Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Penthouse Mewah dan Garis Batas Guling Berbayar

Ting!

Pintu lift kristal itu terbuka, menampilkan ruangan yang membuat napas Aura langsung tercekat.

"Gila... Bos, ini lift atau brankas berjalan? Kok lantainya dari kaca marmer lapis emas gini?" gumam Aura sambil melangkah keluar dengan ragu. Sepatu hak tingginya berbunyi klik pelan di atas lantai yang memantulkan bayangan.

"Itu marmer obsidian dari Pegunungan Utara. Dan ya, lapisannya memang debu emas murni," jawab Caden santai, melangkah keluar menyusul Aura. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke salah satu sofa beludru raksasa di tengah ruangan.

Ini adalah penthouse pribadi Pangeran Caden yang berada di lantai 99 Menara Keuangan Istana. Dindingnya sepenuhnya terbuat dari kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan seluruh ibukota kekaisaran di malam hari, dipenuhi kelap-kelip lampu magis dan gedung pencakar langit.

Aura berkacak pinggang, matanya memindai setiap sudut ruangan seperti radar penilai aset.

"Lampu kristalnya pakai energi batu mana tingkat tinggi. Sofanya kulit asli. Karpetnya... astaga, ini bulu beruang salju langka? Bos, valuasi penthouse ini aja udah cukup buat beli tiga negara bagian kecil!" seru Aura histeris. "Pajak bumi dan bangunannya per tahun berapa ini?!"

Caden berjalan ke arah minibar, menuangkan wine ke dalam dua gelas. "Aku tidak membayar pajak bangunan, Elara."

"Hah? Kok bisa?! Bos ngemplang pajak?!"

"Aku yang membuat aturan pajaknya. Aku Menteri Keuangannya. Kenapa aku harus menagih pajak pada diriku sendiri?" Caden menyeringai, menyodorkan segelas wine pada Aura.

Aura menerima gelas itu sambil mendecak kagum. "Korupsi yang dilegalkan oleh sistem. Luar biasa. Gue bener-bener kagum sama tingkat privilege Bos. Terus, kamar gue di mana nih? Gue mau langsung rebahan. Otak gue habis dipakai mikirin dividen gandum seharian."

Caden menyesap wine-nya perlahan, matanya menatap Aura dari atas gelas kristal. "Kamar kita ada di lantai atas."

"Kamar kita?" Aura menghentikan minumnya. Ia menatap Caden dengan mata menyipit. "Tunggu. Kata ganti 'kita' itu merujuk ke kamar yang terpisah di satu lantai, atau satu ruangan dengan dua ranjang, atau...?"

"Satu ruangan. Satu ranjang. Kasur ukuran Emperor Size," potong Caden mutlak.

"Wah, wah, wah! Hold on, Tuan Muda Caden!" Aura langsung meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan bunyi klak keras. "Gue ini asisten keuangan, bukan istri kontrak! Fasilitas rumah dinas VIP sih oke, tapi sharing kasur sama atasan? Itu ada hitungan lembur tersendiri!"

Caden terkekeh, berjalan mendekati gadis itu hingga Aura terpaksa mundur dan punggungnya menabrak pilar marmer. Caden mengurungnya dengan satu lengan bersandar di pilar.

"Kau menagih lembur untuk tidur di kasur berbulu angsa seharga lima puluh ribu emas, Elara?" bisik Caden, wajahnya sangat dekat hingga Aura bisa mencium aroma wine dan mint yang memabukkan. "Di asrama, kau tidur dengan lima pelayan lain di ranjang reyot."

"Itu beda konteks, Bos!" Aura mendorong dada bidang Caden dengan satu jari telunjuk. "Tidur di asrama itu penderitaan gratis. Tidur sama Antagonis paling mematikan se-kekaisaran? Itu risiko nyawa! Kalau Bos pas tidur ngigau terus nyekek gue gimana?! Atau kalau tangan Bos... khilaf merayap ke wilayah teritorial gue?!"

Caden tertawa pelan, suara tawa yang dalam dan menggetarkan. Ia meraih telunjuk Aura yang ada di dadanya, mengecup ujungnya dengan lembut.

"Bagaimana jika aku tidak khilaf? Bagaimana jika tanganku merayap dalam keadaan sadar sepenuhnya?" goda Caden, matanya berkilat penuh hasrat.

Aura menelan ludah, wajahnya memanas. Sialan, pesona pria ini benar-benar tidak bagus untuk kesehatan jantungnya.

