Saat Dewa Turun ke Dunia
"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."
Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.
Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.
Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Kadal Naga Kuno
Jian Wushuang menatap Gulungan Kuno yang berada di tangan Li Tianxuan dengan rasa penasaran yang semakin besar.
Dia sudah lama berada di Reruntuhan Kuno, tetapi belum pernah melihat teknik yang mampu membuat sebuah Gulungan Kuno mengakui seseorang dengan begitu mudah.
Apalagi nama teknik tersebut.
Tarian Pembunuh.
Nama yang terdengar sederhana, tetapi entah mengapa memberikan perasaan yang sangat mengerikan.
Jian Wushuang akhirnya tidak mampu menahan rasa penasarannya.
"Biarkan aku melihat sedikit gerakannya."
Li Tianxuan mengalihkan pandangannya.
Jian Wushuang tersenyum.
"Aku ingin tahu seperti apa teknik yang kau dapatkan. Apakah benar-benar menari sambil membunuh?"
Li Tianxuan terdiam beberapa saat. Kemudian dia berkata dingin.
"Jika Senior tidak menginginkan Pil Pelebur Jiwa, maka aku akan mengambil semuanya sendiri."
"Kau..."
Jian Wushuang menunjuk Li Tianxuan dengan wajah tidak percaya.
"Kau... Kau... Kau!"
Dia akhirnya menghela napas panjang.
"Baiklah, baiklah!"
Jian Wushuang menggelengkan kepalanya.
"Kau benar-benar licik."
Li Tianxuan tidak menjawab.
Jian Wushuang sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan teknik tersebut.
Tujuannya sejak awal hanyalah Pil Pelebur Jiwa.
Dan saat ini, hampir seluruh murid dari berbagai faksi yang memasuki Reruntuhan Kuno juga mengincar benda yang sama.
Bukan Giok Serpihan Jiwa Dewa.
Melainkan—
Pil Pelebur Jiwa.
Jian Wushuang bahkan tidak tahu apakah dirinya mampu mendapatkan pil tersebut seorang diri. Karena itulah dia membutuhkan Li Tianxuan. Pemuda ini akan menjadi umpan terbaik untuk menarik perhatian para murid lainnya.
"Ikuti aku."
Jian Wushuang berbalik dan mulai berjalan.
Li Tianxuan mengikutinya tanpa banyak bertanya.
Namun arah yang mereka tuju bukanlah tempat dimana sebelumnya Li Tianxuan melihat para murid bertarung.
Sebaliknya, Jian Wushuang membawa Li Tianxuan semakin dalam menuju bagian belakang altar.
Mereka terus berjalan.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Setengah jam berlalu.
Hingga akhirnya, mereka sampai di ujung altar.
Di depan mereka terdapat sebuah batu raksasa yang menutupi sebuah jalan sempit.
Jian Wushuang berhenti.
"Disini."
Li Tianxuan mengamati batu tersebut.
"Bagaimana kau bisa mengetahui jalan ini?"
Jian Wushuang menoleh.
Kemudian dia menatap Li Tianxuan dengan ekspresi tidak senang.
"Bisakah kau, sebagai junior, sedikit menghormatiku sebagai senior?"
Li Tianxuan hanya diam. Tidak menjawab.
Tidak pula mengubah ekspresinya. Dia hanya menatap Jian Wushuang dengan wajah dingin.
Jian Wushuang.
"..."
Pemuda ini benar-benar membuatnya kesal.
Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun juga, dia masih membutuhkan Li Tianxuan.
"Sudahlah."
Jian Wushuang menghela napas.
Kemudian dia mengepalkan tangannya.
BOOOM!
Satu pukulan dilepaskan.
Batu raksasa yang menghalangi jalan langsung hancur menjadi pecahan kecil.
Jalan keluar pun terbuka.
Keduanya berjalan keluar.
Namun begitu menginjakkan kaki di luar altar, Jian Wushuang tiba-tiba berhenti.
Pemandangan mengerikan terbentang di hadapan mereka.
Mayat.
Mayat murid dari berbagai faksi berserakan di tanah.
Darah mengalir di antara bebatuan, membentuk genangan merah yang menyelimuti seluruh area.
Beberapa mayat bahkan sudah tidak lagi memiliki bentuk tubuh yang utuh.
Jian Wushuang terdiam.
Matanya menyapu seluruh tempat.
"Ini..."
Dia tidak menyangka pertarungan di luar altar telah berubah menjadi pembantaian.
Namun ketika pandangannya beralih kepada Li Tianxuan, Jian Wushuang kembali terkejut.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada rasa jijik.
Tidak ada keterkejutan.
Li Tianxuan hanya berdiri diam. Wajahnya tetap dingin. Tatapannya bahkan tidak berubah sedikit pun. Seolah-olah pemandangan seperti ini adalah sesuatu yang sudah biasa baginya.
"Bagaimana mungkin..."
Jian Wushuang bergumam.
Dia tahu usia Li Tianxuan belum genap dua puluh tahun.
Pemuda seusianya seharusnya masih memiliki rasa takut ketika melihat begitu banyak mayat.
Namun Li Tianxuan berbeda.
Jian Wushuang tidak tahu apa yang telah dialami pemuda itu selama sepuluh tahun terakhir.
