Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dosa Sang Mafia

Pewaris Dosa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Yamila22

Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.

Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.

"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."

Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.

Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Hantu yang Tak Kuminta

Suara mobil-mobilan plastik yang beradu dengan lantai parket kantorku adalah satu-satunya hal yang menjaga kewarasanku di sore kelabu itu. Bunyinya kering, tak henti, bersaing dengan dengungan komputer tua dan denyut tumpul migrainku sendiri. Kupijat pelipisku kuat-kuat, memejamkan mata sedetik, mencoba mengabaikan tumpukan tagihan merah yang tergeletak di atas meja bagai vonis mati. Menjadi pewaris yang terbuang punya harga yang sangat mahal, dan aku membayarnya setiap bulan terkutuk dengan kantung mata yang dalam, kopi dingin, dan simpul cemas yang kini terasa seperti bagian dari tubuhku.

"Brum, brum! Mama, lihat, trukku melaju kencang!" suara Eithan memecah keheningan pikiranku.

Kuangkat wajahku, dan di sanalah dia, berlutut di lantai, mengangkat truk pemadam kebakarannya dengan kebanggaan yang mencabik-cabik hatiku. Eithan baru dua tahun, tapi wajahnya membawa warisan seorang pria yang bahkan tak pantas disebut dalam mimpi burukku. Dia anak yang rupawan, terlalu rupawan untuk dunia tempat kami harus bertahan hidup. Rambutnya sehitam sayap gagak, selalu sedikit berantakan, dan matanya cokelat terang, nyaris sewarna madu, berbinar oleh kepolosan yang telah lama direnggut dariku.

Setiap kali menatapnya, satu pertanyaan yang sama membakar tenggorokanku bagai asam: Bagaimana dia bisa? Bagaimana seseorang bisa berbalik, merapikan setelan mahalnya, dan meninggalkan darah dagingnya sendiri tergeletak seperti sampah di gang? Jawabannya selalu sama: Damian tak pernah menjadi seorang pria, dia predator. Dan predator tak punya hati, hanya lapar.

"Bagus sekali, Sayang. Yang paling kencang dari semuanya," kataku, memaksakan senyum yang membuat otot wajahku nyeri. "Ayo, masukkan mainanmu ke ransel. Hari ini Mama ajak makan pasta saus yang kausuka itu. Kau pantas mendapatkannya karena jadi asisten yang baik hari ini."

Aku butuh keluar dari empat dinding ini. Udara di kantor terasa pengap, sesak oleh kenangan dari kehidupan yang tak lagi jadi milikku. Kami berjalan ke restoran Italia kecil di ujung jalan, tempat sederhana tapi beraroma rumah. Eithan melompat-lompat di sisiku, menggenggam tanganku dengan jari-jari mungilnya yang lengket, sama sekali tak tahu bahwa ibunya nyaris tak punya cukup uang untuk sewa bulan ini setelah keluarga "tercinta"-ku menutup semua rekeningku karena aku "mencoreng" nama keluarga. Bagi mereka, hamil tanpa cincin berlian adalah dosa yang tak terampuni; bagiku, Eithan adalah satu-satunya hal suci yang tersisa.

Kami duduk di meja kecil, tepat di samping jendela besar yang berembun oleh kelembapan sore. Eithan melahap makanannya, pipinya belepotan saus merah, tertawa setiap kali sehelai mi lolos dari garpunya. Sesaat, hanya untuk satu detik yang penuh berkah, aku membiarkan diriku lengah. Kubiarkan diriku melupakan kebencian, utang, dan rasa takut.

Sampai udara di tempat itu berubah.

Bukan suara, bukan pula teriakan. Melainkan tekanan di dada, pergeseran suhu yang membuat ruangan terasa berat, membeku, nyaris tak bisa dihirup. Pintu restoran terbuka, dan aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja masuk. Aroma itu... aroma terkutuk cendana, tembakau mahal, dan bahaya yang mengintai. Aku akan mengenalinya bahkan seandainya sudah mati dan terkubur. Itu aroma kehancuranku.

Kuangkat pandanganku perlahan, dan jantungku berhenti. Dingin membeku menjalari tulang punggungku, sementara tulang rusukku mulai bergetar oleh detak jantung yang liar. Di sanalah dia.

