Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi yang melukai
Ali memandang pilu sang adik yang kini sudah benar- benar hancur. Tubuh Nisa kini masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Ali bahkan tidak percaya kecelakaan itu menimpa adiknya yang baru kemarin dia lihat senyum bahagia terpancar di wajahnya.
"Ya Allah aku mohon... Jangan lah Engkau mengambil nyawa adikku sekarang. Aku bahkan belum sempat membahagiakannya" pinta Ali dengan tangan menengadah ke atas. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan takdir sang maha kuasa selain berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan sang adik yang kini masih terbaring lemah dengan peralatan medis yang terpasang di kedua tangannya serta kepalanya.
Sedangkan di kamar inap lainnya. Tampak Rangga yang sudah membuka matanya, namun yang menyambutnya bukan cahaya. Hanya kegelapan yang pekat.
"Pak, apa bapak bisa dengar saya?" suara seorang pria yang tidak dikenalinya terdengar
"Saya Dokter yang bertugas merawat bapak. Oh ya, apa bapak bisa melihat saya?" tanya sang dokter saat tatapan Rangga terlihat kosong.
"Tidak, semuanya gelap. Apa yang terjadi dengan saya Dokter?"
Sang dokter bersegera memanggil dokter Oftalmologi begitu mendengar keluhan pasiennya.
Dokter Oftalmologi menyorotkan penlight ke matanya Rangga yang langsung memejam karena sakit.
"Sepertinya kecelakaan yang menimpa bapak membuat ada benda asing yang masuk ke mata bapak saat benturan terjadi. Hasil pemeriksaan awal Bapak mengalami trauma tembus kornea bilateral disertai ulkus kornea dan hipema — pendarahan di bilik mata depan. Ada juga luka robek kornea sepanjang hampir 6 mm di mata kanan." jelas sang Dokter
Rangga terdiam. Tangannya mengepal di atas seprai.
"Apa itu berarti saya buta sekarang?" tanya Rangga pelan yang bahkan tidak bertenaga.
"Bisa dibilang iya, pak. Tapi ada kemungkinan bapak sembuh jika mendapatkan donor kornea mata yang cocok"
Rangga kembali terdiam. Apa yang bisa dilakukannya sekarang selain dari diam dan menerima nasib. Dia buta sekarang dan berharap akan ada pendonor yang cocok untuknya segera.
Mata yang kini gelap hanya mampu berurai air mata saat ingatannya kembali ke saat dimana dia memandang wajah istrinya yang penuh dengan kesakitan, baik fisik maupun hati. Rangga bahkan menyesal akan jawabannya yang dengan lantang di ucapkannya tidak mencintainya istrinya Annisa. Jawaban spontan yang jelas sangat melukai Nisa yang mendengarnya.
"Maafkan aku, Annisa" gumam Rangga pilu di ruang rawat rumah sakit yang dipenuhi dengan bau desinfektan.
"Kini aku sadar bahwa rasa yang ku miliki untukmu merupakan sebuah rasa cinta. Aku mencintaimu Annisa. Dimana kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja dengan bayi kita? Aku harap kalian sehat- sehat saja" lanjutnya masih bergumam pelan dalam kesendiriannya. Rangga tidak memiliki siapa siapa, orangtuanya sudah meninggal, sedangkan dia anak tunggal. Dan sekarang dia bahkan tidak tahu dimana istrinya dan kekasihnya yang bahkan tidak menunjukkan diri
🍀🍀🍀
"Tidak! Kakak tidak akan menyetujuinya. Hidup kamu sudah hancur oleh pria itu dan sekarang apa?!" Ali meraup wajahnya kasar, tak mengerti dengan jalan pikiran adiknya.
"Kau ingin mendonorkan kornea matamu untuk pria itu. Jangan bodoh Annisa!" lanjutnya dengan mata merah berair. Dia tidak habis pikir dengan pilihan yang adiknya tawarkan.
"Tapi hanya ini satu-satunya cara untukku menebus kesalahanku kak. Mas Rangga tidak salah, aku yang seharusnya salah. Aku yang telah menghancurkan masa depannya" ujar Nisa mencoba menjelaskan sebaik mungkin pada sang kakak kalau apa yang dilakukannya adalah yang terbaik untuknya.
