Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Cetak Biru Nano-Cell
Suasana ruang perawatan VIP di lantai tiga Rumah Sakit Harapan terasa begitu tenang dan sejuk. Di atas pembaringan, Ibu Suminah tertidur dengan deru napas yang teratur dan wajah yang tampak rileks. Bayu Anggara dan Dimas duduk berhadapan di sofa kulit yang terletak di sudut ruangan, menikmati secangkir teh hangat dari fasilitas rumah sakit.
Dimas menyandarkan punggungnya, menatap ke arah tempat tidur Ibu Suminah dengan senyum lega. "Gue masih sering berasa kayak mimpi, Bay. Kemarin pagi kita masih pusing mikirin uang obat lima ratus ribu, sekarang Tante bisa istirahat di kamar VIP sebagus ini."
Bayu membetulkan letak kacamatanya, mengangguk pelan. "Aku juga, Dim. Rasa ganjal di dadaku hilang seketika begitu melihat Ibu bisa tidur tanpa merintih kesakitan lagi."
Ponsel Android murah milik Bayu yang tergeletak di atas meja kaca berkedip pelan. Pendar cahaya biru melingkari garis layar retaknya. Melalui earphone yang terpasang di telinga kiri Bayu, sekaligus melalui pengeras suara ber-volume rendah agar Dimas juga bisa mendengar, suara Jarvis menginterupsi dengan jernih.
"Permisi, Bayu dan Dimas. Jika evaluasi kondisi medis Ibu Suminah telah selesai, saya ingin mengajukan satu usulan proyek teknologi strategis," panggil Jarvis.
Dimas serta-merta menegakkan posisi duduknya. "Proyek strategis? Apalagi ini, Jarvis? Jangan bilang lu mau bikin kita beli saham lagi siang-siang begini?"
Bayu meraih ponselnya. "Ada apa, Jarvis? Apakah ada anomali pada sistem keuangan kita?"
"Sama sekali tidak, Bayu. Seluruh aset finansial dalam kondisi aman dan terenkripsi," jawab Jarvis tenang. "Namun, berdasarkan pemodelan probabilitas jangka panjang, lonjakan finansial serta kemampuan teknologis yang kita miliki akan secara bertahap menarik perhatian entitas luar yang berpotensi menimbulkan ancaman fisik."
Bayu mengerutkan dahi, logikanya langsung mencerna peringatan tersebut. "Maksudmu ancaman keamanan diri?"
"Tepat," sahut Jarvis. "Keamanan fisik Anda adalah variabel paling krusial untuk keberlangsungan seluruh ekosistem ini. Oleh karena itu, saya telah merancang sebuah cetak biru teknologi pelindung tingkat lanjut berbasis struktur nano-cell."
Dimas memicingkan matanya penuh rasa penasaran. "Tunggu, tunggu... Nano-cell? Maksud lu sel mikroskopis begitu, Jarvis?"
"Benar, Dimas," papar Jarvis mendetail. "Nano-cell adalah unit matriks serat sel berukuran mikroskopis dengan kerapatan molekuler yang sanggup direorganisasi secara instan. Dalam kondisi pasif, sel-sel ini berada dalam wujud fluida mikro terkompresi. Namun saat teraktivasi oleh pulsa elektromagnetik, sel-sel ini mengembang dan saling mengunci, membentuk ikatan kisi pelindung yang mampu mendispersikan energi kinetik dan termal skala tinggi."
Bayu menatap layar ponselnya dengan cermat. "Artinya, kamu merancang sebuah zirah pelindung fisik?"
"Secara teknis, benar, Bayu. Zirah pelindung fleksibel berdaya tahan ekstrem," terang Jarvis. "Zirah ini dirancang untuk menahan dorongan benturan berkecepatan tinggi, kebal terhadap serapan peluru kaliber berat, serta mampu menyerap daya ledak panas dari bom."
Dimas melotot, matanya membelalak lebar hingga hampir menyembur teh yang baru disedotnya. "Gila! Jarvis, lu mau bikin baju zirah canggih tahan peluru dan bom buat Bayu?!"
"Ini bukan sekadar ide fiksi, Dimas," jawab Jarvis tanpa jeda. "Ini adalah aplikasi kalkulasi rekayasa material mikro yang sepenuhnya dapat direalisasikan dengan ketersediaan material mentah saat ini."
Bayu memegang dagunya, berpikir keras secara teknis. "Jarvis, zirah pelindung penuh untuk ukuran tubuh manusia butuh ruang penyimpanan yang besar. Bagaimana mungkin aku bisa membawanya ke mana-mana tanpa memicu kecurigaan orang di kampus atau di jalan?"
Layar ponsel Bayu menampilkan sebuah animasi skematik tiga dimensi yang amat presisi. Sebuah jam tangan pintar berdesain futuristik namun tampak elegan dan ringkas muncul di tengah layar.
"Seluruh unit sel nano-cell akan dikompresi ke dalam ribuan kapsul penyimpanan mikron yang terintegrasi di dalam cangkang jam tangan khusus ini," urai Jarvis.
