Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Hujan deras mengguyur gang sempit ibu kota malam itu seolah langit ikut menangisi nasibnya.

Bugh!

"Dasar gembel tidak tahu diri!"

Sebuah tendangan keras mendarat tepat di perut Raka Mahesa.

Pemuda kurus itu terbatuk memuntahkan cairan pahit dan meringkuk memegangi perutnya di atas aspal yang dingin.

"Ampun, Bang! Aku cuma ambil kardus basah di situ!"

"Kardus basah kau bilang? Ini wilayah kekuasaanku, sampah!"

Brak!

Kepala Raka diinjak paksa hingga pipinya menempel pada genangan air lumpur yang bau pesing.

Tiga preman bertubuh besar menatapnya dengan raut wajah jijik.

"Dengar ya, Raka. Kalau besok kau berani memulung di daerah sini lagi, kupatahkan kedua kakimu."

"Iya, Bang, aku janji tidak akan ke sini lagi."

"Bagus. Ayo cabut, boys, bikin kotor sepatu saja ngurusin kecoa ini."

Langkah kaki ketiga preman itu perlahan menjauh diiringi derai hujan yang semakin lebat.

Raka memaksakan diri untuk duduk sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

Nafasnya tersengal parah dan perutnya berbunyi nyaring menuntut makanan.

Sudah dua hari ini ia hanya minum air keran masjid karena tidak ada satu pun barang rongsokan yang bisa ia jual.

Raka menatap langit malam yang kelam tanpa bintang.

"Tuhan, kalau memang aku ditakdirkan mati kelaparan di jalanan, matikan aku sekarang saja."

Tidak ada jawaban dari langit, hanya suara gemuruh petir yang menyahut.

Raka tertawa getir menertawakan nasibnya sendiri yang lebih rendah dari anjing liar.

Ia memaksakan diri berdiri dengan kaki bergetar, lalu berjalan tertatih menuju tong sampah besi berkarat di ujung gang.

Tangannya yang penuh luka dan kotoran mulai mengais isi tong sampah tersebut.

Bau busuk dari sisa makanan yang membusuk menusuk hidungnya, tapi ia sudah kebal.

Cling!

Tangan Raka menyentuh benda keras dan dingin di dasar tong sampah.

Ia menyingkirkan tumpukan plastik kotor dan menarik sebuah botol bir kaca kosong.

"Masih utuh, tidak ada yang retak."

Raka tersenyum tipis karena botol kaca bening ini lumayan laku jika dijual ke pengepul besok pagi.

Saat ia berniat memasukkan botol itu ke dalam karungnya, matanya menangkap benda lain.

Ada sebuah benda logam tertanam di bawah tumpukan sayur busuk.

Raka menarik benda berat itu dan mengusap permukaannya dengan ujung kaosnya yang compang-camping.

Itu adalah sebuah gagang pintu kuningan tua.

Kuningan itu sudah tertutup daki dan karat hijau, tapi bentuknya sangat aneh.

Gagang pintu itu berbentuk ukiran naga yang melingkar rumit dengan mulut terbuka lebar.

Mata naga pada ukiran itu seolah menatap langsung ke dalam jiwa Raka.

Tiba-tiba, rasa dingin yang menusuk tulang menjalar dari gagang pintu itu ke telapak tangannya.

Raka terkejut dan berniat melepaskan benda itu.

Namun karena tangannya licin oleh air hujan, botol kaca di tangan kirinya bergesekan dengan gagang pintu.

Sret!

"Akh! Sialan!"

Ujung botol kaca yang ternyata sedikit gompal menyayat telapak tangan kirinya dengan cukup dalam.

Darah segar langsung menetes deras, namun darah itu tidak jatuh ke tanah.

Darah Raka menetes tepat di atas ukiran kepala naga pada gagang pintu tersebut.

Sesuatu yang tidak masuk akal terjadi di depan matanya.

Darahnya terserap masuk ke dalam logam berkarat itu seperti air yang diserap spons kering.

Karat dan kotoran pada gagang pintu itu mendadak rontok seketika.

Cahaya keemasan yang sangat menyilaukan meledak dari benda tersebut.

Wush!

Angin kencang tiba-tiba berhembus menolak air hujan di sekitar Raka.

Gagang pintu itu melayang di udara tepat di depan wajah Raka yang mematung karena syok.

Sebuah suara berat yang terdengar sangat kuno dan penuh wibawa bergema di dalam kepalanya.

"Seribu tahun berlalu. Darah seorang manusia fana akhirnya menghancurkan segel terkutuk ini."

Raka jatuh terduduk di aspal, menatap siluet cahaya berbentuk naga raksasa yang meliuk di udara.

"S-siapa kau? Apa yang terjadi?"

"Aku adalah Dewa Naga Sakti dari Alam Langit yang terkurung dalam pusaka ini."

Naga cahaya itu menatap Raka dengan mata emasnya yang menyala terang.

"Sebagai ganti karena darahmu telah membebaskan sebagian segelku, aku memberimu otoritas mutlak."

Tiba-tiba sebuah layar biru transparan muncul tepat di depan mata Raka.

