Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Sampai Di Altar Perak

"Kurang ajar! Dia membawanya!" desis Cedric dengan nada suara yang bergetar menahan amarah yang membakar dada.

Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna, menatap lurus ke arah siluet terbang Jonas yang posisinya kian mengecil di cakrawala langit Alfheim.

Stefany, yang posisinya masih berdiri tak jauh di area belakang bersama kedua anak kecilnya, ikut memutar kepala mendongak menatap langit. Raut wajah cantiknya yang semula tenang kini mendadak berubah drastis, dipenuhi oleh untaian tanda tanya besar sekaligus sebaris rasa kecemasan yang kentara.

"Itu... Jonas?" gumam Stefany pelan dengan suara lirih.

Sebagai bibi dari pemuda tersebut dari garis hubungan klan, ia tentu saja sangat mengenali bagaimana karakteristik kepakan sayap bulu hitam dan riak tekanan aura energi Demon milik keponakan sulungnya itu.

"Apa yang sedang dilakukan anak itu? Dan siapa gadis yang dia bawa?"

Cedric memutar tubuh tegapnya kembali menghadap ke arah Stefany, deru napasnya memburu kasar akibat bauran emosi amarah yang berusaha keras ia tekan di hadapan sang putri istana.

"Yang Mulia, keponakan Anda baru saja membawa lari pegawai yang bekerja di restoranku. Gadis itu manusia, dia tidak seharusnya terlibat dalam urusan ras kita."

Stefany mengernyitkan sepasang keningnya dalam-dalam mendengar penuturan Cedric. Ia tahu betul bagaimana watak kepribadian Jonas Salvatore yang terkenal teramat dingin, kaku, angkuh, dan sulit untuk ditebak jalan pikirannya—karakteristik tabiat yang mewarisi mutlak sifat dari ayah kandungnya, Raja Vampir Justin Salvatore.

"Jonas membawa manusia ke wilayah ini? Ini sangat tidak biasa bagi anak sekaku dia. Alan selalu bilang bahwa Justin sedang kesulitan mendidik ketiga anak kembarnya, tapi aku tidak menyangka Jonas akan bertindak sejauh ini."

"Saya harus mengejarnya, Yang Mulia," ucap Cedric tegas. "Saya khawatir Jonas akan mencelakainya atau... melakukan hal yang lebih buruk."

Stefany menatap Cedric dengan tatapan menyelidik. Ia bisa merasakan ada protektifitas yang luar biasa dari nada suara pria itu.

"Tenanglah, Cedric. Jonas mungkin angkuh seperti ayahnya, tapi dia bukan monster yang akan membunuh manusia tanpa alasan. Namun, kau benar. Jika ada manusia di Alfheim, ini bisa memicu keributan di dewan tetua."

"Permisi, Yang Mulia. Saya harus menjemputnya kembali."

Tanpa menunggu balasan lagi, Cedric melesat. Ia melompat ke dahan pohon dan mulai mengejar dengan kecepatan penuh, bergerak lincah di antara pepohonan Alfheim yang rimbun.

Jonas Salvatore... jika kau melukainya sedikit saja, aku tidak peduli meski kau adalah keponakan Ratu Stefany, batin Cedric mengatupkan rahangnya rapat-rapat dipenuhi letupan amarah yang membara.

Sepasang mata Elf milik Cedric berkilat tajam menembus rimbunnya kanopi dedaunan purba Alfheim, mengunci target pada kepakan sepasang sayap hitam Jonas yang mulai bergerak merendah di ujung cakrawala langit.

Detak jantung Immortal-nya berpacu seirama dengan lompatan lincah tubuhnya dari satu dahan raksasa ke dahan lainnya. Ia tahu betul batas wilayah dimensi ini; Jonas sedang mengarahkan terbangnya ke area Altar Perak, titik koordinat perbatasan dimensi yang paling dekat dan aman untuk membuang Elisa kembali ke dunia manusia fana.

Sementara itu di angkasa raya, deru hantaman angin yang kencang membuat kain jubah hitam besar milik Justin Salvatore yang membungkus tubuh Elisa berkibar kasar membelah udara. Elisa semakin mempererat rengkuhan kedua tangannya pada sekeliling leher kaku Jonas.

Detak jantung hibrida pria itu terasa teramat lambat namun berdentum dengan kekuatan masif yang konstan di balik dada bidangnya.