Dimas mendekatkan wajahnya ke layar. "Jam tangan?! Benda sekecil itu sanggup menampung materi pelindung untuk seluruh tubuh?!"
"Pengompresan molekuler memanfaatkan ruang kosong antar-atom pada struktur karbon nanotube," Jarvis menjelaskan mekanismenya secara gamblang. "Saat jam tangan diaktifkan melalui sensor sidik jari biometrik pada kenop utama, transmisi pulsa frekuensi rendah akan memicu ekspansi sel-sel nano tersebut. Sel-sel nano akan meluncur keluar dari celah mikro jam tangan, merayap dan membungkus seluruh permukaan tubuh Bayu hanya dalam kurun waktu satu koma dua detik."
Bayu mengamati detail skema biometrik pada jam tangan tersebut. "Bagaimana dengan sistem keamanannya? Bagaimana jika jam tangan ini terjatuh atau dicuri orang lain?"
"Tidak akan bisa diaktifkan oleh pihak luar," sahut Jarvis tegas. "Sensor biometrik pada kenop jam tangan dilengkapi pemindai tiga lapis: pola sidik jari biometrik, frekuensi bio-listrik kulit, serta pemindai pembuluh darah subkutan milik Anda, Bayu. Tanpa tiga korelasif cocok tersebut, materi nano-cell akan tetap terkunci total dalam wujud pasif."
Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum takjub yang merekah lebar. "Bener-bener gila... Lu pinter banget, Jarvis! Tapi tunggu, Jarvis, apa jam tangan ini cuma bisa bikin zirah pelindung? Ada fungsi lain?"
"Jam tangan ini juga berfungsi sebagai pusat transmisi data saya, alat navigasi, serta penyedia pendorong kinetik mikro yang dapat memungkinkan Bayu bergerak dengan kecepatan kilat hingga kemampuan terbang terbatas melalui manipulasi medan gravitasi lokal," tambah Jarvis.
Dimas menepuk paha Bayu keras-keras. "Terbang?! Lari secepat kilat?! Bay, lu beneran bakal jadi pahlawan super kalau jam tangan ini berhasil dirakit!"
Bayu tertawa kecil melihat antusiasme sahabatnya, namun ia tetap bersikap realistis. "Tahan dulu emosimu, Dim. Jarvis, berapa estimasi biaya pengadaan komponen mentah dan material mikro untuk merakit jam tangan ini?"
Layar ponsel berkedip menampilkan rincian kalkulasi anggaran.
"Material mentah berupa lembaran karbon nanotube, kristal silikon pemroses frekuensi tinggi, pelat mikro-sirkuit emas, serta casing paduan titanium membutuhkan dana sebesar empat belas juta lima ratus ribu rupiah," jawab Jarvis presisi.
Bayu melirik aplikasi perbankannya. "Sisa saldo di rekeningku saat ini ada tujuh belas juta enam ratus ribu rupiah. Secara anggaran, kita sanggup membiayainya sekarang."
"Tapi Bay," pancing Dimas serius. "Komponen-komponen canggih begitu, apa bisa dibeli bebas tanpa bikin pihak otoritas atau intelijen curiga?"
"Saya telah membagi daftar pesanan menjadi sebelas paket transaksi terpisah melalui vendor komponen elektronik industri, laboratorium medis, dan toko suku cadang penerbangan," Jarvis menjawab keraguan Dimas. "Setiap komponen dikategorikan sebagai suku cadang biasa sehingga tidak akan memicu alur pelacakan khusus."
Bayu mengangguk puas. "Perencanaan yang sangat rapi, Jarvis. Lalu bagaimana dengan proses perakitannya? Kita tidak punya fasilitas laboratorium mikro."
"Saya akan mengunggah instruksi perakitan presisi tingkat mikron ke modul alat pencetak 3D presisi tinggi," tutur Jarvis. "Kita hanya membutuhkan ruang kerja yang aman dan steril dari jangkauan publik."
Dimas langsung menjentikkan jarinya antusias. "Gue tahu tempatnya, Bay! Sepupu gue punya bengkel lab riset kecil yang sepi di dekat daerah tempat tinggal gue. Bengkelnya punya alat 3D printer presisi tinggi dan bisa kita sewa malam hari tanpa ada orang yang ganggu!"
Bayu menatap Dimas dengan binar mata penuh keyakinan. "Pilihan yang sempurna, Dim."
Bayu lalu memegang ponselnya, menatap garis skematik jam tangan nano-cell yang berpendar indah di layar. "Jarvis, sahkan cetak biru ini. Eksekusi pemesanan seluruh komponen materialnya sekarang."
"Cetak biru nano-cell terverifikasi dan terkunci," sahut Jarvis mantap. "Proses transaksi pengadaan bahan mentah dimulai. Seluruh komponen diperkirakan tiba dalam waktu tiga hari kerja."
Bayu menyandarkan badannya ke sofa, membetulkan letak kacamatanya dengan senyum tenang. Di ruang VIP yang sunyi itu, langkah besar menuju penciptaan teknologi zirah nano-cell paling canggih resmi dimulai, membawa Bayu Anggara siap menyongsong takdir baru yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.