Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Harga dari Rasa Takut

Ekaterina

Aku melihat Viktor pergi dengan geram.

Langkahnya keras.

Rahangnya mengatup.

Dan sesaat, rasa bersalah yang aneh mencoba muncul di dalam diriku.

Tapi aku mengusirnya.

Karena akulah yang menangis sendirian.

Akulah yang mendengar kata-kata kejam.

Akulah yang menghabiskan malam demi malam dalam ketakutan.

Ibunya dengan lembut mengambil resep vitamin dari tanganku bahkan sebelum aku sempat berkata apa-apa.

"Ayo, sayang. Kita harus membeli obat-obatmu."

Aku hanya mengangguk.

Masih terlalu terguncang untuk berkata banyak.

Begitu kami keluar dari klinik, kusadari Viktor sudah tak ada lagi di sana.

Dan entah kenapa...

dadaku terasa sedikit sesak.

Seolah sebagian diriku sempat berharap dia mendesak sekali lagi.

Aku benci menyadari itu.

Kami menempuh jalan yang sama seperti pemeriksaan sebelumnya.

Kali ini, Pak Geraldo turun sendiri di apotek untuk membeli vitaminnya sementara aku tetap di mobil bersama Alina.

Dia menggenggam tanganku beberapa saat.

Diam.

Penuh kasih.

Seperti yang akan dilakukan seorang ibu.

Dan itu membuatku terharu lebih dari seharusnya.

Perjalanan ke rumahku terasa lebih cepat kali ini.

Mungkin karena kepalaku terlalu penuh.

Ketika mobil berhenti di depan gerbang, Alina langsung menoleh padaku.

Dia menangkup wajahku dengan lembut dan mencium keningku.

"Telepon aku kalau kamu butuh apa pun."

Apa pun.

Aku tersenyum kecil.

"Terima kasih... untuk semuanya."

Dia membelai tanganku sebelum membiarkanku keluar.

Aku masuk ke rumah perlahan.

Keheningan langsung menyambutku.

Kusimpan vitaminnya di dapur dan kuminum segelas air sebelum duduk sejenak di sofa.

Masih ada beberapa menit sebelum waktunya menjemput Lis dari sekolah.

Maka kutaruh tangan di perut tanpa sadar.

Dan tanpa kumau...

aku teringat ekspresi Viktor saat pertama kali mendengar detak jantung bayinya.

Cara dia terdiam menatap layar.

Seakan dunia berhenti berputar.

Aku buru-buru memejamkan mata.

Karena memikirkannya mulai terlalu berbahaya.

Aku menjemput Lis di sekolah pada jam biasa.

Begitu dia melihatku di gerbang, dia berlari ke arahku dengan tas ransel nyaris merosot dari bahu.

"Kathy!"

Aku tersenyum otomatis dan menggenggam tangannya selagi kami mulai berjalan pulang.

"Bagaimana sekolahmu?"

Dia mulai bercerita tanpa henti tentang sebuah kegiatan, seorang anak perempuan di kelasnya, dan gambar yang mereka buat.

Aku hanya mendengarkan.

Sesekali menyahut.

Sesekali hanya memperhatikan betapa dia tampak lebih ceria belakangan ini.

Sebelum kami masuk ke jalan rumah kami, aku bertanya:

"Kamu mau makan siang apa hari ini?"

Lis berpikir dramatis beberapa saat sebelum menjawab bersemangat:

"Pelmeni!"

Aku tertawa pelan.

"Sudah pasti kamu mau yang ada adonannya."

Dia tersenyum puas selagi kami masuk rumah.

Aku langsung menuju dapur dan mulai menyiapkan makan siang sementara Lis duduk di meja dapur memperhatikanku, diam-diam mencuri potongan-potongan kecil adonan.

"Aku lihat, lho."

Dia membelalakkan mata, pura-pura tak bersalah.

"Aku tidak ambil apa-apa, kok."

"Lisbela..."

Dia tertawa terbahak.

Suara tawanya memenuhi rumah kecil ini dengan cara yang hangat.

Dan untuk beberapa menit...

aku bisa melupakan segalanya.

Viktor.

Ketakutan.

Masalah.

Yang ada hanya aku, dia, dan rutinitas sederhana yang kami bangun bersama.

Kami makan siang dengan tenang.

Lis memuji masakanku sampai lima kali secara berlebihan hanya untuk membuatku tertawa.

Lalu kami mencuci piring bersama dan menghabiskan sepanjang sore menonton kartun di sofa.

Dia berbaring dengan kepala di pangkuanku sementara aku membelai rambutnya tanpa sadar.

Televisi menyala.

Rumah sunyi.

Dan untuk pertama kalinya sekian lama...

semua ini terasa seperti kedamaian.

Tapi kedamaian itu tak bertahan lama.

Suara dari pintu belakang langsung menarik perhatianku.

Sesuatu berbenturan.

Berat.

Salah.

Aku bangkit cepat dari sofa.