[Otoritas Dewa Naga diaktifkan]

[Inisialisasi pengikatan jiwa dengan tuan... Berhasil]

[Sistem Penjelajah Dunia Kuno kini terhubung dengan Raka Mahesa]

Raka memukul kepalanya sendiri karena mengira ia sudah gila atau berhalusinasi akibat kelaparan.

"Sistem? Penjelajah dunia? Tolong bangunkan aku kalau ini cuma mimpi."

"Ini bukan mimpi, Bocah Fana."

Suara naga itu kembali bergema membuat dada Raka terasa sesak oleh tekanan energinya.

"Ruang dan waktu kini tunduk pada pikiranmu. Ucapkan kehendakmu, dan gerbang akan terbuka."

Setelah mengucapkan kalimat itu, siluet naga tersebut melesat masuk kembali ke dalam gagang pintu.

Gagang pintu itu jatuh bergemerincing di aspal bersamaan dengan hilangnya cahaya emas tadi.

Gang sempit itu kembali gelap dan diguyur hujan deras seperti semula.

Raka terengah-engah menatap gagang pintu berukir naga dan botol kaca di sebelahnya.

Ia memberanikan diri mengambil gagang pintu itu dengan tangan yang gemetar.

Benda itu terasa hangat di genggamannya.

Layar biru transparan di depannya masih melayang diam menunggu perintah.

"Ucapkan kehendakku?"

Raka menelan ludah dan memikirkan kata-kata naga tadi.

"Buka gerbang dunia."

Sring!

Udara di depan Raka terdistorsi meliuk-liuk seperti pantulan aspal di siang hari yang panas.

Sebuah celah cahaya vertikal setinggi dua meter robek di hadapannya.

Dari dalam celah itu, Raka tidak melihat gang sempit, melainkan sebuah pemandangan hutan lebat.

"Gila. Ini benar-benar gila."

Tanpa pikir panjang, Raka menggenggam erat gagang pintu dan botol kacanya.

Ia melangkah masuk melewati celah cahaya itu untuk melarikan diri dari kejamnya jalanan kota.

Wush!

Udara malam yang dingin dan bau sampah langsung digantikan oleh udara sejuk yang sangat bersih.

Raka berdiri di tengah hutan dengan pepohonan besar yang menjulang setinggi puluhan meter.

Cahaya matahari siang menembus dedaunan, menyinari wajah Raka yang kebingungan.

"Tadi sedang malam hujan deras, sekarang siang bolong?"

Raka menoleh ke belakang dan melihat gerbang cahayanya perlahan menyusut lalu menghilang.

Kepanikan mulai menyerangnya karena ia tidak tahu bagaimana cara kembali nanti.

Kretek!

Suara ranting patah dari arah semak-semak membuat Raka langsung bersiaga penuh.

Dari balik semak belukar, muncul seorang pria paruh baya dengan pakaian dari karung goni kasar.

Rambut pria itu panjang berantakan dan wajahnya dipenuhi keringat.

Di belakang pria itu, seorang gadis remaja cantik bersembunyi ketakutan sambil memeluk keranjang bambu.

Gadis itu memakai pakaian usang yang sama kasarnya, tapi wajahnya sangat ayu alami.

Keduanya mematung menatap Raka dengan mata terbelalak lebar.

Pakaian Raka yang berupa kaos oblong robek dan celana jeans dekil jelas sangat asing bagi mereka.

Pria paruh baya itu gemetar dan langsung mencabut parang berkarat dari pinggangnya.

"Siapa kau? Jangan mendekat atau kutebas lehermu!"

Raka terkejut tapi ia bisa memahami ucapan pria itu dengan sangat jelas.

[Sistem menerjemahkan bahasa Dunia Kuno secara otomatis]

Layar biru kecil berkedip di sudut pandangannya menjelaskan fenomena tersebut.

Raka mengangkat kedua tangannya ke udara untuk menunjukkan ia tidak membawa senjata berbahaya.

"Tenang, Pak. Aku cuma orang yang tersesat di hutan ini."

Pria itu tidak menurunkan parangnya, matanya menatap tajam tangan kiri Raka.

Gadis di belakangnya juga mengintip ke arah tangan Raka dengan mulut sedikit terbuka.

"Ayah, lihat itu."

Gadis itu menunjuk dengan jari telunjuknya yang bergetar hebat.

"Benda di tangan dewa itu. Bening sekali seperti air mata bidadari langit."

Raka menunduk melihat tangan kirinya yang masih menggenggam erat botol bir kaca bekas.

Sinar matahari siang memantul indah pada permukaan botol kaca yang bening itu.

Di dunia kuno ini, kaca murni dan bening tanpa cacat adalah pusaka yang tidak ternilai harganya.

Bahkan piala kaisar pun tidak ada yang sebening botol bir di tangan Raka.

Mendengar ucapan putrinya, pria paruh baya itu langsung melempar parangnya ke tanah.

Bruk!

Pria itu berlutut dengan kedua lutut menghantam tanah yang keras.

"Ampuni hamba yang buta ini, Yang Mulia Dewa!"

