Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Aku Suka Kamu
Tiara turun dari kereta dengan gaun merah muda, koper putih, dan senyum yang hilang begitu Galih memperkenalkan Laras.
"Ini Laras, teman gue dari kecil."
"Laras?" Tiara mengulang nama itu. Matanya turun ke kuku Laras yang masih menyisakan oli dan sepatu kerjanya. "Oh. Yang kerja di bengkel itu?"
Laras mengulurkan tangan setelah mengelapnya pada kain. "Iya. Selamat datang di Bekasi."
Tiara menerima dengan ujung jari. "Galih sering cerita. Aku kira... ya, beda saja dari bayanganku."
"Lebih jelek?"
Galih berdeham. Tiara tersenyum manis. "Lebih sederhana."
Laras tidak tersinggung. Orang yang menghina pekerjaan jujur biasanya hanya menunjukkan ukuran pikirannya sendiri.
Saat mereka melewati area parkir, seorang pengemudi kesulitan menyalakan mobil. Laras berhenti, memeriksa terminal aki yang longgar, lalu mengencangkannya dengan alat kecil dari tas. Mesin hidup dalam satu percobaan.
Pengemudi itu berterima kasih. Tiara yang tadi menatap kuku berminyaknya tidak berkata apa-apa.
"Kerja bengkel ternyata berguna juga di stasiun," kata Laras.
Galih menahan tawa. Tiara mengalihkan pandang ke koper. Pukulan balik itu tidak keras, tetapi cukup membuat senyumnya kehilangan keunggulan.
"Bagus. Berarti koper lo yang sederhana ini bisa lo bawa sendiri."
Ia berjalan lebih dulu. Galih menahan senyum sambil mengambil koper Tiara.
Sepanjang perjalanan, Tiara duduk dekat Galih dan bertanya tentang semua orang di Gang Mawar. Setiap nama Laras muncul, nada suaranya berubah sedikit.
"Kamu tinggal dekat sekali sama Galih?"
"Satu gang."
"Sering berdua?"
"Dulu satu sekolah. Sekarang dia di Bandung."
"Tapi kamu ikut jemput aku."
"Karena dia panik."
Galih menghela napas. "Gue nggak panik."
"Semalam telepon tiga kali," kata Laras.
Tiara menatap Galih. Senyumnya makin tipis.
Di Gang Mawar, Bu Yayuk menyediakan kamar tamu. Tiara bilang hanya tinggal dua hari. Belum satu jam, ia sudah meminta Galih mengantarnya berkeliling dan memastikan Laras ikut dengan alasan belum mengenal daerah.
Di warung, Tiara bertemu Nadia dan Bima. Nadia memuji gaunnya dengan tulus, lalu memperkenalkan Laras sebagai teknisi terbaik di Gang Mawar. Bima menambahkan bahwa Laras pernah memperbaiki mobil camat, meski faktanya hanya mobil staf kelurahan.
"Teman-temannya setia sekali," komentar Tiara.
"Karena Laras juga begitu," jawab Nadia.
Tiara akhirnya berhenti menyerang langsung. Namun setiap kali Galih berbicara pada Laras, ia menyelipkan tangan di lengan Galih atau mengubah topik ke kehidupan kampus yang Laras tidak kenal. Laras melihat permainan itu dan memilih tidak ikut.
Laras menolak dan kembali ke bengkel.
Menjelang sore, ia mengantar kabel pengisi daya yang tertinggal di warung. Dari balik tirai, terdengar suara Tiara.
"Jujur saja. Kamu suka Laras, kan?"
"Jangan mulai lagi."
"Kalau nggak suka, kenapa semua orang tahu namanya? Kenapa kamu selalu pulang saat dia butuh?"
Galih terdiam cukup lama.
"Aku nggak ada apa-apa sama Laras," katanya akhirnya. "Dia kayak saudara."
Laras berdiri di balik tirai dengan kabel di tangan.
Ia memang tidak menunggu cinta Galih. Mereka tumbuh bersama, saling mengejek, saling membantu. Namun mendengar dirinya dipakai sebagai kalimat penenang untuk perempuan lain tetap terasa seperti pintu ditutup di depan wajah.
