Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:73.8k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Keputusan Bercerai

Yanti sedang mengusap keringat di keningnya, berdiri di pinggir jalan.

Tiba-tiba ia melihat sesosok wanita berdiri menutupi sinar matahari ke wajahnya, melangkah mendekat dengan gaya angkuh.

"Kamu sekarang mirip sekali dengan pengemis, Yanti." ujar Lina tanpa dosa. Ternyata, dia yang datang ketempat adiknya.

Yanti melihat kakaknya dengan raut lelah. "Kakak mau apa datang kemari?"

"Aku cuma mau memberitahu," jawab Lina dengan dagu terangkat. "Malam nanti ada perayaan untuk pembukaan cabang baru butik Ibu yang ada di luar kota. Ibu tidak bisa ke sana, jadi perayaannya dilakukan di rumah saja. Teman-teman Ibu sebenarnya ingin buat di hotel, tapi kataku tidak usah, di rumah saja. Jadi malam nanti kamu datang, bantu-bantu melayani tamu di sana," perintah Lina seenaknya.

Ternyata kedatangannya hanya untuk menjadikan adik kandungnya sendiri sebagai pembantu dirumah ibu mereka sendiri.

Yanti terdiam sejenak. "Apa Humaira juga ikut ke acara itu?"

Yanti bertanya karena ia tahu putri sulungnya itu sangat membenci dan sakit hati jika melihat ibunya datang ke rumah saudara atau ibunya hanya untuk dijadikan pembantu.

"Entah, mungkin saja dia datang. Melodi yang mau mengundangnya," sahut Lina acuh tak acuh.

Mendengar nama itu, Yanti melangkah mendekati kakaknya dengan tatapan curiga. "Kak... apa Kakak dan Melodi sedang merencanakan sesuatu pada Humaira?"

"Kalau iya kenapa?" cibir Lina.

"Tolong jangan lakukan apa pun yang menyakiti Humaira lagi, Kak. Dia sudah cukup menderita," mohon Yanti dengan suara sendu.

"Cih! Kamu siapa berani mengatur-atur? Kamu tidak berhak bicara!" potong Lina pedas.

Yanti memejamkan mata sejenak, menahan perih di dadanya, lalu menggeleng. "Kalau begitu aku tidak bisa datang, Kak. Maaf, kali ini aku menolak."

Lina menyunggingkan senyum sinis. "Yakin kamu tidak mau datang?"

"Tidak, Kak."

Lina merogoh tas mewahnya dan mengeluarkan seikat uang tunai bernilai Rp5 juta. Dengan gaya meremehkan, ia mengibaskan lembaran uang itu tepat di hadapan wajah Yanti.

"Kamu yakin tidak mau ini? Kalau kau datang malam nanti untuk jadi pembantu, semua uang ini jadi milikmu."

Yanti menatap lembaran uang di depannya.

Lina tersenyum puas karena tahu pasti adiknya tidak akan menolak, karena sedang terdesak kebutuhan biaya pengobatan Nabila yang sangat besar setiap harinya.

"Kakak janji akan memberikan uang itu kalau aku datang ke rumah nanti?" tanya Yanti memastikan.

"Tentu saja! Memangnya selama ini aku pernah tidak membayar kamu?" Ucap Lina. "Lagi pula kamu mana pernah ikhlas membantu keluarga sendiri. Semuanya cuma urusan uang dan uang."

Yanti menunduk. "Aku juga tidak akan begini kalau tidak terdesak, Kak. Aku butuh uang untuk pengobatan Nabila... Aku cacat, tidak bisa bekerja seperti orang normal lainnya."

"Halah, terlalu banyak berdrama!" potong Lina malas. "Sekarang begini saja, kalau kamu bilang mau datang, aku beri separuhnya sekarang sebagai uang muka."

Yanti terdiam dilanda dilema yang begitu berat. Hatinya sungguh menolak untuk menjadi pelayan di sana, apalagi jika mengingat rasa sakit hati Humaira nantinya.

Namun bayangan wajah Nabila yang terbaring lemah di rumah sakit mengalahkan segalanya.

