Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Ophelia menguap. Ia terbiasa mengantuk di dalam kelas tapi hari ini rasanya benar-benar parah karena tadi malam dia tidak tidur sama sekali. 

Yah, setiap orang yang diundang ke pestanya Kaiser pasti begitu juga sih. 

Untungnya besok sabtu dan sekolah libur. Ophelia bisa istirahat sepuasnya nanti.

Airin terlihat tertidur di bangkunya ketika jam istirahat datang. Keenan—si ketua kelas terlihat mencuci muka entah keberapa kali sembari terus membeli kopi. 

Dia bahkan membeli lebih untuk diberi pada Ophelia.

Pemuda itu baik sekali, dia bahkan memberi beberapa suplemen kesehatan juga roti yang katanya dia buat sendiri.

Kapan dia punya waktu untuk membuat ini?

Yah, tapi Ophelia memiliki hal penting lain yang mesti ia pikirkan. Gadis itu menghela napas dan mengambil pulpennya, memutarnya seperti biasa. 

Selingkuhan Yelena adalah Ayahnya Reine ya?

Keluarga Maharaja hanya berada satu tingkat dibawah Mahawirya. Meskipun sekarang mereka memiliki hubungan yang baik-baik saja, tapi sudah menjadi rahasia umum kalau mereka masih menjadi rival dalam bisnis. 

Situasi ini sama gawatnya ketika Yelena punya hubungan dengan Aidoneus dulu. 

Pasangannya adalah orang yang memiliki kekuasaan tinggi. Akan sulit bagi Ophelia untuk menjatuhkannya jika dia masih memiliki backingan CEO begitu.

Terlebih lagi Reine—gadis yang seakan tidak peduli dengan nyawa orang lain itu adalah anaknya. Ayahnya mungkin memiliki kepribadian yang jauh lebih buruk.

Tapi tunggu, apa Reine sadar akan simpanan Ayahnya?

Ophelia menyipitkan mata. Mungkin Chelsea tahu akan hal itu. 

“Lia.” 

Ophelia hampir tersentak. Bukannya tadi Airin masih tidur? 

“Kapan kamu bangun?” 

“Barusan,” ujarnya sembari tetap menyandarkan kepala pada meja. “Aku kepikiran sama nilaiku. Kalau tengah semester nanti nggak naik Bunda bilang aku nggak boleh keluar rumah.” 

Ophelia menyimpan pulpennya. “Besok libur ‘kan ya? Kita bisa belajar di rumahmu. Kalau besok nggak bisa mungkin hari minggunya?” 

“Serius?” Airin langsung sumringah. 

Padahal Ophelia sudah sering berkunjung ke sana, kenapa dia terlihat senang sekali?

Ophelia juga bisa sekalian bertanya tentang keluarga Maharaja. Airin yang dekat dengan Kaiser pasti memiliki beberapa informasi yang bisa ia gunakan nanti.

Tapi sekarang ia mesti mencari seseorang dulu. 

“Kamu mau kemana?” tanya temannya. 

“Ke kelasnya kak Chelsea. Ada yang mau aku tanyain.” 

Ophelia berbalik, menatap temannya sebentar. “...kamu mau ikut?” 

Airin tersenyum. “Mau.” Tapi kemudian rengutan terlihat di wajah itu. “Tapi aku ngantuk.” 

“Tidur aja sana.” Ophelia menepuk pucuk kepala Airin pelan. “Aku nggak bakal lama.” 

“Hati-hati~”

Dengan kopi di tangan, Ophelia pergi ke gedung anak kelas tiga—namun kelihatannya Chelsea tidak ada di kelasnya. 

“Dia pergi sama ketos tadi.” 

Reine? 

“Nggak tau mau pergi kemana. Toilet mungkin?” 

Ophelia menyipitkan mata. Kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak begini?

...****************...

Chelsea melihat pantulan dirinya di cermin kemudian mengeluarkan lip balm dan memakainya tipis-tipis di bibir. 

“Kamu mau?” tawarnya pada Reine. 

Tapi gadis di sebelahnya itu hanya menatap air yang mengalir di wastafel dalam diam. Dia tidak mencuci tangan atau sesuatu, hanya melamun.

Entah kenapa… perasaan Chelsea tiba-tiba memburuk. 

“Kamu ada masalah? Mau cerita?” 

Reine tersenyum dan mematikan keran air itu. “Ada sih. Aku baru tahu sesuatu—hal gila yang ayahku lakukan dan kayaknya aku agak… marah soal itu?”

Perselingkuhan kepala keluarga Maharaja dengan Ibunya kah? 

“Jadi kamu udah tau ternyata,” gumam Chelsea. “Aku juga benar-benar kaget soal ini. Ibuku, aku kira mereka berdua—”

Prang!!!