Lis pun ikut duduk, ketakutan.

"Kathy... jangan pergi."

Tapi aku tetap pergi.

Jantungku mulai berdebar keras selagi aku menyusuri lorong sempit rumah ini.

Dan di detik aku sampai dekat dapur...

aku melihatnya.

Alfredo.

Sekujur tubuhku membeku.

"Pergi."

Suaraku keluar lebih tegas dari perasaanku yang sebenarnya.

Tapi Alfredo terus berjalan ke arahku seakan sedang berada di rumahnya sendiri.

Matanya merah.

Tubuhnya limbung.

Bau alkohol yang menyengat memenuhi ruangan.

"Aku tidak akan pergi dari rumahku sendiri, dasar bocah kurang ajar."

Napas beralkoholnya menerpa langsung ke wajahku.

Aku langsung menjauh.

Tapi sebelum aku bisa keluar dari sana, Alfredo menjambak rambutku dengan keras.

Rasa nyeri tajam meledak di kepalaku.

"Ah!"

"Kulihat sekarang kamu punya uang... naik mobil ke sana kemari..."

Jantungku berpacu.

Dia tahu.

Dia melihatnya.

"Ayah bayimu itu orang kaya, ya?"

Aku mendorongnya, berusaha melepaskan diri.

"Aku tidak punya uang!"

Alfredo tertawa.

Tawa yang menjijikkan.

Berbahaya.

"Kita lihat saja apa benar tidak punya."

Dia berusaha melewatiku, menuju ruang tamu.

Menuju Lis.

Dan itu membuat kepanikan menguasai seluruh tubuhku.

Aku langsung menghadang di depannya.

"Jangan!"

Alfredo menamparku begitu keras sampai kepalaku terpelanting ke samping.

Rasa darah langsung memenuhi mulutku.

Tapi aku tak berhenti.

Karena Lis ada di belakangku.

Dan aku tak akan membiarkannya mendekat ke arahnya.

"Minggir!"

"Tidak!"

Dorongan lagi.

Tubuhku membentur dinding dengan keras.

Nyeri menjalar di punggungku dan otomatis aku melindungi perutku.

Bayiku.

Ya Tuhan.

Bayiku.

Maka aku menyerah.

Karena aku tak punya pilihan.

"Aku punya uang."

Alfredo langsung berhenti.

Dan tersenyum dengan cara kejam yang selalu membuatku ketakutan.

"Sudah kuduga."

Tanganku gemetar selagi aku menuju tasku.

Kuambil beberapa lembar uang lusuh.

Tak banyak.

Praktis semua yang kupunya.

Kuserahkan padanya.

Tapi Alfredo memandang uang itu dan malah makin murka.

"Cuma segini, dasar jalang?"

Tamparan lagi.

Lebih keras.

Aku nyaris terjatuh.

Lalu dia mendorongku ke dinding dan tangannya mencekik leherku dengan brutal.

Aku berusaha menarik napas.

Tapi tak bisa.

Keputusasaan meledak di dalam diriku.

Di ruang tamu, Lis mulai menjerit panik.

"Kathy!"

Aku berusaha mendorong Alfredo.

Berusaha bernapas.

Berusaha tak pingsan.

Lalu dengan susah payah aku berhasil bicara:

"Lari, Lis..."

Pandanganku mengabur.

"Pergi ke rumah Bu Severina... lari!"

Tapi sebelum Lis sempat bergerak...

pintu depan didobrak dengan keras.

Suaranya menggema ke seluruh rumah.

Alfredo nyaris tak sempat bereaksi.

Dua orang lelaki masuk dengan cepat dan merenggutnya paksa dari atas tubuhku.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Teriakan.

Suara perabotan berjatuhan.

Alfredo mengumpat selagi ditahan dengan brutal.

"Lepaskan aku, brengsek!"

Aku merosot menyusuri dinding sampai ke lantai, tak bertenaga.

Menghirup udara mati-matian.

Tenggorokanku terbakar.

Sekujur tubuhku gemetar.

Aku menutupi wajah dengan kedua tangan dan runtuh di sana.

Tangisku pecah keras.

Tak terkendali.

Karena ketakutan itu akhirnya meledak di dalam diriku.

Bayiku.

Ya Tuhan...

bayiku.

Lalu kurasakan Lis memelukku panik.

Tangan-tangan kecilnya menangkup wajahku.

"Kathy! Kathy!"

Dia menangis sama kerasnya denganku.

Aku langsung menariknya ke dalam pelukanku.

Kupeluk erat.

Seolah aku harus memastikan dia utuh.

Bahwa Alfredo tak menyentuhnya.

"Tidak apa-apa... tidak apa-apa..."

Tapi suaraku keluar patah.

Bergetar.

Karena tak ada yang baik-baik saja.

Kedua lelaki itu terus menahan Alfredo di lantai selagi dia berusaha melepaskan diri.

Salah satunya mengatakan sesuatu di ponsel...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!