Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Sore harinya, udara dingin bertiup lembut menyusuri lorong-lorong megah Istana Blackwood. Arthur baru saja kembali dari markas besar militer dengan seragam dinas yang masih melekat rapi di tubuh tegapnya. Langkah kakinya yang mantap terhenti di ruang tengah sayap timur, tempat Savea sedang duduk sembari mengamati gaun-gaun mahal yang berserakan.

Dengan suara dingin dan tanpa pamer emosi, Arthur secara singkat mengumumkan bahwa tidak ada jamuan makan malam keluarga besar nanti malam.

Makan malam akan berlangsung biasa, hanya di meja makan pribadi mereka di sayap timur. Lagipula, keluarga inti kerajaan tinggal di sayap barat yang terisolasi, dan mereka hanya sesekali makan bersama di aula utama pada acara kenegaraan resmi.

Mendengar pengumuman mendadak itu, Savea Lopez langsung membelalakkan mata dan melontarkan protes keras. Napasnya memburu. Ia telah capek-capek menyusun siasat matang untuk malam ini.

Seluruh rencananya untuk membuktikan bahwa Arthur tidak berhasrat pada wanita—bahkan membuktikan kecenderungan suaminya yang ia duga seorang gay—terancam berantakan hanya karena pembatalan jamuan di aula utama.

Namun, setelah menarik napas panjang dan memikirkannya kembali, sudut bibir Savea perlahan terangkat membentuk senyum licik. Bukankah ini justru jauh lebih menguntungkan?

Di meja makan pribadi yang tertutup tanpa kehadiran keluarga kerajaan lainnya, ia bisa berkuasa penuh. Ia akan memerintahkan Snow untuk duduk dan makan malam bersama mereka di satu meja yang sama.

Jika ada wanita gila di dunia ini yang tega melemparkan suaminya sendiri pada perempuan lain, wanita itu adalah Savea. Cinta murni yang pernah ia miliki untuk Arthur sejak masa remaja telah lama membusuk, bermutasi menjadi obsesi gila yang gelap.

Savea tahu betul, sampai matipun ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hati atau cinta murni dari Arthur. Maka dari itu, ia harus mengumpulkan sebanyak mungkin rahasia dan kelemahan untuk menjerat pria itu seumur hidup.

Savea tidak peduli jika Arthur harus meniduri Snow di depannya. Ia bahkan tidak akan cemburu sedikit pun. Yang ia pedulikan hanyalah meruntuhkan topeng kesempurnaan suaminya, memegang kartu AS yang sanggup mengikat sang calon Raja agar tak pernah bisa melepaskan dirinya.

••••

Waktu bergulir cepat, dan makan malam yang dinantikan Savea akhirnya tiba.

Ruang makan pribadi sayap timur diterangi oleh pendar lampu gantung kristal yang hangat. Di atas meja panjang berbahan kayu jati tua, berbagai hidangan mewah tersaji rapi. Sesuai rencana matang Savea, Snow melangkah masuk ke ruang makan dengan mengenakan gaun sutra abu-abu gelap yang diberikan Savea tadi pagi.

Gaun itu memiliki potongan kerah yang sangat rendah dan memamerkan lekuk bahu serta tulang selangka Snow dengan begitu berani. Kain sutranya membalut ketat tubuh molek Snow, membuat wanita itu terlihat sangat memikat namun sekaligus sangat terekspos.

Saat pandangan mata Arthur tertuju pada Snow yang melangkah masuk, rahang sang Duke bergetar hebat. Pria itu mengepalkan kedua tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih dan memucat.

Urat-urat di leher dan pelipisnya menegang menahan gejolak amarah yang mendidih. Demi Tuhan, Arthur rasanya ingin membunuh Savea saat ini juga. Wanita itu dengan sengaja mendandani Snow seperti barang pameran yang begitu terbuka.

Namun, Savea tampak sangat nyaman, tenang, dan santai. Tanpa rasa canggung sedikit pun, Savea menyunggingkan senyum ramah yang dibuat-buat dan melambaikan tangan pada Snow.

