Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily yang telah melahirkan bocah laki-laki yang pintar tak mengingat Leon. Akankah keduanya dapat kembali bersatu lagi untuk merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Diharapkan tidak menabung bab. Terima kasih 🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dua hari pasca gempa berskala kecil, Zayn diizinkan bersama Leon seharian. Emily memberikan waktu keduanya sebagai ucapan terima kasih kepada Leon yang telah menolongnya.
"Emily, ini sudah larut malam kenapa Zayn belum juga pulang?" tanya Caroline yang khawatir.
"Zayn dengan ayahnya, tak perlu cemas begitu," jawab Jenni.
"Kami benar-benar cemas karena ayahnya itu mantan mafia. Kau tidak memiliki anak makanya tak pernah mempunyai rasa khawatir!" cetus Caroline.
Mendengar hinaan itu membuat Jenni sakit hati.
"Mama, kenapa bicara seperti itu?" Emily menegur Caroline dengan sopan.
"Kamu lagi, masih saja percaya dengan pria kejam itu. Dia pernah mengurung ayah dan kakakmu di istana miliknya, tetap saja kamu bela!" kesal Caroline.
"Itu karena kalian yang mengingkari janji!" sahut Jenni.
Deg..
Caroline dan Belinda saling pandang.
"Coba saja waktu itu Belinda tidak kabur, pasti suami dan putrimu tidak mendapatkan hukuman!" kata Jenni mengumbar pembicaraannya dengan Leon.
"Bagaimana mungkin aku mau menikah dengan pria lumpuh dan kejam seperti dia?" Belinda membela dirinya.
"Kalian 'kan menyerahkan Emily menjadi istrinya biar utang-utang kalian lunas. Di sini yang licik itu kalian!" tukas Jenni.
Mendengar perdebatan mereka membuat kepala Emily menjadi pusing. Ia terhuyung dan hampir terjatuh.
"Emily!" Jenni gerak cepat memegang tubuhnya.
"Apa yang terjadi Emily?" Caroline mendekat.
"Kepala aku pusing sekali!" kata Emily lirih.
"Istirahatlah. Ibu antar kamu ke kamar!" Jenni memapah Emily.
Caroline dan Belinda melihat Emily tampak kesakitan mulai khawatir. Mereka takut Emily sembuh dari amnesianya.
"Bagaimana ini, Ma?" bisik Belinda.
"Dia takkan semudah itu untuk mengingatnya," kata Caroline.
"Sepertinya kita tidak boleh berhenti menghasutnya!" ucap Belinda.
"Ya. Sebelum Leon benar-benar mati. Emily tetap harus dibawah pengawasan kita!" kata Caroline seringai.
Emily telah beristirahat di kamarnya, sedangkan Jenni menunggu kepulangan Zayn.
Jenni tersenyum lega ketika melihat Leon muncul dengan Zayn. Ayah dan anak itu begitu terlihat bahagia.
"Ayah, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan hari ini!" kata Zayn.
"Sama-sama, Zayn. Lain waktu kita jalan-jalan lagi!"
"Iya, Ayah. Kalau begitu aku masuk, sampai jumpa lagi!" ucap Zayn bergegas memasuki rumah.
Leon hanya mengantarkan Zayn hingga gerbang rumah saja. Ia melakukan itu menghindari bertemu dengan Antonio dan keluarganya.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, Leon menunggu bus di halte. Jalanan terlihat sepi, ditambah lagi hujan rintik-rintik.
Hampir 15 menit menunggu bus juga belum datang, Leon mulai khawatir apalagi sang ibu bolak balik menghubunginya.
Dua orang pria mengenakan topi mendekat. Leon yang curiga meningkatkan kewaspadaannya.
Benar saja, keduanya pun menyerang.
Leon yang mempunyai kemampuan beladiri membalas setiap serangan dari lawannya. Ia cukup kewalahan karena penyerang sangat lincah.
Leon sempat tertendang dan jatuh ke aspal namun ia bangkit lagi dan melawan. Ia tak ingin menyerah karena tak ada senjata maupun anak buah yang melindunginya.
Akhirnya Leon berhasil menumbangkan musuhnya. Keduanya babak belur di wajah dan perut.
Setelah para lawan mundur, Leon dengan napas tersengal duduk di halte sembari memegang perutnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan letih sebab bertarung.
Bus pun datang.
Di dalam bus, ia mengatur napasnya. Beruntung penumpang bus tak terlalu ramai sehingga ia tidak menjadi pusat perhatian. Memang di jam-jam malam tak terlalu banyak jumlah penumpang.
Di apartemennya, Frans dan Rachel begitu terkejut melihat kondisi putranya yang sedikit babak belur.
"Apa yang terjadi, Leon?" tanya Frans.
"Aku diserang, Pa. Sepertinya mereka anak buahnya Jason," jawab Leon menerka.
"Jason. Rekan kamu di markas Anggoro?" tebak Frans.
"Iya, Pa. Saat ini dia dekat dengan Emily," kata Leon.
"Jahat sekali dia!" geram Rachel.
"Kamu tetap harus waspada, Leon. Musuhmu masih ada. Apalagi mereka sengaja ingin menghancurkan kamu secara perlahan melalui anak dan istrimu!" kata Frans.
"Iya, Pa. Aku ingin membawa Emily dan Zayn ke tempat yang aman."
"Bagaimana kalau kita minta bantuan Charles?" usul Frans.
Leon menautkan alisnya ketika mendengar nama mantan asistennya.
"Kami pernah bertemu dengannya satu tahun lalu, dia menanyakan kabar kamu," kata Frans.
