Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Empat Miliar untuk Setetes Darah

Wira membawa Ratri keluar rumah dengan kedua tangan.

Pusaka berbungkus kain lurik masih terkunci di telapak perempuan itu. Darah dari belakang kepalanya menetes ke lengan Wira, hangat dan terlalu banyak.

"Siapkan mobil!" teriaknya.

Salah satu pengawal membuka pintu belakang, sementara yang lain menghubungi rumah sakit swasta terdekat. Tidak ada waktu menunggu ambulans kembali. Mobil hitam melesat meninggalkan kediaman Adiningrat dengan dua kendaraan pengawal membuka jalan.

Sepanjang perjalanan, Wira menekan kain bersih ke kepala Ratri.

"Nyai, dengar suara saya?"

Tidak ada jawaban.

Napas Ratri tipis. Denyut di lehernya kadang terasa, kadang menghilang sampai Wira harus memindahkan jari untuk memastikan.

"Jangan bercanda begini, Nyai. Anda masih harus mematahkan kaki saya kalau laporan tentang Baskara terlambat."

Kelopak mata Ratri tetap tertutup.

Pintu unit gawat darurat sudah terbuka ketika mobil mereka berhenti. Petugas medis memindahkannya ke tandu dan langsung membawa tubuhnya melewati pintu ganda.

"Trauma kepala, perdarahan aktif sejak sekitar satu jam lalu," lapor Wira sambil mengikuti. "Dia sempat berdiri dan bicara, lalu pingsan."

"Tunggu di luar."

Pintu tertutup di depan wajahnya.

Lampu di atas ruang tindakan menyala merah.

Sepuluh menit pertama berlalu tanpa kabar. Lalu dua puluh. Seorang perawat keluar mengambil tambahan kantong darah dan obat, kemudian kembali masuk tanpa menjawab pertanyaan Wira.

Setelah hampir empat puluh menit, dokter jaga akhirnya muncul. Maskernya diturunkan ke dagu, dahinya basah oleh keringat.

"Anda keluarga pasien?"

"Pengawalnya. Suaminya tidak ada di sini."

Dokter itu tampak tidak menyukai jawaban tersebut, tetapi keadaan terlalu mendesak untuk memperdebatkannya.

"Luka di belakang kepalanya tidak sebanding dengan jumlah darah yang hilang. Kami sudah menekan sumber perdarahan, memberi cairan, dan menangani traumanya, tetapi darahnya terus keluar. Hasil pemeriksaan awal tidak menjelaskan kondisi ini."

"Maksud Dokter?"

"Secara medis, luka seperti itu seharusnya bisa dikendalikan. Tubuhnya justru seperti kehilangan daya untuk mempertahankan hidup."

Wira teringat darah dari goresan kecil di tangan Ratri. Luka dangkal itu juga tidak pernah menutup.

"Apa yang dibutuhkan?"

"Kami terus melakukan tindakan standar. Tetapi staf yang mengantar pasien menyerahkan benda ini."

Dokter menunjukkan kantong bening berisi pusaka Ratri. Kain luriknya basah dan simpulnya mengendur.

"Sebelum hilang kesadaran, pasien menggenggamnya sangat kuat. Apakah keluarga tahu riwayat pengobatan tradisional atau kondisi khusus yang tidak tercatat?"

Wira menggeleng. "Nyai tidak banyak bercerita tentang penyakitnya."

"Cari orang yang tahu. Sekarang."

Wira hanya mengenal satu nama yang pernah dipakai untuk menekan Ratri tentang urusan pusaka milik ibunya.

Yuliana Kusuma.

Perempuan itu tiba hampir satu jam kemudian dengan gaun rumah bermotif bunga dan tas mahal di lengan. Dua pengawal harus menjemputnya langsung dari rumah karena ia menolak datang sebelum tahu siapa yang akan membayar transportasi.

"Di mana Ratri?" tanyanya sambil terengah. "Dia benar-benar sekarat?"

Wira menunjuk pintu ruang tindakan. "Dokter tidak bisa menghentikan darahnya. Bu Yuliana pernah bilang punya pusaka peninggalan ibu kandung Nyai Ratri. Bawa keluar sekarang."

Yuliana memeluk tasnya. "Pelan-pelan. Barang seperti itu tidak bisa diberikan sembarangan."

"Anak tiri Anda sedang di ambang kematian."

"Justru karena itu nilainya mahal."

Wira menatapnya tidak percaya. "Berapa?"

Yuliana mengusap rambut, lalu duduk di kursi tunggu. "Ratri selama ini tidak pernah menghargai saya. Semua kebutuhan rumah memang dia bayar, tapi apa artinya dibanding kekayaan keluarga Adiningrat? Saya juga harus memikirkan masa depan Anin."