Laras meletakkan kabel di meja luar tanpa masuk.
Ia kembali ke bengkel dan bekerja sampai malam. Baut yang biasanya lepas dalam satu putaran ia paksa tiga kali. Pak Darto menyuruhnya berhenti sebelum merusak ulir.
"Ada masalah?"
"Nggak."
"Kalau jawabanmu cepat begitu, biasanya ada."
Laras mengambil kretek dan pergi ke ujung gang.
Rayhan baru pulang dari latihan kompetisi ketika melihatnya duduk dekat sungai kecil. Ia masih membawa ransel dan map soal.
Sebelum sampai ke sungai, Rayhan sempat bertemu Tiara di warung. Tiara bertanya apakah ia adik Laras. Rayhan menjawab, "Bukan," begitu cepat hingga Tiara tertawa.
"Semua cowok di gang ini aneh kalau soal Laras," katanya.
"Termasuk Galih?"
"Katanya nggak. Dia bilang Laras cuma saudara."
Rayhan melihat cara Tiara tersenyum puas. Seharusnya kabar itu melegakan, tetapi saat menemukan Laras sendirian dengan rokok yang mati di tangan, ia tahu penyangkalan Galih tetap melukai harga dirinya.
Kemarahan pada Galih dan keinginan menghapus kesedihan Laras bercampur sampai ia tidak ingin menunggu lagi.
"Kamu kenapa?"
"Capek."
"Galih?"
Laras menoleh tajam. "Kenapa semua harus soal Galih?"
"Karena sejak jemput Tiara, wajah kamu begitu."
"Wajah gue memang begini."
Rayhan duduk di sampingnya. Lampu jalan membuat bayangan mereka memanjang di beton. Dulu bayangan Rayhan hanya setengah milik Laras. Sekarang bahunya lebih tinggi.
"Tiara ngomong apa?" tanyanya.
"Nggak ada."
"Galih?"
Laras mengisap rokok, lalu mematikannya meski baru menyala. "Dia bilang gue kayak saudara."
Rayhan tertawa pendek tanpa humor. "Terus kamu sedih?"
"Gue nggak sedih. Cuma kesal dijadikan alasan."
"Kalau dia bilang suka, kamu bakal senang?"
"Ray, jangan cari ribut."
"Aku cuma tanya."
"Nggak semua pertanyaan harus dijawab."
Rayhan menatap air, lalu berkata, "Kalau begitu aku jawab pertanyaan yang nggak pernah kamu berani tanya."
Laras merasakan sesuatu mengencang di perut.
"Aku suka kamu, Ras."
Laras menatapnya seperti menunggu tawa penutup. Rayhan tidak memberikan.
"Aku suka waktu kamu bau oli, waktu rambut kamu jelek habis bangun, waktu kamu marah dan tetap ngasih orang makan," katanya. "Aku suka kamu sebelum aku ngerti itu namanya suka. Foto itu cuma satu bukti, bukan awalnya."
"Ray, cukup."
"Belum. Kamu selalu bilang aku akan berubah. Aku sudah tumbuh dari sepuluh ke enam belas dan perasaannya nggak hilang. Jadi jangan putuskan isi kepala aku cuma karena umurku."
Ia tidak mendekat atau menyentuh. Pengakuannya berhenti pada kata-kata, memberi Laras ruang fisik meski tidak memberi jalan untuk pura-pura tidak tahu.
Tak ada musik. Tak ada sorakan seperti di pertandingan. Hanya suara motor jauh dan air kotor mengalir di bawah jembatan.
"Bukan suka kayak adik ke Mbak," lanjut Rayhan. "Bukan karena kamu pernah nolong aku. Aku suka kamu sebagai perempuan. Sudah lama."
Laras berdiri terlalu cepat. "Lo masih kecil."
Rayhan ikut berdiri. "Aku enam belas, bukan enam."
"Tetap kecil. Gue dua puluh satu."
"Lima tahun nggak akan berubah, berapa pun umur kita."
"Kita dari kecil kayak saudara."
"Buat kamu. Bukan buat aku."
Laras mundur satu langkah. Rayhan tidak mengejar.