"Makanlah, Snow," ucap Savea dengan nada suara manis yang penuh penghinaan terselubung. "Aku tahu kau pasti tidak pernah makan makanan se-enak ini sebelumnya, bukan? Lihat tubuhmu, kau terlalu kurus. Ocean—putraku—membutuhkan banyak asupan nutrisi yang baik dari ASI-mu. Jadi duduklah dan makanlah yang banyak."

Snow tetap menundukkan kepala, mempertahankan ekspresi lugunya. Ia hanya mengangguk pelan seraya mendaratkan tubuhnya di kursi yang berseberangan dengan Arthur.

Makan malam bertabur drama itu berlangsung dalam keheningan yang tegang dan menyiksa. Gesekan sendok dan garpu pada piring porselen menjadi satu-satunya dentang yang memecah sepi. Sepanjang makan malam, Arthur memaksakan matanya untuk terus menatap lurus ke piringnya sendiri.

Tidak ada binar gairah, tidak ada kerlingan, dan tidak ada sedikit pun tanda ketertarikan yang ia tunjukkan pada Snow. Wajahnya tetap datar, dingin, dan membeku bagai es.

Melihat respons suaminya yang sangat dingin dan tidak tersentuh oleh godaan fisik sejelas itu, keyakinan Savea kian membara.

Dia benar-benar gay, batin Savea seraya menyunggingkan senyum kemenangan, matanya menatap tajam ke arah Arthur dari balik cangkir anggurnya. Tinggal selangkah lagi... aku hanya butuh memegang bukti fisiknya.

Bagi Savea, teka-teki tiga tahun pernikahan mereka yang tanpa sentuhan fisik kini terasa makin masuk akal. Pantas saja Arthur selalu menolak menyentuhnya di atas ranjang dan mengabaikan kewajiban suaminya—rupanya karena rahasia penyimpangan besar ini yang disembunyikan sang calon raja.

...~~~...

Setelah sekian lama menunggu dalam keheningan yang membosankan, rasa kantuk akhirnya menyerang Savea. Wanita itu menguap pelan, berdiri dari kursinya, dan melangkah santai menuju kamarnya tanpa memedulikan hal lain lagi.

Para pelayan dengan cepat membereskan sisa-sisa meja makan dan mengundurkan diri. Ruang makan kembali sunyi senyap.

Snow, yang tugas utamanya adalah menjaga dan menyusui Ocean, melangkah pelan menyusuri koridor yang remang-remang menuju kamar bayinya. Namun, baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu, sebuah cengkeraman tangan yang kuat dan hangat mendadak meraih pergelangan tangannya.

Snow tersentak pelan saat tubuhnya diputar dan disudutkan ke daun pintu.

"A-apa-apaan ini, Snow?!" desis Arthur, suaranya amat serak dan penuh tekanan yang ditahan. Matanya menyapu gaun sutra minim yang melekat di tubuh wanita itu dengan sorot mata terluka dan marah. "Kenapa kau berpakaian seperti ini?!"

Snow menatap lurus ke dalam mata kelabu Arthur, lalu menjawab dengan nada datar yang terkesan menyindir, "Istrimu tersayang yang memberikannya padaku."

Arthur mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk dalam hati. Seandainya saja makan malam di aula utama tetap berlangsung tadi, ia tidak sanggup membayangkan bagaimana keindahan tubuh wanita ini akan menjadi konsumsi pandangan banyak bangsawan lain. Arthur tidak akan pernah rela. Jangankan membiarkan orang lain melihatnya, mengikhlaskan Snow menjadi milik pria lain saja sudah membuat Arthur merasa ingin mengubur dirinya hidup-hidup.

"Ganti pakaianmu," perintah Arthur tegas dengan napas yang memburu. "Dan jangan pernah sekali pun memakai pakaian seperti ini lagi!"

Snow tidak bergerak. Ia justru memiringkan kepalanya tipis, menyunggingkan senyum samar yang provokatif. "Kenapa? Kau tergoda?"

Deg.

Jantung Arthur serasa berhenti berdetak sejenak. Pria itu meneguk ludahnya dengan kasar, memalingkan wajahnya sekelumit untuk menyembunyikan kekacauan di matanya.

"Aku? Tergoda?" bisik Arthur dengan suara gemetar yang dipaksakan dingin. "Kau sudah dimiliki oleh pria lain, Snow. Aku sama sekali tidak berhasrat melihat aset milik orang lain."

