Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Salah Paham dan Dicecar Noval saat Rapat
Ketika Azka dan Visha sedang makan dengan suasana yang tidak nyaman di DD Cafe & Resto. Tiba-tiba saja datanglah sepasang suami istri duduk di meja sebelah mereka.
Darma datang menyambut pasangan tersebut persis seperti ketika memberikan pelayanan kepada Visha. Azka memandang sinis saat Darma terlihat sangat ramah terhadap wanita yang duduk di meja sebelah.
Hal ini membuat Azka berpikir mungkin saja Darma memang memiliki sifat sangat ramah atau sekedar strategi promosi kafe lebih memfokuskan mengambil hati pelanggan wanita agar mereka mengajak pasangan atau suaminya kembali ke kafe.
Ia menghentikan makannya, mengamati apa yang dilakukan oleh Darma kepada pengunjung lain di sana. Semakin lama Azka memperhatikan, ia semakin yakin Darma memang memperlihatkan karakter lebih ramah kepada para pengunjung wanita.
Azka mulai berpikiran positif karena kalimat yang digunakan Darma sama persis ketika berbicara pada pengunjung wanita satu dan lainnya. Darma juga tidak menunjukkan rayuan apapun dalam ucapannya.
Sekarang Visha ternyata juga menyadari Azka sedang memantau Darma diam-diam. Ia pun nyeletuk sebagai bentuk pembelaan.
“Gimana? Aku tidak salah, kan?”
Setelah beberapa saat terdiam, perlahan wajah Azka mencair. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya, dibarengi tarikan nafas lega yang ia tahan sejak tadi.
Ia baru sadar betapa pikirannya terlalu jauh melangkah, menggiring prasangka yang tak berdasar. Semua yang telah dilakukan Visha selama ini, seharusnya cukup membuat ia percaya.
“Maaf ya, aku sepertinya terlalu curiga ke kamu,” ucap Azka sambil tersenyum.
Visha tidak langsung menjawab. Di wajahnya ada guratan lega yang mulai mengendap.
“Tapi kamu juga mengakui salah ya, tidak menceritakan tentang Darma ke aku,” kata Azka masih tidak mau kalah.
Tak ingin merusak suasana, Visha mengiyakan.
Dari sini, suasana menjadi lebih santai. Mereka mulai kembali membicarakan topik-topik ringan untuk mengembalikan mood yang sempat berantakan.
Usai menyantap hidangan terakhir, Azka mengangkat tangan memanggil pelayan, lalu menyodorkan kartu untuk membayar. Gerakan yang sudah begitu akrab, nyaris otomatis, seperti kebiasaan tak perlu dipikirkan lagi.
Sementara pelayan memproses tagihan, ia bangkit dari kursi. Meski menggeser pelan, tetap menimbulkan suara lirih di lantai kafe yang mulai lengang.
Darma dan Maki masih duduk di meja seberang, tampak asyik dengan obrolan ringan mereka. Azka melangkah mendekat, menyapa mereka untuk berpamitan.
Di luar, malam terasa makin pekat. Azka dan Visha melangkah pergi dari kafe tersebut.
Singkat cerita, mereka sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumah mengendarai motor matic vespanya.
Di atas motor, mereka mengingat kembali betapa lucunya saat Azka merasa cemburu ke Darma yang ternyata hanya terlalu ramah kepada Visha.
“Tapi aku suka, tandanya kamu cinta sama aku,” ucap Visha sambil memeluk erat tubuh Azka.
Azka sempat mengungkapkan rasa malunya karena merasa telah bertindak seperti anak kecil. “Kok bisa ya aku cemburu seperti itu, tidak pernah menyangka aku bisa begitu. Rasanya ini kali pertama aku bersikap sampai segitunya, iya kan?” kata Azka minder.
Tidak mempermasalahkan, Visha tetap pada pendiriannya. Ia menilai bahwa wajar saja Azka melakukan itu. Visha membandingkan dirinya. Andai saja Azka diperlakukan berlebihan oleh wanita lain, ia pasti akan merasa cemburu juga.
“Namanya juga cinta, kalau tidak cemburu, berarti perlu dipertanyakan rasa cintanya,” jelas Visha.
Seketika saja Azka teringat perlakuan Kayla terhadapnya.
***
Pagi menyongsong.
Azka segera berangkat ke kantor setelah menyelesaikan sarapan dan berpamitan ke Visha. Di dalam mobil, Azka langsung teringat Kayla yang sudah lama tidak dihubungi.
Penasaran bagaimana kabarnya, ia pun memutuskan menelpon Kayla. Tapi sayang sekali karena panggilan itu tidak diangkat. Azka sedikit kesal, mulai overthinking. Untungnya ia dapat mengendalikan pikirannya.
Kini ia memilih untuk memikirkan tentang rapat yang akan dihadirinya. Ia bahkan belum memberitahu Noval kalau ia sudah pulang dan akan menghadiri rapat secara langsung.
Setibanya di kantor, Azka mampir ke meja kerja Noval. Tentu saja, ia terkejut bukan main.
“Lho, kapan datang, Pak?” ucap Noval refleks.
Azka mengatakan ia baru sampai tadi malam. Ia berdalih sengaja datang ke kantor supaya bisa menghadiri rapat bersama anggota tim yang lain.
