“Asyara terbangun, lalu tiba-tiba dia mau makan mie instan, tapi harus kamu yang membuatnya.”
Aksa terdiam. “Bumil saya mengidam ya?” Senyum kecil terbit di wajahnya. Tidak ada raut keberatan di wajah tampannya. Justru yang terlihat adalah raut bahagia. Karena untuk pertama kalinya, si kecil di dalam perut Asyara mau merepotkannya.
“Aksa, apa kamu keberatan? Kalau–”
“Saya akan segera ke sana sekarang.” potong Aksa cepat, “Apa ada hal lain lagi?” tanya Aksa lagi dengan semangat.
“Tidak, dan ingat hati-hati di jalan Aksa. Anak dan cucu saya sedang menanti kamu.”
Setelah itu panggilan terputus.
Aksa menggenggam ponselnya. Ia tak bisa lagi menahan senyumnya mendengar kalimat terakhir dari Abimanyu. Bahkan kekehan kecil keluar dari bibirnya saking senangnya. Akhirnya si kecil itu mulai menunjukkan kehadirannya, seolah ia mau meyakinkan sang ayah jika dia benar-benar nyata.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Gimana pa? Pak Aksa pasti keberatan kan?” tuding Asyara begitu melihat Abimanyu masuk ke dalam kamarnya, “Kan aku udah bilang. Dia itu tuh susah, mana mau dia repot datang kemari cuma karena aku mau instan jam dua pagi begini.”
“Udahlah pa, aku coba tidur lagi aja. Dia pasti—”
“Dia sedang menuju ke sini Asya,” potong Abimanyu tersenyum tipis, “Dan papa rasa, Aksa itu…tidak seperti yang kamu ceritakan? Dingin dan kaku…? Dia bahkan terdengar bersemangat karena calon istri dan anaknya menunggunya sekarang.”
Asyara membelalak mendengarnya. Rasa hangat dan rona kemerahan mulai menjalar ke pipinya. Refleks ia memegang kedua pipinya sendiri dan menatap Abimanyu dengan memelas. “Beneran pa? Dia datang ke sini?!”
Abimanyu mengangguk.
“Tapi—”
“Tapi apalagi Asyara?” gemas Ayudia yang berdiri diambang pintu dengan wajah mengantuk, “Sudah kan? Sekarang mama mau mengambil papa kamu lagi, kamu tinggal menunggu Aksa datang, lalu kalian bisa menyelesaikan ngidam kamu itu.”
“Mama!”
“Sudah ayo pa, waktunya papa kembali ke mama. Biarkan saja Asya menunggu calon mantu kita di kamarnya.” Ayudia langsung menarik tangan Abimanyu sambil melempar senyum menggoda ke putrinya itu.
Asyara mendelik. “Ck…masa sih dia beneran ke sini?!” gumam Asyara.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Nyatanya disinilah Asyara berada sekarang. Pukul dua pagi lewat, Duduk manis di kursi bar sambil menopang dagu sambil melihat Aksa yang berkutat di dapur untuk memasak mie instan pesanannya.
Tanpa sadar Asyara bahkan tak berkedip sama sekali, melihat Aksa yang begitu lihat dalam bergerak. Matanya mengikuti setiap punggung tegap Aksa bergerak ke sana ke mari.
Sampai tiba-tiba,
“Terpesona, heem?”
Asyara tersentak. Ia mengerjap. Matanya mengedip beberapa kali dengan ekspresi wajah terkejut melihat Aksa yang sudah berada di hadapannya sambil tersenyum. “L-lho?! K-kok bapak udah di depan saya?!” panik Asyara.
Aksa tertawa kecil. Ia melirik mangkuk mie instan di depan Asyara sambil melepas apron dari tubuhnya. “Pesanan untuk ibu dan anak saya sudah selesai. Silahkan dimakan, nyonya.”
Semburat merah kembali muncul di pipi Asyara. Ia mendelik, lalu dengan cepat mengambil mangkuk mienya dan membawanya ke meja makan dan melahapnya. Ia bahkan tidak lagi fokus dengan Aksa yang berada di sana, sampai ia merasakan rambutnya terangkat oleh tangan seseorang.
Asyara melirik ke belakang. Di sana, Aksa berdiri sambil memegang rambutnya. “P-pak nggak perlu kaya gitu, saya bisa ikat sendiri,” cicit Asyara. Keberaniannya yang biasa meledak-ledak hilang ntah kemana.
“Berikan ikat rambutnya, biar saya ikatkan,” pinta Aksa dengan lembut.
“Pak saya–”
“Asyara…”
Mendengar nada rendah namun tetap lembut itu, Asyara akhirnya memberikan ikat rambutnya dan membiarkan Aksa mengikat rambut panjangnya. Setelah selesai, Asyara kira Aksa akan pergi atau setidaknya duduk, mungkin?
Namun pria itu kembali ke dapur dan mengambilkan minum untuknya. Aksa bahkan juga meletakkan tisu di sekitar Asyara membuat cewek itu jadi berhenti makan dan malah melihat kemana Aksa bergerak.
“Makan Asyara, bukan melihat saya,” tegur Aksa dengan nada lembut namun juga jahil karena sudah menciduk Asyara. Ia memilih duduk berhadapan dengan Asyara lalu menopang dagu dan menatap cewek itu intens.
Asyara mendelik. “Si-siapa yang melihat bapak?! Nggak ada tuh?! Orang saya lihat ke sana, bukan ke bapak!”
“Oh ya? Memangnya ada apa di sana? Saya rasa tidak ada apa-apa di sana,” balas Aksa tersenyum jahil, “Apa jangan-jangan kamu bisa melihat han–”
“Nggak! Bapak jangan nakut-nakutin saya deh! Mana ada hantu di sini!”
Aksa tertawa kecil, “Makanya habiskan makanannya, jangan bicara terus. Kamu bisa tersedak nanti,” kata Aksa lembut sambil terus menatap Asyara.
“Iya-iya.”
Selama hampir sepuluh menit, Asyara melanjutkan kegiatan makannya. Cewek itu kembali fokus melahap mie instan itu. Ia terlihat begitu menikmati setiap lilitan mie yang masuk ke dalam mulutnya. Hingga lama-kelamaan, mie tersebut habis tanpa sisa.
Belum sempat Asyara mengelap bibirnya dengan tisu, Aksa sudah lebih dulu melakukannya. Dengan telaten ia mengelap sisa-sisa noda di sekitar bibir. “Enak?”
Asyara jelas terdiam diperlakukan seperti itu. Lagi-lagi pipinya mendadak terasa hangat. “Saya bisa sendiri!” ketus Asyara merebut tisu dari tangan Aksa dan mengelap bibirnya lagi sambil berusaha setenang mungkin.
“Nggak usah sok romantis deh pak!” ketus Asyara, “Lagian ya, ini tuh kemauan anak bapak! Bukan saya! Saya itu terpaksa, kalau bukan karena permintaan anak bapak, saya nggak bakal nyuruh bapak kemari. Lagian saya nggak berharap bapak kemari,” lanjut Asyara sambil memalingkan wajahnya, namun matanya sesekali melirik ke arah Aksa dan sialnya tertangkap basah oleh Aksa.
Hal itu mengundang tawa renyah dari seorang Aksa yang jarang terlihat, “Si kecil? Atau memang…kemauan mamanya supaya berduaan sama papanya?”
“Pak Aksa! Stop godain saya ya!!”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...