"Kalau gitu... kita buat Garis Batas Guling Berbayar!" seru Aura lantang, menemukan ide kapitalis untuk menutupi kegugupannya.

Caden menaikkan sebelah alisnya. "Garis Batas Guling Berbayar?"

"Iya! Di tengah kasur Emperor Size itu, kita taruh guling raksasa. Itu adalah batas demarkasi teritorial!" Aura mulai berorasi dengan tangan bergerak-gerak aktif. "Pembagian wilayah lima puluh banding lima puluh. Kalau tangan, kaki, atau bagian tubuh Bos yang mana pun melewati garis guling itu... denda seribu koin emas per sentimeter! Berlaku kelipatan!"

Caden terdiam. Ia memproses kalimat itu, lalu tawa lepas meledak dari mulutnya. Tawanya begitu keras dan tulus hingga bergema di penthouse mewah itu. Ia bahkan sampai menyandarkan dahinya di bahu Aura, bahunya bergetar karena tertawa.

"Seribu emas per sentimeter?" ulang Caden di sela tawanya.

"Iya! Kalau Bos meluk gue, hitung aja lingkar pinggang gue dikali seribu emas! Semalam pelukan bisa habis puluhan ribu emas! Berani nggak Bos?!" tantang Aura, berkacak pinggang dengan wajah menantang, meski telinganya sudah merah padam.

Caden mengangkat kepalanya, menatap Aura dengan senyum paling mempesona yang pernah ia tunjukkan. Ia mengusap pipi Aura dengan punggung tangannya.

"Elara," bisik Caden dengan suara serak yang mematikan. "Bahkan jika aku harus membayar sepuluh juta emas setiap malam hanya untuk menyentuhmu, aku akan membayarnya lunas di muka. Kartu Platinummu ada padamu, kan? Potong saldonya langsung malam ini, karena aku tidak berniat mematuhi batas guling bodoh itu."

Jantung Aura rasanya mau copot. GILA! GILA! GILA! ANTAGONIS INI BUCEEN TINGKAT DEWA!

Namun, sebelum Caden sempat menundukkan wajahnya untuk 'membayar denda' di muka, pintu lift di belakang mereka berdenting terbuka dengan kasar.

"Yang Mulia! Gawat! Maaf mengganggu malam pertama—maksud saya, waktu istirahat Anda!"

Lucas melesat keluar dari lift dengan wajah pucat pasi dan kacamata miring. Ia memeluk sebuah tablet komunikasi yang berkedip merah.

Caden langsung berbalik, aura membunuhnya kembali seketika. Suhu ruangan terasa turun belasan derajat.

"Lucas. Beri aku satu alasan logis kenapa aku tidak melemparkanmu dari jendela lantai sembilan puluh sembilan ini sekarang juga," desis Caden dengan mata perak yang menajam.

Lucas menelan ludah, gemetar ketakutan. "B-blokade, Yang Mulia! Fraksi Selatan di bawah pimpinan Marquis Vane baru saja mengeluarkan dekrit darurat! Mereka memblokir seluruh jalur darat menuju Wilayah Pertanian Timur!"

Aura langsung mendorong bahu Caden dan maju ke depan, insting bisnisnya menyala terang benderang. Hawa romantis seketika menguap digantikan oleh mode perang kapitalis.

"Blokade jalur darat?! Maksudnya apa, Pak Kacamata?!" teriak Aura.

"M-maksudnya, konvoi ratusan truk pupuk dan cairan anti-hama yang Nona Elara pesan siang tadi tidak bisa masuk ke lahan! Marquis Vane menggunakan alasan 'karantina penyakit' palsu untuk menutup gerbang wilayah!" jelas Lucas panik. "Kalau pupuk itu tidak sampai besok pagi, seluruh ladang gandum yang baru kita akuisisi akan habis dimakan hama belalang!"

"Wah, ngajak ribut si Bapak Boomer satu itu," geram Aura, matanya menyipit berbahaya. "Dia pikir dia bisa main kotor buat nurunin harga saham yang udah gue goreng capek-capek?!"

Caden menyilangkan tangannya di dada, rahangnya mengeras. "Vane mencoba bermain politik denganku. Dia ingin membuat investasi kita gagal agar Arthur bisa mengambil kembali lahan itu dengan harga murah saat kita bangkrut. Lucas, siapkan pasukan militer pribadi Sayap Utara. Kita jebol gerbang perbatasan itu malam ini dengan paksa."

.

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!