Rasa pusing yang sempat menghilang saat ia menginjakkan kaki di pemukiman Elf kini mulai merayap kembali ke pelipis otaknya akibat tekanan udara ekstrem dari ketinggian.

"Kita turun sekarang," desis Jonas pendek di sela-sela deru angin.

Wussshhh!

Jonas melakukan gerakan menukik tajam secara mendadak ke arah bawah. Gerakan ekstrem supernatural itu seketika membuat organ perut Elisa serasa tertinggal di awang-awang langit.

Sebaris jeritan tertahan lolos dari belahan bibir Elisa saat sepasang sepatu bot hitam milik Jonas mendarat dengan sebuah dentuman mulus tanpa cela di atas permukaan batu Altar Perak yang berpendar keperakan mistis.

Struktur altar kuno itu tampak bergetar pelan menerima beban mendarat tubuh mereka. Begitu mendarat dengan sempurna, Jonas langsung menurunkan tubuh Elisa dari dekapannya tanpa adanya seulas kelembutan sedikit pun.

Sentakan fisik yang kasar itu seketika membuat sepasang kaki telanjang Elisa yang lecet kembali berdepan perih menyengat, memaksanya sedikit terhuyung ke belakang sebelum akhirnya berhasil menegakkan kembali postur tubuh manusianya.

Di atas Altar Perak, sepasang sayap bulu hitam legam sepekat malam dan sepasang tanduk melengkung di kepala Jonas mendadak menyusut, menghilang masuk kembali ke dalam tubuh supernaturalnya dalam sekejap mata, hanya menyisakan robekan kecil yang canggung di bagian belakang kemeja hitamnya.

"Jalan lurus ke arah depan. Masuk menembus riak gerbang transparan di sana. Jalur jalan tersebut akan langsung mengarah tepat ke kompleks panti asuhan barumu milik Tuan Alan Pendragon," perintah Jonas dengan nada suara bariton yang teramat dingin dan angkuh.

Ia memutar tubuh tegapnya, memunggungi Elisa sembari merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Dan setelah kau tiba di duniamu... pastikan kau melupakan seluruh hal gila yang kau saksikan hari ini."

Elisa meremas kuat kain jubah mewah milik Justin Salvatore yang masih melekat pasrah di atas permukaan bahunya. Rasa kesal dan amarah yang membakar dada seketika mengalahkan rasa perih pada luka lecet di sela jari kakinya.

Dengan satu sentakan emosi yang meluap, ia melepas jubah beludru hitam tersebut dan melemparkannya secara kasar ke arah tubuh Jonas.

Hup!

Jonas dengan refleks kilat menangkap jubah sutra ayahnya menggunakan satu tangan kekarnya tanpa perlu membalikkan tubuh menoleh ke belakang.

"Kau pikir kau memiliki hak absolut untuk bisa memerintah kehidupanku setelah kau menculik dan membawaku terbang paksa di angkasa seperti seekor burung gagak sialan, hah?!" semprot Elisa berani, jari telunjuk manusianya menunjuk tepat ke arah punggung tegap sang hibrida Demon.

"Kau bahkan belum memberikan penjelasan apa pun padaku, kenapa tiupan sihir kabut perakmu di dalam kereta tadi bisa gagal total!"

Jonas menghentikan gerakannya seketika. Rahang tegasnya mengeras hebat hingga urat-urat kehitaman di sepanjang lehernya menegang kaku.

Ia menolehkan kepalanya sedikit, mengunci pergerakan Elisa menggunakan sepasang manik mata hitam pekat tanpa dasar yang memancarkan tekanan intimidasi yang teramat luar biasa—sebuah sorot mata dominan dari darah murni Demon-nya yang seketika membuat pasokan udara di sekitar Altar Perak memberat.

"Tindakan gagalnya sihirku itu hanyalah sebuah anomali konyol, Gadis Bodoh. Aku sendiri yang akan mencari tahu apa penyebab ilmiahnya nanti," desis Jonas setajam silet.

"Tetapi untuk saat ini, bergegas angkat sepasang kaki kecil manusiamu itu dari dimensi suci ini sebelum para tetua agung Elf mengendus pekatnya aroma keberadaan darah kotormu di tanah Alfheim."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!