Reine menjatuhkan barang kecil di atas wastafel itu secara sengaja. Dia menghela napas kesal. 

Oke. Ini mulai gawat. 

“Reine?” panggil Chelsea. 

Gadis itu bergumam. “Kenapa?”

“Hei, tenang dulu—”

“Kenapa?!”

Reine mulai merusak barang-barang di sana dengan membabi buta. Chelsea mundur perlahan ke arah pintu keluar—ia tidak sebodoh itu untuk menenangkan amukan gadis di depannya.

Chelsea bisa terkena masalah. 

Terkena masalah berarti hukuman dari ayahnya, ia tidak mau—

“Kak.” 

“Lia!”

Ophelia melihat situasi dan menarik Chelsea untuk keluar dari toilet, namun Reine yang sadar akan hal itu langsung menatap Ophelia dengan penuh dengan kebencian. 

“Ini salahmu!” 

Chelsea langsung menyipitkan mata. Kenapa malah jadi Ophelia? 

Adiknya itu langsung berdiri di depan Chelsea ketika Reine berlari ke arah mereka dan mencekik Ophelia saat itu juga. Dia sempat melawan, memukul lengan Reine beberapa kali untuk membuat cekikannya terlepas tapi tidak berhasil.

Chelsea yang ada di sana mencoba untuk menjauhkan Reine—melepaskan genggaman itu dari leher adiknya.

“Dia kenapa?” tanya Ophelia sembari mengatur napas. Ia melihat Reine yang masih mengamuk di pelukan kakaknya. 

Dia terus berteriak kalau ini semua salah Ophelia atau sesuatu. 

Chelsea menggeleng dan mencoba menenangkan Reine yang mulai berteriak dan menangis. Kenapa bisa begini? Apa Reine seterpukul itu? 

Suara langkah kaki yang tergesa terdengar dari lorong di luar kamar mandi. Seorang guru perempuan terlihat membulatkan mata melihat situasi. 

“Ada apa ini?!”

Baguslah. Chelsea menghela napas lega. Kalau ada guru mereka akan baik-baik saja—

“...Ophelia?” 

Adiknya itu terlihat terduduk lemas dengan wajah yang pucat. 

...****************...

Ia memukul Reine. 

Ophelia menatap lantai UKS di depannya dengan kosong. napasnya mulai berat, dengan jantung yang serasa dipompa untuk keluar. 

Ia benar-benar membuat luka sekarang. Ophelia bahkan bisa melihat lebam bekas pukulannya di lengan gadis itu. 

Di hari ini, di masa lalu Randi membunuhnya karena dia membuat Reine terjatuh. Sekarang apa yang akan terjadi? 

Apa Ophelia akan mati lagi? 

“Sudah kubilang bukan Ophelia yang memulai perkelahiannya, Reine yang tiba-tiba mengamuk dan menyerangnya lebih dulu,” jelas Chelsea pada Ibu guru itu entah untuk yang keberapa kali.

Guru di sana hanya menatap nanar pada Ophelia, seakan tidak percaya. Di pelukannya Reine yang masih menangis terus menjelaskan kalau dia melakukan itu murni karena pembelaan karena Ophelia yang lebih dulu memukulnya. 

“Kamu kakak angkatnya ‘kan? Kamu pasti membela adikmu itu,” ucap guru di sana sembari berusaha menenangkan Reine. “Orangtua kalian sudah dipanggil, Pak Pratama akan datang sebentar lagi.” 

Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Mereka dibawa ke ruang BK. Chelsea yang mencoba agar tidak panik menarik napas beberapa kali—mencoba menenangkan dirinya yang mulai gemetaran.

Gawat. Situasi ini benar-benar gawat. 

Ayahnya sudah menegaskan berkali-kali untuk tidak membuat masalah, tapi dia malah—apa yang akan terjadi? Hukuman apa yang akan Ayahnya berikan pada mereka? 

Ia langsung menghampiri Ophelia yang terlihat melamun dengan napas tak karuan. Wajahnya masih benar-benar pucat. 

“Airin,” ucap Chelsea cepat sembari memegang kedua bahu adiknya. “Kamu langsung pergi ke rumah Airin. Menginap di sana selama beberapa hari. Aku yang bakal jelasin soal ini ke Ayah, oke?” 

Ophelia bertanya pelan. “...Kakak gimana?” 

“Nggak apa-apa.” Chelsea mencoba tersenyum. “Ayah bilang sebentar lagi aku—”

“Chelsea. Ophelia.” 

Tamat sudah.

Chelsea hanya bisa menggigit bibir mendengar suara tegas itu. Randi Pratama—Ayah mereka sudah datang. 

“Apa yang terjadi di sini?”

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!