"Kita cuma bisa jadi kakak-adik," katanya.
"Aku nggak nganggep kamu kakak."
"Itu masalah lo."
Mata Rayhan memerah, tetapi suaranya tetap rendah. "Jadi kalau aku lahir lima tahun lebih cepat, kamu bakal lihat aku?"
"Bukan itu."
"Kalau aku bukan anak yang ditinggal di depan warung, kamu bakal lihat aku?"
"Jangan bawa itu."
"Kamu selalu lihat aku sebagai orang yang harus ditolong. Aku capek."
Laras menahan napas. "Gue nggak pernah merendahkan lo."
"Aku tahu. Tapi kamu juga nggak pernah kasih aku kesempatan berdiri sejajar."
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Laras melembut sesaat. "Ray, perasaan umur segini bisa berubah. Lo punya sekolah, lomba, masa depan. Jangan ikat diri ke gue."
"Masa depan itu punya aku. Biar aku yang pilih."
"Dan kalau lima tahun lagi lo menyesal?"
"Biar aku yang tanggung."
"Kalau hidup lo berantakan?"
"Kamu pikir hidupku rapi sebelum kenal kamu?"
Laras kehilangan jawaban. Rayhan menarik napas, memaksa nada suaranya turun.
"Aku nggak minta kamu pacaran sama anak sekolah. Aku cuma minta jangan menghina perasaanku dengan bilang ini fase."
Kalimat itu membuat penolakan Laras terasa lebih kejam daripada niatnya. Ia mengerti batas umur dan kuasa harus dijaga. Ia juga mengerti Rayhan berhak didengar tanpa diberi harapan palsu.
"Gue percaya lo sungguh-sungguh sekarang," katanya. "Tapi gue tetap nggak bisa balas."
Wajah Rayhan menegang, menerima sebagian hormat sekaligus seluruh penolakan.
"Gue juga berhak pilih. Dan jawaban gue nggak."
Rayhan membeku. Lampu memantulkan kilap tipis di matanya.
"Karena aku masih sekolah?"
"Karena ini salah."
"Nggak ada darah, nggak ada adopsi, nggak ada hukum yang bikin kita saudara. Salahnya di mana?"
"Di kepala gue. Di cara gue lihat lo."
Rayhan mengangguk perlahan. "Berarti aku harus mengubah cara kamu lihat. Bukan berhenti."
"Jangan keras kepala."
"Aku belajar dari kamu."
Ia mengambil ransel. Bahunya lurus, langkahnya tidak goyah. Baru beberapa meter, ia berhenti dan menoleh.
"Aku nggak minta jawaban sekarang. Tapi jangan bohong lagi bilang kamu nggak tahu."
"Gue sudah kasih jawaban."
"Kamu kasih alasan. Bukan jawaban jujur."
Rayhan berjalan ke arah warung. Laras tetap di bawah lampu, telapak tangannya dingin.
Ia ingin marah karena anak itu menolak penolakan. Namun bagian dirinya yang paling jujur tahu Rayhan benar tentang satu hal: sejak foto ditemukan, Laras tidak hanya takut pada perasaan Rayhan.
Ia takut pada perubahan dalam dirinya sendiri.
Nadia menelepon tak lama kemudian. Laras tidak mengangkat. Galih mengirim pesan meminta maaf karena Tiara bersikap tidak sopan. Laras juga tidak membalas.
Di rumah Mbah Surti, Rayhan masuk tanpa makan. Ia melepas medali kompetisi dari tas dan menyimpan dompet berisi foto Laras di bawah bantal.
Mbah Surti mengetuk pintu. "Berantem sama Laras?"
"Nggak, Mbah."
"Kalau nggak, kenapa mukamu kayak orang kehilangan uang?"
Rayhan menarik selimut. "Capek."
Di balik selimut, matanya akhirnya basah. Ia tidak bersuara.
Sementara itu, Laras masih berdiri di ujung gang ketika lampu warung dimatikan satu per satu.
Rayhan sempat menoleh sebelum masuk rumah. Tatapan terakhirnya bukan tatapan orang yang menyerah.
Lebih seperti seseorang yang baru mencatat posisi lawan dan menunggu langkah berikutnya.