Indonesia
NovelToon NovelToon
BUKAN ISTRI LEMAH MU LAGI

BUKAN ISTRI LEMAH MU LAGI

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.

Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."

"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."

Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.

Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"

Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.

Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"

Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Hari-hari berlalu, namun bagi Miska, setiap hari terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca yang tak pernah berakhir. Perubahan pada diri Askar semakin terlihat jelas—pria yang dulu selalu menyapanya dengan senyum hangat saat pulang kerja, kini hanya melempar tatapan dingin, sering kali berdehem kasar saat Miska menyapanya, dan bahkan jarang menyentuh tangannya saat duduk bersebelahan di ruang tengah.

Pagi itu, matahari baru saja muncul, menyinari ruang tamu yang sederhana namun selalu Miska jaga kebersihannya. Ibu Suryati, ibunya Askar, sudah duduk di sofa utama, wajahnya berkerut seolah-olah setiap benda di rumah itu selalu salah di matanya. Miska baru saja selesai menyapu lantai, keringat kecil menetes di pelipisnya, namun sebelum ia sempat meletakkan sapu, suara melengking ibu mertuanya sudah terdengar.

"Hei, Miska!" seru Ibu Suryati, suaranya penuh ketidaksukaan. "Kamu itu gerak nya lama amat sih! Seharian di rumah cuma tau bersih-bersih tapi tetap saja rumah ini bau apek. Kamu kira uang yang Askar kasi tiap bulan itu gratis? Kamu harus bekerja lebih keras, bukan cuma diam saja seperti patung!"

Miska menghentikan gerakannya, menelan ludah yang terasa pahit. "Maaf, Bu. Tadi pagi udara agak lembab, jadi lantai agak lama keringnya. Saya sudah mengepel tiga kali, Bu."

"Mengepel tiga kali tapi tetap saja kotor? Itu tandanya kamu malas dan tidak teliti!" Ibu Suryati menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, lalu menatap Miska dengan tatapan merendahkan.

"Coba lihat baju yang kamu pakai itu! Kumal dan kusut, tidak heran suamimu semakin malas melihat wajahmu. Kamu itu tidak tau berterima kasih ya? Sudah diterima menjadi istri anakku, hidup makan dan tidur di rumah ini, tapi tidak bisa memberikan kenyamanan sedikit pun!"

Miska menggenggam ujung bajunya erat, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. "Saya tidak malas, Bu. Saya bangun jam empat pagi, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, mencuci baju... Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik."

"Berusaha yang terbaik tapi hasilnya sampah begitu?" Ibu Suryati tertawa sinis. "Jangan bermuka sedih begitu di depan saya! Seolah-olah saya yang menindas kamu. Padahal kamu itu memang kurang mampu. Kalau saja dulu Askar mau mendengarkan saya, dia pasti sudah menikah dengan wanita yang berkelas, bukan wanita yang hanya bisa mengandalkan wajah polos dan tidak punya apa-apa seperti kamu!"

Miska diam, tak berani membalas lebih banyak. Ia tahu, sekalipun ia berkata benar, Ibu Suryati hanya akan semakin marah. Namun hari itu, Askar pulang lebih awal dari biasanya. Suara motornya terdengar di halaman, dan seketika itu juga, wajah Ibu Suryati berubah. Kerutan di dahinya menghilang, senyum manis terukir di bibirnya, seolah-olah wanita yang tadi memaki Miska dengan kasar itu bukan dirinya.

"Anakku pulang! Wah, pasti lelah sekali bekerja ya?" Ibu Suryati bangkit berdiri, berjalan cepat menyambut Askar di pintu, meninggalkan Miska yang masih berdiri kaku di tengah ruangan.

Askar masuk, wajahnya terlihat lelah namun ada kilatan yang berbeda di matanya—seolah ada hal lain yang membuat hatinya sibuk, hal yang jauh dari rumah ini. Ia mengangguk singkat pada ibunya, lalu matanya beralih ke Miska yang mendekat dengan niat mengambil tas dari tangannya.

"kamu Sudah makan mas, saya siapkan—"

"Sudah, tidak usah repot," potong Askar dingin, menarik tasnya sendiri agar tidak disentuh Miska.

"Saya belum lapar. Dan jangan berdiri di depan saya begitu, rambutmu berantakan, baju pun kusut. Kamu tidak pernah mau merawat diri ya?"

Hati Miska terasa seperti ditusuk. "Saya tadi lagi membersihkan rumah mas. Belum sempat merapikan diri..."

"Alasan saja," gumam Askar, berjalan melewati Miska tanpa menoleh sedikit pun. Ia duduk di samping ibunya, dan Ibu Suryati langsung mulai berbicara dengan nada yang sangat lembut, namun matanya melirik Miska dengan tatapan menang.

"Askar, sayang, kamu tahu tadi pagi Miska ini berbuat apa? Dia malas sekali, sampai-sampai lupa menyiapkan teh kesukaan Ibu. Dan dia juga berkata—katanya Ibu terlalu banyak menuntut padahal dia hanya tinggal diam di rumah seharian," ujar Ibu Suryati dengan nada sedih, seolah-olah ia adalah korban di sini.