"Tapi... bisakah Kakak jangan memberitahu Humaira kalau aku juga ada di sana?" bisik Yanti memohon.

Lina tertawa sinis. "Aku tidak ada urusan untuk mengurusi hal itu. Kalau nanti di sana Humaira melihatmu, itu urusanmu yang harus pintar-pintar bersembunyi. Aku cuma tanya sekali lagi: kamu mau atau tidak?"

Yanti menarik napas, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah, Kak... aku datang."

Lina segera menghitung lembaran uang tersebut dan menyerahkan setengahnya—sebesar 2,5 juta rupiah—ke tangan Yanti.

"Nah, ini DP untukmu. Setelah semua pekerjaanmu selesai nanti malam, baru kuberikan sisanya."

"Terima kasih, Kak..." ucap Yanti lirih.

Lina hanya melihat adiknya sekilas dengan pandangan meremehkan, lalu berbalik pergi menuju mobil mewahnya tanpa mengucap sepatah kata pun.

Yanti menggenggam erat lembaran uang di tangannya. Meski hatinya merasa bersalah pada Humaira, tapi dia juga sedikit merasa lebih tenang karena akhirnya ia mengantongi uang untuk menyambung pengobatan putri bungsunya.

_____

Setelah dari bertemu dengan adiknya, Lina memutuskan mendatangi rumah utama yaitu rumah Ibu Ratih.

Lina melangkah masuk melalui pintu utama yang terbuka lebar. Di dalam, suasana rumah sudah sibuk dengan persiapan acara nanti malam.

Beberapa pekerja tampak merapikan sudut-sudut ruangan, memastikan karpet terpasang presisi dan deretan gelas kristal di atas meja panjang tertata rapi. Rangkaian bunga segar di area tengah menambah kesan hidup tanpa terlihat berlebihan.

Lina berjalan mendekati Ratih yang sedang mengawasi para orang-orang yang sibuk.

"Lina, kamu sudah datang?" sapa Ratih begitu berpaling dan melihat putri sulungnya.

"Iya, Bu," jawab Lina sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling aula utama yang sudah hampir siap seratus persen.

"Ibu sudah mengundang semua orang, kan?"

Ratih tersenyum. "Ya tentu. Kan kita sudah menyebar undangannya dari tiga hari yang lalu."

Lina mengangguk-angguk, "Lalu... bagaimana dengan Keluarga Dirgantara? Apa mereka mau datang juga?"

"Ibu juga tidak tahu mereka mau datang atau tidak. Tapi biasanya, Maharani tetap datang," ujar Ratih sembari merapikan rangkaian bunga di dekatnya. "Hanya saja... ya seperti yang kamu tahu, Rara dan putranya rasanya tidak mungkin hadir. Biasanya kalau kita ada acara, paling cuma Maharani yang datang sendirian."

"Iya sih, Bu. Benar juga," sahut Lina mengangguk setuju.

Di lain tempat, di kediaman keluarga Zidan. Pria itu terlihat termenung. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, namun ia sama tak pernah kemana-mana.

Sepanjang hari, Zidan hanya terduduk melamun di halaman rumah sembari menatap kosong ke depan.

Zidan terus teringat kembali tentang sosok pria semalam yang mengajaknya berbicara. Walaupun saat itu dirinya mabuk berat, Zidan ingat dengan sangat jelas setiap kata yang diucapkan pria itu.

Ia ingat pria itu berkata, "Pilihlah istrimu, jangan sampai kamu salah pilih. Istrimu itu di atas segalanya."

Dan yang paling membuatnya tidak bisa tenang, kalimat terakhir yang diucapkan pria itu: "Kalau kamu lepaskan istrimu, maka dia milikku."

Zidan semakin dilema. Rasa takut kehilangan mendadak menghinggapinya. Ia tidak ingin menceraikan Humaira, karena perlahan ia mulai menyadari perasaan yang sebenarnya terhadap wanita itu.

Namun, apa yang harus ia lakukan? Di saat yang sama, ia sudah terlanjur menodai Melodi dan mana mungkin ia tidak bertanggung jawab.

Seharian penuh setelah kembali dari apartemen Melodi, pria itu tidak pergi ke mana-mana. Ia hanya duduk di rumah dan melamun, bahkan sama sekali tidak bekerja.