"Berapa?" ulang Wira.

"Empat miliar rupiah."

Wira yakin ia salah dengar. "Apa?"

"Rp 4 miliar. Transfer dulu, baru saya serahkan apa yang ditinggalkan ibunya. Darah saya juga langka. Kalau dokter membutuhkan setetes saja, tubuh saya tetap punya risiko."

"Anda belum tahu mereka butuh darah Anda atau tidak."

"Kalau tidak butuh, kenapa membawa saya ke sini?"

Yuliana membuka tasnya sedikit. Di dalamnya tampak sebuah kotak kecil berlapis beludru merah.

"Itu pusakanya?" Wira mengulurkan tangan.

Yuliana langsung menutup tas. "Jangan sentuh sebelum uang masuk. Ibu kandung Ratri menitipkannya kepada saya. Katanya benda ini hanya boleh dipakai saat nyawa anaknya benar-benar berada di ujung."

"Kalau benar itu pesan terakhir ibunya, seharusnya Anda memberikannya tanpa meminta bayaran."

"Saya yang menyimpannya bertahun-tahun. Saya juga yang menanggung risikonya."

Pintu ruang tindakan terbuka. Dokter jaga keluar dengan wajah lebih tegang daripada sebelumnya.

"Kami butuh informasi sekarang. Tekanan darahnya terus turun dan tubuhnya tidak merespons seperti seharusnya. Kalau keluarga memiliki catatan tentang pusaka, ramuan, atau laku yang pernah dijalani pasien, serahkan. Kami tidak mengganti tindakan medis dengan itu, tetapi kami harus tahu apa yang selama ini menahan kondisinya."

Wira menunjuk tas Yuliana. "Dia mengaku membawa benda peninggalan ibu pasien."

Dokter menatap Yuliana. "Berikan kepada kami."

"Setelah pembayaran selesai."

"Bu, pasien bisa kehilangan nyawa."

Yuliana mengangkat dagu. "Berarti orang-orangnya harus bergerak lebih cepat."

Dokter itu tampak hendak mengatakan sesuatu yang kasar, lalu menahan diri dan kembali masuk ke ruang tindakan.

Wira mengepalkan tangan. Seluruh biaya hidup Yuliana dibayar Ratri. Rumah, mobil, tagihan belanja, bahkan biaya pendidikan Anin tidak pernah terlambat. Kini perempuan itu menjadikan napas anak tirinya sebagai barang dagangan.

"Bawa pusakanya dulu. Setelah Nyai sadar, uang Anda akan dibayar."

"Tidak bisa."

"Saya buat surat jaminan."

"Saya mau uang masuk rekening. Sekarang. Kalau tidak ada, biarkan saja dia mati. Bukankah dokter bilang kondisinya aneh? Mungkin memang sudah waktunya."

Wira bangkit begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

Dua pengawal segera memegang lengannya.

"Bang Wira," bisik salah satu dari mereka. "Nyai masih di dalam."

Kalimat itu mengembalikan akalnya.

Wira meraih telepon. Saldo rekening operasional tidak sampai seperempat jumlah tersebut. Ia menghubungi pengelola keuangan Ratri, tetapi transfer sebesar itu membutuhkan verifikasi pemilik atau dokumen darurat. Ratri tidak sadarkan diri.

"Saya beri waktu sepuluh menit," kata Yuliana sambil memeriksa kuku. "Setelah itu saya pulang."

"Anda manusia atau bukan?"

"Jangan menggurui. Saya sudah merawatnya sejak kecil. Harga itu bahkan murah."

Dari dalam ruang tindakan terdengar bunyi alat pemantau berubah cepat. Seorang perawat berlari melewati pintu. Wira merasa darahnya sendiri berhenti mengalir.

Lima menit.

Tidak ada jalan.

Tujuh menit.

Telepon ke bagian keuangan belum menghasilkan apa pun.

Yuliana berdiri dan merapikan tas. "Waktunya habis."

Ponselnya berbunyi.

Ting.

Ia melirik layar, lalu berhenti bernapas.

Sebuah notifikasi bank memenuhi bagian atas layar.

Dana masuk: Rp 4.000.000.000.

Mata Yuliana membesar. Senyum muncul begitu cepat seolah Ratri tidak sedang berjuang hidup beberapa meter darinya.

"Nah, begitu dong." Ia mengangkat ponsel kepada Wira. "Kenapa tadi pura-pura tidak punya uang?"

Wira menatap angka itu.

Ia belum berhasil mentransfer satu rupiah pun.

Tidak ada orang lain yang tahu nilai permintaan Yuliana.

Lalu siapa yang mengirim empat miliar rupiah itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!