Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rumah Kosong di Tengah Hutan
Pagi telah sepenuhnya terang ketika kepala Su Yu muncul perlahan dari dalam tanah. Hanya kepala, mencuat di antara akar-akar pohon besar seperti buah yang jatuh dan tersangkut di permukaan. Kedua matanya menyapu area sekitar dengan waspada, memeriksa setiap bayangan yang bergerak di antara pepohonan rimbun.
"Sepertinya sudah aman."
Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri, memastikan tidak ada jejak energi spiritual para pengejarnya di sekitar tempat itu. Setelah merasa cukup yakin, Su Yu keluar sepenuhnya dari dalam tanah.
"Sekarang aku harus mencari pakaian. Tidak mungkin menggunakan daun terus seperti ini."
Langkahnya bergerak perlahan menuju bangunan kayu yang berdiri tidak jauh dari posisinya. Rumah itu tampak kosong, atapnya mulai lapuk di beberapa bagian, sementara pintu depannya menggantung miring pada satu engsel yang tersisa. Dinding kayunya telah berubah warna menjadi abu-abu tua dimakan usia.
Sinar mentari pagi menerobos celah-celah pepohonan, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh miring di atas tanah berdaun kering. Su Yu mengamati rumah itu sejenak sebelum mempercepat langkahnya.
Wush!
Sesosok cahaya biru tiba-tiba menyembur dari telapak tangannya. Xioutian muncul dalam wujud kecil, mengepakkan sayapnya beberapa kali untuk menstabilkan tubuh di udara, lalu terbang di samping tuannya.
"Tuan, kemana kita setelah ini?" tanya Xioutian sambil menggerakkan kepalanya ke segala arah. "Mereka pasti akan mengirimkan lebih banyak orang untuk mengejar."
Su Yu berhenti sejenak, pandangannya menerawang ke arah selatan. Pikirannya melayang kepada sosok wanita paruh baya yang pernah menjadi pelayan setia mendiang ibunya.
Bibi Sang.
Wanita itu telah meninggalkan Klan Su dua tahun lalu, memilih hidup tenang di kota kecil bernama Anze. Dari wanita itulah Su Yu pertama kali mendapatkan petunjuk tentang rahasia kematian ayah ibunya. Namun banyak hal yang masih ditutup-tutupi oleh Bibi Sang, seolah ada rahasia yang terlalu berat untuk diungkapkan.
"Kita akan pergi menuju wilayah selatan, ke kota Anze," jawab Su Yu setelah beberapa saat merenung. "Perjalanan dari Yunwu memakan waktu sekitar dua bulan. Kalau dihitung dari tempat kita sekarang, aku tidak tahu pasti."
Xioutian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Itu terlalu lama. Aku juga belum bisa terbang dalam wujud besar untuk beberapa waktu."
"Aku tahu." Su Yu kembali melangkah ke arah rumah kosong itu. "Tapi kita tidak perlu terburu-buru. Sebelum sampai ke sana, aku harus punya teknik menyerang yang kuat, atau setidaknya senjata yang layak."
Ketika sampai, ia menendang pintu kayu yang menggantung miring itu dengan ujung kakinya. Pintu itu jatuh dengan suara berat, menimbulkan debu yang beterbangan ke udara.
"Kita cari peluang selama perjalanan nanti."
"Baiklah."
Xioutian terbang melewati ambang pintu, lalu mendarat di atas meja kayu yang telah ditumbuhi lumut tipis. Kedua matanya yang kecil menyapu interior rumah itu dengan rasa penasaran.
"Tempat ini bau sekali, Tuan. Seperti sudah bertahun-tahun tidak dihuni."
Su Yu masuk ke dalam dan berjalan menuju sudut ruangan. Pandangannya langsung tertuju pada lemari kayu yang masih berdiri meskipun sebagian dindingnya telah lapuk.
"Justru bagus. Berarti pemiliknya tidak akan datang memarahi kita."
Ia membuka lemari itu dan menemukan beberapa helai pakaian tua yang masih tersimpan rapi di dalamnya. Jubah abu-abu lusuh dan celana kain tebal. Su Yu menariknya keluar dan mengibaskan dengan kedua tangan.
"Kasar, tapi ini cukup bagus untuk membuatku tidak terlihat seperti orang mesum."
Tanpa menunggu lebih lama, Su Yu melepas pakaian daun yang tersisa dan segera mengenakan jubah serta celana tersebut. Ukurannya sedikit longgar, tetapi masih bisa diikat dengan tali yang ia ambil dari sisa kain di dasar lemari.
Xioutian yang sedang bertengger di atas meja tiba-tiba menoleh ke arah pintu yang terbuka. "Tuan, kalau mereka berhasil menemukan jejak kita sampai ke sini, apa yang akan kau lakukan?"
Su Yu menoleh sambil merapikan ujung jubahnya. "Aku akan melawan atau kabur, tergantung siapa yang datang."
"Kalau empat tetua itu datang bersamaan?" desak Xioutian dengan nada yang sedikit meninggi.
Su Yu tidak menjawab segera. Ia tahu batas kekuatannya saat ini. Menghadapi satu tetua saja ia sudah pasti kalah, apalagi kalau keempatnya muncul sekaligus.
"Aku akan kabur," jawabnya akhirnya dengan nada datar. "Tapi sebelum itu terjadi, aku harus memastikan kita sudah jauh dari tempat ini."
Ia melangkah keluar rumah sambil membawa sehelai kain tambahan yang bisa dipakainya untuk menutupi kepalanya, menjadikan tudung pelindung. Sinar mentari yang semakin tinggi membuat udara di dalam hutan mulai terasa hangat.
Xioutian mengepakkan sayapnya dan terbang di sampingnya. "Tuan, kota Anze itu aman atau tidak?"
Su Yu meneruskan langkahnya ke arah jalan setapak yang nyaris tertutup semak belukar. "Anze hanya kota kecil seperti Yunwu. Tidak ada kekuatan sekte besar di sana. Seharusnya cukup aman untuk sementara, selama aku tidak menarik perhatian."
"Dan Bibi Sang yang tuan sebut... apakah dia seorang kultivator?"
Su Yu menggeleng pelan. "Bukan. Dia hanya orang biasa, tapi pengetahuannya tentang klan sangat luas. Terlalu luas untuk sekadar pelayan."
Xioutian terdiam sejenak, seolah sedang mencerna informasi itu. "Tuan curiga terhadapnya?"
"Mungkin."
Su Yu menyibak ranting yang menghalangi jalannya. Langkah mereka terus menembus hutan yang semakin rapat, sementara suara burung-burung bersahutan di atas sana seperti mengantarkan perjalanan mereka menuju tempat yang belum diketahui.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