"Zidan."

Seseorang memanggil namanya, menepuk bahunya pelan.

Zidan terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Ternyata itu ayahnya.

"Ayah..."

"Ada apa? Ayah lihat kamu seperti banyak pikiran. Kamu ada masalah?" tanya Rendra sembari duduk di dekat putranya.

"Tidak, Yah. Aku tidak punya masalah apa-apa," elak Zidan cepat. Ia tidak ingin menceritakan apa yang terjadi dengannya.

Sunyi...

Pria paruh baya dan putranya itu saling diam melihat halaman rumah. Hingga tiba-tiba, Zidan membuka suara.

"Ayah... aku akan segera menceraikan Humaira."

Rendra terkejut mendengar keputusan putranya.

1
Nar Sih
😭😭😭sedih bundaa ...kok arumi putus tgh jln pdhl lgi seru,,nyaa😭😭
bunda Qamariah: sebenarnya bisa di lanjutin sayangg. tapi kalau mau Revisi ulang, astaghfirullahalazim 🤧 butuh tenaga ekstra 🤧
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Yah Allah syg skali Thor , lagi seru2nya harus berhenti😭, di saat lagi cinta secinta2nya tiba2 harus berakhir, rasanya sakit tau g 😭 Aku slalu menanti karya2mu bunda dan sukses slalu 🤲🤲 berharap Azhar bisa di lanjutin
bunda Qamariah: iya syang. maaf ya, karena harus berhenti di tengah jalan. soalnya lagi mumet kalau mau Revisi dari no🤧


jangan lupa mampir di karya baru aku ya, say. udah terbit kok
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Akhirnya Humairah dan Alva bahagia menanti calon bayi untk kesempurnaan keluarga mereka , dan buat Zidan yeah Akhirnya ketemu jodohnya juga . Ditunggu yah toh novel baru nya , jgn lama2 loh🤭
Aysah Meta: Sesuai kak,dengan sifat zidan yg ha ho haa hooo🤭🤭 pintar tapi bodoh🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Nar Sih
mau bangettt bunda lanjut kisah zidan dan gadis kribo penjual ikan nya pasti seruu dan lucuu🙏🥰🥰
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya terbongkar juga semua kebusukan melodi😏
Jamayah Tambi
Setelah gabis masa nifas nikahkan Davin dan Melidi.Dulu bukan main kamu anak betanak menghina Humaira dan Yanti.Mengatakan perempuan jalang,murahan ,pelacur dan anak haram.
bunda Qamariah: betul itu say🤧
total 1 replies
Jamayah Tambi
Kesian kan.
Jamayah Tambi
Bapak dah masukbpenjara,ni mak saudara pulak.Apa mau
Jamayah Tambi
Ni Alva tak cerita lagi kejalangan Melodi
Jamayah Tambi
Rasakan Melidi.Ingat nak makukan Humaira,kau sendiri yg malu
Jamayah Tambi
Lambat,banyak drama
Jamayah Tambi
Ah tak sabarnya nak malu
Jamayah Tambi
Kau tak sadar diri Melidi.Dah berapa bulan menjadi isteri Zidan masih belum di sentuh.Kalau Alce mengeluarkan gambae2 lucahmu dgn selingkuhan mu siapa yg lebih malu
Jamayah Tambi
Apa lagi ulah dan rancangan Melidi
bunda n3
dan yg paling menyakitkan itu dikhianati orang terdekat kita
bunda n3
Humaira hamil sepertinya
Nar Sih
ahir nya semua terbongkar ,zidannn....malang nya nasib mu yaa..semoga stlh ini kmu dpt kan kebagiaan mu nanti
Syakirah Dzaky
Kasian Zidan , aku bisa merasakan betapa sakit dan hancur nya dia😭 . terimakasih thor akhirnya kau update juga
bunda Qamariah: sama2 say🫰
total 1 replies
Jamayah Tambi
Jawab Alva.
Jamayah Tambi
Lepas ni jangan nak cemburu buta.Ramai yg antin di luar sana mau merampas Alva .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!