"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dahlia kembali
"Akkkh.. Dasar sial! Aku sudah mempersiapkan Kenanga untuk aku berikan ilmu yang tinggi, tapi setahun lagi rencanaku berhasil, Kenanga malah kamu berikan pada musuh Kita! Mereka pasti senang karena sekarang wadahku sudah tidak bisa lagi aku miliki!" kesal Dahlia
"Maafkan saya nyai, saya tidak punya pilihan lain" jawabnya
Dahlia kembali ke wujud aslinya, tubuh ularnya langsung merayap keluar dari kamar itu, dan dia akan kembali ke bukit Mahoni tempat dia tinggal sambil mencari kembali wadah baru yang cocok untuknya, karena dia tidak mungkin untuk melawan Liam dan Lintang saat ini, mereka belum sebanding.
"Dasar jin sialan! Benar kata NYI Kalia, dia hanya ingin tubuh anakku Kenanga, aku bersyukur karena sekarang Kenanga sudah aman, dia akan aman meskipun aku masih harus jadi sekutu ular licik itu" batin Karman mengepalkan tangannya
Di luar, Dahlia melihat Panca dan Prama yang baru saja kembali dari sekolah, Panca adalah satu satunya tertua yang tidak tunduk padanya, bahkan meski Dahlia menyamar sebagai seorang perempuan cantik sekalipun, Panca sama sekali tidak tergoda.
"Ssttt.."
"Kak, ada ular" ucap Prama menahan tangan Panca yang akan menginjak semak di depannya.
"Hati hati, mungkin itu bukan ular biasa" bisik Panca
Terlihat pergerakan di semak semak terus mengarah pada mereka, bahkan semakin cepat semakin mendekat juga, membuat Prama langsung berdiri di depan Panca tapi Panca mendorongnya agar menjauh.
Srak.
"Aakhhh"
"Kak Panca!" Panik Lintang saat melihat darah di tubuh Panca. Tapi saat mereka sudah mendekat, ternyata itu adalah darah ular yang hampir menyerang mereka. Ular sanca yang cukup besar sebesar paha orang dewasa, dan berhasil di potong Panca dengan pedang yang selalu dia bawa.
"Tidak biasanya ular besar ini ke sini" ucap Dirman yang masih menggendong Fatih
"Itu bukan ular sembarangan, itu salah satu tentara Dahlia" ucap Hamka
"Hahaha ternyata kamu adalah musuh ku tampan, aku mencari mu kemana mana ternyata kamu ada di depanku sekarang" ucap suara yang terdengar melengking di telinga orang orang itu.
"Iii... An" Kenanga sampai bersembunyi di punggung Liam karena takut.
"Tidak apa apa, dia tidak akan berani menyakiti kita, dia hanya setan lemah" bisik Liam
"Kenapa kamu membuat masalah di siang hari begini Dahlia!" Bentak Panca
"Aku hanya ingin melihat seberapa kuat pedang naga milikmu itu, ternyata masih sakti" jawab Dahlia tanpa menampakkan dirinya
"Apa kamu pikir aku akan lengah? Tidak akan pernah Dahlia, apalagi kamu selalu mengincar ku di manapun" jawab Panca
"Baguslah, karena sekarang aku sudah pulih dan masa masa teror itu akan kembali ke kampung mahoni Panca, bersiaplah untuk menenangkan warga yang ketakutan" ucap Dahlia
"Dia di balik pohon besar itu, bidik bagian tengah pohon dengan energi Lo" bisik Hamka pada Lintang
Lintang melihat arah pohon yang ditunjuk Hamka, dia lalu mulai membuat anak panah dengan energi miliknya dan melesakkan energi itu pada batang pohon yang di tunjuk Hamka.
Srak. Bruk.
"Aakhh, siapa yang sudah memukul punggungku!" Bentak Dahlia
"Kak Panca!" Jawab Liam, Lintang dan Hamka
"Kalian, kenapa menuduhku" kaget Panca
"Kami mana punya ilmu seperti itu kak" jawab Hamka so polos karena di sana ada Dirman
"Mereka berakting kak" bisik Prama
"Dasar licik, untung saja aku tidak baperan seperti Karman" gerutu Panca
"Akhirnya kamu keluar juga Dahlia! Kamu itu tidak ada apa apanya sekarang, kamu hanya seekor jin ular yang sudah tua" ejek Panca berhasil membuat Dahlia menyerang Panca dengan jarum beracun miliknya.