Damian.

Dia mengenakan setelan Italia jahitan khusus, gelap seperti jiwanya, yang mempertegas sosoknya yang menjulang. Rahangnya menegang, ditandai bayangan janggut tipis yang selalu memberinya rupa penjahat dalam film. Tapi yang terburuk adalah matanya. Tatapan sedingin es yang sama, yang dulu pernah menjanjikanku surga sembari perlahan menyeretku ke jurang. Sang mafia yang pergi tanpa menoleh, pria yang menghancurkanku menjadi kepingan sampai aku kehilangan hitungan, kini berdiri di sana, menodai tempat perlindunganku.

"Sialan," bisikku dalam hati, merasakan rasa takut awal berubah menjadi amarah buta, panas, seperti sengatan listrik.

Dia melangkah ke meja kami dengan keyakinan yang menghina, seolah dialah pemilik tanah yang diinjaknya. Dia berhenti sekitar dua meter dari kami. Matanya, sumur gelap yang penuh perhitungan itu, pertama-tama menghunjam ke arahku, menyusuriku dengan intensitas yang membuatku merasa telanjang dan rapuh. Lalu tatapannya turun. Berhenti dengan rasa penasaran yang mematikan pada anak kecil yang, tak menyadari tragedinya, sedang berusaha membersihkan wajahnya dengan tisu.

"Halo, Sayang. Lama tak jumpa." Suaranya... suara dalam yang dulu membuatku gemetar oleh hasrat, kini hanya memicu rasa mual di perutku.

Aku melompat berdiri, mendorong kursi begitu keras hingga benturannya membuat beberapa pengunjung berhenti makan dan menoleh ke arah kami. Aku tak peduli. Kucengkeram bahu Eithan dan kutarik ke belakang tubuhku, melindunginya dengan tubuhku, menyembunyikannya dari pandangan Damian seolah bayanganku bisa menghapus kemiripan darah yang begitu nyata sampai terasa menyakitkan.

"Jangan melangkah lagi," desisku. Kurasakan kukuku menusuk telapak tanganku sementara jariku menyentuh kain jaketku yang murah. "Jangan dekati anakku, Damian! Jangan berani-berani!"

Dia mengangkat sebelah alis, tapi untuk pertama kalinya seumur hidupku, kulihat retakan pada topeng ketidakpeduliannya. Kilat keraguan, keterkejutan, melintas di matanya saat menatap si kecil yang mengintip penasaran dari balik pinggulku, menatap "om tinggi" itu dengan mata madunya.

"Anakmu?" ulangnya, suaranya turun satu oktaf, berubah menjadi geraman berbahaya. Dia melangkah maju, menyerobot ruang pribadiku.

"Milikku. Hanya milikku," jawabku, menantang tatapannya, meski di dalam kedua kakiku serasa agar-agar. "Bagi kami, kau sudah mati dua tahun lalu di bandara itu. Jadi berbaliklah, keluar lewat pintu itu, dan enyahlah ke neraka tempatmu berasal sebelum aku memanggil polisi atau melakukan sesuatu yang gila yang takkan bisa kaupulihkan."

Damian tertawa kering, tanpa jejak humor, dan sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Panas yang menguar dari tubuhnya sesaat membuatku pusing.

"Kau tahu betul polisi tak bisa menyentuhku, Cantik. Dan kau juga tahu aku takkan pergi ke mana pun sekarang setelah melihat apa yang kausembunyikan. Anak itu punya mataku, punya darahku..." Tatapannya berubah posesif, kelam. "Dan apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."

Panik mencekik tenggorokanku, tapi aku tak mundur. Kalau ada satu hal yang kupelajari dalam dua tahun kesengsaraan ini, itu adalah bahwa pria seperti Damian tak boleh ditakuti, melainkan dilawan dengan taring terhunus.

"Dia bukan apa-apamu," dustaku, merasakan keringat dingin di tengkukku. "Dia anak dari kesalahan yang kubuat, dan kau adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Pergi, Damian, biarkan kami tenang."

Tapi dari cara dia menatap Eithan, aku tahu perang baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tak punya pasukan, hanya harga diriku dan seorang anak yang tak tahu bahwa dia baru saja bertemu iblis dalam wujud manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!