Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Di Antara Rasa Takut dan Kesunyian

Ekaterina

1 Minggu Kemudian...

Aku terbangun dengan nyeri hebat di perut.

Begitu hebat sampai aku nyaris tak bisa turun dari ranjang.

Mual itu naik tiba-tiba, mendera.

Aku berlari ke kamar mandi, tapi tak sempat.

Semuanya kumuntahkan.

Sekujur tubuhku gemetar sementara aku bertumpu pada wastafel, berusaha bernapas.

Ketika akhirnya aku bisa mengangkat wajah, kulihat Lis berdiri di ambang pintu.

Ketakutan.

Mata kecilnya membelalak menatapku.

"Kathy... mungkin kita harus ke dokter."

Suaranya keluar pelan.

Penuh kekhawatiran.

"Kau sudah begini tiga hari."

Dia mengangkat tangan mungilnya, membentuk angka tiga dengan jari-jarinya.

Dan di saat itulah...

kenyataan menghantamku.

Haidku.

Bulan lalu tak datang.

Udara lenyap dari paru-paruku.

Sebuah dingin menjalar perlahan di sepanjang tulang belakangku.

Tidak.

Tidak.

Tak mungkin.

Ingatanku langsung kembali ke malam itu.

Hotel itu.

Viktor.

Lalu aku ingat.

Yang kedua kalinya...

dia tak memakai kondom.

Aku langsung membawa tangan ke kepalaku.

"Dasar bodoh..."

Bisikan itu keluar sarat keputusasaan.

Seharusnya aku minum sesuatu.

Seharusnya aku berpikir.

Ya Tuhan...

apa yang harus kulakukan sekarang?

Air mata sudah mengalir bahkan sebelum aku menyadarinya.

Aku tak punya pekerjaan.

Menghidupi kami berdua saja nyaris tak sanggup.

Bagaimana aku bisa merawat satu anak lagi?

Bagaimana?

Dadaku sesak begitu kuat sampai napasku mulai kacau.

Lalu kulihat keputusasaan menguasai wajah Lis.

"Aku akan panggil Bu Severina!"

Dia langsung menangis saat itu juga.

Itu menyadarkanku seketika.

Kutarik adikku ke pangkuanku meski tubuhku masih gemetar.

"Hei... hei... sudah lewat."

Kupeluk tubuh mungilnya erat ke tubuhku.

"Aku baik-baik saja."

Tapi kenyataannya...

tak pernah dalam hidupku aku merasa sehilang ini.

Aku bahkan tak punya uang untuk membeli alat tes kehamilan. Uang terakhir yang kupunya sudah kubelikan obat Lisbela untuk bulan depan. Dan makanan. Sampai sekarang aku belum juga mendapat pekerjaan baru. Kutelan tangisku dan kuajak Lis menonton TV. Dia menonton kartun, sementara aku tak melihat apa pun di depanku. Aku tak boleh mencari Viktor; dia sanggup membunuhku. Aku sama sekali tak meragukan itu. Ketakutan ini nyata. Untuk sekali periksa dokter pun aku tak punya uang. Kutaruh tangan di perutku dan berpikir. Apa yang harus kulakukan.

Lis mengayun-ayunkan kaki di sofa, sama sekali tak menyadari beban yang mengungkung dadaku. Suara televisi memenuhi rumah, tapi tak menjangkauku. Semuanya terasa jauh, seolah aku berada di luar hidupku sendiri, menatapnya lewat kaca yang kotor.

Aku tetap duduk beberapa menit tanpa bergerak.

Tanganku masih di perut.

Dan keheningan itu tak memperbaiki apa pun.

Ketika akhirnya aku bangkit, gerakanku lambat, seolah setiap gerakan menuntut lebih dari yang kupunya. Kuhampiri dapur dan kubuka kulkas; makananku cukup untuk beberapa hari ke depan, tapi cepat atau lambat itu juga akan habis.

Kututup pintunya hati-hati agar tak mengagetkan Lis.

Dia tak perlu tahu itu. Belum.

Kutatap lagi ruang tamu. Dia tertawa oleh sesuatu di kartunnya, terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.