Selanjutnya Noval bertanya mengenai urusannya di kantor pusat. “Apakah sudah selesai?”
Ia mengaku telah mengirimkan laporan secara langsung, meski ia tidak pernah melakukannya karena berencana akan mengirim pagi ini.
Setelah menyapa Noval, ia pun segera pergi ke ruangannya.
Azka membuka laptop di meja kerja, mengirimkan laporan ke kantor pusat via email. Pekerjaan yang semudah ini namun dijadikan alasan hanya untuk bisa pergi ke ibukota bersama Kayla.
Baru saja selesai mengirim file laporan, tiba-tiba saja handphonenya bergetar, Kayla menghubunginya.
Dengan cepat, ia segera mengangkat, “Halo”
“Ada apa, Pak, tadi telepon?”
Azka kemudian bertanya tentang bagaimana kabar ia dan ibunya. Kayla memberitahu keduanya baik-baik saja. Ia juga balik bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Azka.
Kenapa tiba-tiba sekali Azka kembali ke kantor cabang. Tapi Azka tidak ingin membahasnya. Ia mengalihkan topik obrolan membahas soal apa yang akan dilakukan Kayla hari ini.
Secara singkat, ia mengatakan sepertinya akan sepenuhnya di rumah menemani ibunya. Ia menyadari waktu liburnya segera berakhir, oleh karenanya ia ingin memanfaatkan waktu yang tersedia sebaik mungkin.
Seketika saja Azka merasa bersyukur karena sudah pulang bersama Visha, karena jika tidak, ia pasti akan merasa bosan di sana.
Kalaupun ia memaksakan untuk bertemu Kayla, itu hanya mengurangi waktu Kayla bersama ibunya.
Azka mengakhiri telepon lantaran teringat rapat yang akan segera dimulai. Ia perlu mempelajari beberapa materi laporan yang ada.
Sesaat usai telepon ditutup, ia langsung menghidupkan layar laptop, standby karena terlalu lama tidak digunakan.
Hingga akhirnya jadwal rapat telah tiba. Azka masuk ke dalam ruangan. Tatapan dari para anggota tim terlihat berbeda. Mereka seperti tidak merasa nyaman saat Azka berada di sana.
Ia menyadari keadaan tersebut, tapi berusaha tetap profesional.
Untungnya setelah beberapa menit rapat dimulai. Azka menunjukkan kharisma sebagai seorang pemimpin. Meski sebelumnya wibawa Azka sempat jatuh gara-gara mengikuti rapat yang terkesan tidak fokus, kini ia membuktikan kemampuan kepemimpinannya masih dalam performa baik.
Hanya saja permasalahan kembali muncul ketika salah satu anggota tim mempertanyakan tentang kinerja dari tim quality control.
Wakil Kepala Divisi saat ini dianggap tidak begitu memahami tentang konsep yang dibuat oleh Sesilia.
Azka kemudian diminta agar memberikan teguran kepada Sesilia supaya lebih memperhatikan kinerja bawahannya. Jangan sampai pelaksanaan proyek jadi bermasalah karena kesalahan yang berpotensi dilakukan oleh divisi quality control.
“Baiklah, nanti akan saya tegur pihak terkait. Saya pastikan setelah ini, permasalahan di departemen quality control segera diatasi,” jelas Azka.
Masih merasa ada kejanggalan, mayoritas peserta rapat hanya diam tidak terlalu menanggapi, termasuk Noval.
Tapi karena menilai perlu dibahas, ia mempertanyakan soal alasan Azka yang pulang lebih dulu, ketimbang Sesilia. Dengan suara lantang, ia bertanya di tengah suasana rapat.
“Izin, Pak. Kalau boleh saya ingin bertanya.”
“Silakan.”
“Sesilia kemana, ya?” ujarnya datar. “Pak Azka sudah kembali, kenapa dia belum?”
Seolah sudah mempersiapkannya, Azka menjawab santai.
“Oh iya, Sesilia masih saya instruksikan untuk menyelesaikan sesuatu di kantor pusat.”
Namun rupanya dalih Azka tak membuat Noval puas.
“Maaf sebelumnya, Pak. Memang Sesilia punya kepentingan apa di kantor pusat? Bukankah harusnya mengirimkan laporan cukup Pak Azka?” ucap Noval meski ragu, tapi tetap bertanya karena ingin memuaskan ego.
Azka sedikit kebingungan. Ia pun terpaksa mengatakan sejujurnya bahwa Sesilia tengah bersama ibunya yang sedang sakit kronis.
“Mohon maaf jika saya tidak terbuka sebelumnya. Saya hanya ingin menjaga kondusifitas situasi kantor.”
“Tapi untuk pekerjaan di kantor pusat saya pastikan sudah selesai. Saya pulang duluan karena ingin menghadiri rapat ini. Sesilia akan kembali sesuai jadwal yaitu besok,” pungkas Azka.
“Kalau tidak ada pertanyaan lainnya, kita sudahi rapat pagi ini, terima kasih,” tutup Azka dengan nada sedikit kesal karena Noval seperti ingin menyerang terang-terangan soal dirinya dan Sesilia.