Perkataan itu keluar begitu mulus dari bibir Arthur, sebuah kedustaan besar untuk menyelamatkan harga dirinya yang tersisa.

Snow terkekeh sinis, matanya mengkilat oleh kepahitan. "Tentu saja kau memang tidak akan tergoda padaku. Kau sudah memiliki istri. Istri yang begitu cantik dan sempurna, sampai-sampai kau melupakan keberadaanku."

Deg.

Kau salah besar, Snow... raung batin Arthur yang menjerit kesakitan. Kenyataan di dalam dadanya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari apa yang terucap di mulutnya.

"Tentu saja," sahut Arthur dengan nada dingin yang kejam. "Dia sangat pandai memuaskanku di atas ranjang. Aku bahkan tidak pernah mendapatkan kepuasan sejauh itu darimu."

Deg.

Kata-kata itu menghantam Snow bagai hantaman godam yang menghancurkan seluruh benteng pertahanannya. Niat awal Snow malam ini memang untuk menggoda Arthur—ia bahkan telah mencampurkan obat tidur dosis ringan ke dalam minuman Savea agar wanita itu tertidur lelap hingga pagi.

Namun mendengar pujian Arthur tentang "kepuasan" yang ia dapatkan dari Savea, harga diri Snow hancur berkeping-keping. Amarah dan rasa cemburu yang membakar memutus kendali dirinya.

"Apa kau bilang?!" potong Snow dengan napas memburu, matanya menyala tajam menatap Arthur. "Tidak puas?! Sialan kau, Arthur!"

Arthur tertegun sejenak. Sorot matanya mengunci wajah Snow yang memerah oleh amarah. "Kau... bahkan sudah bisa mengumpat sekarang, Snow."

Snow mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya.

"Waktu memang mengubah seseorang," lanjut Arthur dengan nada suara yang perlahan melunak, sarat akan kepedihan melankolis.

Snow mengangguk setuju, matanya yang basah menatap tepat ke dalam manik mata Arthur. "Ya... waktu memang mengubah seseorang. Bahkan cinta seseorang pun akan ikut berubah dan membusuk seiring berjalannya waktu. Sama seperti dirimu yang melupakan aku begitu saja, Arthur."

"Aku sama sekali tidak melupakanmu, Snow!"

Teriakan bergetar Arthur memecah keheningan koridor. Pria itu tidak terima lagi dituduh begitu kejam. Seluruh pertahanan dan topeng dinginnya runtuh seketika.

"Sama sekali tidak!" sergah Arthur dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca. "Kau yang menghilang! Kau yang pergi meninggalkanku! Lima tahun lalu kau pergi begitu saja tanpa menyisakan satu lembar surat pun! Lima tahun lalu kau melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun! Demi Tuhan, Snow... demi Tuhan, aku sama sekali tidak pernah melupakanmu!"

"Kau bohong!" jerit Snow pelan namun tajam, air mata akhirnya menetes melintasi pipinya. "Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan pernah menikahi wanita itu! Kau pria brengsek, Arthur!"

Arthur maju satu langkah secara mendadak, memotong seluruh jarak di antara mereka hingga dada tegapnya menempel rapat pada tubuh Snow. Tangannya terangkat, mencengkeram kedua bahu wanita itu dengan cengkeraman erat namun penuh kelembutan yang terdesak.

"Kau boleh mengataiku pembohong! Kau boleh membenciku setinggi langit!" bisik Arthur dengan suara tercekik, menatap langsung ke dalam jiwa Snow. "Tapi demi Tuhan... aku hanya mencintaimu, Snow. Hanya kau!"

Pengakuan tulus yang terlontar dari relung jiwa Arthur meruntuhkan sisa logika di antara mereka. Bukannya Arthur yang memulai, melainkan Snow yang pertama kali melepaskan kendali.

Secara impulsif, Snow meraih tengkuk Arthur dan menarik wajah pria itu turun, mendaratkan bibirnya dengan panas dan penuh dahaga di atas bibir Arthur.

Ciuman itu pecah.

