Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, lorong hotel mewah itu sudah berubah menjadi lautan rintihan penuh penderitaan dan penyesalan.
Delapan dari sepuluh pembunuh bayaran tingkat tinggi kini tergeletak patah tulang di berbagai sudut lorong.
Dua algojo terakhir yang masih berdiri langsung membuang senjata mereka karena lutut mereka bergetar hebat menahan ketakutan yang absolut.
Klang klang.
Belati baja itu jatuh ke atas karpet merah sementara dua algojo itu mundur perlahan hingga punggung mereka mentok di dinding ujung lorong.
"T-tolong ampuni kami, Tuan! Kami hanya dibayar buta untuk melakukan tugas ini!" mohon salah satu algojo dengan wajah pucat pasi.
"Benar Tuan, kami berjanji tidak akan pernah menampakkan wajah kami di kota ini lagi jika Anda melepaskan kami!" tambah algojo satunya dengan merengek menyedihkan.
Gibran berjalan santai mendekati mereka berdua sambil mengusap sedikit debu dari lengan kemejanya yang rapi.
Setiap langkah kakinya terdengar seperti lonceng kematian yang mencabut sisa kewarasan dua preman bayaran tersebut.
Tap tap tap.
Gibran berhenti tepat satu jengkal di depan wajah dua algojo yang sedang menangis ketakutan menunggu nasib itu.
"Aku akan mengampuni nyawa kalian berdua malam ini karena aku sedang dalam suasana hati yang sangat baik," ucap Gibran dengan senyum ramah yang justru terlihat mengerikan.
Dua algojo itu langsung berlutut sujud di lantai berkali-kali saking leganya mendengar kata pengampunan tersebut dari mulut monster ini.
"Terima kasih banyak, Tuan Gibran! Anda sangat berhati mulia!" puji mereka berdua secara berlebihan.
"Tapi pengampunan ini ada harganya, kalian harus membawa satu pesan dariku untuk majikan tua kalian itu," lanjut Gibran dengan suara berat yang menekan dada.
Gibran menunduk dan mencengkeram kerah baju algojo yang paling banyak bicara di antara keduanya.
Sret.
Gibran mengangkat pria bertubuh besar itu dengan satu tangan saja seolah pria itu tidak memiliki berat sama sekali di tangannya.
"Katakan pada Bratasena Mahendra, trik murahan seperti ini hanya akan membuatku semakin bersemangat untuk menghancurkannya."
"Suruh dia mencuci lehernya bersih-bersih dan persiapkan seluruh hartanya untuk kusita sebelum acara pelelangan akbar dimulai," bisik Gibran tepat di telinga pria yang ketakutan itu.
Gibran melepaskan cengkeramannya membuat algojo itu jatuh terduduk dengan napas tersengal-sengal mencari udara.
"S-segera Tuan! Kami pasti akan menyampaikan pesan Anda kata demi kata kepada Tuan Bratasena tanpa kurang satu huruf pun!" jawab pria itu tergagap hebat.
"Bagus, sekarang angkut semua sampah teman kalian ini keluar dari lorongku sebelum aku berubah pikiran," perintah Gibran sambil berbalik menendang tubuh algojo yang pingsan di dekat kakinya.
Dua algojo yang selamat itu buru-buru memapah dan menyeret rekan-rekan mereka yang patah tulang masuk ke dalam lift barang.
Mereka bergerak secepat kilat melarikan diri dari lantai dua belas itu seolah sedang dikejar oleh hantu pencabut nyawa.
Gibran mendengus geli melihat kepanikan murahan mereka, lalu ia berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya yang berantakan.
Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja nakas dan langsung menekan tombol panggilan ke nomor Aurel Larasati.
Nada sambung hanya berbunyi dua kali sebelum suara dingin dan elegan wanita itu menjawab panggilannya.
"Kau meneleponku di tengah malam, Gibran. Aku harap kau punya berita yang cukup memuaskan untuk mengganggu tidurku," sapa Aurel tanpa basa-basi sedikit pun.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu, Nona Aurel. Tapi anjing-anjing peliharaan Bratasena baru saja mengotori karpet hotel ini," jawab Gibran sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
Hening sejenak di seberang telepon sebelum Aurel merespons dengan nada yang jauh lebih serius dan waspada.
"Sepuluh algojo bayaran dari dunia bawah, apakah kau membereskan mereka semua tanpa memancing perhatian kepolisian?" tanya Aurel memastikan keamanan aliansi mereka.
"Aku hanya mematahkan beberapa tulang mereka dan menyuruh mereka pulang membawa pesan cinta untuk tuan besarnya," kekeh Gibran ringan sambil meminum airnya.
Aurel membuang napas panjang yang hembusannya terdengar jelas dari sambungan telepon genggam tersebut.
"Kau benar-benar orang gila yang memprovokasi harimau tua itu secara langsung sebelum kita memiliki persiapan penuh untuk lelang."
"Tapi aku harus mengakui, keberanianmu menahan serangan fisik mereka sendirian membuatku sedikit terkesan malam ini, Gibran," puji Aurel dengan nada yang sedikit melembut di akhir kalimatnya.
Gibran tersenyum tipis mendengar pujian langka dari wanita konglomerat yang selalu bersikap sedingin es tersebut.
"Aku butuh akses transportasi menuju ke pasar loak pinggiran kota besok pagi-pagi sekali, Nona Aurel."
"Keluarga Mahendra sangat menguasai pasar VIP, jadi aku harus mengumpulkan modal tambahan dari pasar kelas bawah sebelum lelang akbar tiba," jelas Gibran menyampaikan rencana langkah selanjutnya.
"Pasar loak sangat kotor dan penuh penipu jalanan, tidak ada batu giok kelas atas yang tersisa di tempat sampah seperti itu," debat Aurel mencoba memperingatkan Gibran.
"Di mataku, tidak ada yang namanya batu sampah, yang ada hanyalah harta karun dewa yang salah diletakkan tempatnya."
"Siapkan saja sebuah truk kargo kecil untuk menjemputku jam tujuh pagi besok di depan lobi," potong Gibran dengan tingkat rasa percaya diri yang mutlak.
Aurel tidak berniat membantahnya lagi karena ia sudah melihat sendiri mukjizat penilaian batu yang dilakukan Gibran siang tadi.
"Truk milik Larasati akan menunggu di lobi hotelmu besok pagi tepat waktu. Jangan sampai kau membuatku kecewa dengan omongan besarmu itu," tutup Aurel memutuskan panggilan secara sepihak lagi.
Tut.
Gibran melempar ponselnya ke atas kasur dan berjalan santai menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip pusat kota.
Malam ini adalah malam pertamanya merasakan darah pertempuran secara nyata, namun hatinya justru terasa sangat tenang dan damai.
Dendam di masa lalunya karena diinjak-injak Siska kini telah menjelma menjadi ambisi kekuasaan yang tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun.
"Bratasena, Rio, Siska. Nikmatilah sisa tidur nyenyak kalian malam ini, karena mimpi buruk kebangkrutan kalian baru saja dimulai," gumam Gibran menatap dingin bayangannya sendiri di kaca jendela.
Gibran menutup tirai kamarnya rapat-rapat bersiap untuk beristirahat penuh sebelum kembali membalikkan keadaan di pasar loak besok pagi.