Dia tidak tahu berapa kali Li Tianxuan menghadapi kematian. Tidak tahu berapa banyak binatang buas yang telah dia bunuh.
Tidak tahu berapa kali dirinya sendiri hampir mati.
Dan terlebih lagi...
Dia tidak tahu bahwa Li Tianxuan telah kehilangan seluruh keluarganya dalam satu malam.
Selama sepuluh tahun—Kematian telah menjadi bagian dari kehidupan Li Tianxuan.
Nyawa bukanlah sesuatu yang asing baginya.
Pertarungan hidup dan mati adalah sesuatu yang telah dia jalani berkali-kali.
Sesuatu yang seharusnya tidak dialami seorang anak... Justru telah menjadi kehidupan sehari-harinya.
Li Tianxuan berjalan melewati mayat-mayat itu. Langkahnya tidak berhenti. Tatapannya tetap dingin.
Grauuurrrr!!
Auman mengerikan tiba-tiba mengguncang seluruh area.
Li Tianxuan dan Jian Wushuang berhenti. Keduanya menoleh ke arah yang sama.
"Auman itu..."
Jian Wushuang menyipitkan mata.
Li Tianxuan tidak mengatakan apa-apa.
Keduanya langsung bergerak.
WUSHHH!
Tubuh mereka melesat melewati pepohonan.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah lembah.
Pemandangan di depan mata mereka membuat Jian Wushuang langsung mengerutkan alis.
Di tengah lembah—Seorang gadis sedang bertarung melawan seekor makhluk raksasa.
Seekor Kadal Naga Kuno.
Tubuhnya ditutupi sisik hitam kehijauan. Sepasang tanduk tumbuh di kepalanya.
Auranya sangat mengerikan.
Namun yang paling menarik perhatian Li Tianxuan bukanlah makhluk tersebut. Melainkan gadis yang berdiri di hadapannya.
Rambut hitam panjangnya telah berantakan.
Pakaian merah mudanya telah dipenuhi darah. Pedang di tangannya bahkan sudah berubah menjadi merah karena darah.
Namun dia tetap berdiri.
Tidak mundur.
Tidak menyerah.
Gadis itu adalah—Liu'er.
Jian Wushuang langsung mengerutkan kening.
"Liu'er!"
Di sisi lain, tatapan Li Tianxuan membeku.
Untuk sesaat—Suara di sekelilingnya menghilang. Auman Kadal Naga Kuno.
Suara pedang.
Bahkan suara Jian Wushuang.
Semuanya lenyap.
Yang tersisa hanya satu sosok.
Ibunya.
Dalam ingatannya, sosok ibunya berdiri di tengah Kota Tai. Tubuhnya perlahan berubah menjadi abu. Wajah yang dahulu selalu tersenyum kepadanya... Kini perlahan menghilang.
"Ibu..."
Li Tianxuan memegang kepalanya. Napasnya mulai memburu. Jantungnya berdetak semakin keras.
Duk! Duk! Duk!
Gambaran masa lalu terus muncul dalam pikirannya.
Ibunya.
Ayahnya.
Kakaknya.
Kota Tai.
Dan sosok Dewa yang berdiri di atas langit.
Kemudian—Satu kata kembali menggema dalam ingatannya.
Lenyap.
"Berhenti..."
Li Tianxuan mengepalkan tangannya. Tubuhnya sedikit gemetar.
Jian Wushuang langsung menyadari sesuatu yang tidak beres.
"Tianxuan?"
Li Tianxuan tidak menjawab.
"Tianxuan, kau baik-baik saja?"
Jian Wushuang melangkah mendekat.
Namun sebelum dia sempat melakukan apa pun—
WUSHHH!
Li Tianxuan tiba-tiba mengeluarkan pedangnya. Energi Spiritual meledak dari tubuhnya.
Tatapannya berubah. Bukan lagi tatapan pemuda yang tenang, datar dan dingin itu.
Melainkan tatapan seseorang yang sedang dipenuhi kebencian.
Dia menatap Kadal Naga Kuno itu. Namun dalam pandangannya—Yang berdiri di hadapannya bukanlah seekor kadal.
Melainkan sosok Dewa yang telah menghancurkan kehidupannya.
"Dewa terkutuk..." Li Tianxuan menggertakkan giginya.
Jian Wushuang membelalakkan mata.
"Tianxuan!"
Namun Li Tianxuan sudah bergerak.
BOOOM!
Tanah di bawah kakinya pecah. Tubuhnya melesat seperti anak panah. Pedangnya terangkat tinggi. Tatapan dinginnya dipenuhi niat membunuh.
"Matilah!"
Tebasan pedangnya meluncur ke arah Kadal Naga Kuno.
"Dewa terkutuk!"
Kadal Naga Kuno meraung keras.
GRAAAUUURRR!!
Cakarnya terangkat untuk menghantam Li Tianxuan.
Namun tepat ketika kedua kekuatan itu hendak bertabrakan—Liu'er tiba-tiba melihat sosok Li Tianxuan.
Matanya membesar.
"Pemuda itu?"
Untuk pertama kalinya, gadis yang biasanya dingin itu memperlihatkan kepanikan.
Sementara itu, Li Tianxuan sama sekali tidak mendengar suaranya. Di matanya hanya ada satu hal. Kebencian yang telah terkubur selama sepuluh tahun.