Sebuah tautan bibir yang panas, liar, dan dipenuhi oleh kerinduan lima tahun yang terpendam. Arthur merintih rendah di dalam tenggorokannya. Rasa memiliki yang sempat meredup kini meledak menjadi gairah yang tak tertahankan. Arthur merengkuh pinggang halus Snow, mengangkat tubuh wanita itu, dan mendorong pintu kamar bayi hingga terbuka, lalu menguncinya rapat dari dalam.

Di dalam kamar yang temaram itu, di bawah pendar remang lampu tidur, sebuah percintaan panas dan membara pecah di antara mereka.

Kamera CCTV di sudut atas ruangan berdiri kaku—menjadi saksi bisu tak bersuara atas penyatuan kembali dua jiwa yang terpisah oleh takdir dan kebohongan.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, suara desahan berat dan sarat akan kepasrahan meluncur keluar dari tenggorokan sang calon penguasa saat penyatuan mereka terjadi.

"Snow... ah, Snow..." desah Arthur liar, menyuarakan nama wanita yang paling ia puja di dunia ini.

Penyatuan malam itu berlangsung gila dan tanpa kendali. Arthur seolah kehilangan akal sehatnya. Dengan gairah yang membakar, pria itu menandai setiap jengkal kulit mulus Snow dengan ciuman dan hisapan yang pekat—meninggalkan ruam-ruam merah di area leher, bahu, dada, dan tempat-tempat tersembunyi yang tak terlihat oleh baju luar.

Arthur tidak memberikan ampun sedikit pun pada tubuh wanita yang amat ia rindukan ini.

"Kau hanya milikku, Snow..." bisik Arthur posesif di telinga Snow, mengunci jemari wanita itu di atas kasur. "Hanya milikku... tak akan kubiarkan pria mana pun menyentuhmu lagi!"

Snow tidak tinggal diam. Ia membalas cengkraman Arthur, melingkarkan kakinya di pinggang tegap pria itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran gairah yang menghancurkan seluruh dinding dendamnya.

Gelombang pelepasan pertama menghantam mereka dengan sangat hebat, menyisakan napas yang memburu dan peluh yang membasahi tubuh yang bertaut rapat.

Jam demi jam berdenting lambat. Suara bisikan halus dan desahan napas yang tertahan memenuhi sudut kamar.

Sesekali, di tengah pergulatan gairahnya, Arthur menatap khawatir ke arah boks bayi di sudut ruangan. Pria itu cemas jika gejolak gairah mereka akan mengusik tidur lelap Ocean.

Namun di balik kecemasan itu, ada kepuasan terlarang yang membakar jiwanya—mendesahkan nama wanita yang paling dicintainya tepat di depan anaknya, sementara istri sahnya tertidur lelap akibat obat tidur di kamar sebelah.

Penyatuan kembali terjadi untuk kesekian kalinya, makin dalam dan makin intens, seolah mereka ingin menghapus jarak lima tahun dalam satu malam yang singkat.

...****************...

Ketika fajar hampir menyingsing, Snow terbaring lelah di dalam dekap erat Arthur. Tubuhnya terasa begitu lemas, dan matanya mulai memberat oleh rasa kantuk yang luar biasa.

Di tengah kepasrahan dan keletihan fisiknya, Snow perlahan-lahan melepaskan seluruh beban berat di hatinya. Satu tahun lalu, ia sempat mengutuk Arthur karena mengira pria itu telah sepenuhnya melupakannya dan memutuskan untuk menjalani prosedur bayi tabung bersama Savea.

Namun kini, saat napas hangat Arthur berembus lembut di lehernya dan kesadaran Snow perlahan memudar memasuki alam mimpi, memori satu tahun lalu berputar kencang di benaknya—membuka tabir rahasia terbesar yang menyatukan mereka.

Kenyataan sebenarnya tentang Ocean Sterling Blackwood mendadak mencuat jelas. Ocean bukan sekadar bayi tabung atau anak yang lahir dari kebohongan. Ocean adalah darah daging murni dari Snow... sekaligus putra kandung biologis dari Benedictus Arthur Blackwood.

...DUARRR!...

...----------------...

Minta Tolong tinggalkan Komentarnya Kak Readers 🌷

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!