"Menghindar! Itu beracun" ucap Prama
Trang.
Jarum jarum itu terpental kembali ke arah Dahlia karena hanya menghantam tameng milik Liam yang di bentangkan secara gaib di depan mereka agar jarum jarum itu tidak kena pada mereka.
"Sial, kekuatanku tidak akan penuh saat siang seperti ini, di tambah mereka semua punya ilmu yang cukup tinggi, aku sebaiknya pergi" gumam Dahlia segera menghilang dari sana.
"Alhamdulillah, akhirnya dia pergi" ungkap Panca
"Padahal kami pikir Kak Panca mau lamar dia" ledek Lintang
"Bisa jompo di usia dini kalau sampai kakak menikah dengan jin itu " balas Panca
#######
Di rumah Karna.
"Apa kamu yakin Panca tidak bersekutu dengan mereka untuk menjatuhkan bapak?" tanya Karman saat dia datang ke rumah baru Karna yang baru dia tempati hari itu.
"Yakin pak, Liam juga ajak Karna ke dalam, proses pernikahan menurut agama dia ternyata cukup rumit, jadi dia butuh saksi juga katanya dan Panca adalah salah satu orang yang pernah sekolah di kota, jadi dia tahu dan bisa jadi saksi" jawab Karna
"Syukurlah kalau itu hanya pernikahan biasa saja, apa warga curiga?" tanya Karman
"Tidak sama sekali pak, Liam jutsru bilang kalau Kenanga itu anak yang di titipkan orang tuanya yang berada dari kampung cadas" jawab Karna
"Dia benar benar melindungi Kenanga, semoga NYI Dahlia tidak mengambil dia dari suaminya, NYI Dahlia ternyata ingin agar Kenanga jadi wadahnya, untuk dia bisa menyempurnakan ilmunya" bisik Karman berhati hati
"Dasar setan laknat! Dia tidak puas dengan tumbal yang kita berikan dan masih meminta keluarga kita" kesal Karna
"Itu sebabnya bapak harus lebih hati hati dalam bergerak sekarang, NYI Dahlia jangan sampai tahu kalau kita sudah bertemu leluhur kampung ini NYI Kalia, kalau dia tahu, kita akan dalam masalah" bisik Karman lagi dan Karna mengangguk.
"Kang, sepertinya Kinanti butuh susu lagi, kemarin ada seorang bidan dari kampung sukun yang sudah lebih maju, dia memberikan susu ini dan juga cara untuk menyeduhnya, botolnya juga ada, apa boleh Aini berikan?" tanya Aini memperlihatkan susu formula dan juga botol susu yang sudah di berikan seorang bidan yang di tugaskan di kampung kampung yang masih tertinggal.
"Bacalah Karna, apa berbahaya untuk Kinanti atau tidak" ucap Karman
Karna melihat kotak susu berukuran besar itu dan dia membacanya dengan teliti, Midah memang tidak di ijinkan untuk memberikan susunya karena air susunya tidak lancar, di tambah menurut Buto ijo yang ada di tubuh Karna, air susu Midah akan membuat Kinanti tidak bisa dekat dengan Aini.
"Ini aman, nanti akang akan tanyakan pada Liam, mungkin dia tau susu ini di jual di mana, supaya kalau habis nanti akang bisa cari" jawab Karna
"Coba kamu seduh di sini, supaya bapak dan Karna bisa lihat caranya, mungkin saja nanti Kinanti menangis saat kamu sedang pergi" ucap Karman penasaran karena biasanya anak bayi di sana kalau tidak di berikan asi, akan di berikan air gula merah atau air tajin.
Aini mulai dengan mengambil termos, dia sudah merebus botol susu itu sebelumnya tadi pagi dan sudah bersih, lalu dia mulai mempraktekkan cara membuat susu yang di contohkan bidan pada dua lelaki di hadapannya.
"Coba berikan kang, airnya hangat ko" ucap Aini