Miska terkejut, segera maju selangkah. "Itu tidak benar, Bu! Saya tidak pernah bilang begitu pada Ibu! Ibu yang tadi memaki saya karena lantai belum kering—"

"Sudah! Diam kamu!" bentak Askar, menatap Miska dengan marah. "Kamu itu kenapa selalu saja mencari masalah dengan Ibu? Setiap kali saya tidak ada, pasti ada saja keributan. Ibu sudah tua, kamu harus menghormatinya, bukan malah menuduh dan berbohong!"

"Saya tidak bohong mas! Tadi Ibu bilang saya wanita yang tidak berkelas, bilang saya hanya makan dan tidur di sini... Saya sudah bekerja keras seharian di rumah, tapi Ibu tidak pernah puas," suara Miska bergetar, air mata akhirnya jatuh juga.

Askar menggeleng kasar, wajahnya penuh kekecewaan yang tidak masuk akal. "Selalu saja kamu yang jadi korban. Padahal Ibu selalu baik padamu. Lihat saja, setiap saya pulang, Ibu selalu memuji-muji kamu di depan saya. Kamu ini yang tidak pernah bisa menghargai kebaikan orang lain."

"Memuji?" Miska tertawa getir. "Kalau saja kamu tahu,mas.. setiap kali kamu pergi bekerja, kata-kata yang keluar dari mulut Ibu sangat berbeda. Dia bilang aku sampah, bilang aku tidak pantas menjadi istrimu, bilang aku hanya menumpang hidup di rumah ini..."

"Cukup!" Askar berdiri, suaranya meninggi. "Kamu terus saja menfitnah ibuku ? Apakah begitu sifat aslimu? Lemah di depan orang, tapi mulutmu penuh racun saat tidak ada orang yang melihat? Mulai sekarang, jangan pernah mengeluh tentang Ibu lagi. Sekali kamu mengadu, jangan harap saya akan membelamu. Karena yang saya tahu, Ibu tidak pernah salah!"

Miska terdiam, menatap suaminya dengan perasaan hancur lebur. Pria yang seharusnya menjadi pelindungnya, justru menjadi orang yang paling menyakitinya. Ibu Suryati yang mendengar itu tersenyum tipis, lalu menepuk punggung anaknya pelan.

"Sudah, Askar. Jangan marah-marah nanti kamu jadi sakit. Mungkin Miska hanya lelah, jadi bicaranya jadi begitu. Ibu tidak apa-apa, Ibu mengerti kok," ucapnya lembut, lalu menatap Miska dengan tatapan tajam yang hanya bisa dilihat oleh Miska sendiri.

Miska memejamkan mata, menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia sadar, sekalipun ia berkata sejuta kebenaran hari itu juga, Askar tidak akan pernah percaya padanya. Dunia seakan berpihak pada mereka, dan ia sendirian di sudut yang paling gelap.

Malam itu, suasana di meja makan sangat hening. Askar makan dengan cepat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ibu Suryati sesekali menyuapi makanan ke piring anaknya, bercerita tentang hal-hal remeh yang terjadi hari itu—tentang tetangga, tentang harga sayur naik—tanpa pernah menyebutkan kata-kata kasarnya tadi pagi. Miska makan sedikit, perutnya terasa penuh oleh kesedihan yang tak terkatakan.

"Besok saya mungkin pulang terlambat," ucap Askar tiba-tiba, tanpa menatap istrinya. "Ada pekerjaan yang harus diselesaikan bersama rekan kerja."

"Rekan kerja yang mana, mas?" tanya Miska pelan, berusaha terdengar biasa.

Askar berhenti mengunyah sebentar, lalu menjawab dengan nada dingin, "Tidak perlu kamu tahu. Urusan kantor, bukan urusan kamu."

Ibu Suryati langsung menyahut, "Iya itu benar, Miska. Kamu jangan terlalu banyak tanya urusan suamimu. Itu tanda istri yang tidak tahu aturan. Biarkan Askar bekerja mencari nafkah, kamu cukup diam dan melayani dia dengan baik. Kalau tidak, jangan salahkan kalau suamimu mencari kenyamanan di tempat lain."

Kata-kata itu menusuk tepat ke jantung Miska. Ia menatap Askar, berharap pria itu akan membantunya, namun Askar hanya diam, seolah-olah ucapan ibunya adalah hal yang paling wajar untuk dikatakan.

"Ibu benar," kata Askar singkat, lalu meletakkan sendok dan garpunya. "Saya sudah kenyang. Saya ke kamar dulu."

Ia berdiri dan pergi tanpa menoleh ke arah Miska sedikit pun. Ibu Suryati juga bangkit, sebelum pergi ia berhenti di samping kursi Miska, berbisik dengan suara rendah namun penuh ancaman,

"Lihat kan? Suamimu mulai bosan. Kalau kamu tidak pandai menjaga dia, jangan kaget kalau suatu hari nanti dia membawa wanita lain pulang. Saat itu terjadi, jangan menangis di depan saya, karena itu semua salahmu sendiri."

