Indonesia
NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pengemis Tua

Jayengrana membisu. Tangannya bergeser perlahan menuju gagang tombak berbungkus kain yang tersandar di pundak.

Pengemis tua itu menyadari gerakan refleks tersebut, lalu terkekeh pelan. "Tenangkan dirimu, Nak. Jika aku berniat mencabut nyawamu, kau bahkan tak bakal sempat menyentuh pembungkus senjatamu."

Kalimat itu terderengar begitu congkak, namun diucapkan dengan nada datar tanpa intonasi gertakan—seolah ia sekadar memaparkan kenyataan yang mutlak.

Jayengrana kembali memusatkan kepekaannya, berusaha menyingkap kehendak sosok di hadapannya melalui Naluri Niat.

Namun, hasilnya tetap nihil. Hampa, tanpa riak emosi sedikit pun.

"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya lugas.

"Hanya seorang pengemis tua," sahut lelaki itu seraya mengibaskan tangan lusuhnya. "Namaku sudah lama terkikis zaman. Jika butuh julukan, panggil saja aku Pengemis."

Ia meneguk sisa arak dari kendinya, lantas duduk bersila di tepi atap genteng dengan gaya santai.

Jayengrana tak lantas percaya begitu saja. Mana mungkin orang biasa sanggup menguasai teknik menyembunyikan hawa keberadaan sedemikian sempurna?

"Untuk apa kau mengawasiku dari atas sini?"

"Mengawasimu?" Pengemis tua itu menggeleng terkekeh. "Aku sama sekali tak berminat padamu. Aku hanya sedang menikmati pemandangan rumah batu di seberang jalan itu."

Jemarinya menunjuk ke arah benteng tanpa lambang yang baru saja menelan kereta hitam.

"Bangunan itu cukup menarik," tambahnya.

Jayengrana mengalihkan pandangan mengikuti arah tunjuk sang pengemis. "Apa yang kau ketahui tentang tempat itu?"

"Cukup banyak untuk membuat orang berakal sehat merasa gentar."

"Lantas mengapa kau tak mencoba melompat ke sana?"

Pengemis tua itu mendengus tajam. "Karena aku masih menghargai nyawaku."

Jawaban bersahaja itu justru menghentak Jayengrana. Jika sosok berilmu tinggi seperti lelaki ini saja enggan mengusik tempat tersebut, maka ancaman di dalam benteng itu dipastikan jauh lebih mengerikan daripada markas militer mana pun.

"Ada apa sebenarnya di dalam sana?"

Pengemis tua itu tak langsung membeberkan jawaban. Ia justru balik melempar pertanyaan. "Kau pernah menyaksikan bagaimana cara seekor ular memangsa kijang di tengah hutan?"

"Pernah."

"Apakah pemangsa itu langsung menelannya bulat-bulat?"

"Tidak. Ia membelit dan mematahkan tulang belulangnya terlebih dahulu."

Pengemis tua itu mengangguk puas. "Tepat sekali. Seperti itulah cara kerja rumah batu tersebut."

Jayengrana mengernyit samar.

"Orang-orang yang diseret masuk ke sana jarang langsung dihabisi," lanjut pengemis tua itu dengan nada dingin. "Mereka dipatahkan perlahan—hatinya, keberaniannya, hingga pendar harapannya. Begitu jiwanya remuk, mereka bakal bersedia menuruti perintah apa pun."

Angin malam bertiup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Jayengrana kembali menatap bangunan batu itu. Jika istrinya benar-benar dikurung di dalam, setiap detik yang terbuang tanpa tindakan merupakan bencana.

Ia menggeser posisi, bersiap melompat turun.

"Kau berniat menerobos langsung dari gerbang depan?" tegur sang pengemis.

"Itu tindakan konyol. Aku hanya ingin mencari celah pengawasan."

Pengemis tua itu tersenyum tipis. "Keputusan yang sedikit lebih bijak."

Ia merogoh saku pakaian lusuhnya, menarik keluar sepotong arang hitam. Di atas permukaan genteng yang kotor, jemari rentanya mulai mencoretkan denah sederhana dengan amat terampil.

"Tempat ini dirancang memiliki tiga pintu akses: gerbang utama, pintu logistik di sisi barat, serta saluran air tua di bagian bawah."

Jayengrana mengamati pergerakan arang itu tanpa berkedip. "Saluran air?"

"Sudah ditelantarkan puluhan tahun, namun strukturnya belum sepenuhnya runtuh."

Begitu garis denah tersebut tuntas dihafalkan Jayengrana, pengemis tua itu menyapu genteng dengan telapak tangannya hingga coretan arang tersebut hapus tak berbekas.

"Waspadai apa pun yang matamu tangkap di dalam sana," peringatnya seraya bangkit berdiri dan menyampirkan kendi ke pinggang. "Bangunan itu didirikan oleh orang-orang yang sangat gemar memelihara rahasia."

"Jika nasibmu cukup baik, kita mungkin bakal bersua kembali," lanjut lelaki tua itu dengan senyum melebar. "Namun jika takdirmu buruk... berarti kau tewas di sana."

Sebelum Jayengrana sempat melontarkan pertanyaan lanjutan, pengemis tua itu telah melompat turun dari tepi atap. Gerakannya teramat ringan, melayang tanpa memicu derak genteng sedikit pun.

Jayengrana bergegas menyusul ke tepi atap dan mengedarkan pandangan.

Namun, lorong di bawahnya telah melangang kosong. Tak ada jejak kaki, tak ada bayangan yang tersisa—seolah sosok pengemis misterius tadi menguap ditelan kegelapan malam Kotaraja.

Jayengrana kembali menatap ke arah bangunan batu di seberang jalan. Petunjuk penting kini telah berada di tangannya: jalur saluran air tua.

Lewat lorong bawah tanah itulah, ia bakal menyusup demi menyingkap rahasia yang tersembunyi.

Jayengrana menahan diri untuk tidak langsung melompat. Ia memilih bergeming di atas genteng, menanti hingga kegelapan malam merengkuh Kotaraja sepenuhnya.

Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan utama padam satu per satu. Derap langkah peronda malam kian jarang terdengar, menandakan keheningan telah menguasai kota. Baru setelah situasi benar-benar aman, ia meluncur turun.

Ia mengitari perimeter bangunan batu tersebut dari jarak yang terukur. Seorang senopati berpengalaman tidak akan pernah menerobos pertahanan lawan sebelum memetakan seluruh celah pelarian.

Di area belakang bangunan, terhampar semak belukar yang dibiarkan membelukar liar. Di balik rimbunnya dedaunan, mengalir sebuah sungai kecil berair dangkal dengan arus yang lumayan deras.

Jayengrana menyusuri bantaran sungai tersebut. Beberapa puluh langkah kemudian, matanya menangkap sebuah celah di dinding batu berlapis lumut—sebuah lubang seukuran tubuh manusia dewasa yang separuhnya tertutup perakaran pohon tua.

Ia berjongkok, mengusap permukaan batu di mulut celah. Lumutnya masih basah, menyisakan bekas pijakan kaki yang baru. Seseorang belum lama melintasi tempat ini.

Jayengrana mengatur napasnya serendah mungkin. Naluri Niat memang tidak dirancang untuk membaca jejak mati, namun intuisi bertahannya sanggup mengenali detail di sekelilingnya: serpihan lumpur basah, akar pohon yang patah terinjak, serta percikan air yang menyimpang.

Semua penanda itu menegaskan bahwa jalur di hadapannya masih aktif dipergunakan—bukan sebagai rute utama, melainkan sebagai lorong rahasia.

Ia merayap masuk.

Lorong itu teramat sempit dan pekat. Udara di dalamnya pengap oleh aroma tanah basah, sementara genangan air menyapu hingga setinggi mata kaki. Jayengrana melangkah ekstra hati-hati demi meredam sekecil apa pun derak air.

Setelah menyusuri belokan tajam sepanjang puluhan tombak, langkahnya mendadak terhenti.

Di hadapannya membentang seutas benang tipis yang terikat erat di celah dinding. Hampir tak kasatmata.

Jayengrana berjongkok seraya menyunggingkan senyum tipis. Benang pengintai itu terhubung langsung dengan sebuah lonceng kuningan kecil yang tersembunyi di balik rongga batu. Bila benang itu terputus atau tersenggol, sinyal bahaya akan langsung terdengar di ruang penjagaan.

Menggunakan sepotong ranting kering, ia mengangkat benang itu perlahan-lahan, lalu merayap melintasinya tanpa memicu getaran.

Tak jauh dari titik pertama, ia kembali menemukan perangkap kedua, disusul jebakan ketiga: jarum beracun bersatu mekanik celah, lubang samaran, hingga penopang batu runtuh. Semuanya dirancang rapi untuk melumpuhkan penyusup. Namun pengalaman belasan tahun bertempur di berbagai benteng membuat Jayengrana sanggup menetralkan seluruh rintangan tersebut dengan mudah.

Ujung lorong akhirnya membayang di depan mata. Pendar cahaya redup menerobos masuk lewat retakan dinding batu.

Jayengrana merapat perlahan, menempelkan matanya di celah dinding untuk mengamati bagian dalam.

Di balik rintangan batu, terhampar sebuah aula bawah tanah yang amat luas. Obor-obor dinding memancarkan pendar kemerahan, menyinari deretan sel besi yang berbaris di sepanjang koridor. Sebagian sel melangang kosong, sementara sisanya dihuni oleh tawanan berkondisi mengenaskan. Pria dan wanita tergeletak dengan tubuh penuh bekas siksaan.

Cengkeraman jemari Jayengrana pada pinggiran batu mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ini jelas bukan penjara resmi kerajaan. Selama mengabdi sebagai Senopati, ia tak pernah merancang atau mengizinkan pembangunan tempat penyiksaan terselubung seperti ini.

Di sudut ruangan, dua pria berbusana serbahitam tampak berbincang intens.

"Besok malam, kita harus memindahkan perempuan itu," bisik salah seorang di antaranya.

"Dipindahkan ke mana?"

"Itu wewenang penuh Pamantri Wiradipa. Tugas kita hanya memastikan dia tidak mati sebelum proses perpindahan. Nyawanya masih dibutuhkan."

Jayengrana menajamkan indranya, mengunci setiap patah kata yang terucap. Istrinya sungguh-sungguh disekap di kompleks ini, meski ia belum sanggup memastikan di sel mana sang istri dikurung.

Saat ia hendak bergeser untuk mencari sudut pandang yang lebih jelas, tanda perjanjian di dadanya mendadak menyengat dingin. Bukan lagi pendar hangat seperti biasanya, melainkan rasa beku yang menusuk hingga ke tulang.

Bisikan Penunggang Perjanjian terngiang di benaknya, mengalun amat pelan—hampir menyerupai nada peringatan.

"Jangan bergerak sedikit pun."

Jayengrana membeku di tempatnya seketika.

Beberapa detik kemudian, sesosok pria berbalut jubah hitam melangkah masuk ke aula bawah tanah. Wajahnya tertutup topeng kayu polos tanpa ukiran. Pria itu berjalan perlahan melintasi koridor sel.

Seluruh pengawal yang berada di ruangan itu serta-merta menundukkan kepala dalam-dalam, melempar penghormatan penuh ketakutan.

Dari balik celah batu, Jayengrana mencoba mengarahkan Naluri Niat pada sosok bertopeng kayu tersebut. Namun, tak ada emosi yang sanggup ia serap.

Kosong melompong—hampa seperti halnya saat ia berhadapan dengan Pengemis Tua di atas atap.

Suara Penunggang Perjanjian kembali terngiang, kali ini diselipi getaran kewaspadaan yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya.

"...Dia sanggup melihat keberadaanmu."

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!