"Lalu bagaimana dengan masa depanmu? Apa kamu tidak berpikir! Kamu akan hidup dalam kegelapan selamanya adikku!" Ali menahan air matanya yang ingin meluncur. Dia tidak habis pikir dengan sang adik.
Bagaimana bisa adiknya itu terus saja memikirkan Rangga. Annisa baru saja tersadar setelah hampir seminggu koma. Dan yang pertama kali wanita itu tanya adalah dimana bayinya saat tangannya menyentuh perutnya yang sudah rata yang berarti bayinya tidak lagi bersemayam di sana.
"Kak, dimana bayiku?" tanya Nisa khawatir, perasaannya merasa tidak enak.
Ali terdiam, tidak mampu untuk menjawab pertanyaan sang adik. Bagaimana dia akan menjawab? Apa dia harus mengatakan kebenarannya, kalau Nisa mengalami keguguran akibat benturan keras pada perutnya, itulah sebabnya Nisa mengalami kesakitan yang luar biasa di perutnya saat kecelakaan. Apa Ali harus menjawab seperti itu dan membuat adiknya semakin terluka bahkan disaat luka sebelumnya belum sembuh?
Tapi apa yang bisa dibuat. Ali tidak punya pilihan, dia akan lebih merasa tidak mampu untuk membohongi adiknya itu. Hingga akhirnya mulutnya terpaksa memberitahu Nisa kebenarannya.
Dan seperti yang sudah ditebak oleh Ali. Air mata kembali membasahi wajah Nisa saat mengetahui buah hatinya pergi bahkan sebelum sempat lahir ke dunia ini.
"Insha Allah aku akan baik-baik saja kak. Sekarang aku ingin menata kembali hidupku kak! Aku hancur karena begitu mencintai makhluk ciptaan Allah hingga menjerumuskanku ke dalam dosa besar, dan sekarang aku ingin mengubah haluanku. Allah telah memberikanku kesempatan kedua, aku ingin bisa lebih dekat dengan Tuhanku. Mungkin mas Rangga memang bukan jodohku, dia tidak ditakdirkan untukku. Tapi obsesiku membuatku gelap mata hingga membuatnya gagal mewujudkan masa depan yang telah disusunnya dengan indah... Aku ini hanya penghalang hubungannya dengan mbak Tiwi, dan kini aku ingin menyerahkan sesuatu yang setimpal untuk permintaan maafku yang telah merusak rencana masa depannya" tutur Nisa cukup panjang dengan suara lirih kesakitan. Dia masih tidak sanggup untuk menerimanya tapi dia akan mencobanya semampunya.
"Apa kamu bilang! Merusak rencana masa depannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan Nisa! Dan kamu merasa dirimu yang telah merusak masa depannya. Itu jelas salah! Karena itu memang sudah takdirnya" sahut Ali menjelaskan dengan sedikit nada marah dalam suaranya.
"Kakak benar, tapi semuanya terjadi melalui diriku, kak! Dan aku ju__" perkataan Nisa segera di potong oleh Ali
"Juga apa? Kamu mau bilang, pria itu pantas mendapat matamu setelah dia membuatmu hancur seperti ini?"
"Mungkin ini sudah takdirku, kak. Jadi, aku mohon, kak! Izinkanlah aku mendonorkan mataku untuk mas Rangga, dan Insha Allah... Allah akan memberikan hal lain yang lebih baik untukku. Aku juga janji akan berusaha melupakan Mas Rangga dan masa laluku yang pahit." Nisa mencoba menjelaskan dengan lembut pada sang kakak yang kini berang akan keputusannya.
Siapa yang akan menerima begitu saja keputusan gila yang dibuat oleh Nisa? Siapa yang akan rela memberikan cahayanya pada orang yang jelas-jelas menghancurkannya? Ya, tidak ada orang waras selain Nisa yang mau melakukan itu semua. Ali memejamkan matanya tak tau harus menjawab apa. Di satu sisi dia tidak ingin sang adik kehilangan penglihatannya, dan di sisi lainnya Ali juga ingin Nisa segera melupakan pria yang selalu membuatnya terluka.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean