Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Iring-iringan tiga mobil SUV anti peluru berwarna hitam melaju membelah jalan tol antar kota dengan kecepatan tinggi.
Brumm.
Gibran duduk tenang di kursi belakang mobil tengah bersama Aurel Larasati yang sedang sibuk mengecek dokumen di tabletnya. Di kursi depan sebelah sopir, Bima duduk kaku dengan sabuk pengaman yang ditarik maksimal mencengkeram tubuh kurusnya.
"Rileks saja Bima, kau terlihat seperti orang yang sedang mengantre hukuman gantung," tegur Gibran sambil tertawa pelan melihat kepanikan pemuda itu. Bima menoleh patah-patah dengan wajah pucat dan keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
"S-saya belum pernah keluar kota naik mobil mewah dengan pengawalan tentara bayaran bersenjata begini Bos Gibran." "Saya merasa seperti sedang masuk ke dalam film aksi yang tokoh figurnya biasanya mati duluan," keluh Bima dengan suara bergetar.
Aurel terkekeh pelan mendengar kejujuran polos dari kepala divisi penilaian batu yang baru direkrut Gibran tersebut. "Selama kau berada di bawah perlindungan Gibran, jangankan peluru, malaikat maut pun harus antre jika ingin menyentuhmu Bima," ucap Aurel dengan nada percaya diri mutlak.
Gibran menatap jalanan pegunungan berkelok yang kini mulai mereka masuki setelah keluar dari gerbang tol utama. Kawasan hutan jati yang lebat di kiri dan kanan jalan ini adalah satu-satunya akses darat terdekat menuju ibu kota provinsi.
Tiba-tiba, suara mekanis sistem berdengung sangat keras dan tajam menembus tengkorak kepala Gibran. [Peringatan bahaya fatal tingkat merah.] [Deteksi proyektil kaliber besar meluncur dari arah jam sebelas dengan kecepatan supersonik.]
"Kapten Codet banting setir ke kanan sekarang juga!" teriak Gibran dengan suara menggelegar ke arah kursi kemudi.
Ciiit.
Kapten Codet yang memiliki refleks militer langsung memutar kemudi dengan sangat kasar tanpa bertanya alasannya.
Wusss. Dor!
Sebuah peluru penembak runduk berukuran raksasa menembus kaca depan mobil tepat di posisi kepala Kapten Codet sebelumnya. Kaca anti peluru setebal lima sentimeter itu langsung retak seribu seperti jaring laba-laba raksasa.
"Sialan, kaca anti peluru tingkat lima kita bisa tembus, mereka memakai senapan mesin anti material militer!" umpat Kapten Codet sambil menginjak rem mendadak.
Brak brak brak.
Dua mobil pengawal di depan dan belakang mereka langsung bermanuver membentuk formasi perisai melindungi mobil Gibran di tengah.
Dor dor dor!
Hujan peluru senapan serbu langsung memberondong bodi mobil mereka dari arah tebing bukit di sebelah kiri jalan. Aurel langsung merunduk menutupi kepalanya sementara Bima sudah menangis histeris meringkuk di bawah dashboard mobil.
"Nona Aurel tetap di bawah dan jangan keluar dari mobil apa pun yang terjadi," perintah Gibran sambil membuka jas mahalnya. Gibran melonggarkan dasinya dan menatap ke arah rimbunan pohon jati di atas tebing dengan mata memicing mematikan.
[Analisis posisi musuh selesai.] [Terdapat dua belas penembak jitu di tebing kiri dan lima algojo penyerbu bersenjata parang turun dari arah depan.]
"Kapten, perintahkan anak buahmu membalas tembakan ke arah tebing jam sepuluh dan jam dua." "Biar aku yang mengurus lima anjing rabies yang sedang berlari ke arah kita dari depan sana," instruksi Gibran dengan sangat tenang.
Kapten Codet membelalakkan matanya tidak percaya mendengar bosnya ingin keluar menghadapi preman bersenjata parang sendirian. "Bos Gibran itu tindakan bunuh diri, biar pasukan saya yang turun menghadapi mereka di luar!" bantah Kapten Codet panik.
Brak.
Gibran menendang pintu mobilnya hingga terbuka paksa dan melompat keluar menembus hujan peluru tanpa ragu sedikit pun.
"Lakukan saja tugasmu menembak tebing itu Kapten, jangan membantah perintahku," ucap Gibran dari luar mobil. Lima orang algojo bertopeng tengkorak dengan parang panjang di tangan langsung berlari menerjang ke arah Gibran.
"Cincang pemuda itu! Sindikat Giok Hitam menginginkan kepalanya di atas nampan hari ini juga!" teriak pemimpin algojo tersebut beringas. Gibran hanya merenggangkan lehernya ke kiri dan kanan menunggu mereka datang dalam jarak serang yang ideal.
[Penguatan Refleks Fisik Level 1 beroperasi pada batas maksimal.] [Titik buta musuh pertama dan kedua terpindai jelas di area rusuk bawah.]
Wush.
Gibran melesat maju dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang kelima algojo tersebut.
Pemimpin algojo itu tiba-tiba kehilangan sosok Gibran dari pandangannya dan hanya merasakan hembusan angin keras melewati wajahnya.
Bugh krek!
Gibran sudah berada di samping algojo pertama dan mendaratkan pukulan telak yang menghancurkan tulang rusuk pria itu seketika.
"Aaaargh!"
Jerit algojo itu memuntahkan darah dan terpental jatuh ke dalam selokan aspal.
Trang.
Algojo kedua mengayunkan parangnya membelah udara ke arah leher Gibran dengan tenaga penuh.
Gibran hanya merunduk sedikit lalu menendang lutut algojo itu hingga bengkok ke arah yang berlawanan.
Brak.
"Setan apa kau ini! Tembak dia dari tebing sekarang juga!" teriak pemimpin algojo yang mulai panik melihat dua rekannya tumbang dalam dua detik.
Dor dor dor!
Pasukan Kapten Codet dari dalam mobil akhirnya membalas tembakan ke arah tebing, memaksa para penembak jitu musuh bersembunyi mencari perlindungan. Gibran memanfaatkan momen perlindungan tembakan itu untuk mencengkeram kerah baju pemimpin algojo yang sedang ketakutan.
Sret.
Gibran mengangkat tubuh besar pemimpin bertopeng itu ke udara hanya dengan menggunakan satu tangan kirinya saja.
"Sindikat Giok Hitam ibu kota sangat pengecut karena menggunakan senjata api jarak jauh untuk menyambut tamu." "Tolong ajarkan pada mereka bagaimana cara bertamu yang sopan," bisik Gibran tepat di telinga pria yang meronta-ronta itu.
Brak!
Gibran membanting tubuh pemimpin algojo itu ke aspal jalanan dengan tenaga raksasa hingga aspal itu sedikit retak.
Pemimpin itu langsung pingsan tak sadarkan diri dengan mulut berbusa dan tulang punggung yang bergeser parah. Dua algojo terakhir yang melihat kebrutalan itu langsung membuang parang mereka dan lari tunggang langgang ke arah hutan.
"Bos Gibran, penembak di atas tebing sudah mundur melarikan diri menggunakan motor trail, area sudah bersih!" teriak Kapten Codet dari radio komunikasi. Gibran menepuk debu dari kemejanya dan berjalan santai kembali menuju mobil tengah yang kacanya sudah retak parah itu.
Ia membuka pintu mobil dan tersenyum ramah melihat Bima yang masih gemetar sambil memeluk kaki Aurel. "Perjalanan kita aman sekarang Bima, kau bisa berhenti memeluk kaki Nona Aurel sebelum aku cemburu," goda Gibran memecah ketegangan.
Aurel langsung memukul lengan Gibran dengan pelan namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa lega yang luar biasa. "Kau benar-benar monster gila yang nekat Gibran, aku hampir jantungan melihatmu berlari ke arah parang tadi," omel Aurel dengan napas tersengal.
"Aku hanya tidak ingin jas mahalku terkena darah anjing-anjing liar itu Nona Aurel." "Jalan terus Kapten Codet, kita buat Sindikat Giok Hitam membayar tagihan kaca mobil ini beserta nyawa mereka hari ini juga," perintah Gibran tegas.
Brumm.
Iring-iringan mobil berlubang peluru itu kembali melaju membelah jalan pegunungan menuju ibu kota provinsi.
Langkah awal invasi sang Raja Giok baru saja ditandai dengan pertumpahan darah yang akan mengukir sejarah baru di dunia bawah.