Dan aku berpikir, untuk pertama kalinya tanpa berusaha lari dari gagasan itu:

Aku harus bertahan sampai besok.

Sampai besok saja.

Sisanya... aku belum tahu.

Kuberi Lis makan siang dan kubilang aku akan mencoba mencari pekerjaan. Kutitipkan dia pada Bu Severina, lalu kudatangi setiap toko di sekitar untuk mencari kerja. Sepanjang sore aku berjalan, tapi tak satu pun yang menerima pekerja. Aku pulang dengan lelah dan lapar. Begitu tiba di rumah Bu Severina, dia mengajakku makan kue dan kuterima. Katanya dia sudah menitip pesan pada adiknya, Gine, untukku; kalau Gine tahu ada lowongan, dia akan merekomendasikanku.

"Terima kasih."

Kuenya sederhana, tapi hangat, dan selama beberapa menit aku melupakan beban di kakiku. Bu Severina menatapku dengan tatapan orang yang memahami lebih dari yang diucapkannya.

"Kau tak perlu memikul ini sendirian, Nak," katanya, seolah itu hal yang mudah diselesaikan.

Kutundukkan pandangan, mengaduk-aduk potongan kue di piringku.

"Aku cuma butuh pekerjaan," jawabku pelan.

Dia mengembuskan napas dan membetulkan kain lap di bahunya.

"Dan kau pasti akan dapat. Tapi bukan dengan berlari-lari sepanjang hari begini kau bisa menyelamatkan dirimu."

Aku tak menjawab. Karena aku tak tahu apakah dia benar atau hanya berusaha menghiburku.

Aku duduk beberapa menit lagi di sana, sampai lelah mulai benar-benar terasa. Rasa laparku berkurang, tapi kekosongannya tetap sama.

Ketika aku pulang, Lis bertanya dengan senyum manisnya.

"Kau dapat pekerjaan, Kathy?"

Aku terhenti sejenak di ambang pintu.

Lalu tersenyum, meski tak punya apa-apa untuk kutawarkan selain itu.

"Belum, sayang. Tapi aku sedang mengusahakannya."

Dia menerimanya dengan mudahnya seorang anak dan kembali ke kegiatannya, seakan itu sudah cukup.

Tapi ketika malam tiba dan rumah kembali sunyi, aku merasakan semuanya datang lagi.

Ketidakpastian. Ketakutan. Dan sensasi terus-menerus seakan aku berjalan di atas tanah yang bisa lenyap kapan saja.

Meski begitu, aku duduk di samping Lis dan tetap di sana.

Karena, untuk saat ini, hanya itu yang kupunya.

Aku tak bisa tidur. Kuhabiskan malam itu membersihkan rumah dan mencuci baju.

Air dingin di tanganku membuatku terjaga lebih daripada pikiran apa pun. Setiap kain yang kubersihkan, setiap baju yang kuperas, seolah aku berusaha menata sesuatu di dalam diriku yang tak lagi bisa ditata. Keheningan rumah berubah bentuk menjelang dini hari — tak lagi terasa seperti istirahat, melainkan beban.

Lis tidur beberapa jam, dan itu saja sudah cukup bagiku untuk berpura-pura bahwa dunia masih punya semacam keteraturan.

Ketika dia bangun, hari sudah mulai menyingsing.

Kusiapkan sesuatu yang sederhana untuk sarapannya, berusaha tampak normal, berusaha tampak utuh.

"Kathy, kau tak tidur?" tanyanya sambil menggosok mata.

Aku memaksakan senyum sambil menaruh cangkir di meja.

"Tidur sebentar, kok. Cuma bangun kepagian."

Dia menerima jawaban itu dengan keyakinan yang hanya dimiliki seorang anak. Dia duduk dan mulai makan tanpa terburu-buru, seakan hari ini sama seperti hari-hari lain.

Tapi yang kurasakan justru sebaliknya.

Tubuhku lelah, berat, dan kepalaku terasa terlalu penuh sekaligus kosong. Semalaman aku terjaga, tapi itu tak membuatku lebih kuat.

Meski begitu, ketika kutatap Lis, aku memaksa diri untuk terus maju.

Karena berhenti bukanlah pilihan yang kupunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!