Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Deru mesin diesel berat dari kereta patroli komando Korporasi Frost-Guard menggema memecah keheningan malam, mengirimkan getaran frekuensi rendah yang merambat melalui lapisan es tebal hingga menembus telapak kaki Ren. Di ujung rel yang membentang di luar Stasiun Periferi No. 4, sorot lampu mercusuar ganda menyapu kepingan salju dengan beringas, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding reruntuhan beton.

Ren tidak bergerak. Jantung mekanis di dadanya berdenyut konstan, memompa gelombang energi panas yang menstabilkan suhu tubuhnya di tengah hawa dingin yang menusuk tulang. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah siluet raksasa kereta lapis baja musuh yang berjarak sekitar seratus lima puluh meter darinya.

[Peringatan Sistem: Unit Komando Musuh Berhenti di Koordinat Sektor 4.]

[Indikator Kehadiran: Pemindaian Termal Aktif. Peluang Terdeteksi: 78%.]

Sistem di dalam kepalanya memberikan kalkulasi dingin, tetapi Ren memilih untuk tidak mengambil risiko konfrontasi frontal saat ini. Dengan gerak tubuh yang terlatih oleh insting bertahan hidup, ia merendahkan tubuhnya, memanfaatkan bayangan tumpukan gerbong rongsokan dan timbunan es untuk menyelinap masuk kembali ke dalam perut Stasiun Periferi No. 4 sebelum sorot lampu musuh menyapu area tempatnya berdiri.

Begitu ia berada di dalam perlindungan kerangka beton stasiun yang setengah runtuh, hembusan angin badai di luar sedikit mereda, menyisakan suara tetesan air lelehan es yang berpadu dengan denging pelan dari The Core Engine.

Ren menyandarkan punggungnya pada dinding gerbong uap tuanya yang hancur. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin bercampur bau jelaga memenuhi rongga dadanya. Di tengah kesunyian malam itu, kilas balik wajah Lily kembali melintas jelas di matanya—senyuman terakhir adiknya, darah yang membeku di lantai besi, dan sabetan bilah plasma Kapten Vane yang merenggut segalanya.

Rasa sakit itu tidak pernah pudar; ia hanya berubah wujud menjadi bahan bakar yang lebih pekat, mengeras di dalam lubuk hatinya menjadi sebuah tekad yang tak tergoyahkan.

Ren menegakkan tubuhnya, menatap nanar ke arah kerangka gerbong yang compang-camping di hadapannya. Ia tahu betul, jika ia ingin bertahan hidup di dunia es yang kejam ini, apalagi jika ia berencana untuk membalas dendam pada faksi korporasi sebesar Aether Corp dan melintasi Tembok Es Raksasa menuju dunia bawah, rongsokan besi ini tidak akan mampu bertahan bahkan untuk perjalanan sehari.

Ia harus bergerak. Ia harus merombak total tempat ini menjadi bengkel daruratnya yang pertama.

Ren membuka panel antarmuka sistem melalui proyeksi hologram biru tipis di hadapannya. Jari-jarinya menyentuh opsi manajemen inventaris dan cetak biru (Blueprint) yang baru saja terbuka pasca insiden sebelumnya.

[Misi Aktif: Menyiapkan Pondasi Gerbong Vanguard (Mk. 1)] [Material Tersedia di Area Stasiun:]

• Lembaran baja sisa dari gerbong pengangkut (Kondisi: Karat sedang, ketahanan dasar).

• Modul kabel konduktor dan sisa baterai plasma dari pos jaga musuh.

• Komponen hidrolik dan baut pengencang dari gudang logistik.

Dengan bermodalkan obor las darurat bertenaga gas plasma sisa dan seperangkat perkakas tua yang ia temukan di gudang stasiun, Ren memulai malam panjangnya dengan kerja keras yang menguras tenaga. Ia tidak menyalakan lampu penerangan utama, hanya mengandalkan pendaran biru dari inti di dadanya dan percikan api las yang berpijar terang setiap kali batang logam bersentuhan.

Langkah pertamanya adalah memperkuat rangka utama gerbong. Ren memotong lembaran baja tua yang ia seret dari rel luar, mengukur ukurannya secara presisi agar pas menutupi sisi lambung kiri gerbong yang hancur lebur akibat tembakan plasma. Suara hantaman palu besi berpadu dengan jerit logam yang ditekuk paksa bergema di dalam stasiun yang sunyi. Setiap pukulan palu mencerminkan gejolak emosi di dalam dadanya—keras, penuh amarah, namun terarah dengan disiplin yang ketat.

"Belum cukup," gumam Ren serak, keringat dingin bercampur darah kering mengalir di dahinya, langsung membeku di ujung dagunya.

Ia melangkah keluar menuju bangkai kereta patroli musuh yang ditinggalkan di luar area stasiun beberapa jam lalu. Mengabaikan risiko sekecil apa pun jika sewaktu-waktu patroli lanjutan datang, Ren membongkar paksa panel pelindung mesin kendaraan tersebut menggunakan Rust-Bite Blade. Dengan tenaga tambahan dari level Strength-nya yang telah meningkat, ia mencabut modul generator mikro dan pipa penukar panas milik korporasi, lalu menyeret komponen-komponen berharga itu kembali ke dalam stasiun.

Proses modifikasi berjalan lambat dan melelahkan. Ren bekerja seorang diri di tengah suhu di bawah titik beku. Ia membuat ulang kabel-kabel kelistrikan yang gosong, menghubungkan sirkuit generator mikro curian tersebut langsung ke inti The Core Engine di dalam dadanya sebagai sumber tenaga sekunder untuk mengaktifkan sistem pemanas dan sistem penggerak roda darurat gerbong.

Jam demi jam berlalu dalam keheningan malam. Ruang dalam gerbong yang tadinya gelap dan penuh lubang kini mulai berubah rupa. Sisi lambungnya telah dilapisi dua lapis baja tebal hasil tempaan darurat. Di bagian depan gerbong, ia memasang bilah perisai tumpul dari lempengan baja rel untuk menembus tumpukan es tebal di jalur depan. Meskipun bentuknya masih terlihat kasar, tambal sulam, dan berlumuran noda karat, struktur itu kini memancarkan aura fungsional yang kokoh—sebuah cikal bakal dari apa yang nantinya akan menjadi benteng berjalan miliknya.

Ren menjatuhkan palu di tangannya ke lantai besi. Ia berdiri tegak, merenggangkan otot-otot lengannya yang kaku dan dipenuhi noda arang hitam. Ia menatap hasil kerjanya selama semalaman penuh dengan napas terengah-engah.

Di hadapannya, gerbong uap rongsokan itu kini telah bertransformasi menjadi Vanguard Carriage (Mk. 1)—unit gerbong lapis baja pertama yang siap membawa dirinya keluar dari cengkeraman Zona Periferi.

Namun, saat ia menatap ke luar melalui jendela kaca sempit yang baru dipasangnya, fajar kelam mulai menyingsing di balik cakrawala es. Badai salju pagi hari mulai menderu dengan intensitas yang lebih dahsyat, mengaburkan pandangan ke segala arah.

Tiba-tiba, suara derit berat dan dentuman langkah mekanis yang sangat masif terdengar bergemuruh dari arah terowongan rel utama di luar stasiun—bukan lagi suara kereta patroli ringan, melainkan suara mesin hidrolik raksasa yang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi, disertai proyektor sinyal pencari inframerah yang langsung menyorot tajam menembus jendela kaca stasiun tepat ke arah gerbong tempat Ren berdiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!