Indonesia
NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : Perbedaan Kasta yang Menjadi Jurang

Fajar menyingsing di atas Kota Roma, memancarkan bias cahaya kemerahan di balik bukit-bukit batu karang dan memecah keheningan malam yang panjang. Sinar matahari pagi menembus celah-celah kecil jendela kayu paviliun pelayan, menyinari butiran debu yang berterbangan di udara. Callista terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Semalam, bayangan wajah Marcus dan kehangatan pelukannya di bawah temaram lampu minyak masih menari-nari di dalam benaknya, memberikan kebahagiaan semu yang langsung dibayangi oleh ketakutan luar biasa.

Ia bangkit dari ranjang jeraminya, merapikan pakaian tunik abu-abunya yang kusam, dan meraba sisi dalam bajunya untuk memastikan cincin perunggu kecil pemberian sang pangeran masih ada di tempatnya. Benda itu aman, tersimpan rapat di dekat debaran jantungnya. Namun, begitu ia melangkah keluar dari paviliun menuju halaman istana untuk memulai rutinitas hariannya sebagai budak, realitas yang kejam langsung menampar wajahnya mentah-mentah.

Suasana di kompleks istana pagi itu terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Para prajurit kekaisaran berbaris lebih rapat di setiap koridor marmer, membawa tombak perunggu dengan ekspresi wajah kaku tanpa senyum. Di aula utama, para kasim istana berlarian mondar-mandir membawa gulungan dokumen dan mempersiapkan tempat penyambutan untuk para utusan Dewan Senat yang dikabarkan akan mengadakan sidang darurat.

Callista menundukkan kepalanya dalam-dalam, membawa ember berisi air bersih dan kain lap kasar menuju area koridor sayap timur tempat para bangsawan biasa berlalu-lalang. Saat ia sedang berlutut membersihkan lantai marmer putih yang dingin, suara derap langkah kaki beberapa orang bangsawan mendekat dengan angkuh.

"Pastikan persiapan jamuan kenegaraan sore nanti berjalan sempurna," sebuah suara berat dan berwibawa terdengar melintas tepat di dekat Callista.

Callista merunduk semakin rendah, menempelkan keningnya hampir menyentuh lantai sesuai aturan mutlak bagi kasta terendah. Dari sudut matanya yang tersembunyi di balik helaian rambut, ia melihat ujung jubah putih bergaris ungu milik para senator senior, didampingi oleh Panglima Decimus yang berjalan dengan langkah tegap di sisi mereka.

Decimus tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat beberapa jengkal dari tempat Callista bersimpuh. Suasana di koridor seketika menegang. Para senator lain ikut berhenti dan menoleh ke arah sang panglima dengan tatapan bertanya-tanya.

"Ada apa, Panglima Decimus?" tanya Senator Gaius dengan suara serak khas orang tua yang penuh intrik.

Decimus tidak langsung menjawab. Ia menatap ke bawah, mengamati sosok gadis budak yang sedang berlutut membersihkan lantai di hadapannya. Ada tatapan tajam, curiga, dan penuh ancaman terselubung di dalam manik mata sang panglima. Decimus adalah pria yang sangat teliti; ia tahu betul laporan malam tadi mengenai seseorang yang keluar masuk area paviliun pelayan, dan insting militernya langsung mengarah pada satu nama: budak perempuan yang sempat dibela oleh putra mahkota di taman beberapa hari lalu.

"Tidak ada apa-apa, Senator," jawab Decimus dengan nada datar yang dingin. Ia lalu melangkah mendekati Callista, menundukkan sedikit tubuhnya agar suaranya bisa didengar jelas oleh gadis itu tanpa harus menarik perhatian berlebihan dari para senator. "Hanya saja... debu-debu kecil di lantai ini terkadang memang harus dibersihkan secara total agar tidak mengotori kemegahan istana. Benar begitu, gadis pelayan?"

Callista merasakan punggungnya merinding ketakutan. Suara Decimus terdengar bagaikan desisan ular berbisa yang siap mematuk kapan saja. Ia menelan ludahnya yang terasa kelu, lalu menjawab dengan suara bergetar tertahan, "B... benar, Yang Mulia Panglima. Hamba akan membersihkannya."

Decimus mendengus pelan, sebuah seringai tipis terukir di sudut bibirnya. "Bagus. Pastikan kau membersihkannya dengan benar, karena kesalahan kecil bisa berakibat fatal di tempat ini." Setelah mengucapkan kalimat peringatan itu, Decimus kembali menegakkan tubuhnya dan melanjutkan langkah bersama para senator menuju ruang sidang utama.

