Indonesia
NovelToon NovelToon
Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Vah Peres

Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Dia Akan Berakhir

Aku terbangun sebelum matahari terbit, seperti biasa. Kamar masih remang. Ketika menoleh ke samping, kulihat Alya dan Kirana tidur pulas, tenang setelah malam yang begitu penuh emosi. Aku berpakaian pelan-pelan tanpa membuat suara. Saat bersiap keluar, Alya membuka mata, masih mengantuk.

"Kamu berangkat pagi ke perusahaan?" tanyanya dengan suara rendah.

"Ya, hanya menyelesaikan beberapa urusan, lalu aku kembali," jawabku, mendekat untuk mencium keningnya. "Tidurlah sebentar lagi."

Ia membenahi posisi di bantal, lalu teringat sesuatu.

"Kalau ada waktu, aku ingin pergi ke kos harian tempat kami tinggal dulu. Masih ada beberapa pakaian, barang, dan dokumen yang tidak sempat kami bawa karena terburu-buru. Aku ingin mengambilnya."

Aku tersenyum dan menggeleng tenang.

"Kamu tidak perlu mencemaskan itu. Laras sudah membereskan semuanya kemarin, tepat setelah kita pulang dari pesta. Dia dan Rian pergi ke sana, mengambil semua yang masih ada, lalu membawanya ke sini. Semuanya sudah rapi di lemari kamar tamu, menunggu kamu atur sesukamu."

Matanya membesar karena terkejut, lalu segera dipenuhi rasa terima kasih.

"Mereka tidak perlu repot-repot begitu..."

"Itu hal paling kecil," potongku. "Sekarang semua milik kalian ada di sini, aman. Kamu tidak perlu kembali lagi ke tempat itu."

Aku meninggalkannya untuk beristirahat dan keluar dari rumah, langsung menuju kantor pusat perusahaan. Begitu aku masuk ke ruanganku, Malik muncul tidak lama kemudian dengan wajah lebih muram dan serius daripada biasanya. Ia menutup pintu di belakangnya, mendekat ke meja, membawa aura yang sudah memberitahuku bahwa kabarnya tidak baik.

"Ada apa?" tanyaku, sudah merasakan tekanan di dada.

"Aku punya informasi yang tidak akan kamu suka," ia memulai, meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja. "Sejak keluar dari pesta tadi malam, Viktor Hadi Pranata tidak berhenti bicara ke mana-mana. Dia berkeliling bar, menyebarkan kebohongan kotor."

Malik berhenti sebentar, lalu suaranya mengeras saat mengulangi apa yang ia dengar.

"Dia bilang kamu 'meniduri perempuannya', menerima anak itu seolah sedang berbuat baik, dan sebenarnya anak itu adalah aib yang ia tinggalkan. Dia mengatakan Kirana adalah putrinya, bahwa dia ditipu, dan sekarang dia akan menuntut apa yang menjadi haknya."

Amarahku naik seperti api yang tidak bisa dikendalikan. Tanganku mengepal di atas meja, mendengar setiap kata sebagai penghinaan langsung bukan hanya kepadaku, tetapi terutama kepada Alya dan gadis kecil itu. Namun yang terburuk belum datang.

"Dan itu tidak berhenti pada omongan," lanjut Malik sambil menunjuk berkas-berkas itu. "Pagi ini, dia mengajukan permohonan resmi ke pengadilan untuk pengakuan ayah biologis, lalu dilanjutkan dengan permohonan hak asuh anak. Dia ingin memakai hukum untuk mencoba mengambil Kirana dari sini, dengan alasan dia ayah sahnya dan kita tidak punya hak atas anak itu."

Pada saat itu, tidak ada lagi keraguan atau ruang untuk negosiasi. Pria itu tidak punya karakter, tidak punya malu, dan lebih buruk lagi, ingin mengusik hal yang paling kulindungi. Aku berdiri pelan, wajahku dingin, tanpa menunjukkan murka secara terbuka, tetapi keputusan di dalam diriku sudah final.

"Aku sudah memberinya kesempatan untuk pergi dan menghilang," kataku dengan suara rendah, berat, tanpa emosi. "Tapi dia tidak mau. Dia memilih menyebarkan sampah, menodai nama calon istriku, dan mencoba merebut putriku."

Aku menatap langsung kepada Malik, dan perintah itu keluar jelas tanpa jalan kembali.

"Lupakan proses meminta pertanggungjawaban. Lupakan segala upaya perjanjian atau proses persidangan. Mulai sekarang, dia pria yang sudah ditandai. Aku ingin dia diburu, ditemukan, dan dibawa kembali untuk dihabisi. Aku tidak mau lagi mendengar namanya, atau melihat bayangannya di mana pun. Dia memilih jalannya sendiri, dan sekarang dia akan membayar harganya."