"Aku tidak mau melibatkannya lagi, Pa. Biarkan dia menjalani hidupnya dengan tenang," ucap Leon menolak usulan ayahnya.
"Memang benar juga, sih. Apalagi dia baru saja menikah," ujar Frans.
"Aku bisa menghadapi mereka sendiri, jadi tak perlu melibatkan orang lain dalam hubungan aku dan Emily," kata Leon lagi.
***
Seminggu kemudian..
Hubungan Leon dan putranya semakin dekat. Keakraban keduanya membuat keluarga Emily semakin khawatir. Leon berhasil mencuri perhatian Zayn dan Jenni maka selanjutnya pasti dia dapat mengambil hati Emily.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, hujan turun sangat deras. Ponsel Leon juga sulit dihubungi. Emily menjadi khawatir dan cemas.
"Ini sudah larut malam, tapi dia belum juga mengembalikan Zayn. Apa kamu tidak takut dia membawa Zayn ke Marrow?" tanya Caroline dengan sengaja agar Emily semakin bingung dan ketakutan.
"Dia tak berhasil membawamu, maka sasarannya adalah Zayn!" timpal Belinda.
"Jangan dengarkan omongan mereka, Emily!" sahut Jenni.
"Ciih....si wanita yang tak punya keturunan ikut bicara!" sinis Caroline.
"Nyonya Caroline, apa kau tidak sadar jika mempunyai seorang anak perempuan? Bagaimana rasanya kalau dia tidak bisa punya anak seperti diriku?" singgung Jenni. "Ups... astaga, dia 'kan belum menikah. Bagaimana mungkin dapat memiliki anak? Tak ada pria yang mau menerimanya!" Jenni menutup mulutnya menyindir ibu dan anak itu.
"Kau!!" geram Caroline, ia menunjuk wajah Jenni.
"Kenapa? Tidak senang? Kalian boleh angkat kaki dari rumahku ini!" Jenni mengangkat dagunya, ia menantang keduanya dengan tak gentar.
"Ma, Bu, sudahlah. Berhenti berdebat. jangan membuatku tambah pusing!" lerai Emily.
"Dia yang duluan, Emily!" kesal Caroline.
"Ma, cukup menghina ibuku!" sentak Emily.
Caroline terdiam dan Jenni tersenyum senang.
"Jika Mama dan Kak Belinda di sini hanya menambah masalah, silakan kembali ke Marrow!" tegas Emily. Sebelumnya Antonio telah lebih dulu pulang.
"Emily, kenapa kau semakin kurang ajar?" Belinda tak senang Caroline dibentak.
Emily menghembuskan napas kasar.
"Pasti karena hasutan Leon makanya dia berubah begini!" tuding Caroline.
"Ini tak ada hubungannya dengan Leon. Kami sama sekali jarang bicara!" tegas Emily.
***
Matahari belum menunjukkan wajahnya, Emily dan Jenni bergegas berangkat ke sebuah daerah tempat Zayn disekap. Belinda dan ibunya diam-diam mengikuti keduanya.
Emily mendapatkan kabar dari Jason jika Zayn ditahan Leon di gudang kosong.
Emily dan Jenni tak menyangka Leon berniat menyakiti putranya. Padahal mereka telah mempercayai pria itu.
Sesampainya, Emily melihat Zayn memeluk kaki Leon yang memegang senjata api dengan raut wajah ketakutan. Di sekeliling mereka, beberapa orang berjatuhan dan terluka.
Jason mendekati Emily dengan memegang perutnya menahan rasa sakit.
"Jason, kamu tidak apa-apa?" Emily yang khawatir memegang kedua lengan pria itu.
"Aku tidak apa-apa, Emily. Tapi, Zayn masih bersama dia!" Jason menunjuk ke arah Leon.
"Dia ingin membawa Leon pergi dari negara ini!" fitnahnya.
"Tidak, Emily. Aku tak mungkin membawa Zayn tanpa kamu!" bantah Leon.
Emily tak tahu diantara keduanya yang benar.
"Aku melihatnya pergi ke bandara, Emily. Kemungkinan dia ingin membawa kabur Zayn!" kata Jason.
"Itu tidak benar, Emily. Aku hanya mengantarkan Tuan Robby!" jelas Leon.
"Jangan dengarkan omongan dia, Emily. Lihatlah, para anak buahku diserangnya!" Jason terus membuat cerita kebohongan.
Emily menatap ke arah putranya, "Zayn, ke sinilah, Nak!" panggilnya dengan lembut.
Zayn menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tidak merindukan Ibu?" tanya Emily dengan lembut lagi.
"Aku rindu dengan Ibu tapi aku ingin bersama Ayah!" jawab Zayn tak mau melepaskan genggamannya.
"Zayn, Ayah tidak akan pergi!" janji Leon.
"Aku tidak mau, Yah. Aku tetap ingin bersama Ayah!" tangis Zayn.
"Kita akan bersama, Nak. Pergilah bersama Ibumu, dia juga menyayangi kamu!" bujuk Leon.
"Ayo, Zayn!" panggil Emily dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah janji tidak akan meninggalkan aku lagi, 'kan?" Zayn mendongakkan kepalanya.
Leon menggerakkan dagunya pelan.
Zayn melepaskan pelukan di kaki sang ayah, perlahan ia menghampiri ibunya.
Emily memeluk putranya sekilas lalu meminta Jenni membawa Zayn keluar dari gudang kosong.
Setelah Zayn dan Jenni menghilang dari pandangannya. Emily merampas pistol dari tangan Jason lalu mengarahkannya kepada Leon.
Door..