Derap langkah mereka perlahan-lahan menjauh, meninggalkan Callista yang terduduk lemas di atas lantai marmer. Bulir-bulir keringat dingin bercampur air pel membasahi pelipisnya. Kata-kata Decimus tadi bukanlah sekadar teguran biasa; itu adalah ancaman terbuka yang membuktikan bahwa gerak-geriknya kini telah berada di bawah pengawasan ketat sang panglima militer.

Di saat yang bersamaan, di dalam ruang sidang utama yang tertutup rapat, perdebatan sengit sedang terjadi antara Kaisar, para anggota Dewan Senat, dan Putra Mahkota Marcus.

Marcus berdiri tegak di tengah ruangan, mengenakan jubah kebesaran merah tua dengan dada membusung penuh wibawa. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, menatap tajam ke arah para senator tua yang duduk melingkar di sekeliling meja sidang marmer. Di tangan kanannya, ia memegang laporan militer perbatasan, namun pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh bayangan keselamatan Callista di luar sana.

"Kami mendengar desas-desus yang sangat meresahkan, Putra Mahkota Marcus," ucap Senator Gaius membuka sidang dengan nada suara menyindir. "Kabarnya, Anda beberapa kali terlihat menunjukkan perhatian yang berlebihan kepada seorang budak rendahan di pelataran istana. Apakah benar calon pewaris takhta kekaisaran Romawi kini menurunkan martabatnya demi seorang pelayan kotor?"

Seluruh isi ruangan mendadak senyap. Para menteri menahan napas, menunggu bagaimana sang pangeran akan merespons tuduhan telak tersebut.

Marcus tidak menunjukkan tanda-tanda gentar sedikit pun. Ia maju satu langkah ke depan, sorot mata hazelnya menyapu wajah para senator satu persatu dengan aura dominasi yang membuat beberapa penasihat tua meneguk ludah karena ketakutan.

"Martabat sebuah kekaisaran tidak ditentukan oleh darah murni atau garis kasta di atas kertas, para senator yang terhormat," jawab Marcus dengan suara berat yang menggema tegas di dinding-dinding batu sidang. "Martabat sebuah negara diukur dari keadilan dan kemanusiaannya. Jika kalian menganggap perhatian kepada sesama manusia adalah sebuah kejahatan, maka hukum di tempat ini telah kehilangan akal sehatnya."

Panglima Decimus, yang berdiri di sudut ruangan dekat singgahsana kaisar, mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih mendengar jawaban menentang dari sang pangeran. Kaisar sendiri, yang duduk di singgahsana utama dengan wajah letih, menghela napas panjang melihat sifat keras kepala putranya.

"Jaga nada bicaramu, Marcus!" bentak Jenderal Maximus, ayah dari Lady Claudia, yang turut hadir dalam sidang tersebut sebagai perwakilan aliansi militer utara. "Jangan karena wanita murahan dari kasta bawah, kau berani merusak stabilitas politik dan aliansi militer yang sudah dibangun susah payah oleh para leluhur kita!"

Mendengar kata-kata 'wanita murahan' diucapkan untuk menyebut Callista, rahang Marcus mengeras seketika. Kemarahan yang luar biasa meluap di dalam dadanya, membakar setiap batas kesabaran yang selama ini ia jaga.

"Cukup!" suara Marcus menggelegar menghentikan perdebatan di ruangan itu. Ia menatap tajam ke arah Jenderal Maximus dan seluruh anggota senat. "Kalian boleh mengatur takhtaku, kalian boleh memaksaku memimpin perang, dan kalian boleh menjodohkanku dengan siapa pun dalam aliansi politik kalian! Tapi ketahuilah satu hal: jika ada satu saja rambut di kepala gadis itu yang tersentuh oleh tangan kotor kalian, maka aku sendiri yang akan meruntuhkan fondasi kekaisaran ini dari dalam!"

Ancaman itu diucapkan dengan kesungguhan mutlak yang membuat seluruh isi ruang sidang terpaku ngeri. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara. Jenderal Maximus memerah karena murka, sementara Panglima Decimus menyipitkan mata dengan senyuman berbahaya di balik bayang-bayang pilar.

Sidang bubar dengan ketegangan yang jauh lebih pekat daripada sebelumnya. Jurang perbedaan kasta di antara Marcus dan Callista bukan lagi sekadar batasan sosial, melainkan medan perang terbuka antara kekuasaan mutlak kekaisaran dan cinta terlarang yang siap meledak kapan saja, membawa mereka selangkah lebih dekat menuju takdir tragis di ujung tebing kerajaan.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!