Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: DI UJUNG TANDUK

Malam kian larut, menyisakan keheningan yang makin pekat di dalam rumah besar itu. Di kamar utama lantai dua, pendar lampu tidur berwarna kekuningan menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menerangi keremangan. Suara deru pendingin udara berembus halus, membalut atmosfer dingin yang perlahan terkikis oleh hangatnya dekapan di atas ranjang.

Aluna berbaring bersandar di dada tegap Devan. Jemari mungilnya mengusap perlahan garis lengan Devan yang melingkar posesif di pinggangnya. Di tempat ini, di balik pintu kamar yang terkunci rapat dan tanpa kehadiran kedua orang tua mereka, Aluna merasa dunia luar yang penuh penghakiman seolah berhenti berputar.

"Kak Devan..." bisik Aluna pelan, memecah keheningan malam.

"Hm?" Devan merespons rendah, jemarinya tak berhenti mengusap helai-helai rambut hitam Aluna yang terurai di atas dadanya.

"Sampai kapan kita harus bersembunyi kayak gini?" tanya Aluna, ada getar cemas yang tak sanggup ia sembunyikan dalam suaranya. "Tiap kali melihat Ayah sama Ibu tersenyum bangga ke Kakak, aku merasa bersalah banget. Tapi tiap kali Kakak ada di dekatku... aku juga nggak bisa nyuruh Kak Devan pergi."

Devan menghentikan usapan tangannya sejenak. Pria itu memiringkan tubuhnya, menatap wajah Aluna yang merona halus di bawah pendar lampu temaram. Matanya yang tajam memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan.

"Aku nggak peduli seberapa lama kita harus sembunyi, Na," ujar Devan tegas dengan suara serak yang tenang. "Yang penting kamu nggak berpaling dari aku. Biar semua risiko dan rasa bersalah itu jadi urusanku. Kamu cuma perlu percaya sama aku."

Aluna menatap iris cokelat gelap Devan yang begitu jujur. Perlahan, kepanikan di dadanya melumer, berganti dengan pasrah yang mendalam. Aluna memajukan wajahnya, mengecup singkat garis rahang Devan yang tegas sebelum menyembunyikan kembali wajahnya di leher pria itu. Devan mempererat dekapannya, menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh mereka berdua sepanjang malam.

Keesokan harinya, Minggu siang.

Suasana tenang akhir pekan mendadak pecah ketika suara deru mobil Ayah Danu terdengar memasuki garasi rumah lebih awal dari jadwal yang seharusnya.

Aluna yang sedang merapikan buku pelajaran di meja belajar kamar Devan langsung tersentak panik. Buku ekonomi di tangannya hampir saja terjatuh ke lantai. Matanya membelalak menatap Devan yang sedang berdiri di dekat lemari pakaian.

"Kak! Ayah sama Ibu udah pulang!" bisik Aluna dengan suara tertahan dan napas memburu.

Devan bergerak cepat namun tetap tenang. Tangannya meraih pergelangan tangan Aluna, menarik gadis itu keluar dari kamarnya dengan langkah tanpa suara. "Kembali ke kamarmu sekarang. Rapikan bajumu dan berakting seperti kamu baru bangun tidur."

Aluna mengangguk cepat, setengah berlari menyusuri lorong menuju kamarnya sendiri. Namun tepat saat jemari Aluna memegang gagang pintu kamarnya, suara langkah kaki Ayah Danu yang menaiki anak tangga terdengar amat dekat.

Cklek.

Pintu kamar Devan sedikit terbuka, dan dari balik celah pintu kamarnya sendiri, Aluna sempat bersitatap dengan Devan yang berdiri tegap menanti kehadiran ayahnya di lorong.

"Devan? Kamu di atas?" suara Ayah Danu bergema di lantai dua. "Tolong turun sebentar, Ayah mau minta bantu bawa dokumen dari mobil."

"Iya, Yah. Devan turun sekarang," jawab Devan lancar tanpa ada sedikit pun riak cemas dalam intonasinya.

Aluna menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Dadanya berdegup kencang tak beraturan. Rahasia besar mereka di bawah satu atap ini memang masih aman untuk hari ini, namun Aluna tahu pasti—mereka berdua kini sedang berjalan di atas tali tipis di ujung tanduk yang bisa terputus kapan saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!