Malik langsung mengangguk tanpa mempertanyakan. Ia tahu betul, ketika keputusan sudah sampai pada titik itu, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

"Akan selesai sebelum hari ini berakhir," jawabnya sambil menyimpan berkas-berkas. "Tidak ada yang akan tahu bagaimana atau di mana. Mereka hanya akan tahu dia menghilang."

Aku berdiri menatap ke luar jendela, memikirkan Alya dan Kirana. Risiko apa pun, sekecil apa pun, terlalu besar bagi mereka. Dan Viktor Pranata baru saja menandatangani vonisnya sendiri saat menempatkan diri di jalan keluarga yang sudah kusumpah untuk kulindungi.

Begitu Malik keluar untuk melaksanakan perintah, aku mengambil telepon di atas meja dan menghubungi nomor yang kumiliki: kontak Candra Pranata, ayah Viktor dan kepala keluarga itu. Ini formalitas yang diperlukan, meski aku sudah menduga jawabannya.

Telepon dijawab setelah beberapa dering, dengan suara berat dan berhati-hati.

"Halo? Siapa ini?"

"Arkan Wiratama. Aku perlu bicara denganmu tentang putramu, Viktor."

Ada jeda singkat di ujung sana. Aku bisa mendengar perubahan nadanya, seolah ia sudah lebih dulu mengantisipasi masalah.

"Don Wiratama... Apa yang dia lakukan? Kami tidak mendapat kabar darinya selama berhari-hari. Kami tidak tahu dia berada di mana atau sedang berulah apa. Dia selalu bertindak sendiri tanpa berkonsultasi dengan kami. Sejak hari kami menyerahkan bagian warisannya selagi kami masih hidup, dia memang begitu."

Aku mendengarkan tanpa memotong, tetap tenang dan tidak membuka detail yang tidak diperlukan. Aku tidak menyebut Kirana atau permohonan di pengadilan. Untuk saat ini, cukup menunjukkan apa yang telah ia lakukan kepadaku dan kepada orang yang kulindungi.

"Dia datang ke pesta pertunanganku, menyerang tunanganku secara verbal dan fisik, menyebarkan kebohongan serta fitnah tentang keluargaku dan tentang Alya ke seluruh kota," kataku, setiap kata jelas dan langsung. "Dan sekarang dia mencoba menciptakan kekacauan serta masalah di tempat yang tidak seharusnya."

Tidak ada keterkejutan atau permintaan maaf. Jawaban itu datang kering, cepat, tanpa sedikit pun usaha membelanya.

"Kalau dia melakukan itu, itu masalahnya, bukan masalah kami. Aku dan istriku tidak tahu apa pun tentang hal ini. Dia sudah dewasa, membuat pilihannya sendiri dan membayar akibatnya sendiri. Kami lepas tangan. Kami tidak ingin ikut kotor oleh konsekuensi kesalahannya."

Aku diam sesaat, memastikan apa yang sudah kuduga. Di dunia itu, kebanyakan ayah bertindak seperti ini: selama anak membawa keuntungan, prestise, dan tidak membawa masalah, ia bagian dari keluarga. Begitu ia menaruh semuanya dalam bahaya, ia ditinggalkan, seolah tidak pernah ada. Tidak ada kesetiaan pada darah ketika risikonya terlalu besar.

"Aku mengerti," jawabku dengan suara dingin. "Aku hanya ingin memastikan ini jelas: apa pun yang terjadi padanya adalah akibat tindakannya sendiri. Tidak ada yang perlu dinegosiasikan atau diminta. Dia memilih jalannya."

"Baiklah," jawab ayahnya tanpa ragu. "Kami tidak akan ikut campur. Dia tahu apa yang dia lakukan, atau setidaknya merasa begitu."

Aku memutus sambungan pelan dan meletakkan telepon di atas meja dengan bunyi kecil. Aku tidak merasa kasihan ataupun terkejut. Sikap pria itu hanya semakin menegaskan keputusan yang sudah kubuat: Viktor tidak punya siapa pun untuk membelanya, bahkan keluarganya sendiri. Ia sendirian melawanku, dan itu membuat semuanya lebih sederhana.

Malik kembali tak lama kemudian, melihat wajahku, lalu bertanya.

"Bagaimana dengan keluarga Pranata?"

"Mereka lepas tangan," jawabku tanpa mengalihkan mata dari jendela. "Mereka bilang tidak tahu apa-apa dan tidak mau tahu. Mereka tidak akan pasang badan untuknya. Jadi, tidak ada lagi rintangan. Lakukan apa yang harus dilakukan dan selesaikan ini sekali untuk selamanya."

Ia mengangguk, sudah berbalik untuk mengatur semuanya. Dan aku tahu: sebelum hari itu berakhir, Viktor Hadi Pranata tidak akan lagi menjadi masalah. Tidak ada yang akan bertanya, tidak ada yang akan mencari, dan keluarganya sendiri akan berpura-pura ia tidak pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!