Gadis remaja itu ikut berlutut di samping ayahnya sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

"Ampuni kami, Dewa Hutan."

Raka tercengang melihat dua orang di depannya bersujud menyembah botol rongsokan.

Otak jalanan Raka yang licik langsung berputar cepat mencari celah keuntungan.

Perutnya yang kelaparan butuh makanan segera, dan keranjang bambu gadis itu sepertinya berisi sesuatu.

"Bangunlah, aku bukan dewa."

Raka mengatur nada suaranya agar terdengar berat, tenang, dan penuh wibawa.

"Aku hanya seorang pengelana dari tempat yang sangat jauh."

Pria paruh baya itu mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu.

"Lalu, pusaka kristal suci di tangan Anda itu. Apakah Anda ingin menawarkannya pada leluhur gunung?"

"Pusaka ini?"

Raka mengangkat botol bir tersebut hingga memantulkan cahaya pelangi di mata kedua orang itu.

"Ini benda biasa di tempat asalku, tapi aku sedang lapar."

Raka melirik keranjang bambu di pelukan gadis tersebut.

"Apa yang kalian bawa di dalam keranjang itu?"

Pria itu langsung menepuk pundak putrinya menyuruhnya maju menyerahkan keranjang tersebut.

Gadis itu meletakkan keranjang bambunya di depan Raka dengan tangan gemetar.

"Hanya ini yang kami dapatkan hari ini, Tuan."

Raka mengintip ke dalam keranjang dan melihat beberapa akar-akaran berbentuk mirip manusia berlumur tanah.

Di sebelahnya ada lima gumpalan jamur hitam yang baunya sangat menyengat.

"Ginseng?"

Raka pernah melihat gambar ginseng di iklan televisi saat numpang berteduh di warung kopi.

"Maafkan kami, Tuan."

Pria itu menunduk malu karena merasa barangnya terlalu murahan.

"Itu hanya ginseng liar biasa berumur beberapa ratus tahun dan jamur tanah yang bau."

Ginseng liar berumur ratusan tahun dibilang biasa?

Raka berusaha menahan senyumnya agar tidak terlihat seperti orang gila.

Ginseng seperti ini di dunianya pasti harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah di pasar herbal.

Lalu jamur hitam bau ini, bentuknya aneh tapi Raka merasa ini bukan jamur beracun biasa.

"Aku akan menukar botol kristal ini dengan isi keranjang kalian."

Raka menaruh botol bir kaca itu di atas batu datar dan mengambil keranjang bambu tersebut.

"Kau setuju?"

Pria paruh baya itu terbelalak hingga bola matanya nyaris melompat keluar dari sarangnya.

"A-Anda bersungguh-sungguh, Tuan?"

Gadis itu bahkan sampai menutup mulutnya menahan isak tangis kebahagiaan.

"Ginseng rendahan ini ditukar dengan pusaka seharga satu kota itu?"

Sebelum pria itu sadar ini penipuan, Raka segera mundur menjauh membawa keranjang bambunya.

"Kesepakatan sudah terjadi. Jaga barang itu baik-baik."

Pria dan putrinya kembali bersujud mencium tanah mengucapkan terima kasih ribuan kali pada Raka.

Raka berbalik badan dan berlari kecil bersembunyi di balik sebuah pohon raksasa yang aman.

Jantungnya berdebar kencang saat ia mengeluarkan gagang pintu naga dari saku celananya.

"Buka gerbang dunia."

Sring!

Celah cahaya vertikal kembali robek di udara di hadapannya.

Raka melompat masuk tanpa ragu sambil memeluk erat keranjangnya.

Wush!

Bau pesing dan aroma sampah langsung menyergap penciumannya lagi.

Raka mendarat dengan keras di atas aspal basah gang sempit tempatnya dipukuli tadi.

Hujan gerimis masih turun, tapi langit mulai menunjukkan semburat cahaya fajar di ufuk timur.

Raka duduk bersandar di dinding batu bata yang berlumut dengan nafas memburu.

Ia menatap keranjang bambu di pangkuannya.

Akar ginseng bertanah dan gumpalan jamur hitam itu masih nyata ada di sana.

"Ini bukan halusinasi. Aku benar-benar pindah ke dunia lain dan pulang."

Raka tertawa pelan, tawanya semakin lama semakin keras menggema di gang sempit yang sepi itu.

"Hahaha! Mampus kalian semua!"

Air mata Raka menetes bercampur dengan air hujan di wajahnya yang kotor.

"Mulai hari ini, Raka si gembel sudah mati."

Ia membelai gagang pintu naga di tangannya seperti membelai benda paling berharga di dunia.

"Aku akan merajai dunia ini dengan rongsokan yang kubawa."

Fajar akhirnya menyingsing membawa sinar terang menyapu gang gelap tersebut.

Raka berdiri tegap memanggul keranjang bambunya dengan mata berkilat penuh ambisi.

Tujuan pertamanya pagi ini adalah mencari tempat untuk membersihkan diri sebelum ke pasar herbal Glodok.

Ia harus menjual ginseng ini dengan harga mahal agar perutnya bisa diisi makanan enak hari ini.

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!