Setelah ibunya pergi, Miska duduk sendirian di meja makan yang dingin. Lampu di atasnya bersinar terang, namun tidak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Ia menggenggam tangannya erat, air mata jatuh membasahi piring yang belum habis dimakannya. Hari itu, ia sadar—kesabaran yang ia jaga selama ini, perlahan-lahan mulai diinjak-injak, dan rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang ternyata adalah penjara yang paling menyakitkan.

Malam semakin larut, Miska masuk ke kamar perlahan. Askar sudah berbaring membelakanginya, napasnya teratur seolah sudah tertidur. Miska duduk di tepi tempat tidur, menatap punggung suaminya yang terasa begitu jauh—jauh lebih jauh dari jarak yang memisahkan tubuh mereka.

"mas.." bisiknya pelan, suaranya hampir hilang ditelan kesunyian. "Apakah kamu benar-benar tidak tau... atau kamu hanya berpura-pura tidak tau?"

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyambutnya, dingin dan sepi. Miska menarik selimut, berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar sampai fajar mulai menyingsing. Ia tidak tahu sampai kapan ia mampu bertahan, namun satu hal yang ia pahami saat itu juga—dunia yang ia bangun bersama Askar, perlahan namun pasti, sedang runtuh perlahan-lahan, dan ia sendirian berusaha menahannya agar tidak jatuh sepenuhnya.

1
Ilfa Yarni
Happy ending aku suka
Ilfa Yarni
asyiiiiiiik miska mau menikah dgn arrangements syukuri kau askar hancur kay skr hahahah
Nuna_Pena: 😭😭😭🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
akhirnya,,,,,,, happy ending 😍😍😍
Nuna_Pena: hehhe.. makasi sudah selalu mampir say.
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
lihat Miska tersenyum sama laki-laki lain kamu marah,apa kabar kamu yg udah tidur dgn Rara di hotel berkali-kali, waras kau Askar??
Ilfa Yarni
semangat miska trus maju menggapai sukses
Nuna_Pena: semangat miska, semangat author smangat para pembaca hihihi..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
Nuna_Pena: aamiin...
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
setuju bu Diti 👍👍
Nuna_Pena: alhamdulillah..
total 7 replies
Ilfa Yarni
bersenang2lah dulu kalian skr sebelum karma menghampiri apa yg kau tanam itu yg akan kalian tuai tunggu aja jika Saat itu dtg aku akan tertawa
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭... setiap perbuatan pasti akan ada hasil mau itu baik atau buruk... di tunggu bab bab berikutnya..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
gk sabar lihat keberhasilan Miska, buat nampar wajah Askar dan ibunya
Nuna_Pena: sabar lah. kalau langsung berhasil cerita nya pendek dong.. 🤭..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
good job Miska 👍👍👍
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Nuna_Pena: aamiin,,, makasi sudah selalu mampir
total 1 replies
Ilfa Yarni
bagus aku Kira km msh terap bertahan drmh neraka itu mulai skr bahagia kan dirimu sendiri giatlah ber usaha Tuhan pasti akan ksh km Jln yg terbaik menuju kesuksesan awali harimu dgn bismillahTuhan tidak tidur apa yg ditanam itu yg akan kita tuai
Nuna_Pena: aamiin.. 🤭🤭..
total 1 replies
Ilfa Yarni
lah KNP msh tinggal Disana sin. KNP ga pergi AJ miska km kan udah. bisa usaha sendiri cari kosan kek.knp jg msh tinggal disitu
Nuna_Pena: balas dendam nya dengan cara lain🤭🤭🤭
total 3 replies
Heni Setiyaningsih
kpn up lg Thor
Nuna_Pena: udah up dua bab say.. hehe makasi sudah bertahan
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
maaf Thor,klo bisa Up nya setiap hari
Ade Chubi
awal cerita yg bagus walaupun tema cerita nya hampir sama dg cerita lain nya yg bertemakan perselingkuhan, tp cerita ini ada sisi yg bikin penasaran
Heny
Nama nya bisa suryati jd ratih
Ilfa Yarni
bagus miska truslah kembangkan dirimu sampe km sukses dari kehidupan askar dan rara di bawahmu buktikan km bis berdiri diatas kakimu sendiri mulai skr jgn lg km kerja kan pekerjaan rmh
Ade Chubi: readers itu lengah bangeut jika tokoh utama perempuan nya tidak menye menye😁
total 2 replies
Ilfa Yarni
wah lega skali Thor puas aku nah gitu dong miskajadilah wanita just Dan hebat aku suka miska yg begini lanjut
Nuna_Pena: kasihan askar bisa2 masa depannya metong
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Nuna_Pena: aamiin... makasi selalu setia mengikuti 😁😁
total 1 replies
Ilfa Yarni
hadeh msh berharap aja semoga dgn kau melihat perbuatan suami km km sadarvtidak lg jadi perempuan bodoh jgn lupa kn foto in a tau videoin apa yg suami km lakukan udah beli hp bars blom km miska itu nanti buat bukti km lho
Ade Chubi: harap maklum readers kebanyakan gak sabaran 😁😂
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!